Kajian Terbaru
Memuat berita terbaru...

New Update

Memuat artikel...

Agama Kristen

Memuat artikel...
Memuat artikel...
  • Memuat artikel...

Apa Hubungan Yesus dengan Tuhan Bapa? Memahami Bapa dan Anak dalam Ajaran Kekristenan

Kristen - Salah satu pertanyaan paling penting dalam memahami Kekristenan adalah apa sebenarnya hubungan antara Yesus dengan Tuhan Bapa. Pertanyaan ini muncul karena Alkitab berkali-kali memperlihatkan Yesus berbicara kepada Allah sebagai “Bapa”, berdoa kepada Bapa, menerima tugas dari Bapa, dan mengatakan bahwa Ia datang untuk melakukan kehendak Bapa. Namun, pada saat yang sama, Kekristenan mengajarkan bahwa Yesus adalah Anak Allah, bahkan sungguh-sungguh ilahi. Jika Yesus adalah Tuhan, mengapa Ia berbicara kepada Tuhan Bapa? Jika Yesus adalah Anak Allah, apakah berarti Ia lebih rendah daripada Bapa? Apakah Bapa dan Yesus adalah dua Allah? Atau apakah sebenarnya Bapa dan Yesus adalah satu pribadi yang sama? Pertanyaan-pertanyaan ini berada tepat di tengah-tengah persoalan kristologi dan menjadi salah satu alasan mengapa doktrin Trinitas berkembang dalam sejarah Kekristenan.

Untuk menjawabnya, kita perlu menghindari dua kesalahpahaman yang berlawanan. Kesalahpahaman pertama adalah menganggap bahwa Yesus dan Bapa adalah pribadi yang sama, sehingga ketika Yesus berdoa kepada Bapa sebenarnya Ia hanya berbicara kepada diri-Nya sendiri. Pandangan seperti ini tidak sesuai dengan gambaran Injil, karena Yesus jelas berbicara kepada Bapa sebagai “Engkau”, sedangkan diri-Nya sendiri sebagai “Aku”. Ia juga berkata bahwa Bapa mengutus-Nya dan bahwa Ia kembali kepada Bapa. Kesalahpahaman kedua adalah menganggap bahwa karena Yesus berbeda dari Bapa, maka Yesus pasti hanya makhluk ciptaan atau manusia biasa. Kekristenan arus utama juga menolak kesimpulan ini karena Perjanjian Baru memberikan kepada Yesus gelar, fungsi, dan penghormatan yang sangat tinggi.

Karena itu, Kekristenan historis mencoba mempertahankan dua kebenaran sekaligus. Pertama, Bapa dan Anak sungguh berbeda sebagai pribadi. Kedua, Bapa dan Anak tidak dianggap sebagai dua Allah yang berbeda. Anak dipahami memiliki natur ilahi yang sama dengan Bapa. Dalam bahasa yang kemudian digunakan oleh teologi Kristen, Allah adalah satu dalam hakikat atau natur, tetapi Bapa, Anak, dan Roh Kudus dibedakan sebagai pribadi. Dengan demikian, ketika Yesus berdoa kepada Bapa, Kekristenan tidak menganggap hal itu sebagai percakapan antara manusia dengan Allah yang sama sekali tidak berhubungan dengan keilahian Yesus, melainkan sebagai bagian dari relasi antara Anak dan Bapa serta sekaligus kehidupan manusiawi Yesus.

Persoalan ini sangat penting karena hubungan Yesus dengan Bapa bukan sekadar persoalan istilah. Hubungan tersebut menjadi dasar bagi banyak doktrin Kristen lainnya. Cara seseorang memahami Bapa dan Anak akan memengaruhi pemahamannya mengenai Trinitas, inkarnasi, doa, keselamatan, salib, kebangkitan, dan bahkan siapa Allah itu sendiri. Karena itu, kita perlu melihat kesaksian Perjanjian Baru secara menyeluruh, bukan hanya mengambil satu atau dua ayat yang tampaknya mendukung satu sisi.

Para sarjana seperti Raymond E. Brown, Richard Bauckham, Larry Hurtado, James D. G. Dunn, N. T. Wright, dan Lewis Ayres telah membahas persoalan ini dengan pendekatan yang berbeda. Ada perbedaan pendapat mengenai bagaimana kristologi berkembang secara historis dan bagaimana setiap teks harus ditafsirkan, tetapi ada satu fakta yang sangat penting: hubungan antara Yesus dan Allah Bapa merupakan pusat dari tulisan-tulisan Kristen paling awal. Karena itu, untuk memahami Kekristenan, kita perlu memahami mengapa Yesus dapat berbicara tentang Allah sebagai Bapa dan sekaligus dipandang oleh gereja sebagai Tuhan.

Siapakah “Bapa” yang Dimaksud Yesus?
Ketika Yesus berbicara mengenai Bapa, Ia menggunakan bahasa yang menunjukkan hubungan yang sangat dekat dengan Allah. Dalam Injil-injil Sinoptik maupun Injil Yohanes, Yesus sering berbicara mengenai Allah sebagai Bapa. Ia mengajarkan murid-murid-Nya untuk berdoa, “Bapa kami yang di surga” (Matius 6:9), dan dalam banyak kesempatan Ia sendiri berdoa kepada Bapa. Hubungan ini bukan sekadar penggunaan istilah yang sopan untuk menyebut Allah. Dalam kesaksian Injil, Bapa merupakan pusat dari kehidupan dan misi Yesus.

Dalam Injil Yohanes, hubungan ini bahkan digambarkan secara lebih mendalam. Yohanes 5:17 mencatat Yesus berkata, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” Yohanes 5:19 kemudian menggambarkan Anak melakukan apa yang dilakukan Bapa. Yohanes 5:21 menyatakan bahwa sebagaimana Bapa membangkitkan orang mati dan memberikan kehidupan, demikian juga Anak memberikan kehidupan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dengan demikian, hubungan Bapa dan Anak bukan hubungan sederhana seperti hubungan antara seorang nabi dan Allah yang ia sembah.

Yang sangat penting adalah bahwa Yesus tidak hanya berkata bahwa Bapa adalah Allah yang Ia kenal seperti orang lain mengenal Allah. Ia berbicara mengenai hubungan yang unik antara diri-Nya dan Bapa. Dalam Matius 11:27, misalnya, Yesus berkata bahwa tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak berkenan menyatakannya. Pernyataan tersebut memberikan gambaran mengenai hubungan timbal balik yang sangat khusus antara Bapa dan Anak.

Raymond E. Brown, dalam kajiannya mengenai Injil Yohanes, menunjukkan bahwa hubungan antara Yesus dan Bapa merupakan salah satu struktur utama Injil tersebut. Yesus diutus oleh Bapa, menerima tugas dari Bapa, melakukan pekerjaan Bapa, berbicara atas nama Bapa, dan akhirnya kembali kepada Bapa. Namun, hubungan tersebut tidak menggambarkan Yesus sebagai sekadar juru bicara yang tidak memiliki hubungan khusus dengan identitas Allah. Yohanes justru menggunakan hubungan Bapa-Anak untuk menjelaskan keunikan Yesus.

Apakah Bapa dan Yesus adalah Pribadi yang Sama?
Jawabannya dalam Kekristenan historis adalah tidak. Bapa dan Anak berbeda sebagai pribadi. Hal ini dapat dilihat dengan sangat jelas dalam kisah pembaptisan Yesus. Dalam Markus 1:9–11, Yesus berada di sungai Yordan, Roh turun ke atas-Nya seperti burung merpati, dan suara dari surga menyatakan bahwa Yesus adalah Anak yang dikasihi. Narasi tersebut menggambarkan Yesus, Roh, dan suara Bapa dalam hubungan yang berbeda.

Perbedaan tersebut menjadi semakin jelas dalam doa Yesus di Yohanes 17. Yesus berbicara kepada Bapa, memohon agar Bapa memuliakan-Nya, mengingat kemuliaan yang dimiliki-Nya bersama Bapa sebelum dunia ada, dan berbicara mengenai hubungan kasih antara Bapa dan Anak. Jika Bapa dan Anak dianggap sebagai satu pribadi yang sama, struktur doa tersebut menjadi sangat sulit dijelaskan. Injil Yohanes justru menggambarkan adanya relasi nyata antara dua pribadi.

Yohanes 17:24 bahkan memuat perkataan mengenai kasih Bapa kepada Anak “sebelum dunia dijadikan”. Pernyataan ini sangat penting bagi teologi Kristen karena menunjukkan bahwa hubungan Bapa dan Anak tidak dimulai pada saat kelahiran Yesus di Betlehem. Dalam pembacaan Kristen terhadap Yohanes, Anak sudah memiliki hubungan dengan Bapa sebelum keberadaan dunia. Karena itu, istilah “Anak” tidak dimaksudkan sebagai anak biologis yang baru mulai ada ketika Maria mengandung Yesus.

Di sinilah kita harus membedakan inkarnasi dari awal keberadaan Anak. Kekristenan mengajarkan bahwa Anak yang kekal menjadi manusia dalam diri Yesus. Natal bukan dipahami sebagai saat Anak mulai ada, melainkan saat Anak yang kekal mengambil natur manusia. Yohanes 1:14 merumuskan hal tersebut dengan mengatakan bahwa Firman menjadi manusia. Dengan demikian, Yesus sebagai manusia memiliki kelahiran historis, tetapi Anak dalam pengertian teologis tidak dianggap mulai ada pada saat kelahiran itu.

Jika Bapa dan Anak Berbeda, Apakah Ada Dua Allah?
Pertanyaan ini merupakan salah satu tantangan terbesar bagi teologi Kristen awal. Jika Bapa adalah Allah dan Yesus adalah Allah, bukankah berarti ada dua Allah? Kekristenan historis menjawab tidak, karena Bapa dan Anak tidak dipahami sebagai dua pusat keilahian yang terpisah. Keduanya memiliki natur ilahi yang sama.

Perjanjian Baru sendiri tetap mempertahankan monoteisme. 1 Korintus 8:4 mengatakan bahwa tidak ada Allah lain daripada Allah yang esa. Namun, beberapa ayat kemudian, Paulus berbicara tentang “satu Allah, yaitu Bapa” dan “satu Tuhan, yaitu Yesus Kristus”. Ini merupakan salah satu teks yang menarik karena Paulus tidak meninggalkan pengakuan monoteistik tetapi memberikan tempat yang sangat tinggi kepada Yesus dalam kerangka tersebut.

Yohanes 1:1 bahkan mengatakan bahwa Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Kalimat ini sekaligus menunjukkan perbedaan dan kesatuan. Firman “bersama-sama dengan Allah” menunjukkan relasi, sedangkan “Firman itu adalah Allah” menunjukkan identitas ilahi. Karena itu, Yohanes tidak mengatakan bahwa Firman adalah Bapa, tetapi juga tidak menggambarkan Firman sebagai makhluk yang bukan Allah.

Richard Bauckham mengembangkan argumen bahwa kristologi Perjanjian Baru harus dipahami dalam konteks monoteisme Yahudi. Menurutnya, Yesus dimasukkan ke dalam “identitas ilahi” Allah Israel melalui fungsi-fungsi dan penghormatan yang diberikan kepada-Nya. Ini membantu menjelaskan mengapa orang Kristen dapat membedakan Bapa dan Anak tetapi tetap mengaku hanya ada satu Allah.

Pandangan ini juga membantu menjelaskan mengapa Kekristenan tidak sama dengan politeisme. Dalam politeisme, berbagai dewa merupakan entitas ilahi yang berbeda dengan kuasa dan identitas masing-masing. Dalam Trinitas, Bapa dan Anak bukan dua dewa yang berdiri berdampingan. Kekristenan berbicara tentang satu natur ilahi yang dimiliki oleh Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

Mengapa Yesus Berdoa kepada Bapa?
Salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan adalah: “Kalau Yesus adalah Tuhan, mengapa Ia berdoa kepada Tuhan Bapa?” Pertanyaan ini sangat masuk akal karena Injil memang menggambarkan Yesus berdoa. Ia berdoa sebelum memilih murid-murid, berdoa di tempat sunyi, berdoa sebelum kematian-Nya, dan berdoa di kayu salib.

Jawaban Kristen berkaitan erat dengan doktrin inkarnasi. Kekristenan tidak mengajarkan bahwa Yesus hanya “terlihat” sebagai manusia. Ia sungguh menjadi manusia. Karena itu, kehidupan doa Yesus merupakan bagian dari kehidupan manusiawi-Nya. Jika Yesus benar-benar menjadi manusia, maka berdoa kepada Bapa merupakan sesuatu yang sesuai dengan identitas manusiawi-Nya sebagai Anak yang taat.

Dalam doa di Getsemani, misalnya, Yesus berkata, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Matius 26:39). Teks ini menunjukkan adanya perbedaan nyata antara kehendak manusiawi Yesus yang menghadapi penderitaan dan kehendak Bapa. Namun, Injil tidak menggambarkan hubungan tersebut sebagai pemberontakan. Sebaliknya, Yesus menyerahkan diri-Nya kepada kehendak Bapa.

Dalam surat Ibrani, ketaatan Yesus bahkan menjadi bagian penting dari gambaran keselamatan. Ibrani 5:7–9 menggambarkan Yesus berdoa dan belajar taat melalui penderitaan. Ini sangat penting karena Kekristenan tidak hanya mengatakan bahwa Yesus “memiliki tubuh manusia”, tetapi bahwa Ia menjalani kehidupan manusia secara nyata. Ia mengalami penderitaan, ketakutan, kesedihan, dan kematian. Karena itu, doa Yesus kepada Bapa bukanlah masalah bagi doktrin inkarnasi; justru merupakan salah satu bagian dari bukti bahwa inkarnasi dipahami secara serius.

Apakah Bapa Lebih Tinggi daripada Yesus?
Pertanyaan ini terutama muncul dari Yohanes 14:28, ketika Yesus berkata, “Bapa lebih besar daripada Aku.” Jika Bapa lebih besar daripada Yesus, bukankah berarti Yesus lebih rendah dan bukan Allah?

Ayat tersebut harus dibaca bersama konteks inkarnasi. Dalam Injil Yohanes, Yesus datang dari Bapa, menjalankan misi di dunia, kemudian kembali kepada Bapa. Ketika berbicara sebagai Dia yang telah datang ke dalam kondisi manusia dan menjalankan misi keselamatan, Yesus dapat berbicara mengenai posisi Bapa sebagai yang mengutus dan diri-Nya sebagai yang diutus. Hal tersebut berkaitan dengan peran dan misi, bukan otomatis berarti perbedaan natur ilahi.

