🌐
Translate this article
Choose your preferred language

Siapa Sebenarnya Yesus Menurut Ajaran Kristen? Memahami Yesus sebagai Manusia, Mesias, Anak Allah, Tuhan, dan Juruselamat

Kristen - Di antara seluruh tokoh yang pernah muncul dalam sejarah agama-agama dunia, Yesus dari Nazaret merupakan salah satu figur yang paling banyak dibicarakan, diteliti, diperdebatkan, dan ditafsirkan. Selama hampir dua ribu tahun, kehidupan dan kematian-Nya telah melahirkan berbagai karya teologi, filsafat, seni, sastra, musik, gerakan sosial, dan perdebatan intelektual. Namun, di balik begitu banyak pembahasan tersebut terdapat satu pertanyaan yang sebenarnya sangat sederhana tetapi sekaligus sangat dalam: siapakah Yesus sebenarnya? Pertanyaan ini menjadi sangat penting karena Kekristenan tidak hanya dibangun di atas ajaran yang disampaikan Yesus, tetapi terutama di atas keyakinan mengenai siapa Yesus itu.

Jika Yesus hanya dipahami sebagai seorang guru moral, maka Kekristenan akan terlihat terutama sebagai agama yang mengajarkan kasih, pengampunan, kerendahan hati, dan kepedulian kepada sesama. Jika Yesus hanya dipahami sebagai seorang nabi, maka Kekristenan akan tampak sebagai tradisi yang meneruskan pewartaan tentang Allah melalui seorang utusan. Jika Yesus hanya dipahami sebagai seorang pemimpin agama, maka kematian-Nya dapat dipandang sebagai tragedi seorang reformator yang dibunuh oleh kekuasaan politik dan agama pada zamannya. Namun, iman Kristen menyatakan sesuatu yang jauh lebih besar: Yesus adalah Kristus, Anak Allah, Firman yang menjadi manusia, Tuhan, dan Juruselamat manusia.

Pernyataan tersebut merupakan salah satu klaim paling besar dalam sejarah agama. Kekristenan tidak hanya mengatakan bahwa Allah mengutus Yesus untuk menyampaikan pesan tertentu. Kekristenan klasik mengatakan bahwa dalam Yesus Kristus, Allah sendiri hadir dalam sejarah manusia. Karena itu, pertanyaan tentang Yesus sekaligus menjadi pertanyaan tentang Allah. Siapa Yesus berhubungan dengan bagaimana umat Kristen memahami Allah, keselamatan, dosa, manusia, kehidupan kekal, dan tujuan sejarah. Jika identitas Yesus dipahami secara berbeda, maka hampir seluruh struktur teologi Kristen juga akan berubah.

Perjanjian Baru memberikan berbagai gambaran mengenai Yesus. Ia disebut “Kristus”, “Anak Allah”, “Anak Manusia”, “Tuhan”, “Juruselamat”, dan “Firman”. Ia dilahirkan sebagai manusia, hidup di tengah masyarakat Yahudi, mengajar tentang Kerajaan Allah, menyembuhkan orang sakit, mengampuni dosa, memanggil murid-murid, berkonflik dengan sejumlah pemimpin keagamaan, ditangkap, disalibkan di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, dan menurut kesaksian para murid-Nya, dibangkitkan dari kematian. Setelah itu, para pengikut-Nya memberitakan bahwa Allah telah meninggikan Yesus dan menjadikan-Nya Tuhan serta Kristus.

Karena itu, memahami Yesus menurut Kekristenan membutuhkan lebih dari sekadar membaca satu atau dua ayat. Kita perlu melihat keseluruhan kesaksian Injil dan tulisan Perjanjian Baru, memperhatikan konteks Yahudi abad pertama, melihat bagaimana gereja awal memahami Yesus, dan kemudian memahami bagaimana gereja merumuskan keyakinannya mengenai keilahian dan kemanusiaan Kristus. Kita juga perlu membedakan antara apa yang secara langsung dikatakan dalam teks Perjanjian Baru dan bagaimana gereja kemudian merumuskan doktrin secara lebih sistematis.

Pertanyaan tentang Yesus juga tidak hanya memiliki satu dimensi. Ada pertanyaan historis: siapakah Yesus dari Nazaret sebagai tokoh abad pertama? Ada pertanyaan teologis: siapakah Yesus menurut iman Kristen? Ada pertanyaan kristologis: bagaimana memahami hubungan antara kemanusiaan dan keilahian Yesus? Ada pertanyaan soteriologis: mengapa Yesus disebut Juruselamat? Dan ada pertanyaan eskatologis: mengapa umat Kristen percaya bahwa Yesus akan datang kembali?

Dengan demikian, artikel ini tidak akan berhenti pada pernyataan bahwa “Yesus adalah Tuhan” tanpa menjelaskan apa maksudnya. Kita akan melihat secara bertahap bagaimana Kekristenan memahami Yesus sebagai manusia sejati, Mesias yang dijanjikan, Anak Allah, Firman yang menjadi manusia, Tuhan, Juruselamat, dan Kristus yang bangkit serta akan datang kembali.

Yesus Adalah Tokoh Historis: Yesus dari Nazaret dalam Konteks Abad Pertama
Sebelum membahas siapa Yesus menurut teologi Kristen, penting terlebih dahulu memahami bahwa Yesus bukanlah tokoh mitologis yang muncul tanpa konteks sejarah. Ia ditempatkan dalam konteks Palestina abad pertama, ketika wilayah tersebut berada di bawah kekuasaan Romawi dan masyarakat Yahudi hidup dalam lingkungan sosial, politik, dan keagamaan yang kompleks. Injil menyebut Nazaret sebagai tempat yang berkaitan erat dengan kehidupan Yesus, sementara pelayanan-Nya terutama berlangsung di Galilea dan kemudian menuju Yerusalem. Nama Pontius Pilatus, Herodes, imam-imam besar, dan berbagai kelompok Yahudi memberikan konteks historis bagi kisah hidup-Nya.

Sebagian besar sarjana sejarah Perjanjian Baru menerima bahwa Yesus dari Nazaret benar-benar merupakan tokoh sejarah. Perdebatan akademis umumnya bukan mengenai apakah Yesus pernah hidup, melainkan mengenai bagaimana tepatnya merekonstruksi kehidupan-Nya dan bagaimana menafsirkan tindakan serta perkataan-Nya. E. P. Sanders, misalnya, menempatkan Yesus secara kuat dalam konteks Yudaisme abad pertama dan menilai bahwa beberapa fakta dasar mengenai kehidupan-Nya memiliki dasar historis yang kuat. John P. Meier melalui karya besarnya A Marginal Jew juga berusaha melakukan rekonstruksi historis terhadap Yesus dengan membedakan antara data yang memiliki tingkat kemungkinan historis yang berbeda.

