🌐
Translate this article
Choose your preferred language

Apa Itu Kristen dan Apa Ajaran Utama Kekristenan? Memahami Yesus Kristus, Keselamatan, Kasih, Iman, dan Kehidupan Kristen

KristenKekristenan atau agama Kristen merupakan salah satu tradisi keagamaan terbesar dan paling berpengaruh dalam sejarah manusia. Selama hampir dua ribu tahun, ajaran yang berpusat pada kehidupan dan pribadi Yesus Kristus ini telah berkembang dari sebuah gerakan keagamaan yang muncul di lingkungan Yahudi abad pertama menjadi tradisi global dengan beragam gereja, denominasi, liturgi, teologi, tradisi spiritual, dan kebudayaan. Kekristenan hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari Katolik, Ortodoks Timur, Ortodoks Oriental, Protestan, Anglikan, hingga berbagai gereja independen dan gerakan Kristen lainnya. Karena keragaman tersebut, seseorang yang ingin memahami apa sebenarnya Kekristenan perlu membedakan antara ajaran-ajaran yang menjadi inti iman Kristen dengan praktik atau doktrin yang hanya menjadi ciri kelompok tertentu.

Pada tingkat paling mendasar, Kekristenan adalah iman kepada Allah yang dinyatakan dalam sejarah Israel dan secara khusus dipahami oleh umat Kristen melalui pribadi, kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus. Nama “Kristen” sendiri berasal dari sebutan bagi para pengikut Kristus. Dalam Kisah Para Rasul 11:26 disebutkan bahwa para murid pertama kali disebut Kristen di Antiokhia. Istilah tersebut kemudian menjadi identitas bagi komunitas yang mengakui Yesus sebagai Kristus, yaitu Mesias, dan sebagai pusat keselamatan yang dijanjikan dalam sejarah iman Israel. Dengan demikian, Kekristenan tidak dapat dipahami hanya sebagai sistem moral yang mengajarkan agar manusia menjadi baik. Moralitas memang sangat penting dalam Kekristenan, tetapi pusatnya adalah hubungan manusia dengan Allah melalui Yesus Kristus.

Hal tersebut menjelaskan mengapa pertanyaan tentang “siapa Yesus?” menjadi jauh lebih penting daripada sekadar pertanyaan tentang “apa yang diajarkan Yesus?” Dalam iman Kristen, Yesus bukan hanya seorang guru moral seperti Socrates, filsuf seperti Plato, atau nabi dalam pengertian yang sama seperti tokoh-tokoh lain dalam sejarah agama. Perjanjian Baru memberikan kepada Yesus kedudukan yang sangat tinggi. Ia disebut Kristus, Anak Allah, Firman yang menjadi manusia, Tuhan, dan Juruselamat. Injil Yohanes bahkan membuka narasinya dengan menyatakan bahwa “Firman” atau Logos berada bersama Allah dan bahwa Firman itu adalah Allah, kemudian Firman tersebut menjadi manusia. Karena itu, memahami Kekristenan berarti terutama memahami klaim tentang identitas Yesus dan arti kehidupan, kematian, serta kebangkitan-Nya.

Di sisi lain, Kekristenan juga mempunyai pemahaman yang khas tentang manusia. Manusia dipandang sebagai ciptaan Allah yang memiliki martabat karena diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, tetapi sekaligus berada dalam keadaan dosa dan keterasingan dari Allah. Dosa dalam Kekristenan bukan hanya berarti melakukan kesalahan moral tertentu, melainkan keadaan mendasar ketika manusia berpaling dari Allah dan menempatkan kehendaknya sendiri sebagai pusat kehidupan. Karena itu, keselamatan dalam Kekristenan bukan hanya berarti mendapatkan kehidupan yang lebih nyaman atau menjadi manusia yang lebih baik secara sosial. Keselamatan berhubungan dengan pemulihan hubungan manusia dengan Allah, pengampunan dosa, pembaruan hidup, dan pada akhirnya kehidupan kekal bersama Allah.

Ajaran Kristen juga sangat menekankan kasih. Yesus merangkum hukum yang terutama dengan mengasihi Allah dengan segenap hati dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Dalam Injil, kasih bahkan diperluas kepada musuh. Karena itu, Kekristenan tidak dapat dipahami hanya sebagai seperangkat kepercayaan tentang apa yang terjadi setelah kematian. Kekristenan juga merupakan cara hidup yang menuntut perubahan sikap terhadap Allah, sesama manusia, harta, kekuasaan, penderitaan, pengampunan, dan kehidupan sehari-hari. Dalam khotbah di bukit, Yesus memberikan gambaran tentang kehidupan yang berpusat pada belas kasih, kemurnian hati, rekonsiliasi, kerendahan hati, doa, pengampunan, dan kepercayaan kepada Allah.

