Dalam iman Kristen klasik, jawaban terhadap pertanyaan tersebut bukan memilih salah satu antara “Tuhan” atau “Anak Tuhan” seolah-olah kedua istilah itu saling bertentangan. Kekristenan mengajarkan bahwa Yesus adalah Anak Allah dan sekaligus benar-benar ilahi. Namun, istilah “Anak Allah” dalam teologi Kristen tidak berarti bahwa Allah memiliki anak secara biologis sebagaimana manusia mempunyai anak. Istilah tersebut menunjuk pada hubungan yang unik dan kekal antara Yesus dengan Allah Bapa. Karena itu, ketika Kekristenan mengatakan bahwa Yesus adalah “Anak Allah”, yang dimaksud bukanlah bahwa Yesus adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah, melainkan bahwa Ia memiliki hubungan yang unik dengan Bapa dan mengambil bagian dalam identitas ilahi.
Persoalan ini menjadi semakin penting karena Kekristenan tidak hanya mengajarkan sesuatu tentang Yesus secara terpisah dari ajaran tentang Allah. Identitas Yesus berhubungan langsung dengan bagaimana orang Kristen memahami Allah sendiri. Jika Yesus hanya manusia biasa, maka sejumlah bagian Perjanjian Baru yang menggambarkan penyembahan kepada-Nya, pengampunan dosa oleh-Nya, keberadaan-Nya sebelum kelahiran-Nya, serta hubungan-Nya dengan penciptaan harus ditafsirkan dengan cara yang berbeda. Sebaliknya, jika Yesus sungguh ilahi, maka orang Kristen harus menjelaskan bagaimana mungkin ada Allah Bapa dan Anak yang berbeda tetapi tetap mengakui hanya satu Allah. Dari sinilah muncul perkembangan doktrin Trinitas dan kristologi dalam sejarah Kekristenan.
Para sarjana Perjanjian Baru seperti Richard Bauckham, Larry Hurtado, James D. G. Dunn, Raymond E. Brown, dan N. T. Wright telah membahas persoalan ini dari berbagai sudut. Mereka berbeda dalam beberapa penekanan mengenai perkembangan kristologi dan bagaimana komunitas Kristen pertama memahami Yesus, tetapi penelitian mereka menunjukkan bahwa pertanyaan mengenai status Yesus bukanlah persoalan yang baru muncul berabad-abad kemudian. Sejak masa awal Kekristenan sudah terdapat keyakinan yang sangat tinggi mengenai identitas Yesus, termasuk hubungan-Nya dengan Allah, peran-Nya dalam keselamatan, dan tempat-Nya dalam ibadah komunitas Kristen.
Karena itu, untuk menjawab pertanyaan “Apakah Yesus itu Tuhan atau Anak Tuhan?”, kita perlu membahas persoalan ini secara bertahap. Kita harus melihat terlebih dahulu apa arti “Anak Allah”, kemudian bagaimana Perjanjian Baru berbicara tentang keilahian Yesus, bagaimana Yesus berhubungan dengan Allah Bapa, mengapa Ia tetap disebut manusia, serta bagaimana gereja mula-mula akhirnya merumuskan keyakinan bahwa Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Dengan demikian, kita tidak sekadar mencari satu ayat untuk memenangkan suatu kesimpulan, tetapi memahami keseluruhan kerangka pemikiran Kristen.
Mengapa Pertanyaan “Tuhan atau Anak Tuhan?” Sebenarnya Mengandung Kesalahpahaman?
Kesulitan pertama terletak pada cara kita memahami kata “Anak”. Dalam penggunaan sehari-hari, seorang anak adalah pribadi yang berasal dari orang tua dan karena itu memiliki awal keberadaan. Jika seseorang mendengar bahwa Yesus adalah “Anak Allah”, secara spontan ia mungkin membayangkan bahwa Allah adalah seperti seorang ayah manusia yang mempunyai anak pada suatu titik tertentu dalam sejarah. Dari pemahaman seperti itu, kesimpulan berikutnya tampak logis: kalau Yesus adalah anak Allah, berarti Yesus bukan Allah. Namun, pengertian seperti itu bukanlah makna utama istilah “Anak Allah” dalam kristologi Kristen.
Dalam konteks Alkitab, istilah “anak” dapat memiliki makna yang jauh lebih luas daripada hubungan biologis. Misalnya, dalam berbagai bagian Alkitab, istilah “anak” dapat menunjukkan hubungan, identitas, karakter, atau kedekatan tertentu. Ketika Yesus disebut “Anak Allah”, istilah tersebut harus dibaca dalam konteks keseluruhan kesaksian Perjanjian Baru mengenai hubungan Yesus dengan Bapa. Injil Yohanes, misalnya, tidak menggambarkan Yesus sebagai makhluk yang sekadar diciptakan oleh Allah, tetapi berbicara mengenai Firman yang “pada mulanya” bersama-sama dengan Allah dan kemudian “menjadi manusia” (Yohanes 1:1–14). Dengan demikian, titik awal keberadaan Yesus dalam perspektif Yohanes bukanlah kelahiran-Nya di Betlehem, melainkan keberadaan Firman sebelum inkarnasi.
