Untuk memahami persoalan ini, kita harus terlebih dahulu membedakan antara menghormati seorang manusia, menghormati seorang raja, menghormati seorang nabi, dan menyembah sebagai Tuhan. Dalam Alkitab, manusia dapat bersujud di hadapan manusia lain sebagai tanda hormat tanpa berarti menganggap orang tersebut sebagai Allah. Karena itu, tidak setiap tindakan bersujud kepada Yesus otomatis membuktikan keilahian-Nya. Namun, jika kita melihat keseluruhan Perjanjian Baru, persoalannya menjadi jauh lebih dalam. Yesus tidak hanya menerima penghormatan sebagai guru atau Mesias, tetapi ditempatkan dalam pola devosi yang oleh komunitas Kristen awal diarahkan kepada Allah.
Hal tersebut sangat penting secara historis karena Kekristenan lahir dari lingkungan Yudaisme abad pertama, yang sangat kuat dalam pengakuan bahwa hanya ada satu Allah. Umat Yahudi memiliki tradisi panjang mengenai penyembahan kepada Allah Israel, yaitu Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Mereka tidak memiliki sistem politeistik seperti masyarakat Yunani-Romawi di sekitarnya. Karena itu, munculnya komunitas yang menyembah Yesus dalam lingkungan monoteistik Yahudi merupakan sebuah perkembangan yang membutuhkan penjelasan. Jika Yesus hanya dianggap sebagai guru biasa, mengapa para pengikut-Nya begitu cepat menempatkan-Nya dalam kehidupan ibadah mereka?
Para sarjana seperti Larry Hurtado, Richard Bauckham, N. T. Wright, James D. G. Dunn, dan Martin Hengel telah memberikan perhatian besar kepada persoalan ini. Mereka berbeda dalam menjelaskan proses dan perkembangan kristologi awal, tetapi penelitian mereka menunjukkan bahwa penghormatan kepada Yesus merupakan bagian yang sangat awal dari kehidupan komunitas Kristen. Hurtado khususnya menekankan bahwa devosi kepada Yesus bukanlah fenomena yang baru muncul setelah Kekristenan menjadi agama besar berabad-abad kemudian. Dalam komunitas Kristen awal, Yesus sudah menjadi pusat doa, pengakuan iman, nyanyian, baptisan, perjamuan, dan praktik keagamaan lainnya.
Karena itu, pertanyaan “Mengapa orang Kristen menyembah Yesus?” tidak cukup dijawab dengan mengatakan, “Karena gereja mengajarkan bahwa Yesus adalah Tuhan.” Kita perlu mengetahui mengapa gereja sampai pada pengakuan tersebut. Apakah ada dasar dalam perkataan dan tindakan Yesus? Bagaimana para rasul memahami kebangkitan-Nya? Mengapa Paulus dapat berbicara tentang Yesus sebagai “Tuhan” tetapi tetap mempertahankan iman kepada satu Allah? Mengapa Injil Yohanes berbicara tentang Firman yang adalah Allah dan kemudian menjadi manusia? Dan bagaimana gereja mula-mula akhirnya menjelaskan hubungan antara Yesus, Bapa, dan Roh Kudus?
Apakah Yesus Benar-Benar Disembah dalam Perjanjian Baru?
Pertama-tama, kita harus melihat apakah benar bahwa Perjanjian Baru memperlihatkan Yesus menerima bentuk penghormatan yang dapat disebut penyembahan. Jawabannya perlu diberikan dengan hati-hati karena kata yang diterjemahkan sebagai “menyembah” dapat memiliki berbagai nuansa. Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, salah satu kata yang sering digunakan adalah proskyneō, yang secara harfiah berkaitan dengan tindakan bersujud atau memberikan penghormatan. Kata tersebut dapat digunakan untuk manusia dalam konteks tertentu, sehingga kita tidak boleh menjadikan satu kata saja sebagai bukti otomatis bahwa Yesus dianggap Allah.
Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika tindakan penghormatan tersebut dibaca bersama keseluruhan konteks. Dalam Matius 14:33, setelah Yesus berjalan di atas air dan menenangkan keadaan, mereka yang berada di dalam perahu menyembah Dia dan berkata, “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.” Dalam Matius 28:9, setelah kebangkitan, para perempuan memegang kaki Yesus dan menyembah-Nya. Dalam Matius 28:17, para murid melihat Yesus yang bangkit dan menyembah-Nya. Tindakan tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi terjadi dalam konteks pengakuan mengenai identitas Yesus.
Injil Yohanes memberikan gambaran yang bahkan lebih kuat. Dalam Yohanes 20:28, Tomas melihat Yesus yang telah bangkit dan berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku!” Ini merupakan salah satu pernyataan kristologis paling eksplisit dalam Perjanjian Baru. Yang menarik, perkataan tersebut diarahkan langsung kepada Yesus. Yohanes kemudian menjelaskan tujuan penulisan Injilnya agar pembaca percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah, dan melalui iman memperoleh hidup dalam nama-Nya. Dengan demikian, pengakuan terhadap Yesus sebagai Tuhan dan Allah merupakan bagian dari klimaks narasi Yohanes.