Lalu apa sebenarnya ajaran utama Kekristenan? Apakah inti Kekristenan hanya percaya kepada Yesus? Apakah orang Kristen harus menaati Sepuluh Perintah Allah? Apa arti dosa dan keselamatan? Mengapa kematian Yesus di kayu salib dianggap penting? Mengapa kebangkitan Yesus menjadi pusat iman Kristen? Apa yang dimaksud dengan Tritunggal? Mengapa orang Kristen membaca Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru? Dan apakah semua gereja Kristen mengajarkan hal yang sama?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena Kekristenan bukan sekadar satu gagasan tunggal yang dapat dirangkum dalam satu kalimat. Namun, di balik keragaman sejarah dan denominasi, terdapat pusat iman yang relatif jelas: Allah, Yesus Kristus, Roh Kudus, dosa manusia, keselamatan, kasih, iman, pertobatan, kematian dan kebangkitan Kristus, kehidupan komunitas gereja, serta pengharapan akan kehidupan kekal dan pembaruan ciptaan.

Apa Itu Kekristenan dan Mengapa Disebut Kristen?
Secara sederhana, Kekristenan adalah tradisi iman yang menjadikan Yesus Kristus sebagai pusat kehidupan keagamaan dan teologisnya. Kata “Kristen” berasal dari kata Yunani Christianos, yang berarti orang yang mengikuti atau menjadi bagian dari Kristus. Sementara itu, “Kristus” bukan nama keluarga Yesus, melainkan gelar yang berasal dari bahasa Yunani Christos, yang berarti “yang diurapi” dan merupakan padanan dari istilah Ibrani Mashiach atau Mesias. Karena itu, ketika orang Kristen menyebut “Yesus Kristus”, mereka sedang mengakui bahwa Yesus adalah Kristus atau Mesias yang dijanjikan.

Gambaran tentang Kristus memiliki akar yang sangat kuat dalam Kitab Suci Israel. Dalam Perjanjian Lama, terdapat berbagai harapan mengenai raja yang diurapi, pemulihan Israel, kedatangan keselamatan Allah, dan pembentukan hubungan baru antara Allah dan umat-Nya. Para penulis Perjanjian Baru memahami kehidupan Yesus dalam hubungan dengan sejarah tersebut. Injil Matius, misalnya, berkali-kali menghubungkan peristiwa dalam kehidupan Yesus dengan tulisan para nabi. Lukas menggambarkan pelayanan Yesus dalam konteks sejarah keselamatan Israel. Paulus juga memahami kematian dan kebangkitan Kristus sebagai bagian dari karya Allah yang telah dijanjikan dalam Kitab Suci.

Karena itu, Kekristenan tidak muncul sebagai agama yang sama sekali terputus dari Yudaisme. Yesus sendiri hidup sebagai seorang Yahudi abad pertama. Para murid pertama-Nya juga berasal dari lingkungan Yahudi. Perjanjian Baru menggunakan Kitab Suci Israel sebagai dasar argumentasi teologisnya. Bahkan istilah “Perjanjian Baru” sendiri menunjukkan hubungan dengan gagasan tentang perjanjian Allah yang terdapat dalam tradisi Israel. Namun, Kekristenan kemudian berkembang menjadi komunitas yang mencakup bangsa-bangsa non-Yahudi dan memahami Yesus sebagai Mesias bagi seluruh umat manusia.

N. T. Wright, salah satu sarjana Perjanjian Baru kontemporer yang sangat berpengaruh, menekankan pentingnya memahami Yesus dalam konteks Yudaisme abad pertama. Menurut pembacaannya, Yesus tidak dapat dipahami secara tepat apabila dilepaskan dari cerita besar tentang Israel, kerajaan Allah, pembuangan, harapan Mesianik, dan janji Allah. E. P. Sanders juga menekankan pentingnya konteks Yahudi dalam memahami Yesus dan gerakan Kristen awal. Dengan demikian, Kekristenan pada awalnya bukan sekadar kumpulan prinsip moral universal, melainkan sebuah gerakan yang percaya bahwa tindakan Allah dalam sejarah Israel mencapai titik penting dalam kehidupan Yesus.

Seiring waktu, gerakan tersebut berkembang menjadi komunitas global. Gereja-gereja Kristen kemudian memiliki tradisi teologis dan liturgis yang berbeda-beda. Namun, di balik perbedaan tersebut tetap terdapat pengakuan umum bahwa Yesus Kristus adalah pusat iman Kristen. Karena itu, jika seseorang bertanya apa inti paling dasar dari Kekristenan, jawabannya bukan pertama-tama sebuah aturan moral, melainkan iman kepada Allah dan kepada karya keselamatan-Nya yang dipahami melalui Yesus Kristus.

Siapa Yesus Kristus Menurut Kekristenan?
Pertanyaan mengenai identitas Yesus merupakan pusat seluruh iman Kristen. Dalam Kekristenan, Yesus tidak hanya dipandang sebagai manusia yang mengajarkan moralitas. Ia dipahami sebagai Kristus, Anak Allah, Tuhan, dan Juruselamat. Perjanjian Baru menggunakan berbagai gelar untuk menggambarkan identitas-Nya, dan gelar-gelar tersebut tidak sekadar penghormatan sosial. Gelar itu mempunyai arti teologis yang berkaitan dengan hubungan Yesus dengan Allah, karya keselamatan, dan kedudukan-Nya dalam sejarah manusia.