Yesus hidup sebagai seorang Yahudi. Ia menghadiri sinagoga, membaca Kitab Suci Israel, berbicara mengenai Taurat, merayakan hari raya Yahudi, dan menggunakan bahasa serta simbol yang berasal dari tradisi Israel. Pengajaran-Nya mengenai Allah, Kerajaan Allah, pertobatan, kasih kepada sesama, dan kehidupan yang benar tidak dapat dilepaskan dari lingkungan Yahudi tersebut. Bahkan ketika Ia mengkritik praktik keagamaan tertentu, kritik tersebut berlangsung dari dalam dunia Yahudi, bukan dari luar sebagai seorang tokoh yang sama sekali asing terhadap tradisi tersebut.

N. T. Wright sangat menekankan konteks tersebut. Menurut pembacaannya, Yesus harus dipahami sebagai tokoh Yahudi yang melihat diri-Nya dan pelayanan-Nya dalam hubungan dengan cerita besar Israel mengenai Allah, penciptaan, Abraham, Musa, kerajaan Daud, para nabi, pembuangan, dan harapan akan pemulihan. Dengan demikian, Yesus bukan sekadar guru etika universal yang kebetulan berasal dari Palestina. Ia adalah seorang Yahudi abad pertama yang memberitakan sesuatu yang menurut-Nya sedang dilakukan Allah terhadap Israel dan dunia.

Namun, Kekristenan tidak berhenti pada rekonstruksi historis tersebut. Justru dari kehidupan tokoh historis itulah muncul klaim iman yang sangat besar. Gereja pertama tidak hanya berkata bahwa Yesus pernah hidup. Mereka memberitakan bahwa Yesus yang disalibkan telah dibangkitkan oleh Allah. Dari sinilah identitas Yesus mulai dipahami dalam kategori-kategori yang jauh lebih tinggi daripada sekadar guru atau nabi.

Yesus Adalah Manusia Sejati Menurut Kekristenan
Salah satu aspek penting dalam ajaran Kristen adalah bahwa Yesus benar-benar menjadi manusia. Ini bukan sekadar mengatakan bahwa Yesus tampak seperti manusia atau memiliki tubuh manusia tetapi pada hakikatnya tidak mengalami kehidupan manusia. Kekristenan klasik mengajarkan bahwa Yesus mempunyai kemanusiaan yang sejati. Ia lahir, bertumbuh, merasa lapar, haus, lelah, menangis, mengalami penderitaan, dan akhirnya mati.

Injil memberikan banyak gambaran mengenai kemanusiaan Yesus. Ia mengalami kelelahan setelah perjalanan. Ia merasa lapar setelah berpuasa. Ia menangis ketika menghadapi kematian Lazarus. Di Taman Getsemani, Ia mengalami kesedihan dan tekanan yang sangat berat menjelang penyaliban. Di kayu salib, Ia mengalami penderitaan dan kematian. Semua ini menjadi penting karena Kekristenan tidak melihat inkarnasi sebagai permainan simbolis. Allah, menurut iman Kristen, benar-benar masuk ke dalam kondisi manusia.

Surat kepada jemaat di Ibrani bahkan menekankan bahwa Yesus mampu bersimpati terhadap kelemahan manusia karena Ia sendiri telah mengalami pencobaan dan penderitaan. Ibrani 4:15 menyatakan bahwa Ia telah dicobai dalam segala hal seperti manusia, tetapi tidak berbuat dosa. Filipi 2:6-8 juga menggambarkan Kristus yang mengambil rupa seorang hamba dan merendahkan diri-Nya dengan menjadi taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib.

Dalam sejarah gereja, penegasan mengenai kemanusiaan Yesus menjadi sangat penting karena muncul berbagai pandangan yang dianggap terlalu menekankan keilahian sehingga mengurangi kemanusiaan-Nya, atau sebaliknya. Konsili Chalcedon pada tahun 451 menghasilkan rumusan penting bahwa Kristus adalah satu pribadi dalam dua kodrat, ilahi dan manusiawi, tanpa percampuran dan tanpa pemisahan. Rumusan tersebut merupakan usaha gereja untuk mempertahankan dua keyakinan sekaligus: Yesus benar-benar Allah dan benar-benar manusia.

Sarjana seperti Richard Bauckham dan Larry Hurtado menunjukkan bahwa penghormatan tinggi terhadap Yesus muncul sangat awal dalam Kekristenan. Namun, penghormatan terhadap keilahian-Nya tidak menghapus kesadaran bahwa Ia adalah manusia. Justru bagi Kekristenan, kemanusiaan Yesus merupakan bagian penting dari keselamatan. Jika Kristus tidak benar-benar menjadi manusia, maka penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya tidak memiliki makna yang sama dalam kerangka keselamatan Kristen.

Karena itu, ketika orang Kristen mengatakan bahwa Yesus adalah Allah, mereka tidak bermaksud mengatakan bahwa Yesus bukan manusia. Sebaliknya, doktrin inkarnasi menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah benar-benar Allah dan benar-benar manusia. Inilah salah satu misteri utama iman Kristen dan sekaligus salah satu pusat kristologi gereja.

Mengapa Yesus Disebut Kristus atau Mesias?
Kata “Kristus” merupakan salah satu istilah paling penting untuk memahami identitas Yesus. Banyak orang mengira Kristus adalah nama belakang Yesus, padahal sebenarnya “Kristus” merupakan gelar. Dalam bahasa Yunani, Christos berarti “yang diurapi”, sedangkan dalam bahasa Ibrani terdapat istilah Mashiach, yang kemudian dikenal sebagai “Mesias”. Jadi, ketika umat Kristen mengatakan “Yesus Kristus”, mereka sedang menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias.

Dalam tradisi Israel, pengurapan memiliki hubungan dengan jabatan dan panggilan tertentu, terutama raja dan imam. Harapan mengenai Mesias berkembang dalam berbagai bentuk sepanjang sejarah Israel. Ada harapan tentang raja keturunan Daud, pemulihan kerajaan, pembebasan Israel, kehadiran Allah, dan pemulihan umat. Karena itu, ketika Yesus disebut Kristus, gelar tersebut memiliki makna yang sangat besar dalam konteks abad pertama.

Namun, Yesus tidak memenuhi harapan Mesianik sebagian orang dengan cara yang mereka bayangkan. Banyak orang pada zaman itu mungkin mengharapkan pemimpin yang akan membebaskan Israel dari kekuasaan Romawi melalui kekuatan politik atau militer. Sebaliknya, Yesus berbicara mengenai Kerajaan Allah, mengajarkan kasih kepada musuh, melayani orang lain, dan akhirnya mati di kayu salib. Bahkan ketika Petrus mengakui Yesus sebagai Kristus dalam Markus 8, Yesus segera mulai menjelaskan bahwa jalan Mesias mencakup penderitaan.

