Kristen - Salah satu pertanyaan paling penting dalam memahami Kekristenan adalah apa sebenarnya hubungan antara Yesus dengan Tuhan Bapa. Pertanyaan ini muncul karena Alkitab berkali-kali memperlihatkan Yesus berbicara kepada Allah sebagai “Bapa”, berdoa kepada Bapa, menerima tugas dari Bapa, dan mengatakan bahwa Ia datang untuk melakukan kehendak Bapa. Namun, pada saat yang sama, Kekristenan mengajarkan bahwa Yesus adalah Anak Allah, bahkan sungguh-sungguh ilahi. Jika Yesus adalah Tuhan, mengapa Ia berbicara kepada Tuhan Bapa? Jika Yesus adalah Anak Allah, apakah berarti Ia lebih rendah daripada Bapa? Apakah Bapa dan Yesus adalah dua Allah? Atau apakah sebenarnya Bapa dan Yesus adalah satu pribadi yang sama? Pertanyaan-pertanyaan ini berada tepat di tengah-tengah persoalan kristologi dan menjadi salah satu alasan mengapa doktrin Trinitas berkembang dalam sejarah Kekristenan.
Untuk menjawabnya, kita perlu menghindari dua kesalahpahaman yang berlawanan. Kesalahpahaman pertama adalah menganggap bahwa Yesus dan Bapa adalah pribadi yang sama, sehingga ketika Yesus berdoa kepada Bapa sebenarnya Ia hanya berbicara kepada diri-Nya sendiri. Pandangan seperti ini tidak sesuai dengan gambaran Injil, karena Yesus jelas berbicara kepada Bapa sebagai “Engkau”, sedangkan diri-Nya sendiri sebagai “Aku”. Ia juga berkata bahwa Bapa mengutus-Nya dan bahwa Ia kembali kepada Bapa. Kesalahpahaman kedua adalah menganggap bahwa karena Yesus berbeda dari Bapa, maka Yesus pasti hanya makhluk ciptaan atau manusia biasa. Kekristenan arus utama juga menolak kesimpulan ini karena Perjanjian Baru memberikan kepada Yesus gelar, fungsi, dan penghormatan yang sangat tinggi.
Karena itu, Kekristenan historis mencoba mempertahankan dua kebenaran sekaligus. Pertama, Bapa dan Anak sungguh berbeda sebagai pribadi. Kedua, Bapa dan Anak tidak dianggap sebagai dua Allah yang berbeda. Anak dipahami memiliki natur ilahi yang sama dengan Bapa. Dalam bahasa yang kemudian digunakan oleh teologi Kristen, Allah adalah satu dalam hakikat atau natur, tetapi Bapa, Anak, dan Roh Kudus dibedakan sebagai pribadi. Dengan demikian, ketika Yesus berdoa kepada Bapa, Kekristenan tidak menganggap hal itu sebagai percakapan antara manusia dengan Allah yang sama sekali tidak berhubungan dengan keilahian Yesus, melainkan sebagai bagian dari relasi antara Anak dan Bapa serta sekaligus kehidupan manusiawi Yesus.
Persoalan ini sangat penting karena hubungan Yesus dengan Bapa bukan sekadar persoalan istilah. Hubungan tersebut menjadi dasar bagi banyak doktrin Kristen lainnya. Cara seseorang memahami Bapa dan Anak akan memengaruhi pemahamannya mengenai Trinitas, inkarnasi, doa, keselamatan, salib, kebangkitan, dan bahkan siapa Allah itu sendiri. Karena itu, kita perlu melihat kesaksian Perjanjian Baru secara menyeluruh, bukan hanya mengambil satu atau dua ayat yang tampaknya mendukung satu sisi.
Para sarjana seperti Raymond E. Brown, Richard Bauckham, Larry Hurtado, James D. G. Dunn, N. T. Wright, dan Lewis Ayres telah membahas persoalan ini dengan pendekatan yang berbeda. Ada perbedaan pendapat mengenai bagaimana kristologi berkembang secara historis dan bagaimana setiap teks harus ditafsirkan, tetapi ada satu fakta yang sangat penting: hubungan antara Yesus dan Allah Bapa merupakan pusat dari tulisan-tulisan Kristen paling awal. Karena itu, untuk memahami Kekristenan, kita perlu memahami mengapa Yesus dapat berbicara tentang Allah sebagai Bapa dan sekaligus dipandang oleh gereja sebagai Tuhan.
Siapakah “Bapa” yang Dimaksud Yesus?
Ketika Yesus berbicara mengenai Bapa, Ia menggunakan bahasa yang menunjukkan hubungan yang sangat dekat dengan Allah. Dalam Injil-injil Sinoptik maupun Injil Yohanes, Yesus sering berbicara mengenai Allah sebagai Bapa. Ia mengajarkan murid-murid-Nya untuk berdoa, “Bapa kami yang di surga” (Matius 6:9), dan dalam banyak kesempatan Ia sendiri berdoa kepada Bapa. Hubungan ini bukan sekadar penggunaan istilah yang sopan untuk menyebut Allah. Dalam kesaksian Injil, Bapa merupakan pusat dari kehidupan dan misi Yesus.
Dalam Injil Yohanes, hubungan ini bahkan digambarkan secara lebih mendalam. Yohanes 5:17 mencatat Yesus berkata, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” Yohanes 5:19 kemudian menggambarkan Anak melakukan apa yang dilakukan Bapa. Yohanes 5:21 menyatakan bahwa sebagaimana Bapa membangkitkan orang mati dan memberikan kehidupan, demikian juga Anak memberikan kehidupan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dengan demikian, hubungan Bapa dan Anak bukan hubungan sederhana seperti hubungan antara seorang nabi dan Allah yang ia sembah.
Yang sangat penting adalah bahwa Yesus tidak hanya berkata bahwa Bapa adalah Allah yang Ia kenal seperti orang lain mengenal Allah. Ia berbicara mengenai hubungan yang unik antara diri-Nya dan Bapa. Dalam Matius 11:27, misalnya, Yesus berkata bahwa tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak berkenan menyatakannya. Pernyataan tersebut memberikan gambaran mengenai hubungan timbal balik yang sangat khusus antara Bapa dan Anak.
Raymond E. Brown, dalam kajiannya mengenai Injil Yohanes, menunjukkan bahwa hubungan antara Yesus dan Bapa merupakan salah satu struktur utama Injil tersebut. Yesus diutus oleh Bapa, menerima tugas dari Bapa, melakukan pekerjaan Bapa, berbicara atas nama Bapa, dan akhirnya kembali kepada Bapa. Namun, hubungan tersebut tidak menggambarkan Yesus sebagai sekadar juru bicara yang tidak memiliki hubungan khusus dengan identitas Allah. Yohanes justru menggunakan hubungan Bapa-Anak untuk menjelaskan keunikan Yesus.
Apakah Bapa dan Yesus adalah Pribadi yang Sama?
Jawabannya dalam Kekristenan historis adalah tidak. Bapa dan Anak berbeda sebagai pribadi. Hal ini dapat dilihat dengan sangat jelas dalam kisah pembaptisan Yesus. Dalam Markus 1:9–11, Yesus berada di sungai Yordan, Roh turun ke atas-Nya seperti burung merpati, dan suara dari surga menyatakan bahwa Yesus adalah Anak yang dikasihi. Narasi tersebut menggambarkan Yesus, Roh, dan suara Bapa dalam hubungan yang berbeda.
Perbedaan tersebut menjadi semakin jelas dalam doa Yesus di Yohanes 17. Yesus berbicara kepada Bapa, memohon agar Bapa memuliakan-Nya, mengingat kemuliaan yang dimiliki-Nya bersama Bapa sebelum dunia ada, dan berbicara mengenai hubungan kasih antara Bapa dan Anak. Jika Bapa dan Anak dianggap sebagai satu pribadi yang sama, struktur doa tersebut menjadi sangat sulit dijelaskan. Injil Yohanes justru menggambarkan adanya relasi nyata antara dua pribadi.
Yohanes 17:24 bahkan memuat perkataan mengenai kasih Bapa kepada Anak “sebelum dunia dijadikan”. Pernyataan ini sangat penting bagi teologi Kristen karena menunjukkan bahwa hubungan Bapa dan Anak tidak dimulai pada saat kelahiran Yesus di Betlehem. Dalam pembacaan Kristen terhadap Yohanes, Anak sudah memiliki hubungan dengan Bapa sebelum keberadaan dunia. Karena itu, istilah “Anak” tidak dimaksudkan sebagai anak biologis yang baru mulai ada ketika Maria mengandung Yesus.
Di sinilah kita harus membedakan inkarnasi dari awal keberadaan Anak. Kekristenan mengajarkan bahwa Anak yang kekal menjadi manusia dalam diri Yesus. Natal bukan dipahami sebagai saat Anak mulai ada, melainkan saat Anak yang kekal mengambil natur manusia. Yohanes 1:14 merumuskan hal tersebut dengan mengatakan bahwa Firman menjadi manusia. Dengan demikian, Yesus sebagai manusia memiliki kelahiran historis, tetapi Anak dalam pengertian teologis tidak dianggap mulai ada pada saat kelahiran itu.
Jika Bapa dan Anak Berbeda, Apakah Ada Dua Allah?
Pertanyaan ini merupakan salah satu tantangan terbesar bagi teologi Kristen awal. Jika Bapa adalah Allah dan Yesus adalah Allah, bukankah berarti ada dua Allah? Kekristenan historis menjawab tidak, karena Bapa dan Anak tidak dipahami sebagai dua pusat keilahian yang terpisah. Keduanya memiliki natur ilahi yang sama.
Perjanjian Baru sendiri tetap mempertahankan monoteisme. 1 Korintus 8:4 mengatakan bahwa tidak ada Allah lain daripada Allah yang esa. Namun, beberapa ayat kemudian, Paulus berbicara tentang “satu Allah, yaitu Bapa” dan “satu Tuhan, yaitu Yesus Kristus”. Ini merupakan salah satu teks yang menarik karena Paulus tidak meninggalkan pengakuan monoteistik tetapi memberikan tempat yang sangat tinggi kepada Yesus dalam kerangka tersebut.
