Ajaran Tentang Hidup Setelah Mati
Khonghucu atau Kong Hu Cu tidak banyak berbicara banyak tentang hidup setelah mati, tapi ia percaya akan keberadaan roh-roh, dan roh-roh yang berhubungan denga keluarga, maka bagi keluarga anggotanya yang masih hidup harus mempersembahkan korban kepadanya. Dalam sebuah korban yang disajikan dalam sebuah pesta atau sejajian, karena bahwa roh-roh leluhur akan menikmati sejajian itu. Manusia berdo’a pada nenek moyang atau para leluhur mereka, karena itu dinamakan perbuatan anak lai-laki yang berbakti (Hau) pada orang tua.
Penyebahan kepada roh-roh hanya berlaku pada lingkungan keluarga saja yang telah meninggal.Pemujaan arwah nenek moyang telah merupakan tradisi bagi bangsa Tionghoa sejak masa sebelum Kung Fu Tze.Tradisi tersebut dikukuhkan oleh Kong Fu Tze karena dipandangnya suatu sumber azasi bai nilai-nilai lainnya.
“Layanan cinta kasih dan takzim kepada ibu-bapa sewaktu hidup. Dan berduka cita srta berkabung sewaktu mereka meninggal dunia: sekaliannya itu kewajiban asazi bagi yang hidup.” (SBE, 3 : 488).
Menurut kepercayaan, ibu-bapak yang telah meninggal tetap hidup berkelanjutan dan tetap mengawasi turunannya.Perembahan makanan pada waktu-waktu tertentu itu bukan bersifat korban tebusan, tetapi perlambang santap bersama yang dipandang sakral.
Karakteristik umum dalam agama orang Cina pada masa Konfusius adalah penyembahan leluhur.Penyembahan leluhur adalah pemujaan roh-roh orang mati oleh kerabatnya yang masih hidup.Mereka percaya bahwa kelanjutan kehidupan roh-roh leluhurnya tergantung dari perhatian yang diberikan oleh para kerabatnya yang masih hidup.Mereka juga menyakini bahwa para roh tersebut dapat mengendalikan peruntungan keluarga.
Jika keluarga menyediakan kebutuhan roh para leluhur, sebagai imbalannya, roh para leluhur itu akan membawa hal-hal baik yang terjadi dalam kehidupan keluarga. Namun, jika para leluhur diabaikan, diyakini bahwa semua hal yang buruk akan menimpa keluarga. Akibatnya, orang yang hidup terkadang hidup dalam ketakutan kepada mereka yang telah mati. Richard C. Bush menyatakan:
“Penyembahan leluhur oleh keluarga kerajaan dan rakyat jelata mengungkapkan beberapa alasan mengapa mereka melakukannya. Mereka ingin para leluhur dapat hidup di luar kubur, menjalani hidup sama seperti bagaimana mereka hidup di bumi; oleh karena itu, yang masih hidup mencoba untuk memberikan apapun yang sekiranya diperlukan. Alasan kedua adalah bahwa jika mereka tidak diberi makanan, senjata, dan perlengkapan yang diperlukan untuk bertahan hidup di luar sana, para leluhur dapat mendatangi mereka sebagai hantu dan membawa masalah bagi yang hidup.
Hingga kini, orang Cina merayakan “Festival Hantu Lapar”, menaruh makanan dan anggur di depan rumah untuk memuaskan roh leluhur atau hantu yang tidak diperhatikan keturunannya yang kemudian menghantui. Motif ketiga adalah untuk memberitahu para leluhur apa yang terjadi pada masa kini, dengan harapan para roh leluhur itu, entah bagaimana caranya, mengetahui bahwa semuanya baik-baik saja sehingga mereka dapat hidup dengan damai. Dan alasan terakhir, pemujaan roh leluhur menunjukkan harapan bahwa para leluhur akan memberkati keluarga yang masih hidup, dengan anak-anak, kemakmuran, keharmonisan, dan segala yang berharga. (Richard C. Bush, The Story of Religion in China, Niles, IL: Argus Communication, 1977, hal. 2)”
Upacara kematian dalam agama Khonghucu dapat diartikan sebagai proses pengurusannya yang diikuti dengan berbagai upacara penghormatan yang dilakukan oleh keluarga dan para umat Kong Hu Cu yang ikut dalam upacara tsb. Dalam ajaran Kong Hu Cu proses penguburan ada yang tidak memakai peti dan penguburannya tidak terlalu mendalam, maka tidak heran mayat yang dikubur akan menimbulkan bau tak sedap.