Filipi 2:6–8 memberikan kerangka yang sangat penting. Kristus yang berada dalam “rupa Allah” mengambil “rupa seorang hamba” dan merendahkan diri sampai mati di kayu salib. Teks ini menunjukkan bahwa dalam kehidupan inkarnasi terdapat kerendahan diri dan ketaatan. Namun, kerendahan diri tersebut tidak berarti bahwa Kristus pada awalnya bukan ilahi. Justru kontras antara “rupa Allah” dan “rupa seorang hamba” menjadi sangat penting dalam argumen Paulus.

Dalam perkembangan teologi Kristen, pembedaan antara status, peran, dan natur menjadi sangat penting. Anak dapat menjalankan peran sebagai yang diutus oleh Bapa tanpa berarti bahwa Anak memiliki natur ilahi yang lebih rendah. Demikian pula, seorang raja dapat mengutus seorang wakil tanpa wakil tersebut menjadi makhluk yang berbeda jenis. Dalam kasus Kristus, Kekristenan mengajarkan bahwa Anak dan Bapa memiliki natur ilahi yang sama, tetapi dalam karya keselamatan Anak mengambil peran sebagai yang diutus dan menjadi manusia.

Karena itu, “Bapa lebih besar daripada Aku” tidak dipahami oleh Kekristenan arus utama sebagai bukti bahwa Yesus adalah makhluk ciptaan. Ayat tersebut dibaca dalam keseluruhan kesaksian mengenai inkarnasi dan hubungan Anak dengan Bapa. Lewis Ayres menunjukkan bahwa perdebatan teologis abad keempat mengenai hubungan Bapa dan Anak justru muncul karena gereja berusaha memahami bagaimana kesetaraan ilahi dan perbedaan relasional dapat dipertahankan sekaligus.

Apakah Yesus Tunduk kepada Bapa?
Ya, dalam Perjanjian Baru Yesus digambarkan taat kepada Bapa. Ia berkata bahwa Ia datang bukan untuk melakukan kehendak-Nya sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus-Nya (Yohanes 6:38). Dalam Yohanes 4:34, makanan Yesus digambarkan sebagai melakukan kehendak Dia yang mengutus-Nya dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Dalam Filipi 2, kerendahan diri dan ketaatan Yesus bahkan menjadi contoh bagi komunitas Kristen.

Namun, ketaatan tidak otomatis berarti ketidakilahian. Dalam kerangka Kristen, ketaatan Anak kepada Bapa merupakan bagian dari hubungan dan misi-Nya sebagai Anak yang diutus ke dalam dunia. Jika Yesus benar-benar manusia, maka ketaatan merupakan bagian dari kehidupan manusiawi-Nya. Bahkan justru karena Ia adalah manusia sejati, ketaatan-Nya dianggap memiliki makna bagi keselamatan.

Konsep ini sangat penting dalam teologi Adam baru atau Adam kedua. Paulus dalam Roma 5 dan 1 Korintus 15 membandingkan Adam dengan Kristus. Adam dikaitkan dengan ketidaktaatan, sedangkan Kristus dikaitkan dengan ketaatan. Dengan demikian, Yesus dipahami sebagai manusia yang menjalankan ketaatan yang sempurna kepada Allah.

Dalam tradisi Kristen, ketaatan Kristus tidak dipahami sebagai bukti bahwa Ia hanyalah seorang bawahan Allah. Sebaliknya, ketaatan tersebut menjadi bagian dari karya keselamatan. Anak yang kekal mengambil natur manusia dan menjalani kehidupan manusia yang taat kepada Bapa. Karena itu, hubungan Yesus dengan Bapa memiliki dimensi kekal dan ilahi, sekaligus dimensi historis dan manusiawi melalui inkarnasi.

Apa Arti “Anak” dalam Hubungan Yesus dengan Bapa?
Istilah “Anak Allah” harus dipahami secara teologis, bukan biologis. Kekristenan tidak mengajarkan bahwa Allah mempunyai seorang anak melalui proses biologis seperti manusia. Istilah “Anak” menunjuk kepada hubungan unik dan kekal antara Bapa dan Anak.

Dalam Yohanes 1:18, Yohanes berbicara mengenai Anak Tunggal yang ada di pangkuan Bapa dan yang menyatakan Bapa. Dalam Yohanes 17:5, Yesus berbicara tentang kemuliaan yang Ia miliki bersama Bapa sebelum dunia ada. Dalam Yohanes 5:26, Anak dikatakan memiliki hidup dalam diri-Nya sebagaimana Bapa memiliki hidup dalam diri-Nya. Bahasa tersebut menunjukkan hubungan yang jauh lebih tinggi daripada hubungan antara Allah dan seorang nabi.

Karena itu, ketika gereja mula-mula menyebut Yesus sebagai Anak, mereka tidak sedang mengatakan bahwa Yesus diciptakan oleh Bapa. Inilah salah satu alasan mengapa Konsili Nicea menggunakan istilah “diperanakkan, bukan dibuat”. Istilah tersebut dimaksudkan untuk membedakan Anak dari ciptaan.

Athanasius dari Aleksandria menjadi salah satu pembela utama pemahaman ini. Menurut Athanasius, jika Anak adalah ciptaan, maka Ia bukan Allah sejati. Dan jika Ia bukan Allah sejati, maka keselamatan melalui Kristus tidak dapat dipahami sebagai tindakan Allah sendiri. Karena itu, bagi Athanasius, keilahian Anak berkaitan langsung dengan keselamatan manusia.

Dalam perkembangan teologi Kristen, hubungan Bapa dan Anak kemudian dipahami sebagai hubungan yang kekal. Artinya, tidak pernah ada waktu ketika Bapa ada tetapi Anak belum ada. Anak tidak muncul belakangan. Sebutan “Anak” menggambarkan relasi kekal, bukan urutan waktu seperti dalam hubungan biologis manusia.

Apa yang Dimaksud dengan “Bapa Mengutus Anak”?
Salah satu tema paling sering muncul dalam Injil Yohanes adalah bahwa Bapa mengutus Anak ke dalam dunia. Yohanes 3:16–17 mengatakan bahwa Allah mengutus Anak-Nya ke dunia supaya dunia diselamatkan melalui Dia. Yohanes 5:36–37 berbicara mengenai Bapa yang mengutus Yesus. Yohanes 6:57 juga menggambarkan hubungan antara Bapa yang hidup dan Yesus yang diutus oleh Bapa.

Bahasa “mengutus” menunjukkan bahwa Yesus memiliki misi. Ia datang bukan semata-mata untuk mengajarkan moralitas, tetapi untuk menjalankan karya keselamatan. Ia memberitakan Kerajaan Allah, menyembuhkan, mengampuni, menghadapi dosa, mati di kayu salib, dan bangkit dari kematian. Semua itu dipahami sebagai bagian dari misi yang diberikan oleh Bapa.

Namun, pengutusan tidak berarti bahwa Yesus tidak memiliki kehendak atau identitas sendiri. Dalam Yohanes, Anak melakukan kehendak Bapa secara sempurna karena terdapat kesatuan antara Bapa dan Anak. Yohanes 10:30 mengatakan, “Aku dan Bapa adalah satu.” Yohanes 10:38 juga berbicara mengenai Bapa di dalam Yesus dan Yesus di dalam Bapa.

N. T. Wright menekankan bahwa Yesus harus dibaca dalam konteks kisah Israel dan tindakan Allah terhadap umat-Nya. Yesus tampil sebagai Mesias yang menjalankan misi Allah, tetapi misi tersebut sekaligus mengungkap identitas-Nya secara unik. Karena itu, pengutusan Yesus tidak menjadikan-Nya sekadar kurir pesan. Dalam narasi Injil, Ia adalah pusat dari tindakan penyelamatan Allah.

Mengapa Yesus Berkata “Bapa di Dalam Aku dan Aku di Dalam Bapa”?
Yohanes 10:38 dan Yohanes 14:10–11 menggunakan bahasa yang sangat kuat mengenai saling berdiamnya Bapa dan Anak. Yesus berkata bahwa Bapa ada di dalam Dia dan Dia ada di dalam Bapa. Bahasa ini menunjukkan hubungan yang jauh lebih dalam daripada hubungan antara seorang nabi dan Allah.

Dalam Yohanes 14:9, Yesus berkata kepada Filipus, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” Pernyataan tersebut tidak berarti bahwa Yesus adalah Bapa sebagai pribadi. Namun, Yesus menyatakan bahwa melihat dan mengenal Dia membawa manusia kepada pengenalan terhadap Bapa. Dalam konteks Injil Yohanes, Yesus adalah penyataan Allah yang paling sempurna.

Hal tersebut berkaitan dengan Yohanes 1:18, yang mengatakan bahwa tidak seorang pun pernah melihat Allah, tetapi Anak yang ada di pangkuan Bapa telah menyatakan-Nya. Dengan demikian, Yesus dipahami sebagai penyataan Allah kepada manusia. Ia bukan Bapa, tetapi melalui Anak manusia mengenal Bapa.

Inilah salah satu alasan mengapa Kekristenan memberikan tempat yang sangat tinggi kepada Yesus. Jika Yesus adalah penyataan sempurna mengenai Bapa, maka mengenal Yesus bukan sekadar mempelajari seorang tokoh agama. Menurut iman Kristen, melalui Yesus manusia mengenal Allah. Karena itu, Yesus berkata dalam Yohanes 14:6 bahwa Ia adalah jalan, kebenaran, dan hidup, dan bahwa tidak seorang pun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Dia.

Bagaimana Hubungan Bapa dan Anak Dijelaskan dalam Trinitas?
Doktrin Trinitas tidak berarti bahwa Allah adalah tiga Allah. Trinitas mengajarkan bahwa ada satu Allah dalam tiga pribadi: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Dalam kerangka tersebut, Bapa bukan Anak, Anak bukan Roh Kudus, dan Roh Kudus bukan Bapa. Namun, ketiganya memiliki satu natur ilahi.

Rumusan tersebut berkembang melalui proses panjang karena gereja berusaha memahami kesaksian Alkitab. Matius 28:19 menyebut Bapa, Anak, dan Roh Kudus dalam satu formula baptisan. 2 Korintus 13:13 menghubungkan kasih karunia Kristus, kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus. Yohanes berbicara tentang hubungan Bapa dan Anak, sementara berbagai teks lainnya berbicara mengenai Roh Kudus dalam konteks ilahi.

Lewis Ayres menjelaskan bahwa teologi Trinitarian abad keempat tidak dapat dipahami hanya sebagai usaha filsuf untuk membuat konsep abstrak. Perdebatan tersebut berkaitan dengan pertanyaan yang sangat konkret: siapakah Yesus yang disembah oleh gereja, bagaimana Ia berhubungan dengan Allah Bapa, dan bagaimana monoteisme tetap dipertahankan? Istilah-istilah seperti ousia dan hypostasis kemudian digunakan untuk memberikan ketepatan filosofis terhadap keyakinan yang sudah diperdebatkan dalam gereja.

Konsili Nicea pada tahun 325 menegaskan bahwa Anak adalah “sehakikat” dengan Bapa. Konsili Konstantinopel pada tahun 381 memperkuat formulasi tersebut dalam Pengakuan Iman yang kemudian dikenal sebagai Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel. Dengan demikian, gereja menolak dua ekstrem: menjadikan Anak sebagai ciptaan dan menjadikan Bapa serta Anak sebagai satu pribadi yang tidak dapat dibedakan.

Apakah Hubungan Bapa dan Anak Ada Sebelum Yesus Lahir?
Menurut Kekristenan arus utama, ya. Ini merupakan salah satu aspek paling penting dalam konsep Anak yang kekal. Kelahiran Yesus di Betlehem tidak dipahami sebagai awal keberadaan Anak, melainkan sebagai awal kehidupan manusiawi-Nya di dunia.

Yohanes 1:1 mengatakan bahwa Firman sudah ada “pada mulanya”. Yohanes 1:3 menyatakan bahwa segala sesuatu dijadikan melalui Firman. Yohanes 17:5 berbicara mengenai kemuliaan yang dimiliki Yesus bersama Bapa sebelum dunia ada. Kolose 1:15–17 juga berbicara mengenai Kristus dalam hubungan dengan penciptaan segala sesuatu.

Filipi 2:6–7 memberikan gambaran lain. Kristus yang berada dalam “rupa Allah” mengambil rupa seorang hamba dan menjadi manusia. Dalam pembacaan Kristen, hal ini menunjukkan bahwa inkarnasi adalah gerakan dari keberadaan ilahi menuju kehidupan manusiawi, bukan proses seorang manusia biasa yang kemudian diangkat menjadi Allah.

Larry Hurtado dan Richard Bauckham sama-sama menekankan pentingnya kristologi awal dalam memahami Yesus. Walaupun mereka memiliki pendekatan yang berbeda, penelitian mereka menunjukkan bahwa penghormatan tinggi kepada Yesus dan keyakinan mengenai status-Nya yang unik sudah muncul dalam Kekristenan awal. Karena itu, gagasan bahwa keilahian Yesus sepenuhnya merupakan hasil perkembangan gereja yang sangat terlambat tidak cukup menjelaskan keseluruhan data Perjanjian Baru.

Mengapa Bapa dan Anak Saling Mengasihi?
Salah satu gambaran paling indah mengenai hubungan Bapa dan Anak terdapat dalam Injil Yohanes: hubungan mereka digambarkan sebagai hubungan kasih. Yohanes 3:35 mengatakan bahwa Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Yohanes 5:20 kembali mengatakan bahwa Bapa mengasihi Anak dan menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya.

Yohanes 17 juga menunjukkan hubungan kasih yang mendalam antara Bapa dan Anak. Yesus berbicara mengenai kemuliaan yang dimiliki bersama Bapa dan kasih Bapa kepada-Nya. Jika hubungan tersebut dipahami sebagai sesuatu yang sudah ada sebelum penciptaan, maka kasih bukan sekadar sesuatu yang muncul setelah Allah menciptakan manusia. Dalam teologi Kristen, kasih antara Bapa dan Anak merupakan bagian dari kehidupan ilahi itu sendiri.

Hal tersebut kemudian menjadi penting dalam pemahaman Kristen mengenai Allah sebagai kasih. 1 Yohanes 4:8 mengatakan bahwa Allah adalah kasih. Kekristenan tidak mengartikan kalimat ini hanya sebagai “Allah memiliki kasih kepada ciptaan”. Ada gagasan yang lebih mendalam bahwa kasih merupakan bagian dari keberadaan Allah. Dalam kerangka Trinitarian, relasi Bapa, Anak, dan Roh Kudus menjadi dasar bagi pemahaman mengenai kehidupan Allah sebagai kehidupan relasional.