Namun, penyembahan kepada Yesus tidak hanya muncul dalam Injil. Dalam 1 Korintus 1:2, Paulus menyebut komunitas Kristen sebagai orang-orang yang berseru kepada nama Tuhan Yesus Kristus. Dalam konteks Perjanjian Lama, “berseru kepada nama Tuhan” merupakan bahasa yang sangat kuat berkaitan dengan ibadah kepada Allah. Dalam 1 Korintus 16:22 bahkan muncul seruan “Maranatha”, yang berarti “Tuhan kami, datanglah.” Ini menunjukkan bahwa Yesus bukan hanya tokoh masa lalu yang dihormati, tetapi pribadi yang menjadi pusat kehidupan religius komunitas Kristen.
Mengapa Ini Menjadi Hal yang Luar Biasa dalam Konteks Yahudi?
Untuk memahami betapa radikalnya penghormatan kepada Yesus, kita perlu melihat konteks agama Yahudi abad pertama. Kekristenan awal tidak muncul dari masyarakat yang menganggap banyak dewa sebagai hal biasa. Para pengikut Yesus berasal dari tradisi yang mengakui Allah Israel sebagai satu-satunya Allah. Ulangan 6:4 menyatakan, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa.” Pengakuan monoteistik tersebut menjadi bagian mendasar dari identitas Yahudi.
Karena itu, jika komunitas Kristen mula-mula mulai menyembah Yesus, kita tidak dapat begitu saja menjelaskannya sebagai adopsi sederhana terhadap politeisme Yunani-Romawi. Orang Kristen Yahudi harus menemukan cara untuk menjelaskan bagaimana Yesus dapat menerima penghormatan religius tanpa berarti mereka telah meninggalkan monoteisme. Inilah salah satu masalah paling penting dalam sejarah kristologi awal.
Larry Hurtado dalam Lord Jesus Christ memberikan perhatian besar terhadap fenomena tersebut. Menurut Hurtado, devosi kepada Yesus muncul sangat awal dan menjadi salah satu karakteristik utama Kekristenan awal. Ia melihat pola yang mencakup doa kepada Yesus, penyebutan nama Yesus dalam ritual, nyanyian kepada Yesus, pengakuan iman mengenai Yesus, dan tindakan religius lainnya. Yang penting bagi Hurtado adalah bahwa semua ini muncul dalam lingkungan Yahudi yang tetap mempertahankan monoteisme.
Dengan kata lain, persoalan yang dihadapi orang Kristen pertama bukan sekadar, “Apakah kita ingin menyembah Yesus?” Persoalannya jauh lebih mendalam: Bagaimana mungkin Yesus dimasukkan ke dalam kehidupan ibadah kepada Allah tanpa menghancurkan keyakinan bahwa Allah itu satu? Jawaban yang akhirnya berkembang adalah bahwa Yesus tidak dianggap sebagai dewa kedua yang berdiri di samping Allah Bapa. Ia dipahami sebagai Anak yang memiliki identitas ilahi dan berada dalam hubungan unik dengan Bapa.
Mengapa Gelar “Tuhan” Menjadi Sangat Penting bagi Yesus?
Salah satu alasan utama orang Kristen menyembah Yesus adalah penggunaan gelar “Tuhan” atau Kyrios. Dalam kehidupan sehari-hari, kyrios dapat berarti “tuan” atau “penguasa”. Tetapi dalam tradisi Septuaginta, terjemahan Yunani Perjanjian Lama, kyrios juga digunakan untuk menerjemahkan nama ilahi YHWH dalam banyak konteks. Karena itu, penggunaan kata tersebut untuk Yesus dapat memiliki arti yang sangat tinggi.
Contoh yang sangat penting terdapat dalam Filipi 2:9–11. Paulus mengatakan bahwa Allah meninggikan Yesus dan memberikan kepada-Nya nama di atas segala nama, sehingga dalam nama Yesus setiap lutut bertelut dan setiap lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Pernyataan ini memiliki hubungan kuat dengan Yesaya 45:23, ketika Allah sendiri mengatakan bahwa kepada-Nya setiap lutut akan bertelut dan setiap lidah akan bersumpah. Paulus tampaknya menggunakan bahasa yang dalam Kitab Yesaya berkaitan dengan penghormatan universal kepada Allah dan menerapkannya kepada Yesus.