Yohanes 1:1 bahkan mengatakan bahwa Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Kalimat ini sekaligus menunjukkan perbedaan dan kesatuan. Firman “bersama-sama dengan Allah” menunjukkan relasi, sedangkan “Firman itu adalah Allah” menunjukkan identitas ilahi. Karena itu, Yohanes tidak mengatakan bahwa Firman adalah Bapa, tetapi juga tidak menggambarkan Firman sebagai makhluk yang bukan Allah.
Richard Bauckham mengembangkan argumen bahwa kristologi Perjanjian Baru harus dipahami dalam konteks monoteisme Yahudi. Menurutnya, Yesus dimasukkan ke dalam “identitas ilahi” Allah Israel melalui fungsi-fungsi dan penghormatan yang diberikan kepada-Nya. Ini membantu menjelaskan mengapa orang Kristen dapat membedakan Bapa dan Anak tetapi tetap mengaku hanya ada satu Allah.
Pandangan ini juga membantu menjelaskan mengapa Kekristenan tidak sama dengan politeisme. Dalam politeisme, berbagai dewa merupakan entitas ilahi yang berbeda dengan kuasa dan identitas masing-masing. Dalam Trinitas, Bapa dan Anak bukan dua dewa yang berdiri berdampingan. Kekristenan berbicara tentang satu natur ilahi yang dimiliki oleh Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Mengapa Yesus Berdoa kepada Bapa?
Salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan adalah: “Kalau Yesus adalah Tuhan, mengapa Ia berdoa kepada Tuhan Bapa?” Pertanyaan ini sangat masuk akal karena Injil memang menggambarkan Yesus berdoa. Ia berdoa sebelum memilih murid-murid, berdoa di tempat sunyi, berdoa sebelum kematian-Nya, dan berdoa di kayu salib.
Jawaban Kristen berkaitan erat dengan doktrin inkarnasi. Kekristenan tidak mengajarkan bahwa Yesus hanya “terlihat” sebagai manusia. Ia sungguh menjadi manusia. Karena itu, kehidupan doa Yesus merupakan bagian dari kehidupan manusiawi-Nya. Jika Yesus benar-benar menjadi manusia, maka berdoa kepada Bapa merupakan sesuatu yang sesuai dengan identitas manusiawi-Nya sebagai Anak yang taat.
Dalam doa di Getsemani, misalnya, Yesus berkata, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Matius 26:39). Teks ini menunjukkan adanya perbedaan nyata antara kehendak manusiawi Yesus yang menghadapi penderitaan dan kehendak Bapa. Namun, Injil tidak menggambarkan hubungan tersebut sebagai pemberontakan. Sebaliknya, Yesus menyerahkan diri-Nya kepada kehendak Bapa.
Dalam surat Ibrani, ketaatan Yesus bahkan menjadi bagian penting dari gambaran keselamatan. Ibrani 5:7–9 menggambarkan Yesus berdoa dan belajar taat melalui penderitaan. Ini sangat penting karena Kekristenan tidak hanya mengatakan bahwa Yesus “memiliki tubuh manusia”, tetapi bahwa Ia menjalani kehidupan manusia secara nyata. Ia mengalami penderitaan, ketakutan, kesedihan, dan kematian. Karena itu, doa Yesus kepada Bapa bukanlah masalah bagi doktrin inkarnasi; justru merupakan salah satu bagian dari bukti bahwa inkarnasi dipahami secara serius.
Apakah Bapa Lebih Tinggi daripada Yesus?
Pertanyaan ini terutama muncul dari Yohanes 14:28, ketika Yesus berkata, “Bapa lebih besar daripada Aku.” Jika Bapa lebih besar daripada Yesus, bukankah berarti Yesus lebih rendah dan bukan Allah?
Ayat tersebut harus dibaca bersama konteks inkarnasi. Dalam Injil Yohanes, Yesus datang dari Bapa, menjalankan misi di dunia, kemudian kembali kepada Bapa. Ketika berbicara sebagai Dia yang telah datang ke dalam kondisi manusia dan menjalankan misi keselamatan, Yesus dapat berbicara mengenai posisi Bapa sebagai yang mengutus dan diri-Nya sebagai yang diutus. Hal tersebut berkaitan dengan peran dan misi, bukan otomatis berarti perbedaan natur ilahi.
Filipi 2:6–8 memberikan kerangka yang sangat penting. Kristus yang berada dalam “rupa Allah” mengambil “rupa seorang hamba” dan merendahkan diri sampai mati di kayu salib. Teks ini menunjukkan bahwa dalam kehidupan inkarnasi terdapat kerendahan diri dan ketaatan. Namun, kerendahan diri tersebut tidak berarti bahwa Kristus pada awalnya bukan ilahi. Justru kontras antara “rupa Allah” dan “rupa seorang hamba” menjadi sangat penting dalam argumen Paulus.
Dalam perkembangan teologi Kristen, pembedaan antara status, peran, dan natur menjadi sangat penting. Anak dapat menjalankan peran sebagai yang diutus oleh Bapa tanpa berarti bahwa Anak memiliki natur ilahi yang lebih rendah. Demikian pula, seorang raja dapat mengutus seorang wakil tanpa wakil tersebut menjadi makhluk yang berbeda jenis. Dalam kasus Kristus, Kekristenan mengajarkan bahwa Anak dan Bapa memiliki natur ilahi yang sama, tetapi dalam karya keselamatan Anak mengambil peran sebagai yang diutus dan menjadi manusia.
Karena itu, “Bapa lebih besar daripada Aku” tidak dipahami oleh Kekristenan arus utama sebagai bukti bahwa Yesus adalah makhluk ciptaan. Ayat tersebut dibaca dalam keseluruhan kesaksian mengenai inkarnasi dan hubungan Anak dengan Bapa. Lewis Ayres menunjukkan bahwa perdebatan teologis abad keempat mengenai hubungan Bapa dan Anak justru muncul karena gereja berusaha memahami bagaimana kesetaraan ilahi dan perbedaan relasional dapat dipertahankan sekaligus.
Apakah Yesus Tunduk kepada Bapa?
Ya, dalam Perjanjian Baru Yesus digambarkan taat kepada Bapa. Ia berkata bahwa Ia datang bukan untuk melakukan kehendak-Nya sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus-Nya (Yohanes 6:38). Dalam Yohanes 4:34, makanan Yesus digambarkan sebagai melakukan kehendak Dia yang mengutus-Nya dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Dalam Filipi 2, kerendahan diri dan ketaatan Yesus bahkan menjadi contoh bagi komunitas Kristen.
Namun, ketaatan tidak otomatis berarti ketidakilahian. Dalam kerangka Kristen, ketaatan Anak kepada Bapa merupakan bagian dari hubungan dan misi-Nya sebagai Anak yang diutus ke dalam dunia. Jika Yesus benar-benar manusia, maka ketaatan merupakan bagian dari kehidupan manusiawi-Nya. Bahkan justru karena Ia adalah manusia sejati, ketaatan-Nya dianggap memiliki makna bagi keselamatan.
Konsep ini sangat penting dalam teologi Adam baru atau Adam kedua. Paulus dalam Roma 5 dan 1 Korintus 15 membandingkan Adam dengan Kristus. Adam dikaitkan dengan ketidaktaatan, sedangkan Kristus dikaitkan dengan ketaatan. Dengan demikian, Yesus dipahami sebagai manusia yang menjalankan ketaatan yang sempurna kepada Allah.
Dalam tradisi Kristen, ketaatan Kristus tidak dipahami sebagai bukti bahwa Ia hanyalah seorang bawahan Allah. Sebaliknya, ketaatan tersebut menjadi bagian dari karya keselamatan. Anak yang kekal mengambil natur manusia dan menjalani kehidupan manusia yang taat kepada Bapa. Karena itu, hubungan Yesus dengan Bapa memiliki dimensi kekal dan ilahi, sekaligus dimensi historis dan manusiawi melalui inkarnasi.
Apa Arti “Anak” dalam Hubungan Yesus dengan Bapa?
Istilah “Anak Allah” harus dipahami secara teologis, bukan biologis. Kekristenan tidak mengajarkan bahwa Allah mempunyai seorang anak melalui proses biologis seperti manusia. Istilah “Anak” menunjuk kepada hubungan unik dan kekal antara Bapa dan Anak.
Dalam Yohanes 1:18, Yohanes berbicara mengenai Anak Tunggal yang ada di pangkuan Bapa dan yang menyatakan Bapa. Dalam Yohanes 17:5, Yesus berbicara tentang kemuliaan yang Ia miliki bersama Bapa sebelum dunia ada. Dalam Yohanes 5:26, Anak dikatakan memiliki hidup dalam diri-Nya sebagaimana Bapa memiliki hidup dalam diri-Nya. Bahasa tersebut menunjukkan hubungan yang jauh lebih tinggi daripada hubungan antara Allah dan seorang nabi.
Karena itu, ketika gereja mula-mula menyebut Yesus sebagai Anak, mereka tidak sedang mengatakan bahwa Yesus diciptakan oleh Bapa. Inilah salah satu alasan mengapa Konsili Nicea menggunakan istilah “diperanakkan, bukan dibuat”. Istilah tersebut dimaksudkan untuk membedakan Anak dari ciptaan.
Athanasius dari Aleksandria menjadi salah satu pembela utama pemahaman ini. Menurut Athanasius, jika Anak adalah ciptaan, maka Ia bukan Allah sejati. Dan jika Ia bukan Allah sejati, maka keselamatan melalui Kristus tidak dapat dipahami sebagai tindakan Allah sendiri. Karena itu, bagi Athanasius, keilahian Anak berkaitan langsung dengan keselamatan manusia.
Dalam perkembangan teologi Kristen, hubungan Bapa dan Anak kemudian dipahami sebagai hubungan yang kekal. Artinya, tidak pernah ada waktu ketika Bapa ada tetapi Anak belum ada. Anak tidak muncul belakangan. Sebutan “Anak” menggambarkan relasi kekal, bukan urutan waktu seperti dalam hubungan biologis manusia.