Dalam Yohanes 5:18 terdapat pernyataan yang sangat penting. Setelah Yesus menyebut Allah sebagai Bapa-Nya, teks tersebut mengatakan bahwa para pemimpin Yahudi semakin berusaha membunuh-Nya karena mereka memahami tindakan itu sebagai penyamaan diri dengan Allah. Perlu berhati-hati di sini: ayat tersebut merupakan bagian dari narasi Injil Yohanes dan tidak boleh digunakan secara sederhana untuk mengatakan bahwa semua orang Yahudi memiliki pemahaman yang sama mengenai Yesus. Namun, ayat tersebut menunjukkan bahwa penulis Injil memahami klaim Yesus mengenai hubungan-Nya dengan Bapa sebagai sesuatu yang memiliki implikasi teologis sangat tinggi.
Sarjana seperti Raymond E. Brown, dalam kajiannya mengenai Injil Yohanes, menekankan bahwa hubungan antara Yesus dan Bapa merupakan salah satu pusat kristologi Yohanes. Yesus bukan sekadar utusan yang membawa pesan dari Allah seperti seorang nabi yang berdiri sepenuhnya di luar identitas ilahi. Yohanes menggambarkan Yesus sebagai Dia yang diutus oleh Bapa sekaligus sebagai Dia yang memiliki hubungan unik dengan Bapa sejak sebelum dunia ada. Karena itu, istilah “Anak Allah” tidak boleh dipahami sebagai lawan dari “Tuhan” dalam pengertian Kristen klasik. Justru hubungan Anak dan Bapa menjadi bagian dari cara Kekristenan menjelaskan bagaimana Yesus dapat dibedakan dari Bapa tetapi tetap memiliki natur ilahi.
Apa Arti “Anak Allah” bagi Yesus?
Istilah “Anak Allah” memiliki latar belakang yang kompleks dalam Alkitab. Dalam Perjanjian Lama, istilah yang berkaitan dengan “anak Allah” atau “anak-anak Allah” dapat digunakan dalam beberapa konteks. Israel dapat disebut sebagai anak Allah, raja Israel dapat digambarkan dengan bahasa anak, dan dalam konteks tertentu makhluk surgawi juga disebut dengan istilah yang berkaitan dengan “anak-anak Allah”. Karena itu, tidak setiap penggunaan istilah “anak Allah” secara otomatis berarti bahwa seseorang adalah Allah dalam arti penuh.
Namun, ketika istilah tersebut diterapkan kepada Yesus dalam Perjanjian Baru, penggunaannya memperoleh makna yang jauh lebih khusus. Dalam kisah baptisan Yesus, suara dari surga menyatakan, “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” (Markus 1:11). Pernyataan serupa muncul dalam Matius 3:17 dan Lukas 3:22. Dalam kisah transfigurasi, identitas Yesus kembali ditegaskan dengan suara dari awan (Matius 17:5). Di sini, Yesus digambarkan sebagai Anak yang memiliki hubungan khusus dengan Allah.
Hubungan tersebut menjadi semakin jelas dalam Injil Yohanes. Yohanes 5:19–23 menggambarkan Anak melakukan apa yang dilakukan Bapa, memberikan hidup, dan menerima penghormatan. Yohanes 10:30 mencatat perkataan Yesus, “Aku dan Bapa adalah satu.” Ayat tersebut memang memiliki perdebatan interpretatif mengenai arti tepat kata “satu” dalam konteks Yohanes, tetapi secara keseluruhan Injil Yohanes berulang kali menempatkan Yesus dalam hubungan yang sangat dekat dengan Allah. Yohanes 1:1 bahkan menyatakan bahwa Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
Di sinilah kita perlu membedakan antara “Yesus adalah Anak Allah” dan “Yesus adalah anak Allah dalam arti makhluk ciptaan.” Kekristenan arus utama menolak pemahaman kedua. Konsili Nicea pada tahun 325, dan kemudian rumusan yang berkembang dalam Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel, menyatakan bahwa Anak adalah “diperanakkan, bukan dibuat” dan memiliki hakikat yang sama dengan Bapa. Pernyataan tersebut sengaja dibuat untuk menolak gagasan bahwa Anak adalah ciptaan tertinggi yang berada di antara Allah dan manusia.
Athanasius dari Aleksandria, salah satu tokoh terpenting dalam perdebatan tersebut, berargumentasi bahwa jika Anak bukan sungguh-sungguh ilahi, maka keselamatan manusia juga menjadi problematis. Bagi Athanasius, manusia diselamatkan bukan sekadar melalui seorang utusan yang berada di luar Allah, tetapi melalui tindakan Allah sendiri yang masuk ke dalam kondisi manusia. Karena itu, bagi tradisi Nicea, menyebut Yesus sebagai Anak Allah justru merupakan bagian dari alasan mengapa Ia dianggap sungguh ilahi.
Apakah Alkitab Benar-Benar Menyebut Yesus sebagai Tuhan?
Jawaban sederhananya adalah ya, Perjanjian Baru menggunakan bahasa “Tuhan” untuk Yesus, meskipun cara penggunaannya perlu dipahami dalam konteks bahasa dan teologi abad pertama. Kata Yunani yang sering diterjemahkan sebagai “Tuhan” adalah kyrios. Kata ini dapat digunakan dalam arti “tuan”, “penguasa”, atau sebagai sebutan yang sangat tinggi bagi seseorang. Dalam Septuaginta, yaitu terjemahan Yunani Perjanjian Lama, kyrios juga digunakan untuk menerjemahkan nama ilahi YHWH dalam banyak konteks. Karena itu, ketika Perjanjian Baru menggunakan kyrios untuk Yesus, penggunaannya dapat memiliki bobot teologis yang sangat besar.