Hal ini sangat penting karena Paulus tidak sedang menggambarkan Yesus sebagai dewa tambahan. Ia sedang menempatkan Yesus dalam kerangka kisah Allah Israel. Dalam Filipi 2, Allah Bapa meninggikan Anak, dan pengakuan universal terhadap Yesus sebagai Tuhan justru “bagi kemuliaan Allah, Bapa.” Dengan demikian, penghormatan kepada Yesus tidak dimaksudkan untuk menggantikan Bapa, tetapi menjadi bagian dari kemuliaan Allah.
Richard Bauckham memberikan penekanan khusus pada persoalan ini. Menurutnya, kristologi Perjanjian Baru dapat dipahami melalui konsep “identitas ilahi”. Maksudnya, Yesus tidak sekadar memperoleh beberapa sifat ilahi seperti kekuatan atau pengetahuan supernatural, tetapi ditempatkan dalam identitas unik Allah Israel melalui fungsi dan peran seperti penciptaan, pemerintahan atas segala sesuatu, dan penerimaan penghormatan yang menjadi hak Allah.
Apakah Orang Kristen Menyembah Yesus sebagai Allah yang Berbeda dari Bapa?
Di sinilah doktrin Trinitas menjadi penting. Orang Kristen tidak percaya bahwa Bapa adalah satu Allah dan Yesus adalah Allah kedua yang terpisah sehingga terdapat dua Allah. Kekristenan historis justru mempertahankan keyakinan bahwa hanya ada satu Allah. Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah, tetapi ketiganya bukan tiga Allah.
Formulasi tersebut memang sulit karena bahasa sehari-hari tidak memiliki kategori yang mudah untuk menjelaskannya. Namun, inti doktrinnya adalah membedakan antara pribadi dan hakikat/natur. Bapa dan Anak berbeda sebagai pribadi, tetapi keduanya memiliki satu natur ilahi. Karena itu, ketika orang Kristen menyembah Yesus, mereka tidak merasa sedang berpaling dari Allah Bapa menuju Allah lain. Mereka percaya bahwa menyembah Anak merupakan bagian dari menyembah satu Allah yang sama.
Yohanes 10:30 sangat penting dalam pembahasan ini. Yesus berkata, “Aku dan Bapa adalah satu.” Ayat tersebut tidak berarti bahwa Yesus adalah Bapa atau bahwa keduanya adalah satu pribadi. Injil Yohanes sendiri menunjukkan bahwa Yesus berbicara kepada Bapa sebagai pribadi yang berbeda. Namun, ayat tersebut menunjukkan adanya kesatuan yang sangat dalam antara Anak dan Bapa.
Dalam Yohanes 14–17, hubungan tersebut bahkan semakin kompleks. Yesus berbicara tentang Bapa yang mengutus-Nya, tentang kemuliaan yang Ia miliki bersama Bapa sebelum dunia ada, dan tentang hubungan-Nya dengan Roh Kudus. Doa Yesus dalam Yohanes 17 menunjukkan bahwa Anak dan Bapa memiliki hubungan pribadi yang nyata. Jadi, Kekristenan tidak menyelesaikan persoalan dengan mengatakan “Yesus adalah Bapa.” Sebaliknya, Kekristenan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak yang berbeda dari Bapa tetapi memiliki keilahian yang sama.
Apakah Yesus Sendiri Pernah Meminta agar Disembah?
Pertanyaan ini membutuhkan kehati-hatian karena Injil tidak memberikan kalimat sederhana seperti, “Sembahlah Aku karena Aku adalah Allah,” dalam bentuk formula langsung seperti itu. Namun, Perjanjian Baru menggambarkan Yesus melakukan dan mengatakan berbagai hal yang kemudian menjadi dasar bagi pengakuan-Nya sebagai Tuhan.
Salah satu contoh paling penting adalah ketika Yesus mengampuni dosa. Dalam Markus 2:1–12, Yesus berkata kepada orang lumpuh, “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.” Para ahli Taurat kemudian mempertanyakan tindakan tersebut dan mengatakan bahwa hanya Allah yang dapat mengampuni dosa. Narasi tersebut tidak berhenti pada klaim pengampunan, tetapi Yesus kemudian menyembuhkan orang tersebut sebagai tanda bahwa Anak Manusia mempunyai kuasa di bumi untuk mengampuni dosa.
Contoh lainnya terdapat dalam Yohanes 5. Yesus berbicara mengenai hubungan-Nya dengan Bapa dengan cara yang sangat unik. Yohanes 5:21–23 mengatakan bahwa sebagaimana Bapa membangkitkan orang mati dan memberikan kehidupan, demikian juga Anak memberikan kehidupan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Kemudian dikatakan bahwa semua orang harus menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Pernyataan “supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa” merupakan salah satu teks yang sangat penting bagi pemahaman Kristen mengenai penghormatan kepada Yesus.