Hal tersebut menunjukkan bahwa Yesus menafsirkan identitas Mesianik secara berbeda dari gambaran kekuasaan duniawi. Dalam Markus 10:45, Ia berbicara mengenai Anak Manusia yang datang untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang. Dalam Injil, jalan menuju kemuliaan berjalan melalui penderitaan dan pelayanan. Ini menjadi salah satu pembalikan nilai yang sangat penting dalam Kekristenan: kekuasaan sejati tidak terutama diwujudkan melalui dominasi, tetapi melalui pemberian diri.

N. T. Wright menekankan bahwa Yesus memahami misi-Nya dalam hubungan dengan kisah Israel dan harapan Kerajaan Allah. Dalam pembacaan Wright, Yesus bukan hanya mengklaim bahwa Kerajaan Allah akan datang pada masa depan. Melalui pelayanan-Nya, Ia menyatakan bahwa tindakan pemerintahan Allah sudah mulai terjadi. Penyembuhan, pengampunan, penerimaan terhadap orang-orang yang terpinggirkan, dan panggilan untuk bertobat menjadi tanda bahwa sesuatu yang baru sedang dimulai.

Karena itu, menyebut Yesus sebagai Kristus berarti lebih daripada mengatakan bahwa Ia adalah seorang pemimpin agama. Gelar tersebut menyatakan bahwa Ia dipahami sebagai Mesias yang dijanjikan, Raja yang membawa Kerajaan Allah, tetapi menjalankan misi-Nya melalui pelayanan, penderitaan, kematian, dan kebangkitan.

Apa Arti “Anak Allah” Ketika Diterapkan kepada Yesus?
Istilah “Anak Allah” juga sangat penting dalam Perjanjian Baru. Namun, istilah tersebut tidak boleh langsung dipahami dengan pengertian biologis atau fisik. Dalam konteks Alkitab, istilah “anak Allah” dapat memiliki berbagai nuansa, termasuk hubungan khusus dengan Allah, status kerajaan, atau hubungan yang sangat unik dengan-Nya. Ketika diterapkan kepada Yesus dalam Perjanjian Baru, istilah tersebut berkembang menjadi salah satu cara utama gereja menyatakan identitas ilahi-Nya.

Dalam Injil Markus, suara dari surga pada saat baptisan Yesus menyatakan, “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi.” Dalam kisah transfigurasi, suara dari awan kembali menyatakan bahwa Yesus adalah Anak yang dikasihi. Injil Yohanes memberikan penggunaan yang bahkan lebih tinggi. Yohanes 5:18 menyatakan bahwa para pemimpin Yahudi memahami klaim Yesus mengenai Allah sebagai sesuatu yang menempatkan diri-Nya dalam hubungan unik dengan Allah.

Yohanes 1 memberikan dasar yang sangat penting bagi pemahaman ini. “Pada mulanya adalah Firman”, dan Firman itu bersama-sama dengan Allah serta Firman itu adalah Allah. Kemudian Yohanes 1:14 menyatakan bahwa Firman tersebut menjadi manusia. Dalam teologi Kristen, bagian ini menjadi dasar utama bagi gagasan bahwa Yesus bukan sekadar manusia yang kemudian mendapatkan status ilahi, tetapi bahwa dalam diri Yesus, Firman Allah mengambil kodrat manusia.

Surat kepada jemaat di Filipi juga memberikan gambaran yang sangat tinggi tentang Kristus. Filipi 2:6-11 menggambarkan Kristus yang memiliki “rupa Allah”, kemudian merendahkan diri dan mengambil rupa seorang hamba, serta akhirnya ditinggikan sehingga setiap lutut bertelut dan setiap lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Banyak sarjana melihat bagian ini sebagai salah satu teks kristologis paling penting dalam Perjanjian Baru.

Larry Hurtado, dalam Lord Jesus Christ, berpendapat bahwa penghormatan kepada Yesus sebagai figur yang memiliki status luar biasa dalam kehidupan ibadah muncul sangat awal. Ia meneliti praktik doa, pujian, baptisan, dan formula iman untuk menunjukkan bahwa komunitas Kristen awal tidak membutuhkan waktu berabad-abad untuk mulai menghormati Yesus secara tinggi. Richard Bauckham juga berpendapat bahwa Yesus ditempatkan dalam “identitas ilahi” yang dalam tradisi Yahudi hanya layak bagi Allah.

Karena itu, “Anak Allah” dalam iman Kristen tidak berarti Allah mempunyai seorang anak dalam pengertian biologis. Istilah tersebut menunjuk kepada hubungan unik Yesus dengan Allah dan, dalam teologi Kristen klasik, kepada keilahian-Nya sebagai Anak yang kekal.

Apakah Yesus Mengaku sebagai Tuhan?
Pertanyaan mengenai apakah Yesus sendiri mengaku sebagai Tuhan merupakan salah satu pertanyaan paling kompleks dalam studi Kekristenan. Tidak semua pernyataan Yesus dalam Injil berbentuk kalimat langsung seperti “Aku adalah Allah.” Karena itu, jika seseorang mencari satu kalimat sederhana sebagai satu-satunya bukti, ia mungkin tidak menemukan apa yang diharapkannya. Namun, Perjanjian Baru menggunakan berbagai cara untuk menggambarkan hubungan Yesus dengan Allah.

Salah satu contoh paling terkenal terdapat dalam Injil Yohanes. Yohanes 8:58 mencatat Yesus berkata, “Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Yohanes menggunakan bahasa yang kemudian dipahami oleh banyak pembaca Kristen sebagai sesuatu yang sangat tinggi karena mengingatkan pada bahasa mengenai nama ilahi dalam Kitab Keluaran. Yohanes 10:30 mencatat pernyataan Yesus, “Aku dan Bapa adalah satu.” Yohanes 20:28 kemudian menggambarkan Tomas berkata kepada Yesus, “Ya Tuhanku dan Allahku.”

Selain pernyataan verbal, tindakan Yesus juga menjadi bagian dari argumen kristologis. Dalam beberapa kisah, Yesus mengampuni dosa. Para ahli Taurat mempertanyakan otoritas tersebut karena pengampunan dosa dipandang sebagai hak Allah. Dalam Markus 2, Yesus menyembuhkan orang lumpuh setelah menyatakan pengampunan dosa. Narasi tersebut menunjukkan bahwa pengampunan dan penyembuhan ditempatkan dalam hubungan dengan otoritas Yesus.

Yesus juga menerima penghormatan dari para murid-Nya dan dalam beberapa bagian Injil menerima tindakan yang menyerupai penghormatan religius. Setelah kebangkitan, Matius 28 menggambarkan murid-murid menyembah Yesus. Dalam Filipi 2, penghormatan kepada Yesus bahkan menggunakan bahasa yang sangat tinggi mengenai setiap lutut yang bertelut dan setiap lidah mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan.