Salah satu teks yang paling terkenal adalah Yohanes 20:28. Setelah melihat Yesus yang bangkit, Tomas berkata kepada-Nya, “Ya Tuhanku dan Allahku!” Teks ini sangat penting karena sebutan tersebut diarahkan langsung kepada Yesus. Penulis Injil Yohanes kemudian menutup Injilnya dengan menjelaskan tujuan penulisan agar pembaca percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah, dan melalui iman memperoleh hidup dalam nama-Nya (Yohanes 20:31). Karena itu, sebutan Tomas tidak berdiri sendirian, tetapi berada dalam struktur teologis Injil yang sejak awal berbicara tentang identitas ilahi Sang Firman.
Filipi 2:5–11 juga menjadi salah satu teks terpenting dalam diskusi kristologi. Paulus menggambarkan Kristus sebagai Dia yang memiliki “rupa Allah”, tetapi mengambil rupa seorang hamba dan merendahkan diri sampai mati di kayu salib. Setelah itu, Allah sangat meninggikan Dia dan memberikan kepada-Nya nama di atas segala nama sehingga setiap lutut bertelut dan setiap lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Teks ini sering dianggap sebagai salah satu bukti terawal mengenai kristologi tinggi karena Yesus ditempatkan dalam kerangka penghormatan yang dalam Perjanjian Lama berkaitan dengan Allah.
Richard Bauckham, dalam Jesus and the God of Israel, berpendapat bahwa kristologi Perjanjian Baru tidak dapat dipahami hanya dengan mengatakan bahwa orang Kristen mula-mula menjadikan Yesus sebagai makhluk surgawi yang lebih tinggi daripada manusia lain. Menurut Bauckham, Yesus dimasukkan ke dalam identitas ilahi yang dalam monoteisme Yahudi hanya dimiliki oleh Allah. Ia menunjukkan bahwa fungsi-fungsi seperti penciptaan, pemerintahan kosmis, dan kemuliaan ilahi menjadi bagian dari cara Perjanjian Baru menggambarkan Yesus.
Hal tersebut tidak berarti bahwa semua sarjana sepakat mengenai bagaimana proses historis kristologi itu berlangsung. James D. G. Dunn, misalnya, memberikan perhatian besar pada perkembangan tradisi mengenai Yesus dan bagaimana komunitas Kristen mula-mula memahami Dia dalam kerangka monoteisme Yahudi. Perbedaan pendekatan ini justru menunjukkan bahwa persoalannya serius secara akademis. Namun, baik penelitian mengenai kristologi tinggi maupun penelitian yang lebih menekankan perkembangan historis menunjukkan bahwa hubungan Yesus dengan identitas Allah merupakan salah satu persoalan utama dalam Kekristenan paling awal.
Kalau Yesus adalah Tuhan, Mengapa Ia Berdoa kepada Allah?
Pertanyaan ini sangat penting dan tidak boleh dihindari. Jika Yesus adalah Tuhan, kepada siapa Ia berdoa? Mengapa Ia mengatakan “Bapa-Ku”? Mengapa Ia berkata, “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Lukas 22:42)? Mengapa Ia berkata di kayu salib, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Markus 15:34)? Jika semua pertanyaan ini diabaikan, penjelasan mengenai keilahian Yesus akan tampak tidak konsisten.
Jawaban Kekristenan klasik adalah bahwa Yesus sungguh-sungguh menjadi manusia, bukan sekadar tampak seperti manusia. Karena itu, hubungan-Nya dengan Bapa dalam kehidupan manusiawi-Nya adalah hubungan yang nyata. Ia berdoa, taat, menderita, mengalami kelelahan, lapar, haus, dan kematian. Jika Yesus tidak benar-benar manusia, maka inkarnasi tidak mempunyai makna penuh. Kekristenan tidak mengajarkan bahwa Allah berpura-pura menjadi manusia, tetapi bahwa Sang Anak benar-benar mengambil natur manusia.
Di sinilah doktrin Trinitas dan kristologi harus dibedakan. Trinitas berbicara tentang satu Allah dalam tiga pribadi: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Kristologi berbicara mengenai siapa Yesus Kristus, yaitu Anak yang kekal yang mengambil natur manusia. Karena itu, ketika Yesus berdoa kepada Bapa, Kekristenan tidak mengatakan bahwa Yesus sedang berdoa kepada diri-Nya sendiri sebagai pribadi yang sama. Anak dan Bapa berbeda sebagai pribadi, tetapi keduanya tidak dipahami sebagai dua Allah.
Lewis Ayres, dalam kajiannya mengenai perkembangan doktrin Trinitas, menunjukkan bahwa teologi Nicea tidak bertujuan menciptakan tiga Allah atau menghapus perbedaan antara Bapa dan Anak. Justru tantangan teologi Kristen adalah mempertahankan dua hal sekaligus: Allah itu satu, dan Bapa, Anak, serta Roh Kudus sungguh dibedakan. Karena itu, kalimat “Yesus adalah Tuhan” tidak berarti “Yesus adalah Bapa”. Dalam kerangka Trinitarian, Yesus adalah Anak yang memiliki natur ilahi yang sama dengan Bapa.