Karena itu, hubungan Bapa dan Anak bukan hanya hubungan hierarkis antara penguasa dan bawahan. Ia juga merupakan hubungan kasih, kesatuan, kehendak, dan persekutuan. Dalam Yohanes 17, Yesus bahkan berdoa agar para pengikut-Nya mengalami kesatuan sebagaimana Ia dan Bapa berada dalam kesatuan. Dengan demikian, hubungan Bapa dan Anak menjadi pola bagi hubungan antara Allah dan manusia serta hubungan antarorang percaya.

Apa Hubungan Bapa dan Anak dengan Keselamatan Manusia?
Dalam Kekristenan, keselamatan manusia berasal dari Allah dan dikerjakan melalui Kristus. Yohanes 3:16 menggambarkan Allah mengasihi dunia dan memberikan Anak-Nya yang tunggal supaya manusia yang percaya memperoleh hidup kekal. Dalam Roma 5, kematian Kristus dipahami sebagai tindakan yang membawa pendamaian. Dalam 2 Korintus 5:19, Paulus berbicara mengenai Allah yang mendamaikan dunia dengan diri-Nya melalui Kristus.

Hubungan Bapa dan Anak sangat penting di sini karena keselamatan bukan dipahami sebagai Yesus meyakinkan Bapa yang sebenarnya tidak mau mengampuni manusia. Sebaliknya, dalam kerangka Perjanjian Baru, Bapa sendiri mengutus Anak karena kasih-Nya kepada dunia. Salib bukan pertentangan antara Yesus yang penuh kasih dan Bapa yang penuh murka. Keduanya berada dalam satu karya keselamatan.

Yesus berkata dalam Yohanes 10:17–18 bahwa Ia menyerahkan nyawa-Nya dan memiliki kuasa untuk mengambilnya kembali. Ia juga berkata bahwa Ia melakukan semuanya sesuai perintah yang diterima-Nya dari Bapa. Dengan demikian, salib dipahami sebagai tindakan ketaatan Anak sekaligus bagian dari kehendak keselamatan Allah.

John Stott, dalam pembahasannya mengenai salib, menekankan bahwa kasih Allah dan kekudusan Allah tidak boleh dipisahkan. Salib bukan sekadar simbol penderitaan, tetapi pusat dari tindakan Allah terhadap dosa. Dalam tradisi Kristen yang berbeda-beda, ada berbagai model untuk menjelaskan penebusan pengorbanan, kemenangan atas kuasa dosa dan maut, substitusi, rekonsiliasi, dan lain-lain tetapi semuanya berangkat dari keyakinan bahwa karya Kristus tidak terpisah dari kehendak Bapa.

Apa yang Terjadi antara Bapa dan Anak pada Saat Salib?
Peristiwa salib merupakan salah satu titik paling dalam dalam memahami hubungan Bapa dan Anak. Yesus berteriak dari salib, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Markus 15:34; Matius 27:46). Kalimat tersebut mengutip Mazmur 22 dan menunjukkan kedalaman penderitaan Yesus.

Namun, ayat tersebut tidak boleh langsung ditafsirkan bahwa Trinitas terpecah dan Bapa berhenti menjadi Bapa atau Anak berhenti menjadi Anak. Kekristenan historis tidak mengajarkan bahwa natur ilahi terbelah pada saat salib. Sebaliknya, Yesus mengalami penderitaan dan kematian dalam natur manusia-Nya. Salib menunjukkan betapa seriusnya penderitaan yang dijalani Kristus.

Mazmur 22 sendiri merupakan teks yang bergerak dari ratapan menuju kepercayaan dan kemenangan. Karena itu, kutipan Yesus terhadap mazmur tersebut memiliki konteks yang lebih luas daripada sekadar ungkapan putus asa. Namun, hal itu tidak mengurangi kenyataan bahwa Yesus sungguh mengalami penderitaan. Dalam Kekristenan, salib justru menjadi bukti bahwa Anak sungguh memasuki kondisi manusia.

Setelah kematian, kebangkitan menjadi jawaban penting terhadap salib. Allah membangkitkan Yesus dari antara orang mati. Dalam Kisah Para Rasul, kebangkitan dipahami sebagai tindakan Allah yang membenarkan dan meninggikan Kristus. Dengan demikian, hubungan Bapa dan Anak tidak berakhir di kayu salib. Sang Anak bangkit dan kemudian ditinggikan dalam kemuliaan.

Jadi, Apa Sebenarnya Hubungan Yesus dengan Tuhan Bapa?
Jika seluruh pembahasan dirangkum, hubungan Yesus dengan Bapa dalam Kekristenan dapat dijelaskan melalui beberapa unsur yang saling berkaitan. Bapa dan Anak berbeda sebagai pribadi, sehingga Yesus dapat berdoa kepada Bapa dan berbicara kepada-Nya. Namun, Bapa dan Anak satu dalam keilahian, sehingga Yesus dapat disebut Tuhan dan menerima penghormatan yang sangat tinggi. Anak diutus oleh Bapa ke dunia, tetapi pengutusan tersebut tidak berarti bahwa Anak adalah makhluk ciptaan.

Yesus sebagai Anak juga menjalankan kehidupan manusia yang nyata. Karena itu, Ia berdoa, taat, menderita, dan mati. Semua ini tidak dianggap sebagai bukti bahwa Ia bukan Allah, melainkan sebagai bagian dari keyakinan bahwa Anak Allah benar-benar menjadi manusia. Doktrin inkarnasi menjelaskan mengapa Yesus dapat berbicara sebagai manusia kepada Bapa dan sekaligus dipahami sebagai ilahi.

Hubungan Bapa dan Anak juga merupakan hubungan kasih dan persekutuan. Injil Yohanes menggambarkan Bapa mengasihi Anak, Anak mengasihi Bapa, dan keduanya memiliki kesatuan kehendak. Yesus datang ke dunia bukan sebagai lawan Bapa, tetapi sebagai Dia yang diutus Bapa untuk menjalankan karya keselamatan.

Karena itu, menurut Kekristenan arus utama, Yesus bukan Tuhan yang berbeda dari Bapa dan bukan pula Bapa yang menyamar menjadi manusia. Ia adalah Anak yang kekal, pribadi yang berbeda dari Bapa tetapi satu dengan Bapa dalam keilahian. Inilah dasar utama mengapa orang Kristen dapat mengatakan sekaligus bahwa “Yesus adalah Tuhan” dan “Yesus adalah Anak Allah”.

Apa Hubungan Yesus dengan Tuhan Bapa?
Hubungan Yesus dengan Tuhan Bapa merupakan salah satu pusat iman Kristen. Kekristenan tidak mengajarkan bahwa Yesus dan Bapa adalah pribadi yang sama, tetapi juga tidak mengajarkan bahwa mereka adalah dua Allah. Yesus adalah Anak, sedangkan Bapa adalah Bapa; keduanya berbeda sebagai pribadi, tetapi menurut doktrin Trinitas keduanya memiliki natur ilahi yang sama.

Karena itu, ketika Yesus berdoa kepada Bapa, hal tersebut tidak dianggap sebagai bukti bahwa Yesus bukan Tuhan. Doa Yesus menunjukkan dua hal sekaligus: hubungan-Nya yang nyata dengan Bapa dan kenyataan bahwa Ia sungguh menjalani kehidupan manusia. Dalam inkarnasi, Anak yang kekal mengambil natur manusia, sehingga Ia dapat mengalami kehidupan manusia secara penuh—termasuk doa, ketaatan, penderitaan, dan kematian.

Perjanjian Baru memberikan berbagai dasar bagi pemahaman tersebut. Yohanes 1 menggambarkan Firman yang bersama-sama dengan Allah dan adalah Allah, lalu menjadi manusia. Yohanes 5 menunjukkan hubungan unik antara Bapa dan Anak. Yohanes 10 berbicara mengenai kesatuan Bapa dan Anak. Yohanes 14 menggambarkan Yesus sebagai penyataan Bapa. Yohanes 17 menunjukkan hubungan kasih dan kemuliaan antara Bapa dan Anak sebelum dunia ada. Filipi 2 menggambarkan Kristus dalam rupa Allah yang mengambil rupa seorang hamba. 1 Korintus 8 tetap mempertahankan monoteisme sambil memberikan tempat yang sangat tinggi kepada Yesus.

Karena itu, istilah “Anak Allah” tidak berarti Yesus adalah anak biologis Allah atau makhluk yang diciptakan oleh Allah. Dalam teologi Kristen, Anak adalah hubungan kekal. Anak “diperanakkan, bukan dibuat”, sebagaimana kemudian dirumuskan dalam Pengakuan Iman Nicea. Ini merupakan cara gereja menjelaskan bahwa Anak bukan ciptaan, tetapi tetap berbeda dari Bapa.

Pada saat yang sama, Kekristenan juga tidak mengatakan bahwa Yesus adalah Bapa. Bapa mengutus Anak, Anak berdoa kepada Bapa, dan Anak kembali kepada Bapa. Hubungan ini nyata dan tidak boleh dihapuskan. Namun, perbedaan pribadi tidak berarti perbedaan dalam keilahian. Karena itu, orang Kristen dapat menyembah Yesus tanpa menganggap diri mereka menyembah Allah kedua.

Jika diringkas dalam satu kalimat, hubungan Yesus dengan Tuhan Bapa menurut Kekristenan adalah hubungan antara Anak yang kekal dan Bapa yang kekal: keduanya berbeda sebagai pribadi, tetapi satu dalam keilahian, saling mengasihi, dan bersama-sama berkarya dalam keselamatan manusia.

Inilah dasar mengapa Kekristenan kemudian berbicara tentang Allah Tritunggal. Bapa bukan Anak, Anak bukan Roh Kudus, dan Roh Kudus bukan Bapa; tetapi ketiganya adalah satu Allah. Dan dalam pribadi Anak, Allah masuk ke dalam sejarah manusia sebagai Yesus Kristus.

Dengan demikian, memahami hubungan Yesus dengan Bapa membantu menjawab beberapa pertanyaan sebelumnya sekaligus. Mengapa Yesus menyebut Allah sebagai Bapa? Karena Ia adalah Anak. Mengapa Yesus berdoa kepada Bapa? Karena Bapa dan Anak berbeda sebagai pribadi dan karena Anak sungguh menjadi manusia. Mengapa Yesus disebut Tuhan? Karena Anak dipahami memiliki natur ilahi yang sama dengan Bapa. Mengapa orang Kristen tidak menganggapnya sebagai dua Allah? Karena Kekristenan mengakui satu Allah. Dan mengapa semua ini menjadi begitu penting? Karena bagi iman Kristen, di dalam hubungan Bapa dan Anak kita menemukan pusat pemahaman Kristen mengenai siapa Allah dan bagaimana Allah menyelamatkan manusia melalui Yesus Kristus.

Daftar Referensi
  • Athanasius. On the Incarnation.
  • Athanasius. Four Discourses Against the Arians.
  • Ayres, Lewis. Nicaea and Its Legacy: An Approach to Fourth-Century Trinitarian Theology. Oxford University Press.
  • Bauckham, Richard. Jesus and the God of Israel: God Crucified and Other Studies on the New Testament's Christology of Divine Identity. Eerdmans.
  • Brown, Raymond E. The Gospel According to John I–XII. Anchor Bible.
  • Brown, Raymond E. The Gospel According to John XIII–XXI. Anchor Bible.
  • Dunn, James D. G. Christology in the Making: A New Testament Inquiry into the Origins of the Doctrine of the Incarnation. SCM Press.
  • Hurtado, Larry W. Lord Jesus Christ: Devotion to Jesus in Earliest Christianity. Eerdmans.
  • Hurtado, Larry W. How on Earth Did Jesus Become a God? Historical Questions about Earliest Devotion to Jesus. Eerdmans.
  • Stott, John. The Cross of Christ. InterVarsity Press.
  • Wright, N. T. The Resurrection of the Son of God. Fortress Press.
  • Wright, N. T. Jesus and the Victory of God. Fortress Press.
  • Meier, John P. A Marginal Jew: Rethinking the Historical Jesus. Yale University Press.
  • Sanders, E. P. The Historical Figure of Jesus. Penguin Books.
  • Alkitab: Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Kisah Para Rasul, Roma, 1 Korintus, 2 Korintus, Filipi, Kolose, Ibrani, 1 Yohanes.
  • Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel.
  • Pengakuan Iman Rasuli.
  • Definisi Chalcedon.
  • Didache.
  • Letters of Ignatius of Antioch.


Read More.. →

Mengapa Orang Kristen Menyembah Yesus? Memahami Dasar Alkitab, Iman Gereja Mula-Mula, dan Keilahian Kristus

Kristen - Salah satu hal yang paling menarik dalam Kekristenan adalah kenyataan bahwa orang Kristen menyembah Yesus. Bagi orang yang melihat Kekristenan dari luar, hal ini dapat menimbulkan pertanyaan yang sangat mendasar: Jika orang Kristen percaya kepada satu Allah, mengapa mereka juga menyembah Yesus? Bukankah Yesus adalah Anak Allah? Jika Yesus adalah Anak Allah, mengapa Ia menerima penyembahan? Apakah orang Kristen sebenarnya menyembah dua pribadi yang berbeda, yaitu Allah Bapa dan Yesus? Pertanyaan seperti ini menjadi semakin menarik karena Yesus sendiri berkali-kali berbicara tentang Allah sebagai Bapa-Nya, berdoa kepada Bapa, dan menyebut Bapa sebagai Allah. Namun pada saat yang sama, Perjanjian Baru juga memperlihatkan murid-murid memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada Yesus, berdoa dalam nama-Nya, menyebut-Nya Tuhan, dan dalam beberapa bagian bahkan memberikan kepada-Nya bahasa yang berkaitan dengan identitas Allah.

Untuk memahami persoalan ini, kita harus terlebih dahulu membedakan antara menghormati seorang manusia, menghormati seorang raja, menghormati seorang nabi, dan menyembah sebagai Tuhan. Dalam Alkitab, manusia dapat bersujud di hadapan manusia lain sebagai tanda hormat tanpa berarti menganggap orang tersebut sebagai Allah. Karena itu, tidak setiap tindakan bersujud kepada Yesus otomatis membuktikan keilahian-Nya. Namun, jika kita melihat keseluruhan Perjanjian Baru, persoalannya menjadi jauh lebih dalam. Yesus tidak hanya menerima penghormatan sebagai guru atau Mesias, tetapi ditempatkan dalam pola devosi yang oleh komunitas Kristen awal diarahkan kepada Allah.

Hal tersebut sangat penting secara historis karena Kekristenan lahir dari lingkungan Yudaisme abad pertama, yang sangat kuat dalam pengakuan bahwa hanya ada satu Allah. Umat Yahudi memiliki tradisi panjang mengenai penyembahan kepada Allah Israel, yaitu Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Mereka tidak memiliki sistem politeistik seperti masyarakat Yunani-Romawi di sekitarnya. Karena itu, munculnya komunitas yang menyembah Yesus dalam lingkungan monoteistik Yahudi merupakan sebuah perkembangan yang membutuhkan penjelasan. Jika Yesus hanya dianggap sebagai guru biasa, mengapa para pengikut-Nya begitu cepat menempatkan-Nya dalam kehidupan ibadah mereka?