Yesus juga menggunakan bahasa mengenai diri-Nya yang berkaitan dengan penghakiman terakhir. Dalam Matius 25:31–46, Anak Manusia digambarkan datang dalam kemuliaan dan menghakimi bangsa-bangsa. Dalam Daniel 7, figur “Anak Manusia” menerima kerajaan dan kemuliaan. Karena itu, sebutan “Anak Manusia” tidak boleh selalu dipahami hanya sebagai cara sederhana untuk mengatakan “manusia”. Dalam beberapa konteks, istilah tersebut memiliki latar belakang eskatologis yang sangat kuat.
Mengapa Kebangkitan Membuat Para Murid Menyembah Yesus?
Kebangkitan merupakan titik balik yang sangat penting. Sebelum penyaliban, para murid dapat memahami Yesus sebagai guru, nabi, atau Mesias dengan berbagai ekspektasi. Tetapi setelah mereka percaya bahwa Allah membangkitkan Yesus dari kematian, pemahaman mereka mengenai identitas-Nya berubah secara mendalam.
Dalam Kisah Para Rasul 2, Petrus memberitakan bahwa Allah telah membangkitkan Yesus dan kemudian mengatakan bahwa Allah telah membuat Yesus yang disalibkan itu menjadi Tuhan dan Kristus. Dalam Roma 10:9, Paulus menghubungkan pengakuan bahwa “Yesus adalah Tuhan” dengan iman kepada kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Dengan demikian, pengakuan terhadap Yesus sebagai Tuhan tidak dapat dipisahkan dari kebangkitan.
Kebangkitan juga mengubah cara para murid membaca Kitab Suci mereka. Hal-hal yang sebelumnya mungkin tampak terpisah mulai dipahami sebagai bagian dari rencana Allah. Yesus bukan lagi hanya guru yang telah mati, tetapi Mesias yang telah dibangkitkan dan akan datang kembali sebagai Tuhan. Dalam 1 Korintus 15, Paulus bahkan menyebut kebangkitan Kristus sebagai dasar dari seluruh iman Kristen.
N. T. Wright menekankan bahwa kebangkitan harus dipahami dalam konteks pengharapan Yahudi mengenai kebangkitan orang mati. Para pengikut Yesus tidak sekadar percaya bahwa “roh Yesus masih hidup”. Mereka memberitakan bahwa Allah membangkitkan Yesus. Bagi komunitas pertama, hal ini memiliki implikasi besar terhadap identitas Yesus. Ia yang telah disalibkan sebagai penjahat justru dinyatakan oleh Allah sebagai Mesias dan Tuhan.
Mengapa Paulus Berani Menghubungkan Yesus dengan Allah?
Tulisan-tulisan Paulus sangat penting karena merupakan salah satu sumber Kristen paling awal yang kita miliki. Surat-surat Paulus menunjukkan bahwa keyakinan mengenai status tinggi Yesus sudah ada dalam komunitas Kristen awal. Salah satu contoh yang paling menarik terdapat dalam 1 Korintus 8:6.
Paulus terlebih dahulu menegaskan bahwa “bagi kita hanya ada satu Allah, yaitu Bapa,” lalu berbicara mengenai “satu Tuhan, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.” Ini menarik karena Paulus tidak meninggalkan monoteisme Yahudi. Ia justru menyusun pengakuan monoteistik sedemikian rupa sehingga Yesus dimasukkan ke dalam kerangka tersebut.
Teks ini menjadi penting dalam penelitian Richard Bauckham, karena menurutnya Paulus tidak sedang memperkenalkan politeisme. Sebaliknya, Yesus dimasukkan ke dalam identitas Allah Israel. Allah adalah sumber segala sesuatu, dan melalui Yesus segala sesuatu ada. Dengan demikian, Yesus memiliki tempat yang sangat khusus dalam hubungan antara Allah dan ciptaan.
Paulus juga menyebut Yesus sebagai Tuhan dalam berbagai konteks ibadah. Dalam Roma 10:13, Paulus mengutip Yoel 2:32 yang berbicara mengenai siapa pun yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan, dan konteks Paulus menghubungkan pengakuan tersebut dengan Yesus. Hal seperti ini menunjukkan bahwa bagi Paulus, nama Yesus bukan hanya nama seorang pemimpin agama. Nama tersebut telah menjadi bagian dari bahasa keselamatan dan ibadah komunitas Kristen.
Bagaimana Injil Yohanes Menjelaskan Mengapa Yesus Disembah?
Jika ingin menemukan penjelasan paling eksplisit mengenai hubungan Yesus dengan keilahian dalam Perjanjian Baru, Injil Yohanes merupakan salah satu sumber terpenting. Yohanes dimulai dengan pernyataan bahwa Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Kemudian Firman tersebut menjadi manusia.
Struktur ini sangat penting. Yohanes tidak mengatakan bahwa seorang manusia biasa kemudian berubah menjadi Allah. Ia mengatakan bahwa Firman yang sejak semula bersama Allah mengambil keberadaan manusia. Dengan demikian, keilahian Yesus bukan sekadar status yang diberikan kepada-Nya setelah Ia menjadi terkenal. Dalam kerangka Yohanes, identitas ilahi tersebut sudah ada sebelum kehidupan duniawi Yesus.