Apakah Yesus Lebih Rendah daripada Allah Bapa?
Pertanyaan ini muncul terutama karena beberapa ucapan Yesus tampaknya menunjukkan subordinasi. Yohanes 14:28 mencatat Yesus berkata, “Bapa lebih besar daripada Aku.” Dalam Markus 13:32, Yesus mengatakan bahwa mengenai hari dan saat kedatangan tersebut, tidak seorang pun tahu, bahkan Anak, melainkan Bapa. Dalam Yohanes 5:30, Yesus berkata bahwa Ia tidak dapat berbuat dari diri-Nya sendiri dan mencari kehendak Dia yang mengutus-Nya. Bagaimana semua ini dapat dipadukan dengan keyakinan bahwa Yesus adalah ilahi?
Teologi Kristen klasik menjawab dengan membedakan antara perbedaan pribadi dan kesamaan natur, serta antara keadaan Yesus sebelum inkarnasi dan kehidupan-Nya sebagai manusia. Filipi 2:6–8 sangat penting dalam hal ini. Kristus digambarkan memiliki “rupa Allah”, tetapi kemudian merendahkan diri dan mengambil rupa seorang hamba. Tradisi Kristen memahami bagian ini sebagai gambaran mengenai inkarnasi dan kerendahan hati Kristus. Jadi, ketika Yesus menjalankan peran sebagai manusia yang taat kepada Bapa, hal itu tidak dipahami sebagai bukti bahwa Ia bukan ilahi.
Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa doktrin dua natur Kristus berkembang. Konsili Chalcedon pada tahun 451 merumuskan bahwa Kristus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia, memiliki natur ilahi dan natur manusia, tanpa kedua natur tersebut dicampur atau dipisahkan. Rumusan tersebut merupakan usaha gereja untuk menjawab persoalan yang muncul dari kesaksian Alkitab: Yesus dapat berbicara dan bertindak sebagai manusia sejati, tetapi pada saat yang sama digambarkan dengan kategori yang sangat tinggi dan ilahi.
Raymond E. Brown dan banyak ahli Perjanjian Baru lainnya menunjukkan bahwa Injil-injil tidak menggambarkan Yesus hanya dalam satu dimensi. Ia adalah manusia yang benar-benar hidup dalam sejarah, tetapi para penulis Perjanjian Baru juga memberikan kepada-Nya gelar, fungsi, dan peran yang melampaui sekadar nabi atau guru moral. Karena itu, ketegangan antara ayat-ayat yang menunjukkan kemanusiaan Yesus dan ayat-ayat yang menunjukkan keilahian-Nya bukan sesuatu yang harus dihapuskan. Justru ketegangan tersebut merupakan bagian dari persoalan kristologi yang kemudian dijelaskan melalui konsep inkarnasi.
Apakah Yesus adalah Allah yang Sama dengan Bapa?
Di sinilah diperlukan kehati-hatian karena kalimat “Yesus adalah Allah” dapat disalahpahami. Kekristenan Trinitarian tidak mengajarkan bahwa Yesus adalah Bapa. Yesus berdoa kepada Bapa, diutus oleh Bapa, dan berbicara kepada Bapa sebagai pribadi yang berbeda. Karena itu, jika seseorang berkata, “Yesus adalah Allah Bapa,” pernyataan tersebut tidak sesuai dengan formulasi Trinitarian klasik.
Yang diajarkan adalah bahwa Yesus adalah Allah menurut natur ilahi, tetapi Ia bukan pribadi Bapa. Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah, tetapi bukan berarti terdapat tiga Allah yang terpisah. Inilah yang membuat konsep Trinitas begitu sulit dipahami karena bahasa manusia sehari-hari biasanya bekerja dengan kategori yang lebih sederhana: satu pribadi berarti satu individu, dan tiga pribadi berarti tiga individu. Teologi Trinitarian menggunakan istilah tersebut dalam kerangka metafisik yang jauh lebih khusus.
Matius 28:19 memberikan formula baptisan “dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Paulus dalam 2 Korintus 13:13 juga menghubungkan kasih karunia Yesus Kristus, kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus. Dalam 1 Korintus 8:6, Paulus berbicara tentang “satu Allah, yaitu Bapa” dan “satu Tuhan, yaitu Yesus Kristus”, sambil menempatkan keduanya dalam kerangka monoteisme Kristen. Teks-teks tersebut menunjukkan bahwa Kekristenan mula-mula berusaha mempertahankan monoteisme sambil memberikan tempat yang sangat tinggi kepada Yesus.
Larry Hurtado, dalam penelitiannya tentang devosi kepada Yesus pada Kekristenan paling awal, menekankan bahwa penghormatan kepada Yesus muncul sangat dini. Bagi Hurtado, salah satu ciri penting Kekristenan awal adalah bahwa Yesus ditempatkan dalam pola devosi yang sebelumnya berpusat pada Allah. Ini penting karena komunitas Kristen pertama berasal dari lingkungan Yahudi yang sangat monoteistik. Dengan demikian, penghormatan tinggi kepada Yesus membutuhkan penjelasan teologis yang serius.