Para sarjana seperti Larry Hurtado, Richard Bauckham, N. T. Wright, James D. G. Dunn, dan Martin Hengel telah memberikan perhatian besar kepada persoalan ini. Mereka berbeda dalam menjelaskan proses dan perkembangan kristologi awal, tetapi penelitian mereka menunjukkan bahwa penghormatan kepada Yesus merupakan bagian yang sangat awal dari kehidupan komunitas Kristen. Hurtado khususnya menekankan bahwa devosi kepada Yesus bukanlah fenomena yang baru muncul setelah Kekristenan menjadi agama besar berabad-abad kemudian. Dalam komunitas Kristen awal, Yesus sudah menjadi pusat doa, pengakuan iman, nyanyian, baptisan, perjamuan, dan praktik keagamaan lainnya.

Karena itu, pertanyaan “Mengapa orang Kristen menyembah Yesus?” tidak cukup dijawab dengan mengatakan, “Karena gereja mengajarkan bahwa Yesus adalah Tuhan.” Kita perlu mengetahui mengapa gereja sampai pada pengakuan tersebut. Apakah ada dasar dalam perkataan dan tindakan Yesus? Bagaimana para rasul memahami kebangkitan-Nya? Mengapa Paulus dapat berbicara tentang Yesus sebagai “Tuhan” tetapi tetap mempertahankan iman kepada satu Allah? Mengapa Injil Yohanes berbicara tentang Firman yang adalah Allah dan kemudian menjadi manusia? Dan bagaimana gereja mula-mula akhirnya menjelaskan hubungan antara Yesus, Bapa, dan Roh Kudus?

Apakah Yesus Benar-Benar Disembah dalam Perjanjian Baru?
Pertama-tama, kita harus melihat apakah benar bahwa Perjanjian Baru memperlihatkan Yesus menerima bentuk penghormatan yang dapat disebut penyembahan. Jawabannya perlu diberikan dengan hati-hati karena kata yang diterjemahkan sebagai “menyembah” dapat memiliki berbagai nuansa. Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, salah satu kata yang sering digunakan adalah proskyneĹŤ, yang secara harfiah berkaitan dengan tindakan bersujud atau memberikan penghormatan. Kata tersebut dapat digunakan untuk manusia dalam konteks tertentu, sehingga kita tidak boleh menjadikan satu kata saja sebagai bukti otomatis bahwa Yesus dianggap Allah.

Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika tindakan penghormatan tersebut dibaca bersama keseluruhan konteks. Dalam Matius 14:33, setelah Yesus berjalan di atas air dan menenangkan keadaan, mereka yang berada di dalam perahu menyembah Dia dan berkata, “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.” Dalam Matius 28:9, setelah kebangkitan, para perempuan memegang kaki Yesus dan menyembah-Nya. Dalam Matius 28:17, para murid melihat Yesus yang bangkit dan menyembah-Nya. Tindakan tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi terjadi dalam konteks pengakuan mengenai identitas Yesus.

Injil Yohanes memberikan gambaran yang bahkan lebih kuat. Dalam Yohanes 20:28, Tomas melihat Yesus yang telah bangkit dan berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku!” Ini merupakan salah satu pernyataan kristologis paling eksplisit dalam Perjanjian Baru. Yang menarik, perkataan tersebut diarahkan langsung kepada Yesus. Yohanes kemudian menjelaskan tujuan penulisan Injilnya agar pembaca percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah, dan melalui iman memperoleh hidup dalam nama-Nya. Dengan demikian, pengakuan terhadap Yesus sebagai Tuhan dan Allah merupakan bagian dari klimaks narasi Yohanes.

Namun, penyembahan kepada Yesus tidak hanya muncul dalam Injil. Dalam 1 Korintus 1:2, Paulus menyebut komunitas Kristen sebagai orang-orang yang berseru kepada nama Tuhan Yesus Kristus. Dalam konteks Perjanjian Lama, “berseru kepada nama Tuhan” merupakan bahasa yang sangat kuat berkaitan dengan ibadah kepada Allah. Dalam 1 Korintus 16:22 bahkan muncul seruan “Maranatha”, yang berarti “Tuhan kami, datanglah.” Ini menunjukkan bahwa Yesus bukan hanya tokoh masa lalu yang dihormati, tetapi pribadi yang menjadi pusat kehidupan religius komunitas Kristen.

Mengapa Ini Menjadi Hal yang Luar Biasa dalam Konteks Yahudi?
Untuk memahami betapa radikalnya penghormatan kepada Yesus, kita perlu melihat konteks agama Yahudi abad pertama. Kekristenan awal tidak muncul dari masyarakat yang menganggap banyak dewa sebagai hal biasa. Para pengikut Yesus berasal dari tradisi yang mengakui Allah Israel sebagai satu-satunya Allah. Ulangan 6:4 menyatakan, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa.” Pengakuan monoteistik tersebut menjadi bagian mendasar dari identitas Yahudi.

Karena itu, jika komunitas Kristen mula-mula mulai menyembah Yesus, kita tidak dapat begitu saja menjelaskannya sebagai adopsi sederhana terhadap politeisme Yunani-Romawi. Orang Kristen Yahudi harus menemukan cara untuk menjelaskan bagaimana Yesus dapat menerima penghormatan religius tanpa berarti mereka telah meninggalkan monoteisme. Inilah salah satu masalah paling penting dalam sejarah kristologi awal.

Larry Hurtado dalam Lord Jesus Christ memberikan perhatian besar terhadap fenomena tersebut. Menurut Hurtado, devosi kepada Yesus muncul sangat awal dan menjadi salah satu karakteristik utama Kekristenan awal. Ia melihat pola yang mencakup doa kepada Yesus, penyebutan nama Yesus dalam ritual, nyanyian kepada Yesus, pengakuan iman mengenai Yesus, dan tindakan religius lainnya. Yang penting bagi Hurtado adalah bahwa semua ini muncul dalam lingkungan Yahudi yang tetap mempertahankan monoteisme.

Dengan kata lain, persoalan yang dihadapi orang Kristen pertama bukan sekadar, “Apakah kita ingin menyembah Yesus?” Persoalannya jauh lebih mendalam: Bagaimana mungkin Yesus dimasukkan ke dalam kehidupan ibadah kepada Allah tanpa menghancurkan keyakinan bahwa Allah itu satu? Jawaban yang akhirnya berkembang adalah bahwa Yesus tidak dianggap sebagai dewa kedua yang berdiri di samping Allah Bapa. Ia dipahami sebagai Anak yang memiliki identitas ilahi dan berada dalam hubungan unik dengan Bapa.

Mengapa Gelar “Tuhan” Menjadi Sangat Penting bagi Yesus?
Salah satu alasan utama orang Kristen menyembah Yesus adalah penggunaan gelar “Tuhan” atau Kyrios. Dalam kehidupan sehari-hari, kyrios dapat berarti “tuan” atau “penguasa”. Tetapi dalam tradisi Septuaginta, terjemahan Yunani Perjanjian Lama, kyrios juga digunakan untuk menerjemahkan nama ilahi YHWH dalam banyak konteks. Karena itu, penggunaan kata tersebut untuk Yesus dapat memiliki arti yang sangat tinggi.

Contoh yang sangat penting terdapat dalam Filipi 2:9–11. Paulus mengatakan bahwa Allah meninggikan Yesus dan memberikan kepada-Nya nama di atas segala nama, sehingga dalam nama Yesus setiap lutut bertelut dan setiap lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Pernyataan ini memiliki hubungan kuat dengan Yesaya 45:23, ketika Allah sendiri mengatakan bahwa kepada-Nya setiap lutut akan bertelut dan setiap lidah akan bersumpah. Paulus tampaknya menggunakan bahasa yang dalam Kitab Yesaya berkaitan dengan penghormatan universal kepada Allah dan menerapkannya kepada Yesus.

Hal ini sangat penting karena Paulus tidak sedang menggambarkan Yesus sebagai dewa tambahan. Ia sedang menempatkan Yesus dalam kerangka kisah Allah Israel. Dalam Filipi 2, Allah Bapa meninggikan Anak, dan pengakuan universal terhadap Yesus sebagai Tuhan justru “bagi kemuliaan Allah, Bapa.” Dengan demikian, penghormatan kepada Yesus tidak dimaksudkan untuk menggantikan Bapa, tetapi menjadi bagian dari kemuliaan Allah.

Richard Bauckham memberikan penekanan khusus pada persoalan ini. Menurutnya, kristologi Perjanjian Baru dapat dipahami melalui konsep “identitas ilahi”. Maksudnya, Yesus tidak sekadar memperoleh beberapa sifat ilahi seperti kekuatan atau pengetahuan supernatural, tetapi ditempatkan dalam identitas unik Allah Israel melalui fungsi dan peran seperti penciptaan, pemerintahan atas segala sesuatu, dan penerimaan penghormatan yang menjadi hak Allah.

Apakah Orang Kristen Menyembah Yesus sebagai Allah yang Berbeda dari Bapa?
Di sinilah doktrin Trinitas menjadi penting. Orang Kristen tidak percaya bahwa Bapa adalah satu Allah dan Yesus adalah Allah kedua yang terpisah sehingga terdapat dua Allah. Kekristenan historis justru mempertahankan keyakinan bahwa hanya ada satu Allah. Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah, tetapi ketiganya bukan tiga Allah.

Formulasi tersebut memang sulit karena bahasa sehari-hari tidak memiliki kategori yang mudah untuk menjelaskannya. Namun, inti doktrinnya adalah membedakan antara pribadi dan hakikat/natur. Bapa dan Anak berbeda sebagai pribadi, tetapi keduanya memiliki satu natur ilahi. Karena itu, ketika orang Kristen menyembah Yesus, mereka tidak merasa sedang berpaling dari Allah Bapa menuju Allah lain. Mereka percaya bahwa menyembah Anak merupakan bagian dari menyembah satu Allah yang sama.

Yohanes 10:30 sangat penting dalam pembahasan ini. Yesus berkata, “Aku dan Bapa adalah satu.” Ayat tersebut tidak berarti bahwa Yesus adalah Bapa atau bahwa keduanya adalah satu pribadi. Injil Yohanes sendiri menunjukkan bahwa Yesus berbicara kepada Bapa sebagai pribadi yang berbeda. Namun, ayat tersebut menunjukkan adanya kesatuan yang sangat dalam antara Anak dan Bapa.

Dalam Yohanes 14–17, hubungan tersebut bahkan semakin kompleks. Yesus berbicara tentang Bapa yang mengutus-Nya, tentang kemuliaan yang Ia miliki bersama Bapa sebelum dunia ada, dan tentang hubungan-Nya dengan Roh Kudus. Doa Yesus dalam Yohanes 17 menunjukkan bahwa Anak dan Bapa memiliki hubungan pribadi yang nyata. Jadi, Kekristenan tidak menyelesaikan persoalan dengan mengatakan “Yesus adalah Bapa.” Sebaliknya, Kekristenan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak yang berbeda dari Bapa tetapi memiliki keilahian yang sama.

Apakah Yesus Sendiri Pernah Meminta agar Disembah?
Pertanyaan ini membutuhkan kehati-hatian karena Injil tidak memberikan kalimat sederhana seperti, “Sembahlah Aku karena Aku adalah Allah,” dalam bentuk formula langsung seperti itu. Namun, Perjanjian Baru menggambarkan Yesus melakukan dan mengatakan berbagai hal yang kemudian menjadi dasar bagi pengakuan-Nya sebagai Tuhan.

Salah satu contoh paling penting adalah ketika Yesus mengampuni dosa. Dalam Markus 2:1–12, Yesus berkata kepada orang lumpuh, “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.” Para ahli Taurat kemudian mempertanyakan tindakan tersebut dan mengatakan bahwa hanya Allah yang dapat mengampuni dosa. Narasi tersebut tidak berhenti pada klaim pengampunan, tetapi Yesus kemudian menyembuhkan orang tersebut sebagai tanda bahwa Anak Manusia mempunyai kuasa di bumi untuk mengampuni dosa.

Contoh lainnya terdapat dalam Yohanes 5. Yesus berbicara mengenai hubungan-Nya dengan Bapa dengan cara yang sangat unik. Yohanes 5:21–23 mengatakan bahwa sebagaimana Bapa membangkitkan orang mati dan memberikan kehidupan, demikian juga Anak memberikan kehidupan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Kemudian dikatakan bahwa semua orang harus menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Pernyataan “supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa” merupakan salah satu teks yang sangat penting bagi pemahaman Kristen mengenai penghormatan kepada Yesus.

Yesus juga menggunakan bahasa mengenai diri-Nya yang berkaitan dengan penghakiman terakhir. Dalam Matius 25:31–46, Anak Manusia digambarkan datang dalam kemuliaan dan menghakimi bangsa-bangsa. Dalam Daniel 7, figur “Anak Manusia” menerima kerajaan dan kemuliaan. Karena itu, sebutan “Anak Manusia” tidak boleh selalu dipahami hanya sebagai cara sederhana untuk mengatakan “manusia”. Dalam beberapa konteks, istilah tersebut memiliki latar belakang eskatologis yang sangat kuat.

Mengapa Kebangkitan Membuat Para Murid Menyembah Yesus?
Kebangkitan merupakan titik balik yang sangat penting. Sebelum penyaliban, para murid dapat memahami Yesus sebagai guru, nabi, atau Mesias dengan berbagai ekspektasi. Tetapi setelah mereka percaya bahwa Allah membangkitkan Yesus dari kematian, pemahaman mereka mengenai identitas-Nya berubah secara mendalam.

Dalam Kisah Para Rasul 2, Petrus memberitakan bahwa Allah telah membangkitkan Yesus dan kemudian mengatakan bahwa Allah telah membuat Yesus yang disalibkan itu menjadi Tuhan dan Kristus. Dalam Roma 10:9, Paulus menghubungkan pengakuan bahwa “Yesus adalah Tuhan” dengan iman kepada kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Dengan demikian, pengakuan terhadap Yesus sebagai Tuhan tidak dapat dipisahkan dari kebangkitan.

Kebangkitan juga mengubah cara para murid membaca Kitab Suci mereka. Hal-hal yang sebelumnya mungkin tampak terpisah mulai dipahami sebagai bagian dari rencana Allah. Yesus bukan lagi hanya guru yang telah mati, tetapi Mesias yang telah dibangkitkan dan akan datang kembali sebagai Tuhan. Dalam 1 Korintus 15, Paulus bahkan menyebut kebangkitan Kristus sebagai dasar dari seluruh iman Kristen.