Apa yang Dimaksud dengan “Bapa Mengutus Anak”?
Salah satu tema paling sering muncul dalam Injil Yohanes adalah bahwa Bapa mengutus Anak ke dalam dunia. Yohanes 3:16–17 mengatakan bahwa Allah mengutus Anak-Nya ke dunia supaya dunia diselamatkan melalui Dia. Yohanes 5:36–37 berbicara mengenai Bapa yang mengutus Yesus. Yohanes 6:57 juga menggambarkan hubungan antara Bapa yang hidup dan Yesus yang diutus oleh Bapa.
Bahasa “mengutus” menunjukkan bahwa Yesus memiliki misi. Ia datang bukan semata-mata untuk mengajarkan moralitas, tetapi untuk menjalankan karya keselamatan. Ia memberitakan Kerajaan Allah, menyembuhkan, mengampuni, menghadapi dosa, mati di kayu salib, dan bangkit dari kematian. Semua itu dipahami sebagai bagian dari misi yang diberikan oleh Bapa.
Namun, pengutusan tidak berarti bahwa Yesus tidak memiliki kehendak atau identitas sendiri. Dalam Yohanes, Anak melakukan kehendak Bapa secara sempurna karena terdapat kesatuan antara Bapa dan Anak. Yohanes 10:30 mengatakan, “Aku dan Bapa adalah satu.” Yohanes 10:38 juga berbicara mengenai Bapa di dalam Yesus dan Yesus di dalam Bapa.
N. T. Wright menekankan bahwa Yesus harus dibaca dalam konteks kisah Israel dan tindakan Allah terhadap umat-Nya. Yesus tampil sebagai Mesias yang menjalankan misi Allah, tetapi misi tersebut sekaligus mengungkap identitas-Nya secara unik. Karena itu, pengutusan Yesus tidak menjadikan-Nya sekadar kurir pesan. Dalam narasi Injil, Ia adalah pusat dari tindakan penyelamatan Allah.
Mengapa Yesus Berkata “Bapa di Dalam Aku dan Aku di Dalam Bapa”?
Yohanes 10:38 dan Yohanes 14:10–11 menggunakan bahasa yang sangat kuat mengenai saling berdiamnya Bapa dan Anak. Yesus berkata bahwa Bapa ada di dalam Dia dan Dia ada di dalam Bapa. Bahasa ini menunjukkan hubungan yang jauh lebih dalam daripada hubungan antara seorang nabi dan Allah.
Dalam Yohanes 14:9, Yesus berkata kepada Filipus, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” Pernyataan tersebut tidak berarti bahwa Yesus adalah Bapa sebagai pribadi. Namun, Yesus menyatakan bahwa melihat dan mengenal Dia membawa manusia kepada pengenalan terhadap Bapa. Dalam konteks Injil Yohanes, Yesus adalah penyataan Allah yang paling sempurna.
Hal tersebut berkaitan dengan Yohanes 1:18, yang mengatakan bahwa tidak seorang pun pernah melihat Allah, tetapi Anak yang ada di pangkuan Bapa telah menyatakan-Nya. Dengan demikian, Yesus dipahami sebagai penyataan Allah kepada manusia. Ia bukan Bapa, tetapi melalui Anak manusia mengenal Bapa.
Inilah salah satu alasan mengapa Kekristenan memberikan tempat yang sangat tinggi kepada Yesus. Jika Yesus adalah penyataan sempurna mengenai Bapa, maka mengenal Yesus bukan sekadar mempelajari seorang tokoh agama. Menurut iman Kristen, melalui Yesus manusia mengenal Allah. Karena itu, Yesus berkata dalam Yohanes 14:6 bahwa Ia adalah jalan, kebenaran, dan hidup, dan bahwa tidak seorang pun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Dia.
Bagaimana Hubungan Bapa dan Anak Dijelaskan dalam Trinitas?
Doktrin Trinitas tidak berarti bahwa Allah adalah tiga Allah. Trinitas mengajarkan bahwa ada satu Allah dalam tiga pribadi: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Dalam kerangka tersebut, Bapa bukan Anak, Anak bukan Roh Kudus, dan Roh Kudus bukan Bapa. Namun, ketiganya memiliki satu natur ilahi.
Rumusan tersebut berkembang melalui proses panjang karena gereja berusaha memahami kesaksian Alkitab. Matius 28:19 menyebut Bapa, Anak, dan Roh Kudus dalam satu formula baptisan. 2 Korintus 13:13 menghubungkan kasih karunia Kristus, kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus. Yohanes berbicara tentang hubungan Bapa dan Anak, sementara berbagai teks lainnya berbicara mengenai Roh Kudus dalam konteks ilahi.
Lewis Ayres menjelaskan bahwa teologi Trinitarian abad keempat tidak dapat dipahami hanya sebagai usaha filsuf untuk membuat konsep abstrak. Perdebatan tersebut berkaitan dengan pertanyaan yang sangat konkret: siapakah Yesus yang disembah oleh gereja, bagaimana Ia berhubungan dengan Allah Bapa, dan bagaimana monoteisme tetap dipertahankan? Istilah-istilah seperti ousia dan hypostasis kemudian digunakan untuk memberikan ketepatan filosofis terhadap keyakinan yang sudah diperdebatkan dalam gereja.
Konsili Nicea pada tahun 325 menegaskan bahwa Anak adalah “sehakikat” dengan Bapa. Konsili Konstantinopel pada tahun 381 memperkuat formulasi tersebut dalam Pengakuan Iman yang kemudian dikenal sebagai Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel. Dengan demikian, gereja menolak dua ekstrem: menjadikan Anak sebagai ciptaan dan menjadikan Bapa serta Anak sebagai satu pribadi yang tidak dapat dibedakan.
Apakah Hubungan Bapa dan Anak Ada Sebelum Yesus Lahir?
Menurut Kekristenan arus utama, ya. Ini merupakan salah satu aspek paling penting dalam konsep Anak yang kekal. Kelahiran Yesus di Betlehem tidak dipahami sebagai awal keberadaan Anak, melainkan sebagai awal kehidupan manusiawi-Nya di dunia.
Yohanes 1:1 mengatakan bahwa Firman sudah ada “pada mulanya”. Yohanes 1:3 menyatakan bahwa segala sesuatu dijadikan melalui Firman. Yohanes 17:5 berbicara mengenai kemuliaan yang dimiliki Yesus bersama Bapa sebelum dunia ada. Kolose 1:15–17 juga berbicara mengenai Kristus dalam hubungan dengan penciptaan segala sesuatu.
Filipi 2:6–7 memberikan gambaran lain. Kristus yang berada dalam “rupa Allah” mengambil rupa seorang hamba dan menjadi manusia. Dalam pembacaan Kristen, hal ini menunjukkan bahwa inkarnasi adalah gerakan dari keberadaan ilahi menuju kehidupan manusiawi, bukan proses seorang manusia biasa yang kemudian diangkat menjadi Allah.
Larry Hurtado dan Richard Bauckham sama-sama menekankan pentingnya kristologi awal dalam memahami Yesus. Walaupun mereka memiliki pendekatan yang berbeda, penelitian mereka menunjukkan bahwa penghormatan tinggi kepada Yesus dan keyakinan mengenai status-Nya yang unik sudah muncul dalam Kekristenan awal. Karena itu, gagasan bahwa keilahian Yesus sepenuhnya merupakan hasil perkembangan gereja yang sangat terlambat tidak cukup menjelaskan keseluruhan data Perjanjian Baru.
Mengapa Bapa dan Anak Saling Mengasihi?
Salah satu gambaran paling indah mengenai hubungan Bapa dan Anak terdapat dalam Injil Yohanes: hubungan mereka digambarkan sebagai hubungan kasih. Yohanes 3:35 mengatakan bahwa Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Yohanes 5:20 kembali mengatakan bahwa Bapa mengasihi Anak dan menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya.
Yohanes 17 juga menunjukkan hubungan kasih yang mendalam antara Bapa dan Anak. Yesus berbicara mengenai kemuliaan yang dimiliki bersama Bapa dan kasih Bapa kepada-Nya. Jika hubungan tersebut dipahami sebagai sesuatu yang sudah ada sebelum penciptaan, maka kasih bukan sekadar sesuatu yang muncul setelah Allah menciptakan manusia. Dalam teologi Kristen, kasih antara Bapa dan Anak merupakan bagian dari kehidupan ilahi itu sendiri.
Hal tersebut kemudian menjadi penting dalam pemahaman Kristen mengenai Allah sebagai kasih. 1 Yohanes 4:8 mengatakan bahwa Allah adalah kasih. Kekristenan tidak mengartikan kalimat ini hanya sebagai “Allah memiliki kasih kepada ciptaan”. Ada gagasan yang lebih mendalam bahwa kasih merupakan bagian dari keberadaan Allah. Dalam kerangka Trinitarian, relasi Bapa, Anak, dan Roh Kudus menjadi dasar bagi pemahaman mengenai kehidupan Allah sebagai kehidupan relasional.
Karena itu, hubungan Bapa dan Anak bukan hanya hubungan hierarkis antara penguasa dan bawahan. Ia juga merupakan hubungan kasih, kesatuan, kehendak, dan persekutuan. Dalam Yohanes 17, Yesus bahkan berdoa agar para pengikut-Nya mengalami kesatuan sebagaimana Ia dan Bapa berada dalam kesatuan. Dengan demikian, hubungan Bapa dan Anak menjadi pola bagi hubungan antara Allah dan manusia serta hubungan antarorang percaya.
Apa Hubungan Bapa dan Anak dengan Keselamatan Manusia?
Dalam Kekristenan, keselamatan manusia berasal dari Allah dan dikerjakan melalui Kristus. Yohanes 3:16 menggambarkan Allah mengasihi dunia dan memberikan Anak-Nya yang tunggal supaya manusia yang percaya memperoleh hidup kekal. Dalam Roma 5, kematian Kristus dipahami sebagai tindakan yang membawa pendamaian. Dalam 2 Korintus 5:19, Paulus berbicara mengenai Allah yang mendamaikan dunia dengan diri-Nya melalui Kristus.