Mengapa Yesus Disebut “Firman” dalam Injil Yohanes?
Salah satu teks paling penting untuk memahami identitas Yesus adalah pembukaan Injil Yohanes. Yohanes 1:1 mengatakan bahwa “pada mulanya adalah Firman”, Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah. Kemudian Yohanes 1:14 mengatakan bahwa Firman itu menjadi manusia dan diam di antara manusia. Dalam bahasa Yunani, istilah yang digunakan adalah Logos.
Konsep Logos telah menjadi bahan perdebatan panjang. Dalam dunia Yunani, logos dapat berhubungan dengan gagasan mengenai rasio, prinsip, atau tatanan yang mendasari realitas. Namun, Yohanes juga sangat jelas berada dalam lingkungan pemikiran Yahudi. Karena itu, Logos dalam Yohanes tidak boleh direduksi menjadi sekadar “akal” atau “energi kosmis”. Yohanes menghubungkan Logos dengan penciptaan, kehidupan, terang, dan kemudian dengan pribadi Yesus Kristus.
Yohanes 1:3 menyatakan bahwa segala sesuatu dijadikan melalui Firman. Jika ayat ini dibaca bersama Kolose 1:15–17, yang mengatakan bahwa segala sesuatu diciptakan melalui Kristus dan untuk Kristus, muncul gambaran bahwa Yesus ditempatkan dalam hubungan dengan penciptaan itu sendiri. Ia bukan hanya bagian dari alam ciptaan seperti manusia lainnya. Ia ditempatkan sebagai Dia yang melalui-Nya segala sesuatu ada.
N. T. Wright menekankan pentingnya membaca Yesus dalam konteks monoteisme Yahudi dan kisah Israel. Dalam kerangka tersebut, Yesus tidak dapat dipahami hanya sebagai guru spiritual yang berdiri terpisah dari narasi tentang Allah Israel. Para penulis Perjanjian Baru menggambarkan karya Allah melalui Yesus, kerajaan Allah yang hadir melalui Yesus, serta keselamatan yang terjadi melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Karena itu, gelar-gelar bagi Yesus harus dibaca sebagai bagian dari kisah besar mengenai tindakan Allah terhadap dunia.
Kalau Yesus Tuhan, Mengapa Ia Disebut Anak Allah?
Pertanyaan ini sebenarnya membawa kita kepada inti doktrin Kristen. Jawabannya adalah bahwa “Tuhan” dan “Anak Allah” bukan dua kategori yang saling meniadakan. Dalam Kekristenan, “Anak Allah” menunjuk kepada identitas dan relasi Yesus dengan Bapa, sedangkan “Tuhan” menunjuk kepada status dan identitas ilahi-Nya.
Penggunaan kata “Anak” tidak berarti bahwa Yesus memiliki awal keberadaan seperti seorang manusia. Yohanes 1:1 justru menempatkan Firman “pada mulanya”. Yohanes 8:58 mencatat Yesus berkata, “Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Yohanes 17:5 bahkan menggambarkan Yesus berbicara mengenai kemuliaan yang Ia miliki bersama Bapa sebelum dunia ada. Kolose 1:17 mengatakan bahwa Kristus ada terlebih dahulu daripada segala sesuatu. Teks-teks seperti ini menjadi dasar bagi keyakinan bahwa Anak tidak dipandang sebagai makhluk yang diciptakan kemudian.
Pengakuan Iman Nicea kemudian menggunakan bahasa yang sangat hati-hati: Anak “diperanakkan, bukan dibuat”. Maksudnya adalah bahwa hubungan Anak dengan Bapa bukanlah hubungan pencipta dan ciptaan. Ia berasal dari Bapa secara kekal dalam bahasa teologi, bukan diciptakan sebagai makhluk. Karena itu, “Anak” dalam pengertian teologis tidak sama dengan “anak biologis”.
Dalam tradisi Kristen, inilah alasan mengapa pertanyaan “Apakah Yesus Tuhan atau Anak Tuhan?” perlu diubah menjadi pertanyaan yang lebih tepat: “Bagaimana Kekristenan memahami hubungan antara Yesus sebagai Anak Allah dan keilahian-Nya?” Jawabannya adalah bahwa Yesus adalah Anak yang kekal, berbeda dari Bapa sebagai pribadi, tetapi satu dalam keilahian dengan Bapa. Rumusan ini memang tidak sederhana, tetapi justru lahir karena gereja berusaha mempertahankan berbagai kesaksian Alkitab sekaligus tanpa mengorbankan monoteisme.
Bagaimana Kematian dan Kebangkitan Yesus Berkaitan dengan Keilahian-Nya?
Identitas Yesus dalam Kekristenan tidak dapat dipisahkan dari salib dan kebangkitan. Jika Yesus hanya dipandang sebagai guru moral, maka kematian-Nya dapat dilihat sebagai tragedi seorang tokoh agama. Namun, dalam Perjanjian Baru, kematian Yesus dipahami sebagai bagian dari karya keselamatan Allah. Paulus mengatakan dalam 1 Korintus 15:3–4 bahwa Kristus mati karena dosa-dosa manusia, dikuburkan, dan dibangkitkan pada hari ketiga sesuai dengan Kitab Suci.