N. T. Wright menekankan bahwa kebangkitan harus dipahami dalam konteks pengharapan Yahudi mengenai kebangkitan orang mati. Para pengikut Yesus tidak sekadar percaya bahwa “roh Yesus masih hidup”. Mereka memberitakan bahwa Allah membangkitkan Yesus. Bagi komunitas pertama, hal ini memiliki implikasi besar terhadap identitas Yesus. Ia yang telah disalibkan sebagai penjahat justru dinyatakan oleh Allah sebagai Mesias dan Tuhan.

Mengapa Paulus Berani Menghubungkan Yesus dengan Allah?
Tulisan-tulisan Paulus sangat penting karena merupakan salah satu sumber Kristen paling awal yang kita miliki. Surat-surat Paulus menunjukkan bahwa keyakinan mengenai status tinggi Yesus sudah ada dalam komunitas Kristen awal. Salah satu contoh yang paling menarik terdapat dalam 1 Korintus 8:6.

Paulus terlebih dahulu menegaskan bahwa “bagi kita hanya ada satu Allah, yaitu Bapa,” lalu berbicara mengenai “satu Tuhan, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.” Ini menarik karena Paulus tidak meninggalkan monoteisme Yahudi. Ia justru menyusun pengakuan monoteistik sedemikian rupa sehingga Yesus dimasukkan ke dalam kerangka tersebut.

Teks ini menjadi penting dalam penelitian Richard Bauckham, karena menurutnya Paulus tidak sedang memperkenalkan politeisme. Sebaliknya, Yesus dimasukkan ke dalam identitas Allah Israel. Allah adalah sumber segala sesuatu, dan melalui Yesus segala sesuatu ada. Dengan demikian, Yesus memiliki tempat yang sangat khusus dalam hubungan antara Allah dan ciptaan.

Paulus juga menyebut Yesus sebagai Tuhan dalam berbagai konteks ibadah. Dalam Roma 10:13, Paulus mengutip Yoel 2:32 yang berbicara mengenai siapa pun yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan, dan konteks Paulus menghubungkan pengakuan tersebut dengan Yesus. Hal seperti ini menunjukkan bahwa bagi Paulus, nama Yesus bukan hanya nama seorang pemimpin agama. Nama tersebut telah menjadi bagian dari bahasa keselamatan dan ibadah komunitas Kristen.

Bagaimana Injil Yohanes Menjelaskan Mengapa Yesus Disembah?
Jika ingin menemukan penjelasan paling eksplisit mengenai hubungan Yesus dengan keilahian dalam Perjanjian Baru, Injil Yohanes merupakan salah satu sumber terpenting. Yohanes dimulai dengan pernyataan bahwa Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Kemudian Firman tersebut menjadi manusia.

Struktur ini sangat penting. Yohanes tidak mengatakan bahwa seorang manusia biasa kemudian berubah menjadi Allah. Ia mengatakan bahwa Firman yang sejak semula bersama Allah mengambil keberadaan manusia. Dengan demikian, keilahian Yesus bukan sekadar status yang diberikan kepada-Nya setelah Ia menjadi terkenal. Dalam kerangka Yohanes, identitas ilahi tersebut sudah ada sebelum kehidupan duniawi Yesus.

Yohanes kemudian memperlihatkan berbagai tanda yang mengungkapkan identitas Yesus: mengubah air menjadi anggur, menyembuhkan orang sakit, memberi makan orang banyak, berjalan di atas air, membangkitkan Lazarus, dan akhirnya bangkit dari kematian. Tanda-tanda tersebut bukan sekadar mukjizat untuk membuat orang kagum. Dalam struktur Injil Yohanes, tanda-tanda itu menunjuk kepada siapa Yesus sebenarnya.

Puncaknya adalah Yohanes 20:28 ketika Tomas berkata kepada Yesus, “Ya Tuhanku dan Allahku.” Karena itu, jika ditanya mengapa orang Kristen menyembah Yesus menurut Injil Yohanes, jawabannya berkaitan dengan keseluruhan kisah: Yesus adalah Firman yang menjadi manusia, Anak yang memiliki hubungan unik dengan Bapa, pemberi hidup, hakim akhir, dan Tuhan yang bangkit.

Apakah Menyembah Yesus Berarti Kekristenan Memiliki Dua Tuhan?
Tidak, menurut doktrin Kristen historis. Kekristenan tetap mengakui satu Allah. Inilah sebabnya mengapa perkembangan doktrin Trinitas tidak dapat dilepaskan dari sejarah awal Kekristenan. Gereja harus menemukan bahasa yang dapat menjelaskan bagaimana Yesus menerima penghormatan ilahi tanpa mengubah monoteisme menjadi politeisme.

Pengakuan Iman Nicea kemudian menjadi salah satu formulasi terpenting. Gereja mengakui satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa, dan satu Tuhan Yesus Kristus, Anak Allah yang diperanakkan dari Bapa, bukan dibuat, dan sehakikat dengan Bapa. Bahasa “sehakikat” atau homoousios digunakan untuk menegaskan bahwa Anak bukan ciptaan.

Dalam kerangka tersebut, penyembahan kepada Yesus bukanlah penyembahan kepada “Allah kedua”. Orang Kristen menyembah Yesus karena mereka percaya bahwa Anak adalah sungguh Allah. Namun, mereka tidak menyamakan Anak dengan Bapa sebagai pribadi. Dengan demikian, penyembahan kepada Yesus menjadi bagian dari ibadah kepada Allah Tritunggal.

Lewis Ayres menjelaskan bahwa perkembangan teologi Trinitarian abad keempat harus dipahami sebagai usaha untuk menjaga dua keyakinan yang sama-sama dianggap mendasar: keesaan Allah dan keilahian Anak. Gereja tidak ingin memilih salah satunya. Jika hanya ada satu Allah tetapi Anak bukan ilahi, maka persoalan kristologi muncul. Jika Bapa dan Anak adalah dua Allah yang terpisah, maka monoteisme Kristen juga runtuh. Doktrin Trinitas merupakan usaha konseptual untuk mempertahankan keduanya.

Apa Hubungan Penyembahan kepada Yesus dengan Doa?
Salah satu bukti paling menarik mengenai status Yesus dalam Kekristenan awal adalah hubungan antara Yesus dan doa. Doa merupakan bagian fundamental dari kehidupan keagamaan. Karena itu, ketika sebuah komunitas mulai berdoa dalam nama Yesus, hal tersebut menunjukkan bahwa Yesus memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan spiritual mereka.

Dalam Yohanes 14:13–14, Yesus berkata bahwa apa pun yang diminta dalam nama-Nya akan dilakukan-Nya. Yohanes 16:23–24 juga berbicara mengenai meminta dalam nama Yesus. Bahasa tersebut tidak berarti bahwa nama Yesus adalah semacam kata ajaib yang harus diucapkan pada akhir doa. “Dalam nama” berarti berdoa dalam hubungan dan otoritas Yesus, sesuai dengan kehendak-Nya.

Dalam Kisah Para Rasul 7:59, ketika Stefanus menghadapi kematian, ia berseru, “Tuhan Yesus, terimalah rohku.” Ini merupakan contoh penting karena Stefanus berbicara langsung kepada Yesus dalam situasi kematian. Dalam 2 Korintus 12:8–9, Paulus juga berbicara mengenai permohonannya kepada Tuhan mengenai duri dalam dagingnya. Terdapat perdebatan mengenai apakah “Tuhan” di sini secara eksplisit merujuk kepada Yesus, tetapi secara keseluruhan surat-surat Paulus memperlihatkan bahwa Yesus berada sangat dekat dengan praktik doa dan kehidupan rohani komunitas.

Bagi Hurtado, fenomena semacam ini membantu menjelaskan mengapa devosi kepada Yesus tidak dapat dianggap sebagai tambahan belakangan yang tidak berhubungan dengan Kekristenan awal. Yesus sudah menjadi bagian dari praktik keagamaan komunitas pertama. Mereka tidak hanya membicarakan Yesus; mereka berseru kepada-Nya, menyanyikan pujian tentang-Nya, mengingat-Nya dalam Perjamuan Tuhan, dibaptis dalam nama-Nya, dan mengharapkan kedatangan-Nya kembali.

Apakah Orang Kristen Menyembah Yesus karena Yesus Menggantikan Allah Bapa?
Tidak. Dalam Kekristenan, Yesus tidak menggantikan Bapa. Justru Yesus membawa manusia kepada Bapa. Injil Yohanes berulang kali menekankan bahwa Yesus diutus oleh Bapa dan melakukan kehendak Bapa. Dalam Yohanes 14:6, Yesus berkata bahwa tidak seorang pun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Dia. Dalam konteks ini, Yesus adalah jalan menuju Bapa, tetapi Ia sendiri juga memiliki identitas ilahi.

Hubungan tersebut dapat terlihat dengan jelas dalam doa yang diajarkan Yesus. Ketika Yesus mengajar murid-murid berdoa, Ia mengajarkan mereka berkata, “Bapa kami yang di surga.” Jadi, Kekristenan tidak mengajarkan bahwa setelah percaya kepada Yesus, orang berhenti berhubungan dengan Bapa. Sebaliknya, melalui Kristus manusia dibawa masuk ke dalam hubungan dengan Bapa.

Paulus juga mempertahankan struktur tersebut. Dalam 1 Korintus 15:24–28, Kristus pada akhirnya menyerahkan kerajaan kepada Allah Bapa. Ini menunjukkan bahwa Bapa dan Anak memiliki hubungan yang berbeda dan bahwa karya Kristus berlangsung dalam hubungan dengan Bapa. Namun, perbedaan tersebut tidak berarti bahwa Yesus bukan ilahi. Dalam kerangka Trinitarian, perbedaan relasional tidak sama dengan perbedaan tingkat keilahian.

Karena itu, orang Kristen dapat berdoa kepada Bapa, kepada Anak, dan melalui Anak kepada Bapa tanpa merasa bahwa mereka sedang menyembah beberapa Allah. Praktik ibadah Kristen kemudian berkembang dalam bentuk-bentuk yang beragam, tetapi dasar teologisnya tetap sama: satu Allah, Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

Mengapa Penghormatan kepada Yesus Menjadi Pusat Kekristenan?
Pada akhirnya, penyembahan kepada Yesus bukanlah sekadar salah satu praktik tambahan dalam Kekristenan. Ia merupakan konsekuensi langsung dari cara Kekristenan memahami identitas Yesus. Jika Yesus hanya guru moral, maka menyembah-Nya akan menjadi tindakan yang tidak sesuai dengan monoteisme Kristen. Tetapi jika Yesus adalah Anak Allah yang kekal, Firman yang menjadi manusia, Tuhan yang bangkit, dan satu dengan Bapa dalam keilahian, maka penyembahan kepada-Nya menjadi konsekuensi logis dari iman tersebut.

Karena itu, pengakuan “Yesus adalah Tuhan” menjadi salah satu inti pemberitaan Kristen. Roma 10:9 menghubungkan pengakuan tersebut dengan iman kepada kebangkitan. Filipi 2 menempatkan pengakuan universal terhadap Yesus sebagai Tuhan dalam konteks kemuliaan Allah Bapa. 1 Korintus 8 memasukkan Yesus ke dalam kerangka monoteisme Kristen. Yohanes 20 menempatkan pengakuan Tomas sebagai klimaks Injil. Semua ini menunjukkan bahwa penyembahan kepada Yesus bukanlah sesuatu yang terpisah dari iman Kristen mengenai keselamatan.

Martin Hengel dan sejumlah sarjana lainnya telah menunjukkan bahwa perkembangan kristologi awal berlangsung dalam waktu yang jauh lebih dekat dengan masa Yesus daripada yang kadang-kadang diasumsikan. Tentu terdapat perdebatan mengenai bagaimana tepatnya berbagai gelar dan keyakinan berkembang. Namun, gagasan bahwa orang Kristen baru mulai menganggap Yesus ilahi beberapa abad setelah kematian-Nya terlalu sederhana jika dibandingkan dengan bukti-bukti Perjanjian Baru dan literatur Kristen awal.

Bagi Kekristenan, Yesus layak disembah bukan karena manusia memutuskan untuk menaikkan seorang guru menjadi dewa. Orang Kristen menyembah Yesus karena mereka percaya bahwa Allah sendiri menyatakan identitas Yesus melalui kehidupan, kematian, kebangkitan, dan karya-Nya. Kebangkitan menjadi konfirmasi utama dalam iman Kristen bahwa Dia yang disalibkan bukan sekadar korban sejarah, melainkan Tuhan yang hidup.

Dengan demikian, ketika orang Kristen menyanyikan pujian kepada Yesus, berdoa dalam nama-Nya, mengakui-Nya sebagai Tuhan, merayakan Perjamuan Kudus, dan menantikan kedatangan-Nya kembali, mereka tidak melihat semua itu sebagai penyembahan kepada manusia biasa. Mereka sedang menjalankan konsekuensi dari keyakinan mendasar bahwa Yesus adalah Anak Allah yang kekal dan sungguh ilahi.

Mengapa Orang Kristen Menyembah Yesus?
Jawaban paling mendasar adalah karena Kekristenan percaya bahwa Yesus bukan sekadar manusia, nabi, guru, atau utusan Allah, tetapi Anak Allah yang kekal dan sungguh-sungguh ilahi. Karena itu, penyembahan kepada Yesus bukan dianggap sebagai penyembahan kepada manusia, melainkan sebagai bagian dari penyembahan kepada Allah Tritunggal.

Dasar keyakinan tersebut ditemukan dalam berbagai bagian Perjanjian Baru. Yesus menerima penghormatan dari para murid, disebut Tuhan, dikaitkan dengan penciptaan, memberikan hidup, mengampuni dosa, menjalankan penghakiman, menerima doa dan seruan, serta setelah kebangkitan menerima pengakuan sebagai Tuhan. Yohanes 1 berbicara tentang Firman yang adalah Allah dan menjadi manusia. Yohanes 20 mencatat Tomas menyebut Yesus “Tuhanku dan Allahku”. Filipi 2 menggambarkan setiap lutut bertelut dan setiap lidah mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan. 1 Korintus 8 memasukkan Yesus ke dalam kerangka monoteisme Kristen. Semua ini menjadi dasar yang sangat penting bagi praktik penyembahan kepada Yesus.

Namun, Kekristenan tidak mengajarkan bahwa Yesus adalah Allah Bapa. Bapa dan Anak dibedakan sebagai pribadi. Yesus berdoa kepada Bapa, diutus oleh Bapa, dan berbicara tentang Bapa sebagai pribadi yang berbeda. Tetapi Kekristenan Trinitarian percaya bahwa perbedaan pribadi tersebut tidak berarti perbedaan dalam natur ilahi. Anak memiliki keilahian yang sama dengan Bapa.