Injil Markus membuka kisahnya dengan menyebut Yesus sebagai Kristus dan Anak Allah. Injil Matius menampilkan Yesus sebagai Mesias yang menggenapi harapan Kitab Suci Israel. Injil Lukas menampilkan Yesus sebagai pembawa keselamatan Allah. Sementara itu, Injil Yohanes memberikan gambaran yang sangat tinggi tentang identitas Yesus dengan konsep Logos. Yohanes 1 menyatakan bahwa Firman berada pada awal bersama Allah dan kemudian menjadi manusia. Dalam tradisi Kristen, bagian ini menjadi salah satu dasar penting bagi doktrin inkarnasi, yaitu keyakinan bahwa Firman Allah mengambil kodrat manusia dalam diri Yesus Kristus.

Pernyataan bahwa Yesus adalah “Anak Allah” juga tidak boleh dipahami hanya dalam pengertian biologis. Kekristenan klasik memahami hubungan antara Yesus dan Allah Bapa secara unik dan ilahi. Dalam Injil Yohanes, Yesus berbicara tentang hubungan-Nya dengan Bapa dengan cara yang sangat khas. Dalam Yohanes 10:30 terdapat pernyataan “Aku dan Bapa adalah satu”, sementara dalam Yohanes 14:9 Yesus mengatakan bahwa siapa yang telah melihat Dia telah melihat Bapa. Perikop-perikop tersebut menjadi bagian dari dasar refleksi teologis gereja mengenai hubungan antara Yesus dengan Allah.

Para sarjana berbeda dalam cara mereka menjelaskan bagaimana kesadaran dan identitas Yesus berkembang dalam sejarah komunitas Kristen awal, tetapi terdapat kesepakatan luas bahwa Yesus merupakan tokoh sentral dalam iman Kristen sejak tahap awal. Larry Hurtado, misalnya, menunjukkan bahwa penghormatan kepada Yesus muncul sangat awal dalam komunitas Kristen pertama. Richard Bauckham juga menekankan bahwa Perjanjian Baru menempatkan Yesus dalam identitas ilahi yang sangat tinggi. Dalam pembacaan teologis Kristen, ini berarti bahwa pengenalan terhadap Allah tidak dapat dipisahkan dari pengenalan terhadap Kristus.

Karena itu, Kekristenan bukan hanya agama yang berkata, “Ikutilah ajaran Yesus.” Kekristenan berkata lebih jauh: kenalilah Yesus sebagai Kristus dan Tuhan, percayalah kepada-Nya, dan hidupilah hubungan dengan Allah melalui Dia. Inilah alasan mengapa kehidupan Yesus, kematian-Nya, dan kebangkitan-Nya menjadi pusat seluruh pemberitaan gereja.

Apakah Kekristenan Percaya kepada Satu Allah atau Tiga Allah?
Salah satu ajaran Kristen yang paling sering menimbulkan pertanyaan adalah doktrin Tritunggal. Orang Kristen menyatakan bahwa mereka percaya kepada satu Allah, tetapi juga berbicara tentang Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Dari luar, pernyataan tersebut dapat terlihat seperti kontradiksi: jika ada Bapa, Anak, dan Roh Kudus, bukankah berarti ada tiga Allah? Kekristenan arus utama menjawab bahwa bukan demikian yang dimaksud. Tritunggal bukan ajaran tentang tiga Allah, melainkan pengakuan bahwa satu Allah ada sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

Doktrin Tritunggal berkembang dari usaha gereja awal untuk mempertahankan beberapa kesaksian iman sekaligus. Pertama, Allah itu satu. Kedua, Bapa adalah Allah. Ketiga, Yesus Kristus dipahami memiliki status ilahi. Keempat, Roh Kudus juga dipahami dalam cara yang melampaui sekadar kekuatan impersonal. Kelima, Bapa, Anak, dan Roh Kudus bukan pribadi yang sama dalam arti sederhana. Gereja kemudian menggunakan bahasa filosofis dan teologis untuk menjelaskan bagaimana semua pengakuan tersebut dapat dipertahankan tanpa mengatakan bahwa orang Kristen menyembah tiga Allah.

Matius 28:19 merupakan salah satu teks penting karena Yesus memerintahkan baptisan dalam “nama” Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Kata “nama” digunakan dalam bentuk tunggal meskipun tiga unsur disebutkan. Paulus juga menggunakan formula yang melibatkan Allah, Yesus Kristus, dan Roh Kudus, misalnya dalam 2 Korintus 13:13. Perjanjian Baru memang belum memberikan sebuah definisi filosofis Tritunggal seperti yang kemudian dirumuskan dalam konsili-konsili gereja, tetapi bahan-bahan yang kemudian menjadi dasar doktrin tersebut sudah terdapat dalam berbagai bagian Perjanjian Baru.