Yohanes kemudian memperlihatkan berbagai tanda yang mengungkapkan identitas Yesus: mengubah air menjadi anggur, menyembuhkan orang sakit, memberi makan orang banyak, berjalan di atas air, membangkitkan Lazarus, dan akhirnya bangkit dari kematian. Tanda-tanda tersebut bukan sekadar mukjizat untuk membuat orang kagum. Dalam struktur Injil Yohanes, tanda-tanda itu menunjuk kepada siapa Yesus sebenarnya.
Puncaknya adalah Yohanes 20:28 ketika Tomas berkata kepada Yesus, “Ya Tuhanku dan Allahku.” Karena itu, jika ditanya mengapa orang Kristen menyembah Yesus menurut Injil Yohanes, jawabannya berkaitan dengan keseluruhan kisah: Yesus adalah Firman yang menjadi manusia, Anak yang memiliki hubungan unik dengan Bapa, pemberi hidup, hakim akhir, dan Tuhan yang bangkit.
Apakah Menyembah Yesus Berarti Kekristenan Memiliki Dua Tuhan?
Tidak, menurut doktrin Kristen historis. Kekristenan tetap mengakui satu Allah. Inilah sebabnya mengapa perkembangan doktrin Trinitas tidak dapat dilepaskan dari sejarah awal Kekristenan. Gereja harus menemukan bahasa yang dapat menjelaskan bagaimana Yesus menerima penghormatan ilahi tanpa mengubah monoteisme menjadi politeisme.
Pengakuan Iman Nicea kemudian menjadi salah satu formulasi terpenting. Gereja mengakui satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa, dan satu Tuhan Yesus Kristus, Anak Allah yang diperanakkan dari Bapa, bukan dibuat, dan sehakikat dengan Bapa. Bahasa “sehakikat” atau homoousios digunakan untuk menegaskan bahwa Anak bukan ciptaan.
Dalam kerangka tersebut, penyembahan kepada Yesus bukanlah penyembahan kepada “Allah kedua”. Orang Kristen menyembah Yesus karena mereka percaya bahwa Anak adalah sungguh Allah. Namun, mereka tidak menyamakan Anak dengan Bapa sebagai pribadi. Dengan demikian, penyembahan kepada Yesus menjadi bagian dari ibadah kepada Allah Tritunggal.
Lewis Ayres menjelaskan bahwa perkembangan teologi Trinitarian abad keempat harus dipahami sebagai usaha untuk menjaga dua keyakinan yang sama-sama dianggap mendasar: keesaan Allah dan keilahian Anak. Gereja tidak ingin memilih salah satunya. Jika hanya ada satu Allah tetapi Anak bukan ilahi, maka persoalan kristologi muncul. Jika Bapa dan Anak adalah dua Allah yang terpisah, maka monoteisme Kristen juga runtuh. Doktrin Trinitas merupakan usaha konseptual untuk mempertahankan keduanya.
Apa Hubungan Penyembahan kepada Yesus dengan Doa?
Salah satu bukti paling menarik mengenai status Yesus dalam Kekristenan awal adalah hubungan antara Yesus dan doa. Doa merupakan bagian fundamental dari kehidupan keagamaan. Karena itu, ketika sebuah komunitas mulai berdoa dalam nama Yesus, hal tersebut menunjukkan bahwa Yesus memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan spiritual mereka.
Dalam Yohanes 14:13–14, Yesus berkata bahwa apa pun yang diminta dalam nama-Nya akan dilakukan-Nya. Yohanes 16:23–24 juga berbicara mengenai meminta dalam nama Yesus. Bahasa tersebut tidak berarti bahwa nama Yesus adalah semacam kata ajaib yang harus diucapkan pada akhir doa. “Dalam nama” berarti berdoa dalam hubungan dan otoritas Yesus, sesuai dengan kehendak-Nya.
Dalam Kisah Para Rasul 7:59, ketika Stefanus menghadapi kematian, ia berseru, “Tuhan Yesus, terimalah rohku.” Ini merupakan contoh penting karena Stefanus berbicara langsung kepada Yesus dalam situasi kematian. Dalam 2 Korintus 12:8–9, Paulus juga berbicara mengenai permohonannya kepada Tuhan mengenai duri dalam dagingnya. Terdapat perdebatan mengenai apakah “Tuhan” di sini secara eksplisit merujuk kepada Yesus, tetapi secara keseluruhan surat-surat Paulus memperlihatkan bahwa Yesus berada sangat dekat dengan praktik doa dan kehidupan rohani komunitas.