Karena itu, pertanyaan “Mengapa orang Kristen menyembah Yesus jika hanya ada satu Allah?” justru membawa kita kepada pusat doktrin Kristen. Orang Kristen menyembah Yesus bukan karena mereka percaya ada dua Allah, tetapi karena mereka percaya bahwa Yesus termasuk dalam identitas ilahi yang satu itu. Inilah yang kemudian dirumuskan dalam bahasa Trinitas: satu Allah dalam tiga pribadi, Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

Secara historis, penyembahan kepada Yesus juga bukan perkembangan yang baru muncul setelah gereja menjadi institusi besar. Penelitian terhadap sumber-sumber Kristen awal menunjukkan bahwa devosi kepada Yesus sudah menjadi bagian penting kehidupan komunitas Kristen pertama. Mereka mengaku nama-Nya, berdoa dalam nama-Nya, menyanyikan pujian kepada-Nya, merayakan Perjamuan Tuhan, dan menantikan kedatangan-Nya. Hal tersebut menjadi sangat signifikan karena semua itu terjadi dalam lingkungan Yahudi yang tetap mempertahankan monoteisme.

Jadi, menurut iman Kristen, Yesus disembah karena Ia adalah Tuhan yang menjadi manusia, Anak Allah yang kekal, yang mati dan bangkit untuk keselamatan manusia. Bagi orang Kristen, penyembahan kepada Yesus bukanlah tindakan menggantikan Allah dengan seorang manusia, melainkan pengakuan bahwa dalam Yesus, Allah sendiri hadir dan bertindak untuk menyelamatkan manusia.

Dengan demikian, pertanyaan mengenai mengapa Yesus disembah membawa kita langsung kepada pertanyaan yang lebih besar: Jika Yesus adalah Tuhan dan manusia sekaligus, apa sebenarnya arti kematian-Nya di kayu salib? Mengapa Allah harus menjadi manusia dan mati untuk menyelamatkan manusia? Pertanyaan tersebut membawa kita pada pusat berikutnya dalam iman Kristen, yaitu doktrin dosa, penebusan, pengorbanan, salib, dan keselamatan.

Daftar Referensi
  • Athanasius. On the Incarnation.
  • Ayres, Lewis. Nicaea and Its Legacy: An Approach to Fourth-Century Trinitarian Theology. Oxford University Press.
  • Bauckham, Richard. Jesus and the God of Israel: God Crucified and Other Studies on the New Testament's Christology of Divine Identity. Eerdmans.
  • Brown, Raymond E. The Gospel According to John I–XII. Anchor Bible.
  • Brown, Raymond E. The Gospel According to John XIII–XXI. Anchor Bible.
  • Dunn, James D. G. Christology in the Making: A New Testament Inquiry into the Origins of the Doctrine of the Incarnation. SCM Press.
  • Hengel, Martin. The Son of God: The Origin of Christology and the History of Jewish-Hellenistic Religion. Fortress Press.
  • Hurtado, Larry W. Lord Jesus Christ: Devotion to Jesus in Earliest Christianity. Eerdmans.
  • Hurtado, Larry W. How on Earth Did Jesus Become a God? Historical Questions about Earliest Devotion to Jesus. Eerdmans.
  • Wright, N. T. The Resurrection of the Son of God. Fortress Press.
  • Meier, John P. A Marginal Jew: Rethinking the Historical Jesus. Yale University Press.
  • Sanders, E. P. The Historical Figure of Jesus. Penguin Books.
  • Alkitab: Injil Matius, Markus, Lukas, Yohanes; Kisah Para Rasul; Roma; 1 Korintus; Filipi; Kolose; Ibrani; Wahyu.
  • Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel.
  • Pengakuan Iman Rasuli.
  • Definisi Chalcedon.
  • Didache.
  • 1 Clement.
  • Letters of Ignatius of Antioch.


Read More.. →

Apakah Yesus Itu Tuhan atau Anak Tuhan? Memahami Keilahian, Kemanusiaan, dan Identitas Yesus dalam Ajaran Kristen

Kristen - Salah satu pertanyaan paling penting sekaligus paling sering menimbulkan kebingungan ketika membahas Kekristenan adalah: Apakah Yesus itu Tuhan, atau Yesus adalah Anak Tuhan? Pertanyaan ini muncul karena Alkitab menggunakan berbagai sebutan untuk Yesus. Ia disebut “Anak Allah”, “Anak Manusia”, “Mesias”, “Kristus”, “Tuhan”, “Firman”, bahkan dalam beberapa bagian Perjanjian Baru ditempatkan dalam hubungan yang sangat dekat dengan Allah Bapa. Di sisi lain, Yesus juga berdoa kepada Allah, berbicara tentang Bapa sebagai pribadi yang berbeda dari diri-Nya, dan dalam Injil Yohanes bahkan mengatakan, “Bapa lebih besar daripada Aku” (Yohanes 14:28). Jika semua pernyataan ini dibaca tanpa memahami kerangka teologi Kristen, sangat mudah muncul kesimpulan bahwa Yesus hanyalah utusan Allah dan bukan Tuhan, atau sebaliknya bahwa Yesus dan Allah Bapa adalah pribadi yang sama persis. Padahal, keduanya bukanlah cara Kekristenan arus utama menjelaskan identitas Yesus.

Dalam iman Kristen klasik, jawaban terhadap pertanyaan tersebut bukan memilih salah satu antara “Tuhan” atau “Anak Tuhan” seolah-olah kedua istilah itu saling bertentangan. Kekristenan mengajarkan bahwa Yesus adalah Anak Allah dan sekaligus benar-benar ilahi. Namun, istilah “Anak Allah” dalam teologi Kristen tidak berarti bahwa Allah memiliki anak secara biologis sebagaimana manusia mempunyai anak. Istilah tersebut menunjuk pada hubungan yang unik dan kekal antara Yesus dengan Allah Bapa. Karena itu, ketika Kekristenan mengatakan bahwa Yesus adalah “Anak Allah”, yang dimaksud bukanlah bahwa Yesus adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah, melainkan bahwa Ia memiliki hubungan yang unik dengan Bapa dan mengambil bagian dalam identitas ilahi.

Persoalan ini menjadi semakin penting karena Kekristenan tidak hanya mengajarkan sesuatu tentang Yesus secara terpisah dari ajaran tentang Allah. Identitas Yesus berhubungan langsung dengan bagaimana orang Kristen memahami Allah sendiri. Jika Yesus hanya manusia biasa, maka sejumlah bagian Perjanjian Baru yang menggambarkan penyembahan kepada-Nya, pengampunan dosa oleh-Nya, keberadaan-Nya sebelum kelahiran-Nya, serta hubungan-Nya dengan penciptaan harus ditafsirkan dengan cara yang berbeda. Sebaliknya, jika Yesus sungguh ilahi, maka orang Kristen harus menjelaskan bagaimana mungkin ada Allah Bapa dan Anak yang berbeda tetapi tetap mengakui hanya satu Allah. Dari sinilah muncul perkembangan doktrin Trinitas dan kristologi dalam sejarah Kekristenan.

Para sarjana Perjanjian Baru seperti Richard Bauckham, Larry Hurtado, James D. G. Dunn, Raymond E. Brown, dan N. T. Wright telah membahas persoalan ini dari berbagai sudut. Mereka berbeda dalam beberapa penekanan mengenai perkembangan kristologi dan bagaimana komunitas Kristen pertama memahami Yesus, tetapi penelitian mereka menunjukkan bahwa pertanyaan mengenai status Yesus bukanlah persoalan yang baru muncul berabad-abad kemudian. Sejak masa awal Kekristenan sudah terdapat keyakinan yang sangat tinggi mengenai identitas Yesus, termasuk hubungan-Nya dengan Allah, peran-Nya dalam keselamatan, dan tempat-Nya dalam ibadah komunitas Kristen.

Karena itu, untuk menjawab pertanyaan “Apakah Yesus itu Tuhan atau Anak Tuhan?”, kita perlu membahas persoalan ini secara bertahap. Kita harus melihat terlebih dahulu apa arti “Anak Allah”, kemudian bagaimana Perjanjian Baru berbicara tentang keilahian Yesus, bagaimana Yesus berhubungan dengan Allah Bapa, mengapa Ia tetap disebut manusia, serta bagaimana gereja mula-mula akhirnya merumuskan keyakinan bahwa Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Dengan demikian, kita tidak sekadar mencari satu ayat untuk memenangkan suatu kesimpulan, tetapi memahami keseluruhan kerangka pemikiran Kristen.

Mengapa Pertanyaan “Tuhan atau Anak Tuhan?” Sebenarnya Mengandung Kesalahpahaman?
Kesulitan pertama terletak pada cara kita memahami kata “Anak”. Dalam penggunaan sehari-hari, seorang anak adalah pribadi yang berasal dari orang tua dan karena itu memiliki awal keberadaan. Jika seseorang mendengar bahwa Yesus adalah “Anak Allah”, secara spontan ia mungkin membayangkan bahwa Allah adalah seperti seorang ayah manusia yang mempunyai anak pada suatu titik tertentu dalam sejarah. Dari pemahaman seperti itu, kesimpulan berikutnya tampak logis: kalau Yesus adalah anak Allah, berarti Yesus bukan Allah. Namun, pengertian seperti itu bukanlah makna utama istilah “Anak Allah” dalam kristologi Kristen.

Dalam konteks Alkitab, istilah “anak” dapat memiliki makna yang jauh lebih luas daripada hubungan biologis. Misalnya, dalam berbagai bagian Alkitab, istilah “anak” dapat menunjukkan hubungan, identitas, karakter, atau kedekatan tertentu. Ketika Yesus disebut “Anak Allah”, istilah tersebut harus dibaca dalam konteks keseluruhan kesaksian Perjanjian Baru mengenai hubungan Yesus dengan Bapa. Injil Yohanes, misalnya, tidak menggambarkan Yesus sebagai makhluk yang sekadar diciptakan oleh Allah, tetapi berbicara mengenai Firman yang “pada mulanya” bersama-sama dengan Allah dan kemudian “menjadi manusia” (Yohanes 1:1–14). Dengan demikian, titik awal keberadaan Yesus dalam perspektif Yohanes bukanlah kelahiran-Nya di Betlehem, melainkan keberadaan Firman sebelum inkarnasi.

Dalam Yohanes 5:18 terdapat pernyataan yang sangat penting. Setelah Yesus menyebut Allah sebagai Bapa-Nya, teks tersebut mengatakan bahwa para pemimpin Yahudi semakin berusaha membunuh-Nya karena mereka memahami tindakan itu sebagai penyamaan diri dengan Allah. Perlu berhati-hati di sini: ayat tersebut merupakan bagian dari narasi Injil Yohanes dan tidak boleh digunakan secara sederhana untuk mengatakan bahwa semua orang Yahudi memiliki pemahaman yang sama mengenai Yesus. Namun, ayat tersebut menunjukkan bahwa penulis Injil memahami klaim Yesus mengenai hubungan-Nya dengan Bapa sebagai sesuatu yang memiliki implikasi teologis sangat tinggi.

Sarjana seperti Raymond E. Brown, dalam kajiannya mengenai Injil Yohanes, menekankan bahwa hubungan antara Yesus dan Bapa merupakan salah satu pusat kristologi Yohanes. Yesus bukan sekadar utusan yang membawa pesan dari Allah seperti seorang nabi yang berdiri sepenuhnya di luar identitas ilahi. Yohanes menggambarkan Yesus sebagai Dia yang diutus oleh Bapa sekaligus sebagai Dia yang memiliki hubungan unik dengan Bapa sejak sebelum dunia ada. Karena itu, istilah “Anak Allah” tidak boleh dipahami sebagai lawan dari “Tuhan” dalam pengertian Kristen klasik. Justru hubungan Anak dan Bapa menjadi bagian dari cara Kekristenan menjelaskan bagaimana Yesus dapat dibedakan dari Bapa tetapi tetap memiliki natur ilahi.

Apa Arti “Anak Allah” bagi Yesus?
Istilah “Anak Allah” memiliki latar belakang yang kompleks dalam Alkitab. Dalam Perjanjian Lama, istilah yang berkaitan dengan “anak Allah” atau “anak-anak Allah” dapat digunakan dalam beberapa konteks. Israel dapat disebut sebagai anak Allah, raja Israel dapat digambarkan dengan bahasa anak, dan dalam konteks tertentu makhluk surgawi juga disebut dengan istilah yang berkaitan dengan “anak-anak Allah”. Karena itu, tidak setiap penggunaan istilah “anak Allah” secara otomatis berarti bahwa seseorang adalah Allah dalam arti penuh.

Namun, ketika istilah tersebut diterapkan kepada Yesus dalam Perjanjian Baru, penggunaannya memperoleh makna yang jauh lebih khusus. Dalam kisah baptisan Yesus, suara dari surga menyatakan, “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” (Markus 1:11). Pernyataan serupa muncul dalam Matius 3:17 dan Lukas 3:22. Dalam kisah transfigurasi, identitas Yesus kembali ditegaskan dengan suara dari awan (Matius 17:5). Di sini, Yesus digambarkan sebagai Anak yang memiliki hubungan khusus dengan Allah.

Hubungan tersebut menjadi semakin jelas dalam Injil Yohanes. Yohanes 5:19–23 menggambarkan Anak melakukan apa yang dilakukan Bapa, memberikan hidup, dan menerima penghormatan. Yohanes 10:30 mencatat perkataan Yesus, “Aku dan Bapa adalah satu.” Ayat tersebut memang memiliki perdebatan interpretatif mengenai arti tepat kata “satu” dalam konteks Yohanes, tetapi secara keseluruhan Injil Yohanes berulang kali menempatkan Yesus dalam hubungan yang sangat dekat dengan Allah. Yohanes 1:1 bahkan menyatakan bahwa Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

Di sinilah kita perlu membedakan antara “Yesus adalah Anak Allah” dan “Yesus adalah anak Allah dalam arti makhluk ciptaan.” Kekristenan arus utama menolak pemahaman kedua. Konsili Nicea pada tahun 325, dan kemudian rumusan yang berkembang dalam Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel, menyatakan bahwa Anak adalah “diperanakkan, bukan dibuat” dan memiliki hakikat yang sama dengan Bapa. Pernyataan tersebut sengaja dibuat untuk menolak gagasan bahwa Anak adalah ciptaan tertinggi yang berada di antara Allah dan manusia.

Athanasius dari Aleksandria, salah satu tokoh terpenting dalam perdebatan tersebut, berargumentasi bahwa jika Anak bukan sungguh-sungguh ilahi, maka keselamatan manusia juga menjadi problematis. Bagi Athanasius, manusia diselamatkan bukan sekadar melalui seorang utusan yang berada di luar Allah, tetapi melalui tindakan Allah sendiri yang masuk ke dalam kondisi manusia. Karena itu, bagi tradisi Nicea, menyebut Yesus sebagai Anak Allah justru merupakan bagian dari alasan mengapa Ia dianggap sungguh ilahi.