Konsili Nicea pada tahun 325 dan Konsili Konstantinopel pada tahun 381 memainkan peranan penting dalam perkembangan rumusan iman Kristen mengenai hubungan Bapa dan Anak serta Roh Kudus. Istilah seperti homoousios, yang berarti “sehakikat”, digunakan untuk menegaskan bahwa Anak tidak merupakan makhluk ciptaan yang lebih rendah daripada Bapa. Kajian sejarah oleh Lewis Ayres menunjukkan bahwa perkembangan doktrin Tritunggal perlu dipahami sebagai proses intelektual dan teologis yang kompleks, bukan sebagai penciptaan doktrin secara tiba-tiba berabad-abad setelah Yesus.

Karen Armstrong, dalam kajiannya mengenai sejarah Tuhan dan perkembangan tradisi monoteistik, juga menunjukkan bahwa bahasa tentang Tuhan berkembang melalui perdebatan intelektual dan pengalaman keagamaan yang panjang. Namun, dari sudut pandang iman Kristen klasik, Tritunggal bukan berarti manusia menemukan tiga dewa lalu menggabungkannya. Tritunggal adalah cara teologi Kristen menjelaskan keyakinannya bahwa Allah itu satu, tetapi Bapa, Anak, dan Roh Kudus semuanya mempunyai tempat yang fundamental dalam identitas dan karya Allah.

Apa Itu Alkitab dan Mengapa Menjadi Dasar Kekristenan?
Alkitab adalah kitab suci utama Kekristenan. Dalam tradisi Kristen, Alkitab terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama sebagian besar memiliki hubungan yang sangat erat dengan Kitab Suci Yahudi, sementara Perjanjian Baru berisi tulisan-tulisan yang muncul dari komunitas yang percaya kepada Yesus Kristus. Alkitab bukan satu buku yang ditulis oleh satu orang dalam satu periode sejarah, melainkan sebuah kumpulan tulisan yang berasal dari berbagai penulis, zaman, konteks sosial, genre sastra, dan situasi historis.

Perjanjian Lama mencakup kitab-kitab hukum atau Taurat, sejarah, sastra hikmat, mazmur, dan kitab para nabi. Kejadian menggambarkan penciptaan, manusia, kejatuhan, dan awal sejarah umat manusia. Keluaran menceritakan pembebasan Israel dari Mesir dan pembentukan perjanjian. Mazmur berisi doa, pujian, keluhan, dan pengharapan kepada Allah. Kitab para nabi berbicara mengenai keadilan, pertobatan, penyembahan yang benar, penghakiman, dan pengharapan akan pemulihan. Semua bagian tersebut menjadi latar penting bagi pemahaman Kristen tentang Allah dan manusia.

Perjanjian Baru terdiri atas empat Injil, Kisah Para Rasul, surat-surat, dan kitab Wahyu. Keempat Injil—Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes—memberikan kesaksian mengenai kehidupan, pengajaran, kematian, dan kebangkitan Yesus. Kisah Para Rasul menggambarkan perkembangan komunitas Kristen awal. Surat-surat Paulus, Petrus, Yohanes, Yakobus, Yudas, dan penulis lainnya membahas iman, kehidupan gereja, keselamatan, moralitas, dan pengharapan Kristen. Kitab Wahyu menggunakan bahasa simbolis dan apokaliptik untuk berbicara tentang kemenangan Allah dan penggenapan akhir.

Raymond E. Brown, salah satu ahli Perjanjian Baru Katolik yang sangat berpengaruh, menekankan pentingnya memahami kitab-kitab Perjanjian Baru dalam konteks komunitas yang melahirkan dan memeliharanya. N. T. Wright juga menekankan bahwa tulisan-tulisan Kristen awal harus dibaca sebagai bagian dari cerita besar mengenai Allah, Israel, Yesus, dan kerajaan Allah. Dengan demikian, Alkitab tidak hanya dipahami sebagai kumpulan kutipan yang dapat dipisahkan dari konteksnya. Cara membaca, genre, konteks sejarah, dan hubungan antarbagian sangat penting.

Bagi kebanyakan tradisi Kristen, Alkitab merupakan sumber utama bagi iman dan kehidupan. Namun, cara memahami otoritas Alkitab berbeda-beda. Katolik dan Ortodoks menempatkan Kitab Suci dalam hubungan erat dengan Tradisi dan kehidupan gereja, sedangkan banyak tradisi Protestan memberikan penekanan khusus pada otoritas Kitab Suci melalui prinsip sola Scriptura, meskipun penerapannya juga sangat beragam. Karena itu, ketika membicarakan “ajaran Alkitab”, penting untuk menyadari bahwa cara menafsirkan Alkitab merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan adanya keragaman di dalam Kekristenan.

Mengapa Manusia Membutuhkan Keselamatan Menurut Kekristenan?
Untuk memahami ajaran Kristen mengenai keselamatan, terlebih dahulu perlu memahami pandangan Kristen mengenai kondisi manusia. Dalam Kitab Kejadian, manusia digambarkan sebagai ciptaan Allah yang sangat baik dan diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Artinya, manusia mempunyai martabat yang sangat tinggi. Manusia diberi kemampuan untuk berhubungan dengan Allah, mengelola ciptaan, membangun komunitas, dan menjalani kehidupan moral. Namun, cerita Kejadian 3 menggambarkan masuknya dosa dan pemberontakan ke dalam pengalaman manusia.