James D. G. Dunn dan sejumlah sarjana lain memberikan perhatian besar terhadap perkembangan kristologi awal dan bagaimana komunitas pertama memahami Yesus. Ada perdebatan akademis mengenai bagaimana tepatnya keyakinan tentang keilahian Yesus berkembang, tetapi penelitian modern tidak mendukung gambaran sederhana bahwa keilahian Yesus baru ditemukan berabad-abad kemudian. Berbagai bentuk penghormatan dan kristologi tinggi sudah muncul dalam sumber-sumber Kristen paling awal.

Karena itu, jawaban Kristen terhadap pertanyaan ini adalah bahwa Yesus memang dipahami sebagai Tuhan. Namun, pengakuan tersebut harus dibaca dalam kerangka monoteisme Yahudi. Orang Kristen awal tidak bermaksud mengatakan bahwa mereka meninggalkan kepercayaan kepada satu Allah lalu mulai menyembah dewa baru bernama Yesus. Mereka justru percaya bahwa Yesus termasuk dalam identitas ilahi Allah yang esa.

Apa Arti Inkarnasi: Bagaimana Allah Menjadi Manusia?
Inkarnasi merupakan istilah teologis yang digunakan untuk menjelaskan keyakinan bahwa Firman Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Kata “inkarnasi” berasal dari bahasa Latin incarnatio, yang secara harfiah berhubungan dengan “menjadi daging”. Dasar utamanya terdapat dalam Yohanes 1:14: Firman itu telah menjadi manusia dan tinggal di antara manusia. Bagi Kekristenan, ini berarti bahwa Allah tidak hanya berbicara dari kejauhan, tetapi memasuki sejarah manusia.

Konsep ini sangat penting karena Kekristenan memahami Yesus bukan sebagai manusia yang berhasil naik menjadi Allah, melainkan sebagai Allah yang mengambil kodrat manusia. Ini merupakan perbedaan yang sangat besar. Dalam kerangka teologi Kristen, keilahian bukanlah hadiah yang diberikan kepada Yesus karena prestasi moral-Nya. Sebaliknya, Anak sudah memiliki keberadaan ilahi dan kemudian mengambil kemanusiaan dalam inkarnasi.

Surat Filipi 2 sering digunakan untuk menjelaskan gerakan tersebut. Kristus yang memiliki rupa Allah mengambil rupa seorang hamba dan merendahkan diri. Injil Yohanes menggunakan bahasa Firman atau Logos. Surat kepada jemaat di Kolose menyatakan bahwa Kristus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan dan melalui-Nya segala sesuatu diciptakan. Ibrani 1 menyebut Anak sebagai cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah.

Athanasius dari Aleksandria menjadi salah satu tokoh paling penting dalam perkembangan doktrin inkarnasi. Dalam On the Incarnation, ia menjelaskan bahwa keselamatan manusia berkaitan dengan tindakan Allah yang memasuki kondisi manusia untuk memulihkan manusia. Dalam tradisi Timur, gagasan ini kemudian berkembang dalam konsep theosis, yaitu partisipasi manusia dalam kehidupan ilahi melalui rahmat. Dengan demikian, inkarnasi bukan hanya jawaban atas pertanyaan “siapa Yesus?”, tetapi juga menjadi dasar bagi pertanyaan “bagaimana manusia diselamatkan?”

Konsili Chalcedon kemudian menegaskan bahwa Kristus adalah satu pribadi dengan dua kodrat, ilahi dan manusiawi. Rumusan ini dimaksudkan untuk menghindari dua ekstrem: menjadikan Yesus hanya Allah dengan kemanusiaan yang semu, atau menjadikan Yesus hanya manusia yang kemudian memiliki hubungan khusus dengan Allah. Kekristenan klasik memilih jalan yang lebih kompleks: Yesus Kristus sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia.

Mengapa Yesus Disebut Juruselamat?
Jika Yesus adalah Kristus dan Tuhan, lalu apa yang dimaksud dengan mengatakan bahwa Ia adalah Juruselamat? Dalam Kekristenan, Yesus disebut Juruselamat karena melalui Dia Allah menyelamatkan manusia dari dosa, keterasingan dari Allah, dan kuasa maut. Keselamatan tidak hanya berarti pembebasan dari hukuman, tetapi mencakup pemulihan hubungan manusia dengan Allah dan pembaruan hidup.

Nama “Yesus” sendiri memiliki hubungan etimologis dengan nama Ibrani Yehoshua atau Yeshua, yang berkaitan dengan gagasan bahwa Allah menyelamatkan. Matius 1:21 memberikan penjelasan mengenai nama tersebut ketika malaikat menyampaikan bahwa anak itu akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka. Dengan demikian, sejak awal Injil Matius menghubungkan identitas Yesus dengan misi keselamatan.

Paulus mengembangkan pemahaman keselamatan dalam berbagai bahasa. Manusia dibenarkan, didamaikan dengan Allah, ditebus, dibebaskan, dan dipersatukan dengan Kristus. Tidak ada satu metafora yang sepenuhnya menjelaskan keselamatan. Karena itu, tradisi Kristen sepanjang sejarah menggunakan berbagai model untuk menjelaskan karya Kristus: korban, penebusan, kemenangan, pendamaian, pembenaran, rekonsiliasi, dan pembaruan manusia.

Gustaf Aulén menekankan model Christus Victor, yaitu Kristus sebagai pemenang atas kuasa dosa dan maut. Anselmus menekankan kepuasan. Martin Luther dan tradisi Reformasi mengembangkan pembahasan mengenai pembenaran dan penggantian hukuman. Dalam tradisi Ortodoks Timur, keselamatan sering dijelaskan dalam bahasa penyembuhan dan partisipasi dalam kehidupan Allah. Perbedaan ini menunjukkan bahwa Kekristenan mempunyai kekayaan bahasa ketika menjelaskan apa yang dilakukan Kristus.

Namun, seluruh model tersebut memiliki pusat yang sama: keselamatan berasal dari tindakan Allah dalam Kristus. Yesus bukan hanya orang yang memberi contoh tentang bagaimana manusia menyelamatkan dirinya sendiri. Dalam iman Kristen, Ia adalah pribadi yang melalui kematian dan kebangkitan-Nya menjadi jalan rekonsiliasi antara Allah dan manusia.

Mengapa Yesus Harus Mati di Kayu Salib?
Kematian Yesus merupakan bagian paling paradoks dalam Kekristenan. Jika Yesus benar-benar Kristus dan Tuhan, mengapa Ia harus mati? Mengapa Mesias justru berakhir di kayu salib? Dalam dunia Romawi, penyaliban merupakan bentuk hukuman yang sangat memalukan dan brutal. Namun, Kekristenan kemudian menjadikan salib sebagai simbol utamanya. Ini menunjukkan bahwa gereja pertama melihat kematian Yesus bukan sebagai kegagalan yang tidak disengaja, melainkan sebagai bagian dari karya keselamatan.