Apakah Alkitab Benar-Benar Menyebut Yesus sebagai Tuhan?
Jawaban sederhananya adalah ya, Perjanjian Baru menggunakan bahasa “Tuhan” untuk Yesus, meskipun cara penggunaannya perlu dipahami dalam konteks bahasa dan teologi abad pertama. Kata Yunani yang sering diterjemahkan sebagai “Tuhan” adalah kyrios. Kata ini dapat digunakan dalam arti “tuan”, “penguasa”, atau sebagai sebutan yang sangat tinggi bagi seseorang. Dalam Septuaginta, yaitu terjemahan Yunani Perjanjian Lama, kyrios juga digunakan untuk menerjemahkan nama ilahi YHWH dalam banyak konteks. Karena itu, ketika Perjanjian Baru menggunakan kyrios untuk Yesus, penggunaannya dapat memiliki bobot teologis yang sangat besar.

Salah satu teks yang paling terkenal adalah Yohanes 20:28. Setelah melihat Yesus yang bangkit, Tomas berkata kepada-Nya, “Ya Tuhanku dan Allahku!” Teks ini sangat penting karena sebutan tersebut diarahkan langsung kepada Yesus. Penulis Injil Yohanes kemudian menutup Injilnya dengan menjelaskan tujuan penulisan agar pembaca percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah, dan melalui iman memperoleh hidup dalam nama-Nya (Yohanes 20:31). Karena itu, sebutan Tomas tidak berdiri sendirian, tetapi berada dalam struktur teologis Injil yang sejak awal berbicara tentang identitas ilahi Sang Firman.

Filipi 2:5–11 juga menjadi salah satu teks terpenting dalam diskusi kristologi. Paulus menggambarkan Kristus sebagai Dia yang memiliki “rupa Allah”, tetapi mengambil rupa seorang hamba dan merendahkan diri sampai mati di kayu salib. Setelah itu, Allah sangat meninggikan Dia dan memberikan kepada-Nya nama di atas segala nama sehingga setiap lutut bertelut dan setiap lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Teks ini sering dianggap sebagai salah satu bukti terawal mengenai kristologi tinggi karena Yesus ditempatkan dalam kerangka penghormatan yang dalam Perjanjian Lama berkaitan dengan Allah.

Richard Bauckham, dalam Jesus and the God of Israel, berpendapat bahwa kristologi Perjanjian Baru tidak dapat dipahami hanya dengan mengatakan bahwa orang Kristen mula-mula menjadikan Yesus sebagai makhluk surgawi yang lebih tinggi daripada manusia lain. Menurut Bauckham, Yesus dimasukkan ke dalam identitas ilahi yang dalam monoteisme Yahudi hanya dimiliki oleh Allah. Ia menunjukkan bahwa fungsi-fungsi seperti penciptaan, pemerintahan kosmis, dan kemuliaan ilahi menjadi bagian dari cara Perjanjian Baru menggambarkan Yesus.

Hal tersebut tidak berarti bahwa semua sarjana sepakat mengenai bagaimana proses historis kristologi itu berlangsung. James D. G. Dunn, misalnya, memberikan perhatian besar pada perkembangan tradisi mengenai Yesus dan bagaimana komunitas Kristen mula-mula memahami Dia dalam kerangka monoteisme Yahudi. Perbedaan pendekatan ini justru menunjukkan bahwa persoalannya serius secara akademis. Namun, baik penelitian mengenai kristologi tinggi maupun penelitian yang lebih menekankan perkembangan historis menunjukkan bahwa hubungan Yesus dengan identitas Allah merupakan salah satu persoalan utama dalam Kekristenan paling awal.

Kalau Yesus adalah Tuhan, Mengapa Ia Berdoa kepada Allah?
Pertanyaan ini sangat penting dan tidak boleh dihindari. Jika Yesus adalah Tuhan, kepada siapa Ia berdoa? Mengapa Ia mengatakan “Bapa-Ku”? Mengapa Ia berkata, “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Lukas 22:42)? Mengapa Ia berkata di kayu salib, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Markus 15:34)? Jika semua pertanyaan ini diabaikan, penjelasan mengenai keilahian Yesus akan tampak tidak konsisten.

Jawaban Kekristenan klasik adalah bahwa Yesus sungguh-sungguh menjadi manusia, bukan sekadar tampak seperti manusia. Karena itu, hubungan-Nya dengan Bapa dalam kehidupan manusiawi-Nya adalah hubungan yang nyata. Ia berdoa, taat, menderita, mengalami kelelahan, lapar, haus, dan kematian. Jika Yesus tidak benar-benar manusia, maka inkarnasi tidak mempunyai makna penuh. Kekristenan tidak mengajarkan bahwa Allah berpura-pura menjadi manusia, tetapi bahwa Sang Anak benar-benar mengambil natur manusia.

Di sinilah doktrin Trinitas dan kristologi harus dibedakan. Trinitas berbicara tentang satu Allah dalam tiga pribadi: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Kristologi berbicara mengenai siapa Yesus Kristus, yaitu Anak yang kekal yang mengambil natur manusia. Karena itu, ketika Yesus berdoa kepada Bapa, Kekristenan tidak mengatakan bahwa Yesus sedang berdoa kepada diri-Nya sendiri sebagai pribadi yang sama. Anak dan Bapa berbeda sebagai pribadi, tetapi keduanya tidak dipahami sebagai dua Allah.

Lewis Ayres, dalam kajiannya mengenai perkembangan doktrin Trinitas, menunjukkan bahwa teologi Nicea tidak bertujuan menciptakan tiga Allah atau menghapus perbedaan antara Bapa dan Anak. Justru tantangan teologi Kristen adalah mempertahankan dua hal sekaligus: Allah itu satu, dan Bapa, Anak, serta Roh Kudus sungguh dibedakan. Karena itu, kalimat “Yesus adalah Tuhan” tidak berarti “Yesus adalah Bapa”. Dalam kerangka Trinitarian, Yesus adalah Anak yang memiliki natur ilahi yang sama dengan Bapa.

Apakah Yesus Lebih Rendah daripada Allah Bapa?
Pertanyaan ini muncul terutama karena beberapa ucapan Yesus tampaknya menunjukkan subordinasi. Yohanes 14:28 mencatat Yesus berkata, “Bapa lebih besar daripada Aku.” Dalam Markus 13:32, Yesus mengatakan bahwa mengenai hari dan saat kedatangan tersebut, tidak seorang pun tahu, bahkan Anak, melainkan Bapa. Dalam Yohanes 5:30, Yesus berkata bahwa Ia tidak dapat berbuat dari diri-Nya sendiri dan mencari kehendak Dia yang mengutus-Nya. Bagaimana semua ini dapat dipadukan dengan keyakinan bahwa Yesus adalah ilahi?

Teologi Kristen klasik menjawab dengan membedakan antara perbedaan pribadi dan kesamaan natur, serta antara keadaan Yesus sebelum inkarnasi dan kehidupan-Nya sebagai manusia. Filipi 2:6–8 sangat penting dalam hal ini. Kristus digambarkan memiliki “rupa Allah”, tetapi kemudian merendahkan diri dan mengambil rupa seorang hamba. Tradisi Kristen memahami bagian ini sebagai gambaran mengenai inkarnasi dan kerendahan hati Kristus. Jadi, ketika Yesus menjalankan peran sebagai manusia yang taat kepada Bapa, hal itu tidak dipahami sebagai bukti bahwa Ia bukan ilahi.

Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa doktrin dua natur Kristus berkembang. Konsili Chalcedon pada tahun 451 merumuskan bahwa Kristus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia, memiliki natur ilahi dan natur manusia, tanpa kedua natur tersebut dicampur atau dipisahkan. Rumusan tersebut merupakan usaha gereja untuk menjawab persoalan yang muncul dari kesaksian Alkitab: Yesus dapat berbicara dan bertindak sebagai manusia sejati, tetapi pada saat yang sama digambarkan dengan kategori yang sangat tinggi dan ilahi.

Raymond E. Brown dan banyak ahli Perjanjian Baru lainnya menunjukkan bahwa Injil-injil tidak menggambarkan Yesus hanya dalam satu dimensi. Ia adalah manusia yang benar-benar hidup dalam sejarah, tetapi para penulis Perjanjian Baru juga memberikan kepada-Nya gelar, fungsi, dan peran yang melampaui sekadar nabi atau guru moral. Karena itu, ketegangan antara ayat-ayat yang menunjukkan kemanusiaan Yesus dan ayat-ayat yang menunjukkan keilahian-Nya bukan sesuatu yang harus dihapuskan. Justru ketegangan tersebut merupakan bagian dari persoalan kristologi yang kemudian dijelaskan melalui konsep inkarnasi.

Apakah Yesus adalah Allah yang Sama dengan Bapa?
Di sinilah diperlukan kehati-hatian karena kalimat “Yesus adalah Allah” dapat disalahpahami. Kekristenan Trinitarian tidak mengajarkan bahwa Yesus adalah Bapa. Yesus berdoa kepada Bapa, diutus oleh Bapa, dan berbicara kepada Bapa sebagai pribadi yang berbeda. Karena itu, jika seseorang berkata, “Yesus adalah Allah Bapa,” pernyataan tersebut tidak sesuai dengan formulasi Trinitarian klasik.

Yang diajarkan adalah bahwa Yesus adalah Allah menurut natur ilahi, tetapi Ia bukan pribadi Bapa. Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah, tetapi bukan berarti terdapat tiga Allah yang terpisah. Inilah yang membuat konsep Trinitas begitu sulit dipahami karena bahasa manusia sehari-hari biasanya bekerja dengan kategori yang lebih sederhana: satu pribadi berarti satu individu, dan tiga pribadi berarti tiga individu. Teologi Trinitarian menggunakan istilah tersebut dalam kerangka metafisik yang jauh lebih khusus.

Matius 28:19 memberikan formula baptisan “dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Paulus dalam 2 Korintus 13:13 juga menghubungkan kasih karunia Yesus Kristus, kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus. Dalam 1 Korintus 8:6, Paulus berbicara tentang “satu Allah, yaitu Bapa” dan “satu Tuhan, yaitu Yesus Kristus”, sambil menempatkan keduanya dalam kerangka monoteisme Kristen. Teks-teks tersebut menunjukkan bahwa Kekristenan mula-mula berusaha mempertahankan monoteisme sambil memberikan tempat yang sangat tinggi kepada Yesus.

Larry Hurtado, dalam penelitiannya tentang devosi kepada Yesus pada Kekristenan paling awal, menekankan bahwa penghormatan kepada Yesus muncul sangat dini. Bagi Hurtado, salah satu ciri penting Kekristenan awal adalah bahwa Yesus ditempatkan dalam pola devosi yang sebelumnya berpusat pada Allah. Ini penting karena komunitas Kristen pertama berasal dari lingkungan Yahudi yang sangat monoteistik. Dengan demikian, penghormatan tinggi kepada Yesus membutuhkan penjelasan teologis yang serius.

Mengapa Yesus Disebut “Firman” dalam Injil Yohanes?
Salah satu teks paling penting untuk memahami identitas Yesus adalah pembukaan Injil Yohanes. Yohanes 1:1 mengatakan bahwa “pada mulanya adalah Firman”, Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah. Kemudian Yohanes 1:14 mengatakan bahwa Firman itu menjadi manusia dan diam di antara manusia. Dalam bahasa Yunani, istilah yang digunakan adalah Logos.

Konsep Logos telah menjadi bahan perdebatan panjang. Dalam dunia Yunani, logos dapat berhubungan dengan gagasan mengenai rasio, prinsip, atau tatanan yang mendasari realitas. Namun, Yohanes juga sangat jelas berada dalam lingkungan pemikiran Yahudi. Karena itu, Logos dalam Yohanes tidak boleh direduksi menjadi sekadar “akal” atau “energi kosmis”. Yohanes menghubungkan Logos dengan penciptaan, kehidupan, terang, dan kemudian dengan pribadi Yesus Kristus.

Yohanes 1:3 menyatakan bahwa segala sesuatu dijadikan melalui Firman. Jika ayat ini dibaca bersama Kolose 1:15–17, yang mengatakan bahwa segala sesuatu diciptakan melalui Kristus dan untuk Kristus, muncul gambaran bahwa Yesus ditempatkan dalam hubungan dengan penciptaan itu sendiri. Ia bukan hanya bagian dari alam ciptaan seperti manusia lainnya. Ia ditempatkan sebagai Dia yang melalui-Nya segala sesuatu ada.

N. T. Wright menekankan pentingnya membaca Yesus dalam konteks monoteisme Yahudi dan kisah Israel. Dalam kerangka tersebut, Yesus tidak dapat dipahami hanya sebagai guru spiritual yang berdiri terpisah dari narasi tentang Allah Israel. Para penulis Perjanjian Baru menggambarkan karya Allah melalui Yesus, kerajaan Allah yang hadir melalui Yesus, serta keselamatan yang terjadi melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Karena itu, gelar-gelar bagi Yesus harus dibaca sebagai bagian dari kisah besar mengenai tindakan Allah terhadap dunia.

Kalau Yesus Tuhan, Mengapa Ia Disebut Anak Allah?
Pertanyaan ini sebenarnya membawa kita kepada inti doktrin Kristen. Jawabannya adalah bahwa “Tuhan” dan “Anak Allah” bukan dua kategori yang saling meniadakan. Dalam Kekristenan, “Anak Allah” menunjuk kepada identitas dan relasi Yesus dengan Bapa, sedangkan “Tuhan” menunjuk kepada status dan identitas ilahi-Nya.

Penggunaan kata “Anak” tidak berarti bahwa Yesus memiliki awal keberadaan seperti seorang manusia. Yohanes 1:1 justru menempatkan Firman “pada mulanya”. Yohanes 8:58 mencatat Yesus berkata, “Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Yohanes 17:5 bahkan menggambarkan Yesus berbicara mengenai kemuliaan yang Ia miliki bersama Bapa sebelum dunia ada. Kolose 1:17 mengatakan bahwa Kristus ada terlebih dahulu daripada segala sesuatu. Teks-teks seperti ini menjadi dasar bagi keyakinan bahwa Anak tidak dipandang sebagai makhluk yang diciptakan kemudian.

Pengakuan Iman Nicea kemudian menggunakan bahasa yang sangat hati-hati: Anak “diperanakkan, bukan dibuat”. Maksudnya adalah bahwa hubungan Anak dengan Bapa bukanlah hubungan pencipta dan ciptaan. Ia berasal dari Bapa secara kekal dalam bahasa teologi, bukan diciptakan sebagai makhluk. Karena itu, “Anak” dalam pengertian teologis tidak sama dengan “anak biologis”.