Dalam teologi Kristen, dosa bukan hanya sekumpulan perbuatan buruk yang dilakukan secara individual. Dosa juga menggambarkan keterasingan manusia dari Allah dan kecenderungan manusia untuk menempatkan dirinya sendiri sebagai pusat. Paulus dalam Roma 3:23 mengatakan bahwa semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Dalam Roma 6:23, dosa digambarkan memiliki konsekuensi kematian, sementara karunia Allah adalah hidup kekal dalam Kristus. Dengan demikian, masalah manusia menurut Kekristenan bukan sekadar kurangnya pendidikan moral atau kurangnya pengetahuan.

Agustinus dari Hippo kemudian memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan pemikiran Kristen mengenai dosa asal. Ia menekankan bahwa manusia berada dalam keadaan yang tidak mampu sepenuhnya menyembuhkan dirinya sendiri dari dosa hanya dengan kekuatan moralnya. Martin Luther kemudian menekankan ketergantungan manusia kepada anugerah Allah. John Calvin mengembangkan pembahasan serupa mengenai kerusakan akibat dosa dan kebutuhan mutlak manusia terhadap anugerah. Namun, tradisi Katolik, Ortodoks, dan Protestan memiliki nuansa yang berbeda dalam menjelaskan bagaimana dosa, kehendak bebas, rahmat, dan keselamatan saling berhubungan.

Di sinilah gagasan tentang keselamatan menjadi sangat penting. Jika masalah manusia hanya dianggap sebagai kurangnya pengetahuan, maka solusi yang diperlukan cukup berupa pendidikan. Jika masalahnya hanya perilaku buruk, maka solusi dapat berupa aturan moral. Tetapi jika masalahnya adalah keterasingan dari Allah dan kerusakan mendalam dalam hubungan manusia dengan Allah serta sesamanya, maka keselamatan harus mencakup sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar pendidikan moral.

Menurut Kekristenan, keselamatan pada akhirnya merupakan karya Allah. Manusia dipanggil untuk beriman, bertobat, mengikuti Kristus, dan hidup dalam ketaatan, tetapi dasar keselamatan bukanlah prestasi manusia yang membuat manusia berhak menuntut Allah. Efesus 2:8-9 sangat sering digunakan dalam tradisi Protestan untuk menekankan bahwa keselamatan adalah karena kasih karunia melalui iman dan bukan hasil usaha manusia sehingga tidak ada alasan untuk menyombongkan diri. Tradisi Kristen yang berbeda memberikan penjelasan berbeda tentang hubungan antara iman, rahmat, perbuatan baik, sakramen, dan kehidupan gereja, tetapi semuanya mengakui pentingnya rahmat Allah dalam keselamatan.

Mengapa Salib Yesus Sangat Penting dalam Kekristenan?
Salah satu ciri paling khas Kekristenan adalah keyakinan bahwa kematian Yesus di kayu salib mempunyai arti keselamatan. Dalam banyak tradisi agama, kematian seseorang dapat dianggap sebagai tragedi, tetapi dalam Kekristenan kematian Yesus dipahami sebagai bagian dari karya penyelamatan Allah. Perjanjian Baru menggunakan berbagai gambaran untuk menjelaskan makna salib, termasuk pengorbanan, penebusan, pendamaian, pengampunan, kemenangan atas kuasa dosa dan maut, serta pemberian diri karena kasih.

Paulus memberikan tempat yang sangat besar kepada salib. Dalam 1 Korintus 1:18, ia berbicara mengenai “pemberitaan tentang salib” sebagai kekuatan Allah bagi mereka yang diselamatkan. Dalam 1 Korintus 15:3-4, Paulus merangkum Injil dengan menyebut bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa manusia, dikuburkan, dan dibangkitkan pada hari ketiga sesuai dengan Kitab Suci. Artinya, kematian Yesus dan kebangkitan-Nya tidak dapat dipisahkan. Salib tanpa kebangkitan bukanlah keseluruhan Injil Kristen.

Dalam sejarah teologi Kristen, muncul berbagai model untuk menjelaskan arti salib. Teori Christus Victor, yang sangat kuat dalam tradisi Kristen awal, melihat salib dan kebangkitan sebagai kemenangan Kristus atas dosa, maut, dan kuasa-kuasa yang memperbudak manusia. Anselmus dari Canterbury mengembangkan teori kepuasan (satisfaction theory) yang menekankan pemulihan tatanan keadilan dan kehormatan yang dirusak oleh dosa. Tradisi Reformasi kemudian sangat menekankan gagasan substitusi penal, yaitu bahwa Kristus menanggung hukuman yang seharusnya ditanggung manusia. Tradisi lain memberikan penekanan berbeda pada transformasi moral, partisipasi dalam kehidupan Allah, atau penyembuhan natur manusia.

Gustaf Aulén, dalam kajiannya yang terkenal tentang Christus Victor, menunjukkan bahwa gagasan kemenangan Kristus memiliki akar kuat dalam tradisi Kristen awal. Di sisi lain, berbagai teolog modern memperluas pembahasan keselamatan dengan mempertimbangkan dimensi sosial, politik, dan eksistensial dari salib. Namun, di balik perbedaan teori tersebut terdapat keyakinan bersama bahwa salib merupakan tindakan kasih dan keselamatan Allah melalui Kristus.