Kebangkitan menjadi sangat penting karena menjadi dasar keyakinan bahwa Yesus bukan sekadar manusia yang telah meninggal. Dalam Kisah Para Rasul 2, Petrus memberitakan bahwa Allah membangkitkan Yesus. Dalam Roma 1:4, Paulus berbicara mengenai Yesus yang dinyatakan sebagai Anak Allah dengan kuasa melalui kebangkitan dari antara orang mati. Kebangkitan bukan sekadar bukti bahwa ajaran Yesus benar, tetapi menjadi pusat identitas dan pengharapan Kristen.
Di sisi lain, Perjanjian Baru tidak menggambarkan kebangkitan sebagai penghapusan kemanusiaan Yesus. Yesus yang bangkit tetap disebut sebagai Yesus yang disalibkan. Dalam Lukas 24, para murid melihat Yesus yang bangkit dan mengenali-Nya sebagai pribadi yang sama. Dalam Yohanes 20, Tomas melihat tanda-tanda luka dan kemudian menyebut-Nya “Tuhanku dan Allahku”. Dengan demikian, kebangkitan menghubungkan kemanusiaan, kematian, dan keilahian Yesus dalam satu kesaksian iman.
Bagi N. T. Wright, kebangkitan Yesus harus dipahami dalam konteks pengharapan Yahudi mengenai kebangkitan orang mati dan pembaruan ciptaan. Ia menilai bahwa keyakinan para pengikut Yesus terhadap kebangkitan tidak cukup dijelaskan sebagai simbol psikologis atau sekadar pengalaman batin. Apa pun perdebatan historis mengenai bagaimana tepatnya peristiwa tersebut harus dijelaskan, kebangkitan merupakan pusat identitas komunitas Kristen paling awal dan menjadi alasan mengapa Yesus diberitakan sebagai Mesias dan Tuhan.
Bagaimana Gereja Mula-Mula Akhirnya Merumuskan “Yesus adalah Tuhan”?
Perjanjian Baru ditulis dalam berbagai konteks dan tidak memberikan satu formula filosofis tunggal mengenai Trinitas. Karena itu, gereja pada abad-abad berikutnya harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang semakin sulit. Jika Yesus adalah ilahi, apakah berarti ada dua Allah? Jika Anak berasal dari Bapa, apakah Anak diciptakan? Jika Yesus benar-benar manusia, apakah Ia kehilangan keilahian-Nya? Jika Ia benar-benar Allah, bagaimana mungkin Ia menderita dan mati?
Perdebatan tersebut menghasilkan berbagai formulasi kristologis. Salah satu titik penting adalah Konsili Nicea tahun 325, yang menolak ajaran Arianisme yang memahami Anak sebagai makhluk ciptaan yang sangat tinggi. Nicea menegaskan bahwa Anak memiliki hakikat yang sama dengan Bapa. Kemudian Konsili Konstantinopel tahun 381 memperkuat rumusan mengenai Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Konsili Chalcedon tahun 451 berfokus pada identitas Kristus sebagai satu pribadi dengan dua natur, ilahi dan manusiawi.
Athanasius memainkan peran besar dalam perjuangan mempertahankan keyakinan Nicea. Bagi Athanasius, jika Kristus bukan Allah yang sejati, maka manusia pada akhirnya tidak benar-benar dipersatukan dengan Allah melalui Kristus. Gagasan tersebut sangat penting dalam teologi keselamatan Timur: Allah menjadi manusia agar manusia dapat menerima kehidupan ilahi. Meskipun tradisi Barat dan Timur kemudian mengembangkan bahasa teologis yang berbeda, keduanya mempertahankan pengakuan bahwa Yesus bukan sekadar ciptaan tertinggi.
Namun, penting untuk memahami bahwa konsili-konsili tersebut tidak dipandang oleh tradisi Kristen sebagai upaya menciptakan identitas Yesus dari nol. Para teolog gereja menganggap mereka sedang merumuskan secara lebih tepat apa yang sudah diyakini berdasarkan Kitab Suci dan tradisi apostolik, terutama karena muncul perbedaan penafsiran mengenai siapa Yesus. Jadi, terdapat perbedaan antara mengatakan bahwa gereja “baru menciptakan keilahian Yesus” pada abad keempat dan mengatakan bahwa gereja abad keempat “merumuskan secara filosofis dan terminologis” keyakinan mengenai Yesus yang telah berkembang sejak zaman Perjanjian Baru. Pernyataan kedua jauh lebih sesuai dengan gambaran sejarah doktrin.
Apakah Semua Orang Kristen Memahami Keilahian Yesus dengan Cara yang Sama?
Tidak sepenuhnya. Kekristenan memiliki banyak denominasi dan tradisi teologis, sehingga terdapat perbedaan dalam penekanan mengenai bagaimana sifat dan karya Kristus dijelaskan. Namun, dalam tradisi Kristen arus utama seperti Katolik, Ortodoks Timur, dan sebagian besar Protestan, terdapat kesepakatan mendasar bahwa Yesus Kristus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia.