Hubungan Bapa dan Anak sangat penting di sini karena keselamatan bukan dipahami sebagai Yesus meyakinkan Bapa yang sebenarnya tidak mau mengampuni manusia. Sebaliknya, dalam kerangka Perjanjian Baru, Bapa sendiri mengutus Anak karena kasih-Nya kepada dunia. Salib bukan pertentangan antara Yesus yang penuh kasih dan Bapa yang penuh murka. Keduanya berada dalam satu karya keselamatan.
Yesus berkata dalam Yohanes 10:17–18 bahwa Ia menyerahkan nyawa-Nya dan memiliki kuasa untuk mengambilnya kembali. Ia juga berkata bahwa Ia melakukan semuanya sesuai perintah yang diterima-Nya dari Bapa. Dengan demikian, salib dipahami sebagai tindakan ketaatan Anak sekaligus bagian dari kehendak keselamatan Allah.
John Stott, dalam pembahasannya mengenai salib, menekankan bahwa kasih Allah dan kekudusan Allah tidak boleh dipisahkan. Salib bukan sekadar simbol penderitaan, tetapi pusat dari tindakan Allah terhadap dosa. Dalam tradisi Kristen yang berbeda-beda, ada berbagai model untuk menjelaskan penebusan pengorbanan, kemenangan atas kuasa dosa dan maut, substitusi, rekonsiliasi, dan lain-lain tetapi semuanya berangkat dari keyakinan bahwa karya Kristus tidak terpisah dari kehendak Bapa.
Apa yang Terjadi antara Bapa dan Anak pada Saat Salib?
Peristiwa salib merupakan salah satu titik paling dalam dalam memahami hubungan Bapa dan Anak. Yesus berteriak dari salib, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Markus 15:34; Matius 27:46). Kalimat tersebut mengutip Mazmur 22 dan menunjukkan kedalaman penderitaan Yesus.
Namun, ayat tersebut tidak boleh langsung ditafsirkan bahwa Trinitas terpecah dan Bapa berhenti menjadi Bapa atau Anak berhenti menjadi Anak. Kekristenan historis tidak mengajarkan bahwa natur ilahi terbelah pada saat salib. Sebaliknya, Yesus mengalami penderitaan dan kematian dalam natur manusia-Nya. Salib menunjukkan betapa seriusnya penderitaan yang dijalani Kristus.
Mazmur 22 sendiri merupakan teks yang bergerak dari ratapan menuju kepercayaan dan kemenangan. Karena itu, kutipan Yesus terhadap mazmur tersebut memiliki konteks yang lebih luas daripada sekadar ungkapan putus asa. Namun, hal itu tidak mengurangi kenyataan bahwa Yesus sungguh mengalami penderitaan. Dalam Kekristenan, salib justru menjadi bukti bahwa Anak sungguh memasuki kondisi manusia.
Setelah kematian, kebangkitan menjadi jawaban penting terhadap salib. Allah membangkitkan Yesus dari antara orang mati. Dalam Kisah Para Rasul, kebangkitan dipahami sebagai tindakan Allah yang membenarkan dan meninggikan Kristus. Dengan demikian, hubungan Bapa dan Anak tidak berakhir di kayu salib. Sang Anak bangkit dan kemudian ditinggikan dalam kemuliaan.
Jadi, Apa Sebenarnya Hubungan Yesus dengan Tuhan Bapa?
Jika seluruh pembahasan dirangkum, hubungan Yesus dengan Bapa dalam Kekristenan dapat dijelaskan melalui beberapa unsur yang saling berkaitan. Bapa dan Anak berbeda sebagai pribadi, sehingga Yesus dapat berdoa kepada Bapa dan berbicara kepada-Nya. Namun, Bapa dan Anak satu dalam keilahian, sehingga Yesus dapat disebut Tuhan dan menerima penghormatan yang sangat tinggi. Anak diutus oleh Bapa ke dunia, tetapi pengutusan tersebut tidak berarti bahwa Anak adalah makhluk ciptaan.
Yesus sebagai Anak juga menjalankan kehidupan manusia yang nyata. Karena itu, Ia berdoa, taat, menderita, dan mati. Semua ini tidak dianggap sebagai bukti bahwa Ia bukan Allah, melainkan sebagai bagian dari keyakinan bahwa Anak Allah benar-benar menjadi manusia. Doktrin inkarnasi menjelaskan mengapa Yesus dapat berbicara sebagai manusia kepada Bapa dan sekaligus dipahami sebagai ilahi.
Hubungan Bapa dan Anak juga merupakan hubungan kasih dan persekutuan. Injil Yohanes menggambarkan Bapa mengasihi Anak, Anak mengasihi Bapa, dan keduanya memiliki kesatuan kehendak. Yesus datang ke dunia bukan sebagai lawan Bapa, tetapi sebagai Dia yang diutus Bapa untuk menjalankan karya keselamatan.
Karena itu, menurut Kekristenan arus utama, Yesus bukan Tuhan yang berbeda dari Bapa dan bukan pula Bapa yang menyamar menjadi manusia. Ia adalah Anak yang kekal, pribadi yang berbeda dari Bapa tetapi satu dengan Bapa dalam keilahian. Inilah dasar utama mengapa orang Kristen dapat mengatakan sekaligus bahwa “Yesus adalah Tuhan” dan “Yesus adalah Anak Allah”.
Apa Hubungan Yesus dengan Tuhan Bapa?
Hubungan Yesus dengan Tuhan Bapa merupakan salah satu pusat iman Kristen. Kekristenan tidak mengajarkan bahwa Yesus dan Bapa adalah pribadi yang sama, tetapi juga tidak mengajarkan bahwa mereka adalah dua Allah. Yesus adalah Anak, sedangkan Bapa adalah Bapa; keduanya berbeda sebagai pribadi, tetapi menurut doktrin Trinitas keduanya memiliki natur ilahi yang sama.
Karena itu, ketika Yesus berdoa kepada Bapa, hal tersebut tidak dianggap sebagai bukti bahwa Yesus bukan Tuhan. Doa Yesus menunjukkan dua hal sekaligus: hubungan-Nya yang nyata dengan Bapa dan kenyataan bahwa Ia sungguh menjalani kehidupan manusia. Dalam inkarnasi, Anak yang kekal mengambil natur manusia, sehingga Ia dapat mengalami kehidupan manusia secara penuh—termasuk doa, ketaatan, penderitaan, dan kematian.
Perjanjian Baru memberikan berbagai dasar bagi pemahaman tersebut. Yohanes 1 menggambarkan Firman yang bersama-sama dengan Allah dan adalah Allah, lalu menjadi manusia. Yohanes 5 menunjukkan hubungan unik antara Bapa dan Anak. Yohanes 10 berbicara mengenai kesatuan Bapa dan Anak. Yohanes 14 menggambarkan Yesus sebagai penyataan Bapa. Yohanes 17 menunjukkan hubungan kasih dan kemuliaan antara Bapa dan Anak sebelum dunia ada. Filipi 2 menggambarkan Kristus dalam rupa Allah yang mengambil rupa seorang hamba. 1 Korintus 8 tetap mempertahankan monoteisme sambil memberikan tempat yang sangat tinggi kepada Yesus.
Karena itu, istilah “Anak Allah” tidak berarti Yesus adalah anak biologis Allah atau makhluk yang diciptakan oleh Allah. Dalam teologi Kristen, Anak adalah hubungan kekal. Anak “diperanakkan, bukan dibuat”, sebagaimana kemudian dirumuskan dalam Pengakuan Iman Nicea. Ini merupakan cara gereja menjelaskan bahwa Anak bukan ciptaan, tetapi tetap berbeda dari Bapa.
Pada saat yang sama, Kekristenan juga tidak mengatakan bahwa Yesus adalah Bapa. Bapa mengutus Anak, Anak berdoa kepada Bapa, dan Anak kembali kepada Bapa. Hubungan ini nyata dan tidak boleh dihapuskan. Namun, perbedaan pribadi tidak berarti perbedaan dalam keilahian. Karena itu, orang Kristen dapat menyembah Yesus tanpa menganggap diri mereka menyembah Allah kedua.
Jika diringkas dalam satu kalimat, hubungan Yesus dengan Tuhan Bapa menurut Kekristenan adalah hubungan antara Anak yang kekal dan Bapa yang kekal: keduanya berbeda sebagai pribadi, tetapi satu dalam keilahian, saling mengasihi, dan bersama-sama berkarya dalam keselamatan manusia.
Inilah dasar mengapa Kekristenan kemudian berbicara tentang Allah Tritunggal. Bapa bukan Anak, Anak bukan Roh Kudus, dan Roh Kudus bukan Bapa; tetapi ketiganya adalah satu Allah. Dan dalam pribadi Anak, Allah masuk ke dalam sejarah manusia sebagai Yesus Kristus.
Dengan demikian, memahami hubungan Yesus dengan Bapa membantu menjawab beberapa pertanyaan sebelumnya sekaligus. Mengapa Yesus menyebut Allah sebagai Bapa? Karena Ia adalah Anak. Mengapa Yesus berdoa kepada Bapa? Karena Bapa dan Anak berbeda sebagai pribadi dan karena Anak sungguh menjadi manusia. Mengapa Yesus disebut Tuhan? Karena Anak dipahami memiliki natur ilahi yang sama dengan Bapa. Mengapa orang Kristen tidak menganggapnya sebagai dua Allah? Karena Kekristenan mengakui satu Allah. Dan mengapa semua ini menjadi begitu penting? Karena bagi iman Kristen, di dalam hubungan Bapa dan Anak kita menemukan pusat pemahaman Kristen mengenai siapa Allah dan bagaimana Allah menyelamatkan manusia melalui Yesus Kristus.