Yesus sendiri dalam Injil berbicara mengenai penderitaan dan kematian-Nya. Dalam Markus 8, setelah Petrus mengakui-Nya sebagai Kristus, Yesus mulai mengajarkan bahwa Anak Manusia harus mengalami banyak penderitaan, ditolak, dibunuh, dan bangkit kembali. Dalam Markus 10:45, Ia menghubungkan kematian-Nya dengan pelayanan dan pemberian hidup bagi banyak orang. Dalam Perjamuan Terakhir, darah-Nya dikaitkan dengan perjanjian.

Paulus kemudian menjadikan salib sebagai pusat pemberitaan. Dalam 1 Korintus 1:23, ia mengatakan bahwa Kristus yang disalibkan merupakan inti pemberitaan gereja. Dalam Galatia 2:20, Paulus menggambarkan hidupnya dalam hubungan dengan Kristus yang telah mengasihi dan memberikan diri baginya. Dalam Roma 5, kematian Kristus dikaitkan dengan kasih Allah kepada manusia yang berdosa.

John Stott dalam The Cross of Christ menekankan bahwa salib harus dipahami sebagai pusat iman Kristen karena di dalamnya bertemu kasih, kekudusan, keadilan, dan keselamatan Allah. Sementara itu, Gustaf Aulén mengingatkan bahwa gereja awal juga melihat salib sebagai kemenangan Allah atas kuasa yang memperbudak manusia. Dengan demikian, salib tidak hanya berarti “Yesus dihukum menggantikan manusia”, meskipun gagasan tersebut sangat penting dalam sebagian tradisi. Salib memiliki banyak dimensi teologis.

Karena itu, bagi Kekristenan, salib bukan simbol kekalahan Yesus. Justru melalui sesuatu yang tampak sebagai kekalahan, Allah diyakini mengerjakan kemenangan. Yesus memberikan diri-Nya, menanggung penderitaan, dan mati; tetapi kematian tersebut kemudian diikuti kebangkitan. Inilah struktur dasar Injil Kristen: salib dan kebangkitan tidak dapat dipisahkan.

Mengapa Kebangkitan Menentukan Identitas Yesus?
Tanpa kebangkitan, pemahaman Kristen tentang Yesus akan berubah secara radikal. Para murid mungkin tetap mengenang-Nya sebagai guru yang luar biasa, tetapi Kekristenan sebagaimana dikenal sekarang tidak akan memiliki dasar yang sama. Paulus bahkan berkata dalam 1 Korintus 15 bahwa jika Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah iman Kristen. Dengan demikian, kebangkitan bukan tambahan setelah cerita Yesus selesai. Kebangkitan merupakan bagian dari identitas-Nya sebagai Kristus dan Tuhan.

Injil-injil menceritakan bahwa makam Yesus ditemukan kosong dan bahwa para murid mengalami penampakan Yesus setelah kematian-Nya. Paulus dalam 1 Korintus 15 memberikan daftar kesaksian mengenai penampakan Kristus kepada Kefas, kedua belas murid, dan kelompok-kelompok lainnya. Ia juga menyebut dirinya sendiri sebagai orang yang mengalami penampakan Kristus. Kesaksian tersebut menunjukkan bahwa keyakinan terhadap kebangkitan sudah menjadi bagian penting dari komunitas Kristen paling awal.

N. T. Wright meneliti secara panjang lebar konsep kebangkitan dalam Yudaisme abad pertama dan Kekristenan awal. Menurutnya, kepercayaan bahwa seseorang telah bangkit dari kematian dalam arti tubuh bukanlah gagasan yang biasa pada zaman itu. Justru karena itu, kemunculan keyakinan tersebut membutuhkan penjelasan historis. Wright berpendapat bahwa kombinasi makam kosong dan pengalaman yang dipahami sebagai penampakan Yesus yang bangkit merupakan bagian penting untuk memahami lahirnya gerakan Kristen.

Kebangkitan juga mengubah makna salib. Jika Yesus mati dan tetap mati, maka salib hanya menjadi simbol pengorbanan seorang martir. Tetapi jika Yesus dibangkitkan, salib menjadi bagian dari kemenangan Allah. Kebangkitan menunjukkan bahwa maut tidak mampu mempertahankan Yesus. Dalam Kisah Para Rasul, pemberitaan para rasul secara konsisten berpusat pada kenyataan bahwa Yesus yang mereka bunuh telah dibangkitkan Allah.

Karena itu, ketika Kekristenan menyebut Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, keyakinan tersebut tidak dapat dipisahkan dari kebangkitan. Yesus yang hidup, mati, dan bangkit adalah Yesus yang diberitakan gereja. Kebangkitan menjadi dasar pengharapan Kristen bahwa kematian bukan akhir dan bahwa karya keselamatan Allah akan mencapai kepenuhannya.

Apa Arti “Anak Manusia” yang Sering Dipakai Yesus?
Salah satu gelar paling menarik dalam Injil adalah “Anak Manusia”. Dalam Injil Sinoptik, Yesus sering menggunakan istilah ini untuk berbicara mengenai diri-Nya. Istilah tersebut memiliki latar belakang yang kompleks dalam Kitab Daniel dan tradisi apokaliptik Yahudi, terutama Daniel 7. Di sana terdapat figur “seperti anak manusia” yang datang dengan awan-awan dan menerima kerajaan serta kuasa.

Dalam Injil, istilah Anak Manusia digunakan dalam beberapa konteks. Kadang-kadang berkaitan dengan otoritas Yesus di bumi, seperti ketika Ia mengampuni dosa. Kadang-kadang berkaitan dengan penderitaan dan kematian-Nya. Dalam bagian lain berkaitan dengan kedatangan-Nya dalam kemuliaan. Karena itu, gelar tersebut tidak dapat diterjemahkan hanya sebagai “manusia biasa”. Ia mempunyai dimensi kemanusiaan sekaligus eskatologis.

Daniel 7 menjadi penting karena gambaran “anak manusia” berhubungan dengan pemerintahan Allah dan kemenangan atas kerajaan-kerajaan yang menindas. Yesus menggunakan bahasa tersebut ketika berbicara tentang kerajaan, penghakiman, penderitaan, dan kedatangan-Nya. Ini menunjukkan bahwa identitas-Nya dalam Injil tidak hanya berkaitan dengan masa kini, tetapi juga dengan masa depan.

N. T. Wright memberikan perhatian besar terhadap konsep tersebut dalam rekonstruksi historisnya mengenai Yesus. Menurutnya, penggunaan istilah Anak Manusia harus dibaca dalam konteks cerita Israel dan harapan apokaliptik. Yesus tidak sekadar menyebut diri-Nya “manusia”; Ia menggunakan bahasa yang menghubungkan pelayanan-Nya dengan pemerintahan Allah dan penghakiman akhir.