Gereja Katolik menegaskan iman kepada Yesus Kristus sebagai Anak Allah yang menjadi manusia. Gereja Ortodoks Timur juga mempertahankan pengakuan Nicea dan Chalcedon. Banyak gereja Protestan, termasuk tradisi Lutheran, Reformed, Anglikan, dan Evangelikal, menerima keilahian Kristus dan Trinitas sebagai bagian mendasar dari iman Kristen. Dengan demikian, meskipun terdapat perbedaan besar dalam sakramen, gereja, keselamatan, dan liturgi, pertanyaan mengenai keilahian Yesus pada umumnya dijawab secara afirmatif dalam Kekristenan historis arus utama.
Akan tetapi, dalam sejarah Kekristenan terdapat kelompok-kelompok yang menolak formulasi tersebut. Arianisme, misalnya, menganggap Anak lebih rendah daripada Bapa dan bukan Allah yang kekal dalam pengertian Nicea. Dalam zaman modern juga terdapat kelompok-kelompok non-Trinitarian yang memahami Yesus secara berbeda. Karena itu, jika seseorang bertanya “apa yang dipercaya Kekristenan?”, kita harus membedakan antara Kekristenan arus utama historis dan kelompok-kelompok yang menggunakan identitas Kristen tetapi menolak doktrin Trinitas.
Pembedaan ini penting agar pembahasan tidak menjadi terlalu menyederhanakan. Pernyataan “Yesus adalah Tuhan” merupakan pengakuan fundamental dalam Kekristenan Trinitarian, tetapi cara menjelaskan hubungan antara keilahian Yesus, kemanusiaan-Nya, dan Bapa membutuhkan kerangka teologis yang jauh lebih kompleks. Di sinilah istilah seperti Trinitas, inkarnasi, dua natur Kristus, dan Anak Allah menjadi penting.
Jadi, Apa Jawaban Kekristenan: Tuhan atau Anak Tuhan?
Jika pertanyaannya disusun secara sederhana, jawabannya adalah: menurut Kekristenan arus utama, Yesus adalah Anak Allah dan juga sungguh-sungguh Tuhan. Kedua pernyataan tersebut tidak dianggap bertentangan karena “Anak Allah” tidak berarti “makhluk yang diciptakan oleh Allah”. Sebaliknya, Anak menunjuk kepada hubungan kekal antara Yesus dan Bapa.
Yesus bukan Allah Bapa. Ia adalah Anak. Namun, menurut doktrin Trinitas, Anak memiliki natur ilahi yang sama dengan Bapa. Karena itu, ketika orang Kristen mengatakan “Yesus adalah Tuhan”, mereka tidak sedang mengatakan bahwa Yesus adalah satu-satunya pribadi dalam Allah dan bahwa Bapa tidak ada. Mereka mengatakan bahwa Yesus adalah pribadi kedua dalam Trinitas, Anak yang kekal, yang mengambil natur manusia.
Kesaksian Perjanjian Baru mengenai Yesus berjalan dalam beberapa arah sekaligus. Ia benar-benar manusia: Ia lahir, bertumbuh, lapar, haus, menangis, berdoa, menderita, dan mati. Tetapi Ia juga digambarkan sebagai Firman yang sudah ada sebelum penciptaan, melalui siapa segala sesuatu diciptakan, yang memiliki hubungan unik dengan Bapa, menerima gelar “Tuhan”, dan setelah kebangkitan menerima penghormatan yang sangat tinggi dari komunitas Kristen.
Karena itu, dalam kerangka Kekristenan, pertanyaan yang lebih tepat bukanlah “Apakah Yesus Tuhan atau Anak Tuhan?”, melainkan “Bagaimana mungkin Yesus adalah Anak Allah sekaligus Tuhan?” Jawaban historis Kekristenan adalah melalui doktrin Trinitas dan inkarnasi: satu Allah, tiga pribadi Bapa, Anak, dan Roh Kudus serta satu pribadi Yesus Kristus yang memiliki dua natur, ilahi dan manusiawi.
Apakah Yesus Itu Tuhan atau Anak Tuhan?
Pertanyaan “Apakah Yesus itu Tuhan atau Anak Tuhan?” muncul karena bahasa Alkitab memang menggunakan banyak gelar untuk Yesus dan karena hubungan Yesus dengan Allah Bapa sangat kompleks. Namun, dalam Kekristenan arus utama, kedua istilah tersebut tidak dipandang sebagai dua pilihan yang harus dipertentangkan. Yesus disebut Anak Allah karena hubungan-Nya yang unik dan kekal dengan Bapa, sementara Ia disebut Tuhan karena Kekristenan percaya bahwa Ia sungguh mengambil bagian dalam keilahian.
Alkitab tidak mengajarkan bahwa Yesus adalah “anak Tuhan” dalam arti biologis atau makhluk yang diciptakan Allah. Yohanes menggambarkan Firman yang sejak semula bersama-sama dengan Allah dan yang menjadi manusia. Paulus menggambarkan Kristus dalam hubungan dengan penciptaan dan kemuliaan ilahi. Tomas menyebut Yesus yang bangkit sebagai “Tuhanku dan Allahku”. Filipi 2 menggambarkan Kristus dalam “rupa Allah” yang merendahkan diri menjadi manusia. Kolose 1 menempatkan Kristus dalam hubungan dengan penciptaan dan keberadaan segala sesuatu. Semua teks tersebut menjadi bagian dari dasar yang kemudian dirumuskan dalam doktrin Kristen mengenai keilahian Kristus.