Daftar Referensi
Untuk menjawabnya, kita perlu menghindari dua kesalahpahaman yang berlawanan. Kesalahpahaman pertama adalah menganggap bahwa Yesus dan Bapa adalah pribadi yang sama, sehingga ketika Yesus berdoa kepada Bapa sebenarnya Ia hanya berbicara kepada diri-Nya sendiri. Pandangan seperti ini tidak sesuai dengan gambaran Injil, karena Yesus jelas berbicara kepada Bapa sebagai “Engkau”, sedangkan diri-Nya sendiri sebagai “Aku”. Ia juga berkata bahwa Bapa mengutus-Nya dan bahwa Ia kembali kepada Bapa. Kesalahpahaman kedua adalah menganggap bahwa karena Yesus berbeda dari Bapa, maka Yesus pasti hanya makhluk ciptaan atau manusia biasa. Kekristenan arus utama juga menolak kesimpulan ini karena Perjanjian Baru memberikan kepada Yesus gelar, fungsi, dan penghormatan yang sangat tinggi.
Karena itu, Kekristenan historis mencoba mempertahankan dua kebenaran sekaligus. Pertama, Bapa dan Anak sungguh berbeda sebagai pribadi. Kedua, Bapa dan Anak tidak dianggap sebagai dua Allah yang berbeda. Anak dipahami memiliki natur ilahi yang sama dengan Bapa. Dalam bahasa yang kemudian digunakan oleh teologi Kristen, Allah adalah satu dalam hakikat atau natur, tetapi Bapa, Anak, dan Roh Kudus dibedakan sebagai pribadi. Dengan demikian, ketika Yesus berdoa kepada Bapa, Kekristenan tidak menganggap hal itu sebagai percakapan antara manusia dengan Allah yang sama sekali tidak berhubungan dengan keilahian Yesus, melainkan sebagai bagian dari relasi antara Anak dan Bapa serta sekaligus kehidupan manusiawi Yesus.
Persoalan ini sangat penting karena hubungan Yesus dengan Bapa bukan sekadar persoalan istilah. Hubungan tersebut menjadi dasar bagi banyak doktrin Kristen lainnya. Cara seseorang memahami Bapa dan Anak akan memengaruhi pemahamannya mengenai Trinitas, inkarnasi, doa, keselamatan, salib, kebangkitan, dan bahkan siapa Allah itu sendiri. Karena itu, kita perlu melihat kesaksian Perjanjian Baru secara menyeluruh, bukan hanya mengambil satu atau dua ayat yang tampaknya mendukung satu sisi.
Para sarjana seperti Raymond E. Brown, Richard Bauckham, Larry Hurtado, James D. G. Dunn, N. T. Wright, dan Lewis Ayres telah membahas persoalan ini dengan pendekatan yang berbeda. Ada perbedaan pendapat mengenai bagaimana kristologi berkembang secara historis dan bagaimana setiap teks harus ditafsirkan, tetapi ada satu fakta yang sangat penting: hubungan antara Yesus dan Allah Bapa merupakan pusat dari tulisan-tulisan Kristen paling awal. Karena itu, untuk memahami Kekristenan, kita perlu memahami mengapa Yesus dapat berbicara tentang Allah sebagai Bapa dan sekaligus dipandang oleh gereja sebagai Tuhan.
Siapakah “Bapa” yang Dimaksud Yesus?
Ketika Yesus berbicara mengenai Bapa, Ia menggunakan bahasa yang menunjukkan hubungan yang sangat dekat dengan Allah. Dalam Injil-injil Sinoptik maupun Injil Yohanes, Yesus sering berbicara mengenai Allah sebagai Bapa. Ia mengajarkan murid-murid-Nya untuk berdoa, “Bapa kami yang di surga” (Matius 6:9), dan dalam banyak kesempatan Ia sendiri berdoa kepada Bapa. Hubungan ini bukan sekadar penggunaan istilah yang sopan untuk menyebut Allah. Dalam kesaksian Injil, Bapa merupakan pusat dari kehidupan dan misi Yesus.
Dalam Injil Yohanes, hubungan ini bahkan digambarkan secara lebih mendalam. Yohanes 5:17 mencatat Yesus berkata, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” Yohanes 5:19 kemudian menggambarkan Anak melakukan apa yang dilakukan Bapa. Yohanes 5:21 menyatakan bahwa sebagaimana Bapa membangkitkan orang mati dan memberikan kehidupan, demikian juga Anak memberikan kehidupan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dengan demikian, hubungan Bapa dan Anak bukan hubungan sederhana seperti hubungan antara seorang nabi dan Allah yang ia sembah.
Yang sangat penting adalah bahwa Yesus tidak hanya berkata bahwa Bapa adalah Allah yang Ia kenal seperti orang lain mengenal Allah. Ia berbicara mengenai hubungan yang unik antara diri-Nya dan Bapa. Dalam Matius 11:27, misalnya, Yesus berkata bahwa tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak berkenan menyatakannya. Pernyataan tersebut memberikan gambaran mengenai hubungan timbal balik yang sangat khusus antara Bapa dan Anak.
Raymond E. Brown, dalam kajiannya mengenai Injil Yohanes, menunjukkan bahwa hubungan antara Yesus dan Bapa merupakan salah satu struktur utama Injil tersebut. Yesus diutus oleh Bapa, menerima tugas dari Bapa, melakukan pekerjaan Bapa, berbicara atas nama Bapa, dan akhirnya kembali kepada Bapa. Namun, hubungan tersebut tidak menggambarkan Yesus sebagai sekadar juru bicara yang tidak memiliki hubungan khusus dengan identitas Allah. Yohanes justru menggunakan hubungan Bapa-Anak untuk menjelaskan keunikan Yesus.
Apakah Bapa dan Yesus adalah Pribadi yang Sama?
Jawabannya dalam Kekristenan historis adalah tidak. Bapa dan Anak berbeda sebagai pribadi. Hal ini dapat dilihat dengan sangat jelas dalam kisah pembaptisan Yesus. Dalam Markus 1:9–11, Yesus berada di sungai Yordan, Roh turun ke atas-Nya seperti burung merpati, dan suara dari surga menyatakan bahwa Yesus adalah Anak yang dikasihi. Narasi tersebut menggambarkan Yesus, Roh, dan suara Bapa dalam hubungan yang berbeda.
Perbedaan tersebut menjadi semakin jelas dalam doa Yesus di Yohanes 17. Yesus berbicara kepada Bapa, memohon agar Bapa memuliakan-Nya, mengingat kemuliaan yang dimiliki-Nya bersama Bapa sebelum dunia ada, dan berbicara mengenai hubungan kasih antara Bapa dan Anak. Jika Bapa dan Anak dianggap sebagai satu pribadi yang sama, struktur doa tersebut menjadi sangat sulit dijelaskan. Injil Yohanes justru menggambarkan adanya relasi nyata antara dua pribadi.
Yohanes 17:24 bahkan memuat perkataan mengenai kasih Bapa kepada Anak “sebelum dunia dijadikan”. Pernyataan ini sangat penting bagi teologi Kristen karena menunjukkan bahwa hubungan Bapa dan Anak tidak dimulai pada saat kelahiran Yesus di Betlehem. Dalam pembacaan Kristen terhadap Yohanes, Anak sudah memiliki hubungan dengan Bapa sebelum keberadaan dunia. Karena itu, istilah “Anak” tidak dimaksudkan sebagai anak biologis yang baru mulai ada ketika Maria mengandung Yesus.
Di sinilah kita harus membedakan inkarnasi dari awal keberadaan Anak. Kekristenan mengajarkan bahwa Anak yang kekal menjadi manusia dalam diri Yesus. Natal bukan dipahami sebagai saat Anak mulai ada, melainkan saat Anak yang kekal mengambil natur manusia. Yohanes 1:14 merumuskan hal tersebut dengan mengatakan bahwa Firman menjadi manusia. Dengan demikian, Yesus sebagai manusia memiliki kelahiran historis, tetapi Anak dalam pengertian teologis tidak dianggap mulai ada pada saat kelahiran itu.
Jika Bapa dan Anak Berbeda, Apakah Ada Dua Allah?
Pertanyaan ini merupakan salah satu tantangan terbesar bagi teologi Kristen awal. Jika Bapa adalah Allah dan Yesus adalah Allah, bukankah berarti ada dua Allah? Kekristenan historis menjawab tidak, karena Bapa dan Anak tidak dipahami sebagai dua pusat keilahian yang terpisah. Keduanya memiliki natur ilahi yang sama.
Perjanjian Baru sendiri tetap mempertahankan monoteisme. 1 Korintus 8:4 mengatakan bahwa tidak ada Allah lain daripada Allah yang esa. Namun, beberapa ayat kemudian, Paulus berbicara tentang “satu Allah, yaitu Bapa” dan “satu Tuhan, yaitu Yesus Kristus”. Ini merupakan salah satu teks yang menarik karena Paulus tidak meninggalkan pengakuan monoteistik tetapi memberikan tempat yang sangat tinggi kepada Yesus dalam kerangka tersebut.
Yohanes 1:1 bahkan mengatakan bahwa Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Kalimat ini sekaligus menunjukkan perbedaan dan kesatuan. Firman “bersama-sama dengan Allah” menunjukkan relasi, sedangkan “Firman itu adalah Allah” menunjukkan identitas ilahi. Karena itu, Yohanes tidak mengatakan bahwa Firman adalah Bapa, tetapi juga tidak menggambarkan Firman sebagai makhluk yang bukan Allah.
Richard Bauckham mengembangkan argumen bahwa kristologi Perjanjian Baru harus dipahami dalam konteks monoteisme Yahudi. Menurutnya, Yesus dimasukkan ke dalam “identitas ilahi” Allah Israel melalui fungsi-fungsi dan penghormatan yang diberikan kepada-Nya. Ini membantu menjelaskan mengapa orang Kristen dapat membedakan Bapa dan Anak tetapi tetap mengaku hanya ada satu Allah.
Pandangan ini juga membantu menjelaskan mengapa Kekristenan tidak sama dengan politeisme. Dalam politeisme, berbagai dewa merupakan entitas ilahi yang berbeda dengan kuasa dan identitas masing-masing. Dalam Trinitas, Bapa dan Anak bukan dua dewa yang berdiri berdampingan. Kekristenan berbicara tentang satu natur ilahi yang dimiliki oleh Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Mengapa Yesus Berdoa kepada Bapa?
Salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan adalah: “Kalau Yesus adalah Tuhan, mengapa Ia berdoa kepada Tuhan Bapa?” Pertanyaan ini sangat masuk akal karena Injil memang menggambarkan Yesus berdoa. Ia berdoa sebelum memilih murid-murid, berdoa di tempat sunyi, berdoa sebelum kematian-Nya, dan berdoa di kayu salib.
Jawaban Kristen berkaitan erat dengan doktrin inkarnasi. Kekristenan tidak mengajarkan bahwa Yesus hanya “terlihat” sebagai manusia. Ia sungguh menjadi manusia. Karena itu, kehidupan doa Yesus merupakan bagian dari kehidupan manusiawi-Nya. Jika Yesus benar-benar menjadi manusia, maka berdoa kepada Bapa merupakan sesuatu yang sesuai dengan identitas manusiawi-Nya sebagai Anak yang taat.
Dalam doa di Getsemani, misalnya, Yesus berkata, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Matius 26:39). Teks ini menunjukkan adanya perbedaan nyata antara kehendak manusiawi Yesus yang menghadapi penderitaan dan kehendak Bapa. Namun, Injil tidak menggambarkan hubungan tersebut sebagai pemberontakan. Sebaliknya, Yesus menyerahkan diri-Nya kepada kehendak Bapa.
Dalam surat Ibrani, ketaatan Yesus bahkan menjadi bagian penting dari gambaran keselamatan. Ibrani 5:7–9 menggambarkan Yesus berdoa dan belajar taat melalui penderitaan. Ini sangat penting karena Kekristenan tidak hanya mengatakan bahwa Yesus “memiliki tubuh manusia”, tetapi bahwa Ia menjalani kehidupan manusia secara nyata. Ia mengalami penderitaan, ketakutan, kesedihan, dan kematian. Karena itu, doa Yesus kepada Bapa bukanlah masalah bagi doktrin inkarnasi; justru merupakan salah satu bagian dari bukti bahwa inkarnasi dipahami secara serius.
Apakah Bapa Lebih Tinggi daripada Yesus?
Pertanyaan ini terutama muncul dari Yohanes 14:28, ketika Yesus berkata, “Bapa lebih besar daripada Aku.” Jika Bapa lebih besar daripada Yesus, bukankah berarti Yesus lebih rendah dan bukan Allah?
Ayat tersebut harus dibaca bersama konteks inkarnasi. Dalam Injil Yohanes, Yesus datang dari Bapa, menjalankan misi di dunia, kemudian kembali kepada Bapa. Ketika berbicara sebagai Dia yang telah datang ke dalam kondisi manusia dan menjalankan misi keselamatan, Yesus dapat berbicara mengenai posisi Bapa sebagai yang mengutus dan diri-Nya sebagai yang diutus. Hal tersebut berkaitan dengan peran dan misi, bukan otomatis berarti perbedaan natur ilahi.
Filipi 2:6–8 memberikan kerangka yang sangat penting. Kristus yang berada dalam “rupa Allah” mengambil “rupa seorang hamba” dan merendahkan diri sampai mati di kayu salib. Teks ini menunjukkan bahwa dalam kehidupan inkarnasi terdapat kerendahan diri dan ketaatan. Namun, kerendahan diri tersebut tidak berarti bahwa Kristus pada awalnya bukan ilahi. Justru kontras antara “rupa Allah” dan “rupa seorang hamba” menjadi sangat penting dalam argumen Paulus.
Dalam perkembangan teologi Kristen, pembedaan antara status, peran, dan natur menjadi sangat penting. Anak dapat menjalankan peran sebagai yang diutus oleh Bapa tanpa berarti bahwa Anak memiliki natur ilahi yang lebih rendah. Demikian pula, seorang raja dapat mengutus seorang wakil tanpa wakil tersebut menjadi makhluk yang berbeda jenis. Dalam kasus Kristus, Kekristenan mengajarkan bahwa Anak dan Bapa memiliki natur ilahi yang sama, tetapi dalam karya keselamatan Anak mengambil peran sebagai yang diutus dan menjadi manusia.
Karena itu, “Bapa lebih besar daripada Aku” tidak dipahami oleh Kekristenan arus utama sebagai bukti bahwa Yesus adalah makhluk ciptaan. Ayat tersebut dibaca dalam keseluruhan kesaksian mengenai inkarnasi dan hubungan Anak dengan Bapa. Lewis Ayres menunjukkan bahwa perdebatan teologis abad keempat mengenai hubungan Bapa dan Anak justru muncul karena gereja berusaha memahami bagaimana kesetaraan ilahi dan perbedaan relasional dapat dipertahankan sekaligus.
Apakah Yesus Tunduk kepada Bapa?
Ya, dalam Perjanjian Baru Yesus digambarkan taat kepada Bapa. Ia berkata bahwa Ia datang bukan untuk melakukan kehendak-Nya sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus-Nya (Yohanes 6:38). Dalam Yohanes 4:34, makanan Yesus digambarkan sebagai melakukan kehendak Dia yang mengutus-Nya dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Dalam Filipi 2, kerendahan diri dan ketaatan Yesus bahkan menjadi contoh bagi komunitas Kristen.
Namun, ketaatan tidak otomatis berarti ketidakilahian. Dalam kerangka Kristen, ketaatan Anak kepada Bapa merupakan bagian dari hubungan dan misi-Nya sebagai Anak yang diutus ke dalam dunia. Jika Yesus benar-benar manusia, maka ketaatan merupakan bagian dari kehidupan manusiawi-Nya. Bahkan justru karena Ia adalah manusia sejati, ketaatan-Nya dianggap memiliki makna bagi keselamatan.
Konsep ini sangat penting dalam teologi Adam baru atau Adam kedua. Paulus dalam Roma 5 dan 1 Korintus 15 membandingkan Adam dengan Kristus. Adam dikaitkan dengan ketidaktaatan, sedangkan Kristus dikaitkan dengan ketaatan. Dengan demikian, Yesus dipahami sebagai manusia yang menjalankan ketaatan yang sempurna kepada Allah.
Dalam tradisi Kristen, ketaatan Kristus tidak dipahami sebagai bukti bahwa Ia hanyalah seorang bawahan Allah. Sebaliknya, ketaatan tersebut menjadi bagian dari karya keselamatan. Anak yang kekal mengambil natur manusia dan menjalani kehidupan manusia yang taat kepada Bapa. Karena itu, hubungan Yesus dengan Bapa memiliki dimensi kekal dan ilahi, sekaligus dimensi historis dan manusiawi melalui inkarnasi.
Apa Arti “Anak” dalam Hubungan Yesus dengan Bapa?
Istilah “Anak Allah” harus dipahami secara teologis, bukan biologis. Kekristenan tidak mengajarkan bahwa Allah mempunyai seorang anak melalui proses biologis seperti manusia. Istilah “Anak” menunjuk kepada hubungan unik dan kekal antara Bapa dan Anak.
Dalam Yohanes 1:18, Yohanes berbicara mengenai Anak Tunggal yang ada di pangkuan Bapa dan yang menyatakan Bapa. Dalam Yohanes 17:5, Yesus berbicara tentang kemuliaan yang Ia miliki bersama Bapa sebelum dunia ada. Dalam Yohanes 5:26, Anak dikatakan memiliki hidup dalam diri-Nya sebagaimana Bapa memiliki hidup dalam diri-Nya. Bahasa tersebut menunjukkan hubungan yang jauh lebih tinggi daripada hubungan antara Allah dan seorang nabi.
Karena itu, ketika gereja mula-mula menyebut Yesus sebagai Anak, mereka tidak sedang mengatakan bahwa Yesus diciptakan oleh Bapa. Inilah salah satu alasan mengapa Konsili Nicea menggunakan istilah “diperanakkan, bukan dibuat”. Istilah tersebut dimaksudkan untuk membedakan Anak dari ciptaan.
Athanasius dari Aleksandria menjadi salah satu pembela utama pemahaman ini. Menurut Athanasius, jika Anak adalah ciptaan, maka Ia bukan Allah sejati. Dan jika Ia bukan Allah sejati, maka keselamatan melalui Kristus tidak dapat dipahami sebagai tindakan Allah sendiri. Karena itu, bagi Athanasius, keilahian Anak berkaitan langsung dengan keselamatan manusia.
Dalam perkembangan teologi Kristen, hubungan Bapa dan Anak kemudian dipahami sebagai hubungan yang kekal. Artinya, tidak pernah ada waktu ketika Bapa ada tetapi Anak belum ada. Anak tidak muncul belakangan. Sebutan “Anak” menggambarkan relasi kekal, bukan urutan waktu seperti dalam hubungan biologis manusia.
Apa yang Dimaksud dengan “Bapa Mengutus Anak”?
Salah satu tema paling sering muncul dalam Injil Yohanes adalah bahwa Bapa mengutus Anak ke dalam dunia. Yohanes 3:16–17 mengatakan bahwa Allah mengutus Anak-Nya ke dunia supaya dunia diselamatkan melalui Dia. Yohanes 5:36–37 berbicara mengenai Bapa yang mengutus Yesus. Yohanes 6:57 juga menggambarkan hubungan antara Bapa yang hidup dan Yesus yang diutus oleh Bapa.
Bahasa “mengutus” menunjukkan bahwa Yesus memiliki misi. Ia datang bukan semata-mata untuk mengajarkan moralitas, tetapi untuk menjalankan karya keselamatan. Ia memberitakan Kerajaan Allah, menyembuhkan, mengampuni, menghadapi dosa, mati di kayu salib, dan bangkit dari kematian. Semua itu dipahami sebagai bagian dari misi yang diberikan oleh Bapa.
Namun, pengutusan tidak berarti bahwa Yesus tidak memiliki kehendak atau identitas sendiri. Dalam Yohanes, Anak melakukan kehendak Bapa secara sempurna karena terdapat kesatuan antara Bapa dan Anak. Yohanes 10:30 mengatakan, “Aku dan Bapa adalah satu.” Yohanes 10:38 juga berbicara mengenai Bapa di dalam Yesus dan Yesus di dalam Bapa.