Karena itu, gelar Anak Manusia membantu menunjukkan bahwa Yesus dipahami sebagai tokoh yang mempunyai peranan dalam sejarah keselamatan yang jauh lebih besar daripada guru moral. Ia adalah figur yang berhubungan dengan kerajaan Allah, penderitaan Mesianik, penghakiman, dan masa depan umat manusia.

Apakah Yesus Hanya Mengajarkan Kasih atau Juga Mengajarkan Kerajaan Allah?
Banyak orang mengenal Yesus terutama sebagai guru kasih. Hal itu benar, tetapi tidak lengkap. Salah satu tema paling penting dalam pelayanan Yesus adalah Kerajaan Allah. Injil Markus 1:15 merangkum pemberitaan awal Yesus dengan berita bahwa waktu telah genap, Kerajaan Allah sudah dekat, manusia harus bertobat dan percaya kepada Injil.

Kerajaan Allah bukan sekadar tempat yang disebut “surga”. Kerajaan Allah terutama berbicara tentang pemerintahan Allah, yaitu keadaan ketika kehendak Allah dijalankan dan kuasa yang melawan-Nya dikalahkan. Dalam Doa Bapa Kami, Yesus mengajarkan agar murid-murid berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.” Ini menunjukkan bahwa pemerintahan Allah memiliki konsekuensi terhadap kehidupan manusia sekarang.

Perumpamaan-perumpamaan Yesus banyak berbicara mengenai Kerajaan Allah. Kerajaan digambarkan seperti biji sesawi, ragi, harta tersembunyi, dan mutiara yang sangat berharga. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa Kerajaan Allah kadang-kadang hadir dengan cara yang tampaknya kecil tetapi mempunyai dampak besar. Yesus juga menghubungkan Kerajaan dengan pembalikan status sosial: yang terakhir dapat menjadi yang terdahulu, yang rendah hati ditinggikan, dan orang miskin mendapat perhatian.

Kerajaan Allah juga menjelaskan mengapa ajaran moral Yesus begitu radikal. Kasih kepada musuh, pengampunan, perhatian kepada orang miskin, penolakan terhadap kesombongan, dan pelayanan bukan sekadar aturan moral terpisah. Semuanya merupakan karakter kehidupan di bawah pemerintahan Allah. Dalam perspektif tersebut, menjadi pengikut Yesus berarti hidup sebagai warga Kerajaan Allah.

Dengan demikian, Yesus tidak hanya berkata, “Jadilah orang baik.” Ia memberitakan bahwa Allah sedang bertindak untuk memulihkan dunia, dan manusia dipanggil untuk bertobat, percaya, serta mengambil bagian dalam kehidupan Kerajaan tersebut.

Bagaimana Yesus Berhubungan dengan Allah Bapa?
Hubungan antara Yesus dan Allah Bapa merupakan salah satu aspek paling dalam dalam iman Kristen. Yesus berdoa kepada Bapa, berbicara kepada Bapa, menaati Bapa, dan mengajarkan murid-murid-Nya untuk berdoa kepada Bapa. Ini menunjukkan adanya perbedaan relasional antara Yesus sebagai Anak dan Bapa. Namun, pada saat yang sama, Injil Yohanes memberikan gambaran mengenai kesatuan yang sangat mendalam antara keduanya.

Dalam Yohanes 5, Yesus berbicara mengenai hubungan-Nya dengan Bapa dalam konteks karya memberi hidup dan menghakimi. Dalam Yohanes 10, Ia menyatakan kesatuan dengan Bapa. Dalam Yohanes 14, Ia berbicara tentang hubungan yang sedemikian erat sehingga mengenal Dia berkaitan dengan mengenal Bapa. Dalam Yohanes 17, Yesus berdoa agar murid-murid mengalami kesatuan sebagaimana Ia dan Bapa berada dalam hubungan kesatuan.

Perbedaan antara Bapa dan Anak menjadi dasar penting bagi doktrin Tritunggal. Kekristenan tidak mengatakan bahwa Bapa dan Anak adalah satu pribadi yang sama dengan dua nama berbeda. Bapa bukan Anak, Anak bukan Roh Kudus, tetapi ketiganya dipahami berada dalam satu kehidupan ilahi. Inilah sebabnya teologi Kristen berbicara mengenai “pribadi” dan “hakikat” ketika menjelaskan Tritunggal.

Lewis Ayres dalam kajiannya mengenai teologi Tritunggal abad keempat menunjukkan bahwa gereja berusaha mempertahankan dua hal sekaligus: keesaan Allah dan keilahian Anak serta Roh Kudus. Konsili Nicea menjadi titik penting dalam perdebatan tersebut. Penggunaan istilah homoousios dimaksudkan untuk menegaskan bahwa Anak bukan makhluk ciptaan yang lebih rendah, tetapi memiliki hakikat ilahi yang sama dengan Bapa.

Karena itu, ketika Yesus berdoa kepada Bapa, Kekristenan tidak melihat hal tersebut sebagai bukti bahwa Yesus bukan Allah. Dalam teologi inkarnasi, Yesus adalah manusia sejati yang menjalani kehidupan manusia sepenuhnya, termasuk kehidupan doa dan ketaatan. Hubungan Bapa dan Anak merupakan bagian dari misteri Tritunggal sekaligus kehidupan manusiawi Yesus dalam inkarnasi.

Apakah Yesus Adalah Satu-satunya Jalan Keselamatan Menurut Kekristenan?
Dalam Injil Yohanes 14:6, Yesus mengatakan, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” Pernyataan tersebut menjadi salah satu dasar penting bagi keyakinan Kristen bahwa keselamatan memiliki hubungan khusus dengan Kristus. Dalam Kisah Para Rasul 4:12, Petrus juga menyatakan bahwa keselamatan tidak terdapat di dalam siapapun selain Yesus. Paulus berbicara mengenai Kristus sebagai satu-satunya pengantara antara Allah dan manusia dalam 1 Timotius 2:5.

Namun, bagaimana tepatnya ayat-ayat tersebut harus diterapkan terhadap orang-orang yang berada di luar Kekristenan merupakan persoalan teologis yang kompleks. Tidak semua tradisi Kristen memberikan jawaban yang identik. Sebagian tradisi menekankan bahwa keselamatan hanya melalui iman eksplisit kepada Kristus. Tradisi lain memberikan ruang bagi kemungkinan bahwa kasih karunia Kristus dapat bekerja pada manusia yang tidak mengenal Kristus secara eksplisit, tetapi tetap hidup menurut suara hati dan mencari kebenaran.