Pada saat yang sama, Kekristenan tidak menghapus kemanusiaan Yesus. Justru salah satu ciri penting iman Kristen adalah keyakinan bahwa Yesus sungguh manusia. Ia berdoa kepada Bapa, taat kepada Bapa, menderita, mati, dan mengalami kehidupan manusia secara nyata. Karena itu, Kekristenan tidak mengatakan bahwa Yesus adalah Allah yang sekadar mengenakan tubuh manusia seperti mengenakan pakaian. Ia adalah Anak yang kekal yang benar-benar mengambil natur manusia.
Maka, jika harus diringkas dalam satu kalimat, jawaban Kekristenan adalah: Yesus adalah Anak Allah, tetapi “Anak Allah” tidak berarti Ia bukan Tuhan; menurut iman Kristen Trinitarian, Yesus adalah Anak yang kekal, sungguh Allah dan sungguh manusia, berbeda dari Bapa sebagai pribadi tetapi satu dengan Bapa dalam keilahian.
Dengan memahami hal tersebut, kita dapat melihat mengapa identitas Yesus menjadi pusat seluruh Kekristenan. Pertanyaan mengenai siapa Yesus sekaligus menentukan bagaimana orang Kristen memahami Allah, keselamatan, dosa, pengampunan, salib, kebangkitan, dan kehidupan kekal. Bagi Kekristenan, Yesus bukan hanya seseorang yang membawa manusia kepada Allah. Dalam iman Kristen, di dalam diri Yesus sendiri Allah hadir dan bertindak untuk menyelamatkan manusia.
Daftar Referensi
Alkitab tidak mengajarkan bahwa Yesus adalah “anak Tuhan” dalam arti biologis atau makhluk yang diciptakan Allah. Yohanes menggambarkan Firman yang sejak semula bersama-sama dengan Allah dan yang menjadi manusia. Paulus menggambarkan Kristus dalam hubungan dengan penciptaan dan kemuliaan ilahi. Tomas menyebut Yesus yang bangkit sebagai “Tuhanku dan Allahku”. Filipi 2 menggambarkan Kristus dalam “rupa Allah” yang merendahkan diri menjadi manusia. Kolose 1 menempatkan Kristus dalam hubungan dengan penciptaan dan keberadaan segala sesuatu. Semua teks tersebut menjadi bagian dari dasar yang kemudian dirumuskan dalam doktrin Kristen mengenai keilahian Kristus.
Pada saat yang sama, Kekristenan tidak menghapus kemanusiaan Yesus. Justru salah satu ciri penting iman Kristen adalah keyakinan bahwa Yesus sungguh manusia. Ia berdoa kepada Bapa, taat kepada Bapa, menderita, mati, dan mengalami kehidupan manusia secara nyata. Karena itu, Kekristenan tidak mengatakan bahwa Yesus adalah Allah yang sekadar mengenakan tubuh manusia seperti mengenakan pakaian. Ia adalah Anak yang kekal yang benar-benar mengambil natur manusia.
Maka, jika harus diringkas dalam satu kalimat, jawaban Kekristenan adalah: Yesus adalah Anak Allah, tetapi “Anak Allah” tidak berarti Ia bukan Tuhan; menurut iman Kristen Trinitarian, Yesus adalah Anak yang kekal, sungguh Allah dan sungguh manusia, berbeda dari Bapa sebagai pribadi tetapi satu dengan Bapa dalam keilahian.
Dengan memahami hal tersebut, kita dapat melihat mengapa identitas Yesus menjadi pusat seluruh Kekristenan. Pertanyaan mengenai siapa Yesus sekaligus menentukan bagaimana orang Kristen memahami Allah, keselamatan, dosa, pengampunan, salib, kebangkitan, dan kehidupan kekal. Bagi Kekristenan, Yesus bukan hanya seseorang yang membawa manusia kepada Allah. Dalam iman Kristen, di dalam diri Yesus sendiri Allah hadir dan bertindak untuk menyelamatkan manusia.
Daftar Referensi
- Athanasius. On the Incarnation.
- Bauckham, Richard. Jesus and the God of Israel: God Crucified and Other Studies on the New Testament's Christology of Divine Identity. Eerdmans.
- Brown, Raymond E. The Gospel According to John I–XII. Anchor Bible.
- Brown, Raymond E. The Gospel According to John XIII–XXI. Anchor Bible.
- Dunn, James D. G. Christology in the Making: A New Testament Inquiry into the Origins of the Doctrine of the Incarnation. SCM Press.
- Hurtado, Larry W. Lord Jesus Christ: Devotion to Jesus in Earliest Christianity. Eerdmans.
- Ayres, Lewis. Nicaea and Its Legacy: An Approach to Fourth-Century Trinitarian Theology. Oxford University Press.
- Wright, N. T. The Resurrection of the Son of God. Fortress Press.
- Wright, N. T. Paul and the Faithfulness of God. Fortress Press.
- Meier, John P. A Marginal Jew: Rethinking the Historical Jesus. Yale University Press.
- Sanders, E. P. The Historical Figure of Jesus. Penguin Books.
- The Holy Bible: Gospel according to Matthew, Mark, Luke, John; Acts; Romans; 1 Corinthians; 2 Corinthians; Philippians; Colossians; Hebrews; Revelation.
- Nicene-Constantinopolitan Creed.
- Definition of Chalcedon.
- Apostles’ Creed.