Ini adalah tradisi yang buruk bagi Agama Kong Hu Cu, maka ajaran ini dihilangkan. Dan setiap penguburan ketika ibunya, itu dianggap seperti isteri-isteri pembesar, membawa mayatnya kegunung Hong San dan dikuburkan disebelah kuburan ayahnya.Tradisi secara sebelah-menyembelah ini masih dilakukan oleh orang cina yang menganut Agama Kong Hu Cu di Indonesia.Karena menurut Khonghucu manusia ialah makhluk utama, maka mesti tubuhnya tidak bernafas lagi kita tetap menghormatinya.
Seorang Prof. Filsafat dari universitas Tsing Hua mengatakan bahwa yang terpenting dalam upacara kematian ialah upacara berkabung artinya ketika ibunya meninggal dunia, dia melakukan perkabungan selama 27 bulan, dan dia juga melakukan pantangan selama masa berkabung misalkan seperti tidak bersenag-senang dan dia mengisi berkabungnya mengisi hal-hal yang bermanfaat menurut Khonghucu selama masa perkabungan untuk berkerja. Hanya saja dia tidak memakai emas, tidak mengunjungi pesta dan tidak mengadakan perayaan-perayaan dan Upacara penyajian korban, terutama dari para leluhur.
Dalam kitab SuSi tidak banyak kita jumpai ungkapan-ungkapan Khonghucu tentang roh-roh.Meskipun demikian, bukan berarti Khonghucu tidak percaya tentang dunia setelah kematian, bagi dia mengenal kematian dapat diketahui setelah dia mengalami kehidupan.
“ Hwan Thi (salah seorang murid Khonghucu) bertanya tentang orang yang bijaksana. Khonghucu menjawab, ia mengabdi kepada rakyat berdasarkan kebenaran, ia juga menghormati kepada roh-roh tetapi dari jauh (dengan hormat yang jauh) demikian orang yang bijaksana” (Lun Gi, Jilid VI: 22), maksud ayat diatas bahwa orang yang berbakti tidak hanya berbakti kepada rakyat berdasarkan kebenaran akan tetapi juga berbakti juga mengabdi kepada roh, artinya bahwa umat Khonghucu juga mempercayai adanya kehidupan setelah mati.
Dalam masyarakat Cina yang menganut paham konfucianisme, ide tentang Tuhan dan kehidupan setelah mati tidak ditolak, dan juga tidak ditekankan untuk diketahui.Dalam pikiran orang Cina langit dan kehidupan orang setelah mati tidak begitu dibahas secara terperinci.Dalam trdisi orang Cina juga dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam upacara kematian, mereka mempersembahkan berbagai korban untuk para leluhur atau para roh-roh keluarganya. Supaya roh-roh tersebut mendapat ketenangan dialam surga.
Mengingat kuatnya tradisi pandangan hidup rahaniah yang berlatar belakang pada kepercayaan kepada ahal-hal ghaib itu. Maka dapat dikatakan bahwa landasan hidup religius bangsa Cina adalah dalam bentuk pemujaan-pemujaan terhadap para leluhur (nenek moyang) yang ada di langit dan alam sekitarnya.
Roh-roh leluhur menempati suatu tempat penting dalam sanubari bangsa Cina, karena leluhur yang telah meninggal dianggap masih melanjutkan kehidupannya dalam lingkungan keluarga, maka dari itu arwanya dipuja oleh keluarganya.Maka dari itu juga jenazah nenek moyang harus dikubur disekitar tanah lingkungan milik keluarga yang bersangkutan. Lambang leluhurnya dibuat dalam bentuk “papan arwah” yang ditulis nama leluhur mereka, dan papannya di taruh di kuil.
Akhirnya penghormatan kepada leluhur tersebut senantiasa mengalami peningkatan yang lebih tinggi lagi yakni meningkatan kearah penghormatan terhadap “langit” sehingga menimbulkan pandangan adanya roh/dewa yang lebih agung, yang ada diatas roh-roh para leluhurnya. Nenek moyang yang sudah lama meninggal yang berdiam di dilangit dinamakan (Ti) atas dasar perintah oleh nenek moyang lebih tinggi (Shang Ti).
Untuk membuktikan bahwa Khonghucu benar-benar telah mengajarkan kehidupan setelah mati, Hiksu Tjhie Thay Ing yang didapat dari kitab-kitabnya, sebagai berikut : “ semangat atau jiwa rohani (khi) itulah perwujudan tentang adanya roh (sien), kehidupan jasad (phik) itulah adanya perwujudan tentang adanya nyawa/jiwa badani (kui).
Bersatu dengan harmonisnya nyawa dan roh dalam kehidupan ini adalah tujuan pengajaran agama.Semua dilahirkan tumbuh berkembang pasti mengalami kematian, yang mati berpulang kepada tanah, ini yang berkaitan dengan nyawa atau jiwa badani.Semangat jiwa rohani itu naik keatas, memancarkan cemerlang (seolah) diantara semerbaknya bau dupa, itulah sari beratus benda dan makhluk, itulah pernyataan adanya roh.” (Lee Ki XXIV:13)