Konsili Vatikan II, misalnya, memberikan formulasi yang lebih luas mengenai hubungan keselamatan dan orang-orang yang belum mengenal Injil secara eksplisit. Dalam Lumen Gentium 16, Gereja Katolik berbicara mengenai kemungkinan keselamatan bagi mereka yang tanpa kesalahan sendiri belum mengenal Injil tetapi dengan tulus mencari Allah dan berusaha melakukan kehendak-Nya sesuai pemahaman mereka. Namun, keselamatan tersebut tetap dipahami dalam kerangka rahmat Kristus, bukan sebagai keselamatan yang terpisah dari Kristus.

Di kalangan Protestan dan Evangelikal terdapat spektrum pandangan yang juga luas. Sebagian menekankan eksklusivisme, sebagian membahas inklusivisme, sementara sebagian teolog mengembangkan pendekatan yang lebih kompleks mengenai nasib orang-orang yang belum pernah mendengar Injil. Karena itu, tidak tepat mengatakan bahwa seluruh orang Kristen memiliki satu jawaban teknis yang identik mengenai persoalan tersebut.

Namun, pada tingkat dasar, Kekristenan tetap mempertahankan klaim bahwa Kristus adalah pusat dan sumber keselamatan manusia. Bagi orang Kristen, keselamatan bukan sekadar hasil dari moralitas manusia, tetapi merupakan karya Allah yang berhubungan dengan Kristus.

Apakah Yesus Masih Relevan bagi Kehidupan Manusia Sekarang?
Pertanyaan tentang relevansi Yesus tidak hanya berkaitan dengan sejarah. Bagi miliaran orang Kristen, Yesus bukan tokoh masa lalu yang hanya dipelajari melalui buku. Ia dipahami sebagai Kristus yang hidup, hadir melalui Roh Kudus, dan menjadi pusat kehidupan iman. Karena itu, hubungan dengan Yesus tidak dianggap selesai dengan mempelajari kehidupan-Nya dua ribu tahun yang lalu.

Ajaran Yesus mengenai kasih, pengampunan, kerendahan hati, pelayanan, kepedulian kepada orang miskin, dan kasih kepada musuh terus menjadi dasar kehidupan Kristen. Dalam dunia yang dipenuhi konflik, persaingan, nasionalisme, kekerasan, dan polarisasi, perintah Yesus untuk mengasihi musuh merupakan tantangan moral yang sangat serius. Dalam dunia yang mengukur keberhasilan melalui kekayaan dan status, ajaran Yesus tentang orang miskin dan bahaya keterikatan terhadap harta juga tetap relevan.

Namun, Kekristenan tidak hanya mempertahankan Yesus sebagai guru etika. Jika Yesus hanya dianggap sebagai guru moral, maka inti pengakuan Kristen hilang. Kekristenan percaya bahwa Yesus yang mengajarkan kasih adalah Yesus yang disalibkan dan bangkit. Dengan demikian, etika Kristen tidak berdiri terpisah dari kristologi. Orang Kristen mengasihi karena mereka percaya telah terlebih dahulu menerima kasih Allah dalam Kristus.

C. S. Lewis dalam Mere Christianity terkenal karena membahas pertanyaan mengenai identitas Yesus dan menolak gagasan bahwa Yesus dapat dengan mudah ditempatkan hanya sebagai “guru moral yang hebat” apabila kesaksian Injil mengenai diri-Nya diterima. Walaupun argumen Lewis memiliki konteks apologetika tertentu, gagasan dasarnya membantu menjelaskan mengapa pertanyaan tentang identitas Yesus tidak dapat dipisahkan dari keputusan iman.

Dengan demikian, relevansi Yesus dalam Kekristenan bukan hanya karena ajaran moral-Nya masih berguna. Ia relevan karena umat Kristen percaya bahwa Yesus adalah Kristus yang hidup, Tuhan yang bangkit, Juruselamat manusia, dan pusat hubungan manusia dengan Allah.

Jadi, Siapa Sebenarnya Yesus Menurut Ajaran Kristen?
Setelah seluruh pembahasan tersebut, kita dapat melihat bahwa Kekristenan memberikan beberapa gelar kepada Yesus, tetapi gelar-gelar tersebut tidak berdiri sendiri. Yesus adalah manusia sejati yang hidup dalam sejarah. Ia adalah orang Yahudi dari Nazaret yang memberitakan Kerajaan Allah. Ia adalah guru yang mengajarkan kasih, pertobatan, pengampunan, dan kehidupan di bawah pemerintahan Allah. Namun, Ia juga lebih dari sekadar guru.

Yesus adalah Kristus atau Mesias, yaitu pribadi yang dipahami sebagai penggenapan harapan keselamatan dalam sejarah Israel. Ia adalah Anak Allah, bukan dalam pengertian biologis, tetapi dalam hubungan unik dan kekal dengan Allah Bapa. Ia adalah Firman yang menjadi manusia, sebagaimana dinyatakan dalam prolog Injil Yohanes. Ia adalah Tuhan, yang menerima penghormatan ilahi dan ditempatkan dalam identitas ilahi Allah yang esa.

Yesus juga adalah Juruselamat, karena kematian dan kebangkitan-Nya dipahami sebagai tindakan Allah untuk mengalahkan dosa dan maut serta mendamaikan manusia dengan Allah. Ia adalah Anak Manusia, figur yang berhubungan dengan kerajaan, penderitaan, penghakiman, dan kedatangan dalam kemuliaan. Dan Ia adalah Kristus yang bangkit, yang menurut iman Kristen telah mengalahkan maut dan akan datang kembali untuk menyempurnakan Kerajaan Allah.

Semua gelar tersebut akhirnya bertemu dalam satu pribadi. Inilah yang membuat kristologi menjadi pusat teologi Kristen. Pertanyaan “Siapakah Yesus?” sekaligus menjadi pertanyaan “Siapakah Allah?”, “Apa masalah manusia?”, “Bagaimana manusia diselamatkan?”, dan “Ke mana arah sejarah?” Jika Yesus adalah manusia biasa, maka jawabannya akan sangat berbeda. Jika Ia hanya nabi, struktur Kekristenan juga akan berbeda. Tetapi iman Kristen menyatakan bahwa dalam Yesus, Allah dan manusia bertemu secara unik.

Siapa Sebenarnya Yesus Menurut Ajaran Kristen?
Jadi, siapa sebenarnya Yesus menurut ajaran Kristen? Jawaban paling mendasar adalah bahwa Yesus Kristus adalah pusat seluruh iman Kristen: manusia sejati, Mesias yang dijanjikan, Anak Allah, Firman yang menjadi manusia, Tuhan, Juruselamat, yang disalibkan, bangkit dari kematian, dan akan datang kembali.

Yesus benar-benar manusia menurut Kekristenan. Ia lahir, bertumbuh, bekerja, makan, minum, merasa lapar, lelah, sedih, menangis, berdoa, mengalami pencobaan, menderita, dan mati. Kemanusiaan-Nya bukan sesuatu yang hanya tampak dari luar. Kekristenan klasik mempertahankan bahwa Yesus mempunyai kemanusiaan sejati. Karena itu, ketika orang Kristen berbicara tentang inkarnasi, yang dimaksud bukan Allah berpura-pura menjadi manusia, tetapi Firman Allah sungguh-sungguh mengambil kodrat manusia.