Bagi Hurtado, fenomena semacam ini membantu menjelaskan mengapa devosi kepada Yesus tidak dapat dianggap sebagai tambahan belakangan yang tidak berhubungan dengan Kekristenan awal. Yesus sudah menjadi bagian dari praktik keagamaan komunitas pertama. Mereka tidak hanya membicarakan Yesus; mereka berseru kepada-Nya, menyanyikan pujian tentang-Nya, mengingat-Nya dalam Perjamuan Tuhan, dibaptis dalam nama-Nya, dan mengharapkan kedatangan-Nya kembali.
Apakah Orang Kristen Menyembah Yesus karena Yesus Menggantikan Allah Bapa?
Tidak. Dalam Kekristenan, Yesus tidak menggantikan Bapa. Justru Yesus membawa manusia kepada Bapa. Injil Yohanes berulang kali menekankan bahwa Yesus diutus oleh Bapa dan melakukan kehendak Bapa. Dalam Yohanes 14:6, Yesus berkata bahwa tidak seorang pun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Dia. Dalam konteks ini, Yesus adalah jalan menuju Bapa, tetapi Ia sendiri juga memiliki identitas ilahi.
Hubungan tersebut dapat terlihat dengan jelas dalam doa yang diajarkan Yesus. Ketika Yesus mengajar murid-murid berdoa, Ia mengajarkan mereka berkata, “Bapa kami yang di surga.” Jadi, Kekristenan tidak mengajarkan bahwa setelah percaya kepada Yesus, orang berhenti berhubungan dengan Bapa. Sebaliknya, melalui Kristus manusia dibawa masuk ke dalam hubungan dengan Bapa.
Paulus juga mempertahankan struktur tersebut. Dalam 1 Korintus 15:24–28, Kristus pada akhirnya menyerahkan kerajaan kepada Allah Bapa. Ini menunjukkan bahwa Bapa dan Anak memiliki hubungan yang berbeda dan bahwa karya Kristus berlangsung dalam hubungan dengan Bapa. Namun, perbedaan tersebut tidak berarti bahwa Yesus bukan ilahi. Dalam kerangka Trinitarian, perbedaan relasional tidak sama dengan perbedaan tingkat keilahian.
Karena itu, orang Kristen dapat berdoa kepada Bapa, kepada Anak, dan melalui Anak kepada Bapa tanpa merasa bahwa mereka sedang menyembah beberapa Allah. Praktik ibadah Kristen kemudian berkembang dalam bentuk-bentuk yang beragam, tetapi dasar teologisnya tetap sama: satu Allah, Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Mengapa Penghormatan kepada Yesus Menjadi Pusat Kekristenan?
Pada akhirnya, penyembahan kepada Yesus bukanlah sekadar salah satu praktik tambahan dalam Kekristenan. Ia merupakan konsekuensi langsung dari cara Kekristenan memahami identitas Yesus. Jika Yesus hanya guru moral, maka menyembah-Nya akan menjadi tindakan yang tidak sesuai dengan monoteisme Kristen. Tetapi jika Yesus adalah Anak Allah yang kekal, Firman yang menjadi manusia, Tuhan yang bangkit, dan satu dengan Bapa dalam keilahian, maka penyembahan kepada-Nya menjadi konsekuensi logis dari iman tersebut.
Karena itu, pengakuan “Yesus adalah Tuhan” menjadi salah satu inti pemberitaan Kristen. Roma 10:9 menghubungkan pengakuan tersebut dengan iman kepada kebangkitan. Filipi 2 menempatkan pengakuan universal terhadap Yesus sebagai Tuhan dalam konteks kemuliaan Allah Bapa. 1 Korintus 8 memasukkan Yesus ke dalam kerangka monoteisme Kristen. Yohanes 20 menempatkan pengakuan Tomas sebagai klimaks Injil. Semua ini menunjukkan bahwa penyembahan kepada Yesus bukanlah sesuatu yang terpisah dari iman Kristen mengenai keselamatan.
Martin Hengel dan sejumlah sarjana lainnya telah menunjukkan bahwa perkembangan kristologi awal berlangsung dalam waktu yang jauh lebih dekat dengan masa Yesus daripada yang kadang-kadang diasumsikan. Tentu terdapat perdebatan mengenai bagaimana tepatnya berbagai gelar dan keyakinan berkembang. Namun, gagasan bahwa orang Kristen baru mulai menganggap Yesus ilahi beberapa abad setelah kematian-Nya terlalu sederhana jika dibandingkan dengan bukti-bukti Perjanjian Baru dan literatur Kristen awal.
Bagi Kekristenan, Yesus layak disembah bukan karena manusia memutuskan untuk menaikkan seorang guru menjadi dewa. Orang Kristen menyembah Yesus karena mereka percaya bahwa Allah sendiri menyatakan identitas Yesus melalui kehidupan, kematian, kebangkitan, dan karya-Nya. Kebangkitan menjadi konfirmasi utama dalam iman Kristen bahwa Dia yang disalibkan bukan sekadar korban sejarah, melainkan Tuhan yang hidup.