Karena itu, salib dalam Kekristenan tidak hanya menjadi simbol penderitaan. Salib merupakan simbol kasih yang rela memberikan diri, pengampunan, rekonsiliasi, dan kemenangan yang diperoleh melalui jalan yang tampaknya lemah. Yesus sendiri dalam Injil menghubungkan penderitaan-Nya dengan pelayanan. Markus 10:45 menggambarkan Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan memberikan hidup-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang. Dalam pemahaman Kristen, salib menunjukkan bahwa kasih Allah tidak hanya berupa perkataan, tetapi diwujudkan melalui pemberian diri.

Mengapa Kebangkitan Yesus Menjadi Pusat Iman Kristen?
Jika salib adalah pusat iman Kristen, kebangkitan adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan darinya. Kekristenan tidak mengajarkan bahwa Yesus hanya mati sebagai martir lalu kenangan terhadap-Nya diteruskan oleh para murid. Kesaksian inti gereja pertama adalah bahwa Yesus yang mati telah dibangkitkan oleh Allah. Paulus bahkan mengatakan dalam 1 Korintus 15:14 bahwa jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan iman Kristen. Pernyataan tersebut menunjukkan betapa fundamentalnya kebangkitan.

Keempat Injil menceritakan bahwa makam Yesus ditemukan kosong dan bahwa para murid mengalami pengalaman yang mereka pahami sebagai penampakan Yesus yang telah bangkit. Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes memiliki perbedaan dalam detail narasi, tetapi semuanya menempatkan kebangkitan pada pusat cerita. Surat-surat Paulus, yang termasuk sumber tertulis Kristen paling awal yang masih tersedia, juga menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap kebangkitan sudah menjadi bagian penting dari pemberitaan Kristen generasi awal.

N. T. Wright dalam kajiannya yang sangat luas mengenai kebangkitan menekankan bahwa kebangkitan dalam konteks Yahudi abad pertama memiliki arti yang sangat spesifik. Ini bukan sekadar metafora bahwa ajaran Yesus “tetap hidup” dalam hati para pengikut-Nya. Kebangkitan dalam pengertian Kristen merupakan klaim bahwa Allah telah membangkitkan Yesus dari kematian dan dengan demikian memulai sesuatu yang baru dalam sejarah. Karena itu, kebangkitan juga berkaitan dengan harapan Kristen mengenai kebangkitan manusia pada akhir zaman dan pembaruan ciptaan.

Michael Licona dan sejumlah sarjana lain telah meneliti secara khusus berbagai kesaksian awal mengenai kebangkitan dan bagaimana gereja pertama memahami pengalaman tersebut. Para sarjana tentu berbeda dalam menilai sifat historis dan interpretasi terhadap data tersebut, tetapi secara historis tidak diragukan bahwa kepercayaan bahwa Yesus bangkit muncul sangat awal dalam gerakan Kristen. Para murid tidak sekadar mengajarkan bahwa Yesus adalah guru yang dikenang setelah kematian-Nya. Mereka memberitakan bahwa Allah telah membangkitkan Dia.

Karena itu, kebangkitan mempunyai dua arti besar. Pertama, kebangkitan menjadi pengesahan ilahi terhadap identitas dan karya Yesus. Kedua, kebangkitan menjadi dasar pengharapan Kristen bahwa maut bukanlah kata terakhir dalam kehidupan manusia. 1 Korintus 15 menggambarkan Kristus sebagai “yang sulung” dari orang-orang yang telah meninggal. Dengan demikian, harapan Kristen tidak hanya berbicara tentang jiwa yang pergi ke surga, tetapi juga tentang kemenangan Allah atas maut dan pembaruan kehidupan.

Apa Ajaran Yesus tentang Kasih?
Jika seseorang ingin mengetahui ajaran moral utama Yesus, salah satu titik awal paling penting adalah kasih. Ketika ditanya mengenai hukum yang terutama, Yesus menjawab dengan mengutip Ulangan 6:5 bahwa manusia harus mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi. Kemudian Ia menghubungkannya dengan perintah kedua dari Imamat 19:18, yaitu mengasihi sesama seperti diri sendiri. Dalam Matius 22:37-40, Yesus menjelaskan bahwa pada kedua perintah inilah seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi bergantung.

Kasih dalam Kekristenan bukan hanya perasaan emosional. Kasih berarti menghendaki kebaikan orang lain dan bersedia bertindak demi kebaikan tersebut. Hal ini menjadi semakin jelas ketika Yesus mengajarkan kasih kepada musuh. Dalam Matius 5:44, Yesus memerintahkan murid-murid untuk mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang menganiaya. Ini merupakan tuntutan yang sangat tinggi karena kasih tidak dibatasi kepada orang yang sudah mencintai kita. Yesus bahkan menghubungkan tindakan tersebut dengan karakter Allah yang menerbitkan matahari bagi orang jahat maupun orang baik.