N. T. Wright menekankan bahwa Yesus harus dibaca dalam konteks kisah Israel dan tindakan Allah terhadap umat-Nya. Yesus tampil sebagai Mesias yang menjalankan misi Allah, tetapi misi tersebut sekaligus mengungkap identitas-Nya secara unik. Karena itu, pengutusan Yesus tidak menjadikan-Nya sekadar kurir pesan. Dalam narasi Injil, Ia adalah pusat dari tindakan penyelamatan Allah.
Mengapa Yesus Berkata “Bapa di Dalam Aku dan Aku di Dalam Bapa”?
Yohanes 10:38 dan Yohanes 14:10–11 menggunakan bahasa yang sangat kuat mengenai saling berdiamnya Bapa dan Anak. Yesus berkata bahwa Bapa ada di dalam Dia dan Dia ada di dalam Bapa. Bahasa ini menunjukkan hubungan yang jauh lebih dalam daripada hubungan antara seorang nabi dan Allah.
Dalam Yohanes 14:9, Yesus berkata kepada Filipus, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” Pernyataan tersebut tidak berarti bahwa Yesus adalah Bapa sebagai pribadi. Namun, Yesus menyatakan bahwa melihat dan mengenal Dia membawa manusia kepada pengenalan terhadap Bapa. Dalam konteks Injil Yohanes, Yesus adalah penyataan Allah yang paling sempurna.
Hal tersebut berkaitan dengan Yohanes 1:18, yang mengatakan bahwa tidak seorang pun pernah melihat Allah, tetapi Anak yang ada di pangkuan Bapa telah menyatakan-Nya. Dengan demikian, Yesus dipahami sebagai penyataan Allah kepada manusia. Ia bukan Bapa, tetapi melalui Anak manusia mengenal Bapa.
Inilah salah satu alasan mengapa Kekristenan memberikan tempat yang sangat tinggi kepada Yesus. Jika Yesus adalah penyataan sempurna mengenai Bapa, maka mengenal Yesus bukan sekadar mempelajari seorang tokoh agama. Menurut iman Kristen, melalui Yesus manusia mengenal Allah. Karena itu, Yesus berkata dalam Yohanes 14:6 bahwa Ia adalah jalan, kebenaran, dan hidup, dan bahwa tidak seorang pun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Dia.
Bagaimana Hubungan Bapa dan Anak Dijelaskan dalam Trinitas?
Doktrin Trinitas tidak berarti bahwa Allah adalah tiga Allah. Trinitas mengajarkan bahwa ada satu Allah dalam tiga pribadi: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Dalam kerangka tersebut, Bapa bukan Anak, Anak bukan Roh Kudus, dan Roh Kudus bukan Bapa. Namun, ketiganya memiliki satu natur ilahi.
Rumusan tersebut berkembang melalui proses panjang karena gereja berusaha memahami kesaksian Alkitab. Matius 28:19 menyebut Bapa, Anak, dan Roh Kudus dalam satu formula baptisan. 2 Korintus 13:13 menghubungkan kasih karunia Kristus, kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus. Yohanes berbicara tentang hubungan Bapa dan Anak, sementara berbagai teks lainnya berbicara mengenai Roh Kudus dalam konteks ilahi.
Lewis Ayres menjelaskan bahwa teologi Trinitarian abad keempat tidak dapat dipahami hanya sebagai usaha filsuf untuk membuat konsep abstrak. Perdebatan tersebut berkaitan dengan pertanyaan yang sangat konkret: siapakah Yesus yang disembah oleh gereja, bagaimana Ia berhubungan dengan Allah Bapa, dan bagaimana monoteisme tetap dipertahankan? Istilah-istilah seperti ousia dan hypostasis kemudian digunakan untuk memberikan ketepatan filosofis terhadap keyakinan yang sudah diperdebatkan dalam gereja.
Konsili Nicea pada tahun 325 menegaskan bahwa Anak adalah “sehakikat” dengan Bapa. Konsili Konstantinopel pada tahun 381 memperkuat formulasi tersebut dalam Pengakuan Iman yang kemudian dikenal sebagai Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel. Dengan demikian, gereja menolak dua ekstrem: menjadikan Anak sebagai ciptaan dan menjadikan Bapa serta Anak sebagai satu pribadi yang tidak dapat dibedakan.
Apakah Hubungan Bapa dan Anak Ada Sebelum Yesus Lahir?
Menurut Kekristenan arus utama, ya. Ini merupakan salah satu aspek paling penting dalam konsep Anak yang kekal. Kelahiran Yesus di Betlehem tidak dipahami sebagai awal keberadaan Anak, melainkan sebagai awal kehidupan manusiawi-Nya di dunia.
Yohanes 1:1 mengatakan bahwa Firman sudah ada “pada mulanya”. Yohanes 1:3 menyatakan bahwa segala sesuatu dijadikan melalui Firman. Yohanes 17:5 berbicara mengenai kemuliaan yang dimiliki Yesus bersama Bapa sebelum dunia ada. Kolose 1:15–17 juga berbicara mengenai Kristus dalam hubungan dengan penciptaan segala sesuatu.
Filipi 2:6–7 memberikan gambaran lain. Kristus yang berada dalam “rupa Allah” mengambil rupa seorang hamba dan menjadi manusia. Dalam pembacaan Kristen, hal ini menunjukkan bahwa inkarnasi adalah gerakan dari keberadaan ilahi menuju kehidupan manusiawi, bukan proses seorang manusia biasa yang kemudian diangkat menjadi Allah.
Larry Hurtado dan Richard Bauckham sama-sama menekankan pentingnya kristologi awal dalam memahami Yesus. Walaupun mereka memiliki pendekatan yang berbeda, penelitian mereka menunjukkan bahwa penghormatan tinggi kepada Yesus dan keyakinan mengenai status-Nya yang unik sudah muncul dalam Kekristenan awal. Karena itu, gagasan bahwa keilahian Yesus sepenuhnya merupakan hasil perkembangan gereja yang sangat terlambat tidak cukup menjelaskan keseluruhan data Perjanjian Baru.
Mengapa Bapa dan Anak Saling Mengasihi?
Salah satu gambaran paling indah mengenai hubungan Bapa dan Anak terdapat dalam Injil Yohanes: hubungan mereka digambarkan sebagai hubungan kasih. Yohanes 3:35 mengatakan bahwa Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Yohanes 5:20 kembali mengatakan bahwa Bapa mengasihi Anak dan menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya.
Yohanes 17 juga menunjukkan hubungan kasih yang mendalam antara Bapa dan Anak. Yesus berbicara mengenai kemuliaan yang dimiliki bersama Bapa dan kasih Bapa kepada-Nya. Jika hubungan tersebut dipahami sebagai sesuatu yang sudah ada sebelum penciptaan, maka kasih bukan sekadar sesuatu yang muncul setelah Allah menciptakan manusia. Dalam teologi Kristen, kasih antara Bapa dan Anak merupakan bagian dari kehidupan ilahi itu sendiri.
Hal tersebut kemudian menjadi penting dalam pemahaman Kristen mengenai Allah sebagai kasih. 1 Yohanes 4:8 mengatakan bahwa Allah adalah kasih. Kekristenan tidak mengartikan kalimat ini hanya sebagai “Allah memiliki kasih kepada ciptaan”. Ada gagasan yang lebih mendalam bahwa kasih merupakan bagian dari keberadaan Allah. Dalam kerangka Trinitarian, relasi Bapa, Anak, dan Roh Kudus menjadi dasar bagi pemahaman mengenai kehidupan Allah sebagai kehidupan relasional.
Karena itu, hubungan Bapa dan Anak bukan hanya hubungan hierarkis antara penguasa dan bawahan. Ia juga merupakan hubungan kasih, kesatuan, kehendak, dan persekutuan. Dalam Yohanes 17, Yesus bahkan berdoa agar para pengikut-Nya mengalami kesatuan sebagaimana Ia dan Bapa berada dalam kesatuan. Dengan demikian, hubungan Bapa dan Anak menjadi pola bagi hubungan antara Allah dan manusia serta hubungan antarorang percaya.
Apa Hubungan Bapa dan Anak dengan Keselamatan Manusia?
Dalam Kekristenan, keselamatan manusia berasal dari Allah dan dikerjakan melalui Kristus. Yohanes 3:16 menggambarkan Allah mengasihi dunia dan memberikan Anak-Nya yang tunggal supaya manusia yang percaya memperoleh hidup kekal. Dalam Roma 5, kematian Kristus dipahami sebagai tindakan yang membawa pendamaian. Dalam 2 Korintus 5:19, Paulus berbicara mengenai Allah yang mendamaikan dunia dengan diri-Nya melalui Kristus.
Hubungan Bapa dan Anak sangat penting di sini karena keselamatan bukan dipahami sebagai Yesus meyakinkan Bapa yang sebenarnya tidak mau mengampuni manusia. Sebaliknya, dalam kerangka Perjanjian Baru, Bapa sendiri mengutus Anak karena kasih-Nya kepada dunia. Salib bukan pertentangan antara Yesus yang penuh kasih dan Bapa yang penuh murka. Keduanya berada dalam satu karya keselamatan.
Yesus berkata dalam Yohanes 10:17–18 bahwa Ia menyerahkan nyawa-Nya dan memiliki kuasa untuk mengambilnya kembali. Ia juga berkata bahwa Ia melakukan semuanya sesuai perintah yang diterima-Nya dari Bapa. Dengan demikian, salib dipahami sebagai tindakan ketaatan Anak sekaligus bagian dari kehendak keselamatan Allah.
John Stott, dalam pembahasannya mengenai salib, menekankan bahwa kasih Allah dan kekudusan Allah tidak boleh dipisahkan. Salib bukan sekadar simbol penderitaan, tetapi pusat dari tindakan Allah terhadap dosa. Dalam tradisi Kristen yang berbeda-beda, ada berbagai model untuk menjelaskan penebusan pengorbanan, kemenangan atas kuasa dosa dan maut, substitusi, rekonsiliasi, dan lain-lain tetapi semuanya berangkat dari keyakinan bahwa karya Kristus tidak terpisah dari kehendak Bapa.