Dengan demikian, ketika orang Kristen menyanyikan pujian kepada Yesus, berdoa dalam nama-Nya, mengakui-Nya sebagai Tuhan, merayakan Perjamuan Kudus, dan menantikan kedatangan-Nya kembali, mereka tidak melihat semua itu sebagai penyembahan kepada manusia biasa. Mereka sedang menjalankan konsekuensi dari keyakinan mendasar bahwa Yesus adalah Anak Allah yang kekal dan sungguh ilahi.
Mengapa Orang Kristen Menyembah Yesus?
Jawaban paling mendasar adalah karena Kekristenan percaya bahwa Yesus bukan sekadar manusia, nabi, guru, atau utusan Allah, tetapi Anak Allah yang kekal dan sungguh-sungguh ilahi. Karena itu, penyembahan kepada Yesus bukan dianggap sebagai penyembahan kepada manusia, melainkan sebagai bagian dari penyembahan kepada Allah Tritunggal.
Dasar keyakinan tersebut ditemukan dalam berbagai bagian Perjanjian Baru. Yesus menerima penghormatan dari para murid, disebut Tuhan, dikaitkan dengan penciptaan, memberikan hidup, mengampuni dosa, menjalankan penghakiman, menerima doa dan seruan, serta setelah kebangkitan menerima pengakuan sebagai Tuhan. Yohanes 1 berbicara tentang Firman yang adalah Allah dan menjadi manusia. Yohanes 20 mencatat Tomas menyebut Yesus “Tuhanku dan Allahku”. Filipi 2 menggambarkan setiap lutut bertelut dan setiap lidah mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan. 1 Korintus 8 memasukkan Yesus ke dalam kerangka monoteisme Kristen. Semua ini menjadi dasar yang sangat penting bagi praktik penyembahan kepada Yesus.
Namun, Kekristenan tidak mengajarkan bahwa Yesus adalah Allah Bapa. Bapa dan Anak dibedakan sebagai pribadi. Yesus berdoa kepada Bapa, diutus oleh Bapa, dan berbicara tentang Bapa sebagai pribadi yang berbeda. Tetapi Kekristenan Trinitarian percaya bahwa perbedaan pribadi tersebut tidak berarti perbedaan dalam natur ilahi. Anak memiliki keilahian yang sama dengan Bapa.
Karena itu, pertanyaan “Mengapa orang Kristen menyembah Yesus jika hanya ada satu Allah?” justru membawa kita kepada pusat doktrin Kristen. Orang Kristen menyembah Yesus bukan karena mereka percaya ada dua Allah, tetapi karena mereka percaya bahwa Yesus termasuk dalam identitas ilahi yang satu itu. Inilah yang kemudian dirumuskan dalam bahasa Trinitas: satu Allah dalam tiga pribadi, Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Secara historis, penyembahan kepada Yesus juga bukan perkembangan yang baru muncul setelah gereja menjadi institusi besar. Penelitian terhadap sumber-sumber Kristen awal menunjukkan bahwa devosi kepada Yesus sudah menjadi bagian penting kehidupan komunitas Kristen pertama. Mereka mengaku nama-Nya, berdoa dalam nama-Nya, menyanyikan pujian kepada-Nya, merayakan Perjamuan Tuhan, dan menantikan kedatangan-Nya. Hal tersebut menjadi sangat signifikan karena semua itu terjadi dalam lingkungan Yahudi yang tetap mempertahankan monoteisme.
Jadi, menurut iman Kristen, Yesus disembah karena Ia adalah Tuhan yang menjadi manusia, Anak Allah yang kekal, yang mati dan bangkit untuk keselamatan manusia. Bagi orang Kristen, penyembahan kepada Yesus bukanlah tindakan menggantikan Allah dengan seorang manusia, melainkan pengakuan bahwa dalam Yesus, Allah sendiri hadir dan bertindak untuk menyelamatkan manusia.
Dengan demikian, pertanyaan mengenai mengapa Yesus disembah membawa kita langsung kepada pertanyaan yang lebih besar: Jika Yesus adalah Tuhan dan manusia sekaligus, apa sebenarnya arti kematian-Nya di kayu salib? Mengapa Allah harus menjadi manusia dan mati untuk menyelamatkan manusia? Pertanyaan tersebut membawa kita pada pusat berikutnya dalam iman Kristen, yaitu doktrin dosa, penebusan, pengorbanan, salib, dan keselamatan.