Dalam perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati, Yesus juga menunjukkan bahwa “sesama” tidak boleh dibatasi oleh kelompok etnis, agama, atau komunitas sendiri. Seorang Samaria justru digambarkan sebagai orang yang menunjukkan belas kasihan kepada korban perampokan ketika orang lain melewatinya. Kisah tersebut mempunyai konteks sosial yang penting karena hubungan antara orang Yahudi dan Samaria pada zaman itu penuh dengan ketegangan. Dengan demikian, kasih menurut Yesus menghancurkan batas-batas eksklusivisme kelompok.

John Stott, seorang teolog Protestan yang berpengaruh, menekankan bahwa salib Kristus menjadi model kasih yang rela berkorban. Dalam pandangan tersebut, kasih Kristen bukan sekadar kelembutan emosional, tetapi kesediaan memberikan diri demi kebaikan orang lain. C. S. Lewis juga, dalam The Four Loves, membedakan berbagai bentuk kasih dan menunjukkan bahwa kasih Kristen (agape) mempunyai karakter memberi dan tidak hanya mencari kepuasan diri.

Karena itu, kasih merupakan salah satu ajaran utama Kekristenan bukan karena agama Kristen sekadar mengajarkan “jadilah orang baik”. Kasih merupakan konsekuensi dari siapa Allah dan apa yang dilakukan Allah dalam Kristus. Jika Allah dipahami sebagai Allah yang mengasihi, dan jika Kristus memberikan diri-Nya demi manusia, maka orang Kristen dipanggil untuk mencerminkan kasih tersebut dalam hubungan dengan sesama. Inilah sebabnya 1 Yohanes 4:8 menyatakan bahwa “Allah adalah kasih”.

Apa Arti Iman dan Pertobatan dalam Kekristenan?
Iman merupakan kata yang sangat penting dalam Kekristenan. Namun, iman Kristen tidak sekadar berarti percaya bahwa Tuhan ada. Dalam Perjanjian Baru, iman (pistis) berhubungan dengan kepercayaan, kesetiaan, dan kebergantungan kepada Allah serta kepada Kristus. Karena itu, iman bukan hanya persetujuan intelektual terhadap sejumlah proposisi. Seseorang dapat mengetahui berbagai doktrin Kristen tetapi belum tentu menjalani kehidupan iman.

Yesus berkali-kali memanggil manusia untuk percaya dan mengikuti-Nya. Injil Yohanes secara khusus menggunakan bahasa “percaya” untuk menggambarkan respons manusia terhadap Yesus. Dalam Injil Markus 1:15, Yesus memberitakan bahwa kerajaan Allah sudah dekat dan memanggil manusia untuk bertobat serta percaya kepada Injil. Pertobatan (metanoia) berarti perubahan arah hidup dan pikiran. Ia bukan sekadar merasa bersalah, melainkan berbalik dari jalan lama dan mengarahkan kehidupan kepada Allah.

Dalam surat-surat Paulus, iman memiliki hubungan yang erat dengan kasih karunia. Roma dan Galatia memberikan perhatian besar pada pertanyaan mengenai bagaimana manusia dibenarkan di hadapan Allah. Paulus menentang gagasan bahwa manusia dapat memperoleh status benar di hadapan Allah hanya melalui “pekerjaan hukum” sebagai dasar kebanggaan manusia. Namun, ini tidak berarti Paulus menganggap perbuatan baik tidak penting. Galatia 5:6 menyatakan bahwa iman bekerja melalui kasih, sedangkan Efesus 2:10 berbicara tentang manusia yang diciptakan dalam Kristus untuk melakukan pekerjaan baik.

Dalam tradisi Katolik dan Ortodoks, hubungan antara iman dan perbuatan juga tidak dipahami sebagai pilihan antara “percaya” atau “berbuat baik”. Iman yang sejati harus menghasilkan kehidupan yang diubahkan. Yakobus 2:17 mengatakan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Tradisi Protestan yang menekankan pembenaran oleh iman juga pada umumnya tidak mengajarkan bahwa orang yang benar-benar beriman bebas hidup tanpa perubahan moral. Perbedaan utama terletak pada bagaimana berbagai tradisi menjelaskan hubungan antara anugerah, iman, pembenaran, perbuatan, sakramen, dan pertumbuhan dalam kekudusan.

Dengan demikian, iman Kristen mencakup kepercayaan kepada Allah, kepercayaan kepada Kristus, penerimaan terhadap Injil, dan kesediaan untuk mengikuti jalan Kristus. Pertobatan merupakan perubahan orientasi hidup. Orang Kristen tidak hanya diminta mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan, tetapi juga berusaha menjalani hidup sesuai dengan pengakuan tersebut.

Apa Ajaran Kristen tentang Pengampunan dan Mengasihi Musuh?
Pengampunan merupakan salah satu ajaran Kristen yang paling radikal. Dalam doa yang diajarkan Yesus, umat Kristen berdoa agar kesalahan mereka diampuni sebagaimana mereka juga mengampuni orang yang bersalah kepada mereka. Dalam Matius 18, Yesus menggunakan perumpamaan tentang hamba yang telah menerima pengampunan hutang besar tetapi kemudian tidak mau mengampuni hutang kecil sesamanya. Pesan utamanya adalah bahwa orang yang mengalami belas kasih Allah dipanggil untuk menunjukkan belas kasih kepada orang lain.