Apa yang Terjadi antara Bapa dan Anak pada Saat Salib?
Peristiwa salib merupakan salah satu titik paling dalam dalam memahami hubungan Bapa dan Anak. Yesus berteriak dari salib, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Markus 15:34; Matius 27:46). Kalimat tersebut mengutip Mazmur 22 dan menunjukkan kedalaman penderitaan Yesus.
Namun, ayat tersebut tidak boleh langsung ditafsirkan bahwa Trinitas terpecah dan Bapa berhenti menjadi Bapa atau Anak berhenti menjadi Anak. Kekristenan historis tidak mengajarkan bahwa natur ilahi terbelah pada saat salib. Sebaliknya, Yesus mengalami penderitaan dan kematian dalam natur manusia-Nya. Salib menunjukkan betapa seriusnya penderitaan yang dijalani Kristus.
Mazmur 22 sendiri merupakan teks yang bergerak dari ratapan menuju kepercayaan dan kemenangan. Karena itu, kutipan Yesus terhadap mazmur tersebut memiliki konteks yang lebih luas daripada sekadar ungkapan putus asa. Namun, hal itu tidak mengurangi kenyataan bahwa Yesus sungguh mengalami penderitaan. Dalam Kekristenan, salib justru menjadi bukti bahwa Anak sungguh memasuki kondisi manusia.
Setelah kematian, kebangkitan menjadi jawaban penting terhadap salib. Allah membangkitkan Yesus dari antara orang mati. Dalam Kisah Para Rasul, kebangkitan dipahami sebagai tindakan Allah yang membenarkan dan meninggikan Kristus. Dengan demikian, hubungan Bapa dan Anak tidak berakhir di kayu salib. Sang Anak bangkit dan kemudian ditinggikan dalam kemuliaan.
Jadi, Apa Sebenarnya Hubungan Yesus dengan Tuhan Bapa?
Jika seluruh pembahasan dirangkum, hubungan Yesus dengan Bapa dalam Kekristenan dapat dijelaskan melalui beberapa unsur yang saling berkaitan. Bapa dan Anak berbeda sebagai pribadi, sehingga Yesus dapat berdoa kepada Bapa dan berbicara kepada-Nya. Namun, Bapa dan Anak satu dalam keilahian, sehingga Yesus dapat disebut Tuhan dan menerima penghormatan yang sangat tinggi. Anak diutus oleh Bapa ke dunia, tetapi pengutusan tersebut tidak berarti bahwa Anak adalah makhluk ciptaan.
Yesus sebagai Anak juga menjalankan kehidupan manusia yang nyata. Karena itu, Ia berdoa, taat, menderita, dan mati. Semua ini tidak dianggap sebagai bukti bahwa Ia bukan Allah, melainkan sebagai bagian dari keyakinan bahwa Anak Allah benar-benar menjadi manusia. Doktrin inkarnasi menjelaskan mengapa Yesus dapat berbicara sebagai manusia kepada Bapa dan sekaligus dipahami sebagai ilahi.
Hubungan Bapa dan Anak juga merupakan hubungan kasih dan persekutuan. Injil Yohanes menggambarkan Bapa mengasihi Anak, Anak mengasihi Bapa, dan keduanya memiliki kesatuan kehendak. Yesus datang ke dunia bukan sebagai lawan Bapa, tetapi sebagai Dia yang diutus Bapa untuk menjalankan karya keselamatan.
Karena itu, menurut Kekristenan arus utama, Yesus bukan Tuhan yang berbeda dari Bapa dan bukan pula Bapa yang menyamar menjadi manusia. Ia adalah Anak yang kekal, pribadi yang berbeda dari Bapa tetapi satu dengan Bapa dalam keilahian. Inilah dasar utama mengapa orang Kristen dapat mengatakan sekaligus bahwa “Yesus adalah Tuhan” dan “Yesus adalah Anak Allah”.
Apa Hubungan Yesus dengan Tuhan Bapa?
Hubungan Yesus dengan Tuhan Bapa merupakan salah satu pusat iman Kristen. Kekristenan tidak mengajarkan bahwa Yesus dan Bapa adalah pribadi yang sama, tetapi juga tidak mengajarkan bahwa mereka adalah dua Allah. Yesus adalah Anak, sedangkan Bapa adalah Bapa; keduanya berbeda sebagai pribadi, tetapi menurut doktrin Trinitas keduanya memiliki natur ilahi yang sama.
Karena itu, ketika Yesus berdoa kepada Bapa, hal tersebut tidak dianggap sebagai bukti bahwa Yesus bukan Tuhan. Doa Yesus menunjukkan dua hal sekaligus: hubungan-Nya yang nyata dengan Bapa dan kenyataan bahwa Ia sungguh menjalani kehidupan manusia. Dalam inkarnasi, Anak yang kekal mengambil natur manusia, sehingga Ia dapat mengalami kehidupan manusia secara penuh—termasuk doa, ketaatan, penderitaan, dan kematian.
Perjanjian Baru memberikan berbagai dasar bagi pemahaman tersebut. Yohanes 1 menggambarkan Firman yang bersama-sama dengan Allah dan adalah Allah, lalu menjadi manusia. Yohanes 5 menunjukkan hubungan unik antara Bapa dan Anak. Yohanes 10 berbicara mengenai kesatuan Bapa dan Anak. Yohanes 14 menggambarkan Yesus sebagai penyataan Bapa. Yohanes 17 menunjukkan hubungan kasih dan kemuliaan antara Bapa dan Anak sebelum dunia ada. Filipi 2 menggambarkan Kristus dalam rupa Allah yang mengambil rupa seorang hamba. 1 Korintus 8 tetap mempertahankan monoteisme sambil memberikan tempat yang sangat tinggi kepada Yesus.
Karena itu, istilah “Anak Allah” tidak berarti Yesus adalah anak biologis Allah atau makhluk yang diciptakan oleh Allah. Dalam teologi Kristen, Anak adalah hubungan kekal. Anak “diperanakkan, bukan dibuat”, sebagaimana kemudian dirumuskan dalam Pengakuan Iman Nicea. Ini merupakan cara gereja menjelaskan bahwa Anak bukan ciptaan, tetapi tetap berbeda dari Bapa.
Pada saat yang sama, Kekristenan juga tidak mengatakan bahwa Yesus adalah Bapa. Bapa mengutus Anak, Anak berdoa kepada Bapa, dan Anak kembali kepada Bapa. Hubungan ini nyata dan tidak boleh dihapuskan. Namun, perbedaan pribadi tidak berarti perbedaan dalam keilahian. Karena itu, orang Kristen dapat menyembah Yesus tanpa menganggap diri mereka menyembah Allah kedua.
Jika diringkas dalam satu kalimat, hubungan Yesus dengan Tuhan Bapa menurut Kekristenan adalah hubungan antara Anak yang kekal dan Bapa yang kekal: keduanya berbeda sebagai pribadi, tetapi satu dalam keilahian, saling mengasihi, dan bersama-sama berkarya dalam keselamatan manusia.
Inilah dasar mengapa Kekristenan kemudian berbicara tentang Allah Tritunggal. Bapa bukan Anak, Anak bukan Roh Kudus, dan Roh Kudus bukan Bapa; tetapi ketiganya adalah satu Allah. Dan dalam pribadi Anak, Allah masuk ke dalam sejarah manusia sebagai Yesus Kristus.
Dengan demikian, memahami hubungan Yesus dengan Bapa membantu menjawab beberapa pertanyaan sebelumnya sekaligus. Mengapa Yesus menyebut Allah sebagai Bapa? Karena Ia adalah Anak. Mengapa Yesus berdoa kepada Bapa? Karena Bapa dan Anak berbeda sebagai pribadi dan karena Anak sungguh menjadi manusia. Mengapa Yesus disebut Tuhan? Karena Anak dipahami memiliki natur ilahi yang sama dengan Bapa. Mengapa orang Kristen tidak menganggapnya sebagai dua Allah? Karena Kekristenan mengakui satu Allah. Dan mengapa semua ini menjadi begitu penting? Karena bagi iman Kristen, di dalam hubungan Bapa dan Anak kita menemukan pusat pemahaman Kristen mengenai siapa Allah dan bagaimana Allah menyelamatkan manusia melalui Yesus Kristus.
Daftar Referensi
- Athanasius. On the Incarnation.
- Athanasius. Four Discourses Against the Arians.
- Ayres, Lewis. Nicaea and Its Legacy: An Approach to Fourth-Century Trinitarian Theology. Oxford University Press.
- Bauckham, Richard. Jesus and the God of Israel: God Crucified and Other Studies on the New Testament's Christology of Divine Identity. Eerdmans.
- Brown, Raymond E. The Gospel According to John I–XII. Anchor Bible.
- Brown, Raymond E. The Gospel According to John XIII–XXI. Anchor Bible.
- Dunn, James D. G. Christology in the Making: A New Testament Inquiry into the Origins of the Doctrine of the Incarnation. SCM Press.
- Hurtado, Larry W. Lord Jesus Christ: Devotion to Jesus in Earliest Christianity. Eerdmans.
- Hurtado, Larry W. How on Earth Did Jesus Become a God? Historical Questions about Earliest Devotion to Jesus. Eerdmans.
- Stott, John. The Cross of Christ. InterVarsity Press.
- Wright, N. T. The Resurrection of the Son of God. Fortress Press.
- Wright, N. T. Jesus and the Victory of God. Fortress Press.
- Meier, John P. A Marginal Jew: Rethinking the Historical Jesus. Yale University Press.
- Sanders, E. P. The Historical Figure of Jesus. Penguin Books.
- Alkitab: Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Kisah Para Rasul, Roma, 1 Korintus, 2 Korintus, Filipi, Kolose, Ibrani, 1 Yohanes.
- Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel.
- Pengakuan Iman Rasuli.
- Definisi Chalcedon.
- Didache.
- Letters of Ignatius of Antioch.
Read More.. →