Dalam tradisi Kristen, inilah alasan mengapa pertanyaan “Apakah Yesus Tuhan atau Anak Tuhan?” perlu diubah menjadi pertanyaan yang lebih tepat: “Bagaimana Kekristenan memahami hubungan antara Yesus sebagai Anak Allah dan keilahian-Nya?” Jawabannya adalah bahwa Yesus adalah Anak yang kekal, berbeda dari Bapa sebagai pribadi, tetapi satu dalam keilahian dengan Bapa. Rumusan ini memang tidak sederhana, tetapi justru lahir karena gereja berusaha mempertahankan berbagai kesaksian Alkitab sekaligus tanpa mengorbankan monoteisme.

Bagaimana Kematian dan Kebangkitan Yesus Berkaitan dengan Keilahian-Nya?
Identitas Yesus dalam Kekristenan tidak dapat dipisahkan dari salib dan kebangkitan. Jika Yesus hanya dipandang sebagai guru moral, maka kematian-Nya dapat dilihat sebagai tragedi seorang tokoh agama. Namun, dalam Perjanjian Baru, kematian Yesus dipahami sebagai bagian dari karya keselamatan Allah. Paulus mengatakan dalam 1 Korintus 15:3–4 bahwa Kristus mati karena dosa-dosa manusia, dikuburkan, dan dibangkitkan pada hari ketiga sesuai dengan Kitab Suci.

Kebangkitan menjadi sangat penting karena menjadi dasar keyakinan bahwa Yesus bukan sekadar manusia yang telah meninggal. Dalam Kisah Para Rasul 2, Petrus memberitakan bahwa Allah membangkitkan Yesus. Dalam Roma 1:4, Paulus berbicara mengenai Yesus yang dinyatakan sebagai Anak Allah dengan kuasa melalui kebangkitan dari antara orang mati. Kebangkitan bukan sekadar bukti bahwa ajaran Yesus benar, tetapi menjadi pusat identitas dan pengharapan Kristen.

Di sisi lain, Perjanjian Baru tidak menggambarkan kebangkitan sebagai penghapusan kemanusiaan Yesus. Yesus yang bangkit tetap disebut sebagai Yesus yang disalibkan. Dalam Lukas 24, para murid melihat Yesus yang bangkit dan mengenali-Nya sebagai pribadi yang sama. Dalam Yohanes 20, Tomas melihat tanda-tanda luka dan kemudian menyebut-Nya “Tuhanku dan Allahku”. Dengan demikian, kebangkitan menghubungkan kemanusiaan, kematian, dan keilahian Yesus dalam satu kesaksian iman.

Bagi N. T. Wright, kebangkitan Yesus harus dipahami dalam konteks pengharapan Yahudi mengenai kebangkitan orang mati dan pembaruan ciptaan. Ia menilai bahwa keyakinan para pengikut Yesus terhadap kebangkitan tidak cukup dijelaskan sebagai simbol psikologis atau sekadar pengalaman batin. Apa pun perdebatan historis mengenai bagaimana tepatnya peristiwa tersebut harus dijelaskan, kebangkitan merupakan pusat identitas komunitas Kristen paling awal dan menjadi alasan mengapa Yesus diberitakan sebagai Mesias dan Tuhan.

Bagaimana Gereja Mula-Mula Akhirnya Merumuskan “Yesus adalah Tuhan”?
Perjanjian Baru ditulis dalam berbagai konteks dan tidak memberikan satu formula filosofis tunggal mengenai Trinitas. Karena itu, gereja pada abad-abad berikutnya harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang semakin sulit. Jika Yesus adalah ilahi, apakah berarti ada dua Allah? Jika Anak berasal dari Bapa, apakah Anak diciptakan? Jika Yesus benar-benar manusia, apakah Ia kehilangan keilahian-Nya? Jika Ia benar-benar Allah, bagaimana mungkin Ia menderita dan mati?

Perdebatan tersebut menghasilkan berbagai formulasi kristologis. Salah satu titik penting adalah Konsili Nicea tahun 325, yang menolak ajaran Arianisme yang memahami Anak sebagai makhluk ciptaan yang sangat tinggi. Nicea menegaskan bahwa Anak memiliki hakikat yang sama dengan Bapa. Kemudian Konsili Konstantinopel tahun 381 memperkuat rumusan mengenai Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Konsili Chalcedon tahun 451 berfokus pada identitas Kristus sebagai satu pribadi dengan dua natur, ilahi dan manusiawi.

Athanasius memainkan peran besar dalam perjuangan mempertahankan keyakinan Nicea. Bagi Athanasius, jika Kristus bukan Allah yang sejati, maka manusia pada akhirnya tidak benar-benar dipersatukan dengan Allah melalui Kristus. Gagasan tersebut sangat penting dalam teologi keselamatan Timur: Allah menjadi manusia agar manusia dapat menerima kehidupan ilahi. Meskipun tradisi Barat dan Timur kemudian mengembangkan bahasa teologis yang berbeda, keduanya mempertahankan pengakuan bahwa Yesus bukan sekadar ciptaan tertinggi.

Namun, penting untuk memahami bahwa konsili-konsili tersebut tidak dipandang oleh tradisi Kristen sebagai upaya menciptakan identitas Yesus dari nol. Para teolog gereja menganggap mereka sedang merumuskan secara lebih tepat apa yang sudah diyakini berdasarkan Kitab Suci dan tradisi apostolik, terutama karena muncul perbedaan penafsiran mengenai siapa Yesus. Jadi, terdapat perbedaan antara mengatakan bahwa gereja “baru menciptakan keilahian Yesus” pada abad keempat dan mengatakan bahwa gereja abad keempat “merumuskan secara filosofis dan terminologis” keyakinan mengenai Yesus yang telah berkembang sejak zaman Perjanjian Baru. Pernyataan kedua jauh lebih sesuai dengan gambaran sejarah doktrin.

Apakah Semua Orang Kristen Memahami Keilahian Yesus dengan Cara yang Sama?
Tidak sepenuhnya. Kekristenan memiliki banyak denominasi dan tradisi teologis, sehingga terdapat perbedaan dalam penekanan mengenai bagaimana sifat dan karya Kristus dijelaskan. Namun, dalam tradisi Kristen arus utama seperti Katolik, Ortodoks Timur, dan sebagian besar Protestan, terdapat kesepakatan mendasar bahwa Yesus Kristus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia.

Gereja Katolik menegaskan iman kepada Yesus Kristus sebagai Anak Allah yang menjadi manusia. Gereja Ortodoks Timur juga mempertahankan pengakuan Nicea dan Chalcedon. Banyak gereja Protestan, termasuk tradisi Lutheran, Reformed, Anglikan, dan Evangelikal, menerima keilahian Kristus dan Trinitas sebagai bagian mendasar dari iman Kristen. Dengan demikian, meskipun terdapat perbedaan besar dalam sakramen, gereja, keselamatan, dan liturgi, pertanyaan mengenai keilahian Yesus pada umumnya dijawab secara afirmatif dalam Kekristenan historis arus utama.

Akan tetapi, dalam sejarah Kekristenan terdapat kelompok-kelompok yang menolak formulasi tersebut. Arianisme, misalnya, menganggap Anak lebih rendah daripada Bapa dan bukan Allah yang kekal dalam pengertian Nicea. Dalam zaman modern juga terdapat kelompok-kelompok non-Trinitarian yang memahami Yesus secara berbeda. Karena itu, jika seseorang bertanya “apa yang dipercaya Kekristenan?”, kita harus membedakan antara Kekristenan arus utama historis dan kelompok-kelompok yang menggunakan identitas Kristen tetapi menolak doktrin Trinitas.

Pembedaan ini penting agar pembahasan tidak menjadi terlalu menyederhanakan. Pernyataan “Yesus adalah Tuhan” merupakan pengakuan fundamental dalam Kekristenan Trinitarian, tetapi cara menjelaskan hubungan antara keilahian Yesus, kemanusiaan-Nya, dan Bapa membutuhkan kerangka teologis yang jauh lebih kompleks. Di sinilah istilah seperti Trinitas, inkarnasi, dua natur Kristus, dan Anak Allah menjadi penting.

Jadi, Apa Jawaban Kekristenan: Tuhan atau Anak Tuhan?
Jika pertanyaannya disusun secara sederhana, jawabannya adalah: menurut Kekristenan arus utama, Yesus adalah Anak Allah dan juga sungguh-sungguh Tuhan. Kedua pernyataan tersebut tidak dianggap bertentangan karena “Anak Allah” tidak berarti “makhluk yang diciptakan oleh Allah”. Sebaliknya, Anak menunjuk kepada hubungan kekal antara Yesus dan Bapa.

Yesus bukan Allah Bapa. Ia adalah Anak. Namun, menurut doktrin Trinitas, Anak memiliki natur ilahi yang sama dengan Bapa. Karena itu, ketika orang Kristen mengatakan “Yesus adalah Tuhan”, mereka tidak sedang mengatakan bahwa Yesus adalah satu-satunya pribadi dalam Allah dan bahwa Bapa tidak ada. Mereka mengatakan bahwa Yesus adalah pribadi kedua dalam Trinitas, Anak yang kekal, yang mengambil natur manusia.

Kesaksian Perjanjian Baru mengenai Yesus berjalan dalam beberapa arah sekaligus. Ia benar-benar manusia: Ia lahir, bertumbuh, lapar, haus, menangis, berdoa, menderita, dan mati. Tetapi Ia juga digambarkan sebagai Firman yang sudah ada sebelum penciptaan, melalui siapa segala sesuatu diciptakan, yang memiliki hubungan unik dengan Bapa, menerima gelar “Tuhan”, dan setelah kebangkitan menerima penghormatan yang sangat tinggi dari komunitas Kristen.

Karena itu, dalam kerangka Kekristenan, pertanyaan yang lebih tepat bukanlah “Apakah Yesus Tuhan atau Anak Tuhan?”, melainkan “Bagaimana mungkin Yesus adalah Anak Allah sekaligus Tuhan?” Jawaban historis Kekristenan adalah melalui doktrin Trinitas dan inkarnasi: satu Allah, tiga pribadi Bapa, Anak, dan Roh Kudus serta satu pribadi Yesus Kristus yang memiliki dua natur, ilahi dan manusiawi.

Apakah Yesus Itu Tuhan atau Anak Tuhan?
Pertanyaan “Apakah Yesus itu Tuhan atau Anak Tuhan?” muncul karena bahasa Alkitab memang menggunakan banyak gelar untuk Yesus dan karena hubungan Yesus dengan Allah Bapa sangat kompleks. Namun, dalam Kekristenan arus utama, kedua istilah tersebut tidak dipandang sebagai dua pilihan yang harus dipertentangkan. Yesus disebut Anak Allah karena hubungan-Nya yang unik dan kekal dengan Bapa, sementara Ia disebut Tuhan karena Kekristenan percaya bahwa Ia sungguh mengambil bagian dalam keilahian.

Alkitab tidak mengajarkan bahwa Yesus adalah “anak Tuhan” dalam arti biologis atau makhluk yang diciptakan Allah. Yohanes menggambarkan Firman yang sejak semula bersama-sama dengan Allah dan yang menjadi manusia. Paulus menggambarkan Kristus dalam hubungan dengan penciptaan dan kemuliaan ilahi. Tomas menyebut Yesus yang bangkit sebagai “Tuhanku dan Allahku”. Filipi 2 menggambarkan Kristus dalam “rupa Allah” yang merendahkan diri menjadi manusia. Kolose 1 menempatkan Kristus dalam hubungan dengan penciptaan dan keberadaan segala sesuatu. Semua teks tersebut menjadi bagian dari dasar yang kemudian dirumuskan dalam doktrin Kristen mengenai keilahian Kristus.

Pada saat yang sama, Kekristenan tidak menghapus kemanusiaan Yesus. Justru salah satu ciri penting iman Kristen adalah keyakinan bahwa Yesus sungguh manusia. Ia berdoa kepada Bapa, taat kepada Bapa, menderita, mati, dan mengalami kehidupan manusia secara nyata. Karena itu, Kekristenan tidak mengatakan bahwa Yesus adalah Allah yang sekadar mengenakan tubuh manusia seperti mengenakan pakaian. Ia adalah Anak yang kekal yang benar-benar mengambil natur manusia.

Maka, jika harus diringkas dalam satu kalimat, jawaban Kekristenan adalah: Yesus adalah Anak Allah, tetapi “Anak Allah” tidak berarti Ia bukan Tuhan; menurut iman Kristen Trinitarian, Yesus adalah Anak yang kekal, sungguh Allah dan sungguh manusia, berbeda dari Bapa sebagai pribadi tetapi satu dengan Bapa dalam keilahian.

Dengan memahami hal tersebut, kita dapat melihat mengapa identitas Yesus menjadi pusat seluruh Kekristenan. Pertanyaan mengenai siapa Yesus sekaligus menentukan bagaimana orang Kristen memahami Allah, keselamatan, dosa, pengampunan, salib, kebangkitan, dan kehidupan kekal. Bagi Kekristenan, Yesus bukan hanya seseorang yang membawa manusia kepada Allah. Dalam iman Kristen, di dalam diri Yesus sendiri Allah hadir dan bertindak untuk menyelamatkan manusia.

Daftar Referensi
  • Athanasius. On the Incarnation.
  • Bauckham, Richard. Jesus and the God of Israel: God Crucified and Other Studies on the New Testament's Christology of Divine Identity. Eerdmans.
  • Brown, Raymond E. The Gospel According to John I–XII. Anchor Bible.
  • Brown, Raymond E. The Gospel According to John XIII–XXI. Anchor Bible.
  • Dunn, James D. G. Christology in the Making: A New Testament Inquiry into the Origins of the Doctrine of the Incarnation. SCM Press.
  • Hurtado, Larry W. Lord Jesus Christ: Devotion to Jesus in Earliest Christianity. Eerdmans.
  • Ayres, Lewis. Nicaea and Its Legacy: An Approach to Fourth-Century Trinitarian Theology. Oxford University Press.
  • Wright, N. T. The Resurrection of the Son of God. Fortress Press.
  • Wright, N. T. Paul and the Faithfulness of God. Fortress Press.
  • Meier, John P. A Marginal Jew: Rethinking the Historical Jesus. Yale University Press.
  • Sanders, E. P. The Historical Figure of Jesus. Penguin Books.
  • The Holy Bible: Gospel according to Matthew, Mark, Luke, John; Acts; Romans; 1 Corinthians; 2 Corinthians; Philippians; Colossians; Hebrews; Revelation.
  • Nicene-Constantinopolitan Creed.
  • Definition of Chalcedon.
  • Apostles’ Creed.


Read More.. →