Daftar Referensi
Dasar keyakinan tersebut ditemukan dalam berbagai bagian Perjanjian Baru. Yesus menerima penghormatan dari para murid, disebut Tuhan, dikaitkan dengan penciptaan, memberikan hidup, mengampuni dosa, menjalankan penghakiman, menerima doa dan seruan, serta setelah kebangkitan menerima pengakuan sebagai Tuhan. Yohanes 1 berbicara tentang Firman yang adalah Allah dan menjadi manusia. Yohanes 20 mencatat Tomas menyebut Yesus “Tuhanku dan Allahku”. Filipi 2 menggambarkan setiap lutut bertelut dan setiap lidah mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan. 1 Korintus 8 memasukkan Yesus ke dalam kerangka monoteisme Kristen. Semua ini menjadi dasar yang sangat penting bagi praktik penyembahan kepada Yesus.
Namun, Kekristenan tidak mengajarkan bahwa Yesus adalah Allah Bapa. Bapa dan Anak dibedakan sebagai pribadi. Yesus berdoa kepada Bapa, diutus oleh Bapa, dan berbicara tentang Bapa sebagai pribadi yang berbeda. Tetapi Kekristenan Trinitarian percaya bahwa perbedaan pribadi tersebut tidak berarti perbedaan dalam natur ilahi. Anak memiliki keilahian yang sama dengan Bapa.
Karena itu, pertanyaan “Mengapa orang Kristen menyembah Yesus jika hanya ada satu Allah?” justru membawa kita kepada pusat doktrin Kristen. Orang Kristen menyembah Yesus bukan karena mereka percaya ada dua Allah, tetapi karena mereka percaya bahwa Yesus termasuk dalam identitas ilahi yang satu itu. Inilah yang kemudian dirumuskan dalam bahasa Trinitas: satu Allah dalam tiga pribadi, Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Secara historis, penyembahan kepada Yesus juga bukan perkembangan yang baru muncul setelah gereja menjadi institusi besar. Penelitian terhadap sumber-sumber Kristen awal menunjukkan bahwa devosi kepada Yesus sudah menjadi bagian penting kehidupan komunitas Kristen pertama. Mereka mengaku nama-Nya, berdoa dalam nama-Nya, menyanyikan pujian kepada-Nya, merayakan Perjamuan Tuhan, dan menantikan kedatangan-Nya. Hal tersebut menjadi sangat signifikan karena semua itu terjadi dalam lingkungan Yahudi yang tetap mempertahankan monoteisme.
Jadi, menurut iman Kristen, Yesus disembah karena Ia adalah Tuhan yang menjadi manusia, Anak Allah yang kekal, yang mati dan bangkit untuk keselamatan manusia. Bagi orang Kristen, penyembahan kepada Yesus bukanlah tindakan menggantikan Allah dengan seorang manusia, melainkan pengakuan bahwa dalam Yesus, Allah sendiri hadir dan bertindak untuk menyelamatkan manusia.
Dengan demikian, pertanyaan mengenai mengapa Yesus disembah membawa kita langsung kepada pertanyaan yang lebih besar: Jika Yesus adalah Tuhan dan manusia sekaligus, apa sebenarnya arti kematian-Nya di kayu salib? Mengapa Allah harus menjadi manusia dan mati untuk menyelamatkan manusia? Pertanyaan tersebut membawa kita pada pusat berikutnya dalam iman Kristen, yaitu doktrin dosa, penebusan, pengorbanan, salib, dan keselamatan.
Daftar Referensi
- Athanasius. On the Incarnation.
- Ayres, Lewis. Nicaea and Its Legacy: An Approach to Fourth-Century Trinitarian Theology. Oxford University Press.
- Bauckham, Richard. Jesus and the God of Israel: God Crucified and Other Studies on the New Testament's Christology of Divine Identity. Eerdmans.
- Brown, Raymond E. The Gospel According to John I–XII. Anchor Bible.
- Brown, Raymond E. The Gospel According to John XIII–XXI. Anchor Bible.
- Dunn, James D. G. Christology in the Making: A New Testament Inquiry into the Origins of the Doctrine of the Incarnation. SCM Press.
- Hengel, Martin. The Son of God: The Origin of Christology and the History of Jewish-Hellenistic Religion. Fortress Press.
- Hurtado, Larry W. Lord Jesus Christ: Devotion to Jesus in Earliest Christianity. Eerdmans.
- Hurtado, Larry W. How on Earth Did Jesus Become a God? Historical Questions about Earliest Devotion to Jesus. Eerdmans.
- Wright, N. T. The Resurrection of the Son of God. Fortress Press.
- Meier, John P. A Marginal Jew: Rethinking the Historical Jesus. Yale University Press.
- Sanders, E. P. The Historical Figure of Jesus. Penguin Books.
- Alkitab: Injil Matius, Markus, Lukas, Yohanes; Kisah Para Rasul; Roma; 1 Korintus; Filipi; Kolose; Ibrani; Wahyu.
- Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel.
- Pengakuan Iman Rasuli.
- Definisi Chalcedon.
- Didache.
- 1 Clement.
- Letters of Ignatius of Antioch.