Pada saat yang sama, Kekristenan mengajarkan bahwa Yesus bukan hanya manusia. Ia adalah Kristus atau Mesias, Anak Allah, dan Tuhan. Injil Yohanes menyebut-Nya sebagai Firman yang menjadi manusia. Paulus berbicara tentang Kristus dalam bahasa yang sangat tinggi. Para murid awal menyembah-Nya dan mengakui-Nya sebagai Tuhan. Gereja kemudian merumuskan keyakinan tersebut melalui berbagai konsili, terutama Nicea dan Chalcedon, untuk mempertahankan keyakinan bahwa Yesus sepenuhnya ilahi dan sepenuhnya manusia.

Kematian Yesus di kayu salib merupakan bagian penting dari identitas-Nya sebagai Juruselamat. Kekristenan tidak memahami salib sebagai kecelakaan sejarah semata. Salib dipahami sebagai tindakan pemberian diri, pendamaian, penebusan, dan kemenangan Allah atas dosa dan maut. Berbagai tradisi Kristen memberikan penekanan yang berbeda terhadap makna salib, tetapi semuanya melihat kematian Kristus sebagai pusat karya keselamatan.

Namun, salib tidak dapat dipisahkan dari kebangkitan. Yesus yang diberitakan gereja bukanlah seorang guru yang mati dan kemudian hanya dikenang oleh para pengikut-Nya. Gereja pertama memberitakan bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari kematian. Kebangkitan menjadi dasar iman bahwa Yesus adalah Kristus dan Tuhan, sekaligus dasar pengharapan Kristen bahwa maut bukanlah akhir kehidupan manusia.

Yesus juga tidak hanya mengajarkan bagaimana manusia harus hidup. Ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengundang manusia untuk bertobat serta percaya. Kasih kepada Allah, kasih kepada sesama, kasih kepada musuh, pengampunan, kerendahan hati, pelayanan, keadilan, dan kepedulian kepada yang lemah merupakan konsekuensi dari kehidupan dalam Kerajaan Allah. Karena itu, Kekristenan tidak dapat direduksi menjadi moralitas tanpa Kristus. Moralitas Kristen berasal dari hubungan dengan Allah yang dipahami melalui Kristus.

Jika seluruh ajaran tersebut dirangkum dalam satu kalimat, maka dapat dikatakan bahwa Kekristenan percaya bahwa Allah menyatakan diri dan karya keselamatan-Nya secara unik dalam Yesus Kristus, yang sungguh-sungguh manusia dan sungguh-sungguh ilahi, mati untuk manusia, dibangkitkan dari kematian, dan menjadi pusat pengharapan manusia akan kehidupan yang dipulihkan bersama Allah.

Itulah sebabnya pertanyaan “Siapa Yesus?” merupakan pertanyaan paling penting dalam Kekristenan. Bagi orang Kristen, Yesus bukan hanya seseorang yang pernah hidup dua ribu tahun lalu. Ia adalah Kristus yang hidup. Ia bukan hanya guru yang kata-katanya dikenang, tetapi Tuhan yang kepada-Nya iman diarahkan. Ia bukan hanya teladan moral, tetapi Juruselamat. Dan Ia bukan hanya tokoh masa lalu, tetapi pribadi yang menurut iman Kristen akan datang kembali ketika Kerajaan Allah mencapai kepenuhannya.

Dengan demikian, untuk memahami Kekristenan secara utuh, seseorang tidak cukup hanya bertanya, “Apa yang Yesus ajarkan?” Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: “Siapakah Yesus itu?” Sebab hampir seluruh ajaran Kristen tentang Allah, dosa, keselamatan, kasih, gereja, kebangkitan, kehidupan kekal, dan masa depan dunia pada akhirnya kembali kepada jawaban atas pertanyaan tersebut.

Daftar Referensi
  • Alkitab, terutama Kejadian; Keluaran; Mazmur; Yesaya; Daniel; Matius; Markus; Lukas; Yohanes; Kisah Para Rasul; Roma; 1 Korintus; Galatia; Filipi; Kolose; Ibrani; dan Wahyu.
  • Armstrong, Karen. A History of God: The 4,000-Year Quest of Judaism, Christianity and Islam. New York: Alfred A. Knopf, 1993.
  • Athanasius of Alexandria. On the Incarnation. Berbagai edisi dan terjemahan.
  • Aulén, Gustaf. Christus Victor: An Historical Study of the Three Main Types of the Idea of Atonement. London: SPCK, 1931.
  • Ayres, Lewis. Nicaea and Its Legacy: An Approach to Fourth-Century Trinitarian Theology. Oxford: Oxford University Press, 2004.
  • Bauckham, Richard. Jesus and the God of Israel: God Crucified and Other Studies on the New Testament's Christology of Divine Identity. Grand Rapids: Eerdmans, 2008.
  • Brown, Raymond E. An Introduction to the New Testament. New York: Doubleday, 1997.
  • Dunn, James D. G. Christology in the Making: A New Testament Inquiry into the Origins of the Doctrine of the Incarnation. Grand Rapids: Eerdmans, 1980.
  • Hurtado, Larry W. Lord Jesus Christ: Devotion to Jesus in Earliest Christianity. Grand Rapids: Eerdmans, 2003.
  • Lewis, C. S. Mere Christianity. London: Geoffrey Bles, 1952.
  • Meier, John P. A Marginal Jew: Rethinking the Historical Jesus. New York: Doubleday, berbagai volume.
  • Sanders, E. P. Jesus and Judaism. Philadelphia: Fortress Press, 1985.
  • Stott, John. The Cross of Christ. Downers Grove: InterVarsity Press, 1986.
  • Wright, N. T. The Resurrection of the Son of God. Minneapolis: Fortress Press, 2003.
  • Wright, N. T. Jesus and the Victory of God. Minneapolis: Fortress Press, 1996.
  • Wright, N. T. Simply Jesus: A New Vision of Who He Was, What He Did and Why He Matters. New York: HarperOne, 2011.
  • The Apostles' Creed atau Pengakuan Iman Rasuli.
  • The Nicene-Constantinopolitan Creed atau Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel.
  • The Definition of Chalcedon, Konsili Chalcedon, 451 M.
  • Lumen Gentium, Konsili Vatikan II, terutama bagian mengenai Kristus, Gereja, dan keselamatan.
  • The Didache, salah satu dokumen Kristen awal mengenai kehidupan, moralitas, dan praktik komunitas Kristen perdana.
  • Ignatius of Antioch, berbagai surat kepada gereja-gereja awal, terutama bagian-bagian mengenai Kristologi dan identitas Yesus.