Pengampunan tidak berarti bahwa kejahatan harus dianggap seolah-olah tidak pernah terjadi. Kekristenan tidak mengharuskan korban mengatakan bahwa tindakan kekerasan atau ketidakadilan adalah benar. Justru pengampunan memiliki makna karena memang terdapat kesalahan yang harus diakui. Dalam konteks tertentu, pengampunan dapat berjalan bersama dengan keadilan, pertobatan, batas yang sehat, dan perlindungan terhadap korban. Karena itu, pengampunan Kristen tidak seharusnya digunakan untuk membenarkan pelaku atau memaksa korban kembali ke dalam situasi yang berbahaya.

Ajaran tentang kasih kepada musuh juga berkaitan dengan penolakan terhadap siklus kebencian. Dalam Roma 12:20-21, Paulus mengajarkan agar orang Kristen tidak membalas kejahatan dengan kejahatan dan mengatakan bahwa kejahatan harus dikalahkan dengan kebaikan. Ini tidak berarti semua tradisi Kristen memiliki pandangan identik tentang perang, hukuman, atau penggunaan kekuatan. Sepanjang sejarah, muncul perdebatan besar mengenai pasifisme, perang yang adil, pembelaan diri, dan tanggung jawab negara. Namun, prinsip bahwa kebencian dan balas dendam tidak boleh menjadi pusat kehidupan Kristen tetap sangat penting.

Desmond Tutu, seorang pemimpin gereja dan tokoh penting dalam proses rekonsiliasi Afrika Selatan, menunjukkan secara praktis bagaimana pengampunan dapat menjadi bagian dari proses menghadapi sejarah kekerasan. Pemikirannya tidak berarti bahwa keadilan harus dihapuskan, tetapi bahwa masyarakat yang terus hidup berdasarkan dendam akan sulit keluar dari siklus kekerasan. Dalam konteks Kristen, rekonsiliasi memiliki akar kuat dalam gagasan bahwa Allah mendamaikan manusia dengan diri-Nya dan kemudian memanggil manusia untuk menjadi pembawa pendamaian.

Karena itu, pengampunan dalam Kekristenan bukan sekadar kewajiban emosional untuk “melupakan”. Ia merupakan bagian dari transformasi manusia. Orang Kristen dipanggil untuk tidak membiarkan kejahatan yang dilakukan orang lain menentukan seluruh kehidupan batinnya. Pengampunan mengarahkan manusia keluar dari logika balas dendam dan menuju kemungkinan rekonsiliasi, meskipun rekonsiliasi tersebut tidak selalu dapat terjadi secara langsung dan tidak selalu berarti hubungan harus kembali seperti sebelumnya.

Apa Ajaran Kekristenan tentang Kehidupan Setelah Kematian?
Kekristenan mengajarkan bahwa kehidupan manusia tidak berakhir dengan kematian. Namun, pengharapan Kristen mengenai masa depan lebih kompleks daripada sekadar gagasan bahwa “orang baik pergi ke surga”. Pusat pengharapan Kristen adalah kebangkitan orang mati, penghakiman, kehidupan kekal, dan pembaruan ciptaan. Kebangkitan Yesus menjadi dasar bagi harapan tersebut karena Kristus dipahami sebagai yang pertama dari kebangkitan yang akan dialami umat-Nya.

Dalam 1 Korintus 15, Paulus membahas kebangkitan secara panjang lebar. Ia menggunakan gambaran benih untuk menjelaskan hubungan antara kehidupan sekarang dan kehidupan kebangkitan. Tubuh yang dibangkitkan bukan sekadar tubuh lama yang kembali dalam kondisi identik, tetapi kehidupan yang telah diubah. Dalam tradisi Kristen, ini berarti keselamatan bukan penghancuran keberadaan manusia atau pelepasan kekal dari materi, melainkan transformasi kehidupan manusia oleh kuasa Allah.

Kitab Wahyu juga memberikan gambaran mengenai langit baru dan bumi baru. Wahyu 21 menggambarkan Yerusalem Baru dan menyatakan bahwa Allah akan diam bersama manusia serta menghapus air mata. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa pengharapan Kristen memiliki dimensi kosmis. Tujuan akhir bukan sekadar individu meninggalkan dunia yang buruk, tetapi Allah memperbarui ciptaan dan mengalahkan maut.

N. T. Wright sangat menekankan aspek ini dalam kajiannya mengenai kebangkitan dan pengharapan Kristen. Ia mengkritik gambaran populer yang mereduksi pengharapan Kristen menjadi “pergi ke surga ketika mati”. Menurut pendekatan tersebut, pengharapan Perjanjian Baru lebih berkaitan dengan kebangkitan tubuh dan pembaruan ciptaan. Pandangan ini juga membantu menjelaskan mengapa Kekristenan mempunyai kepedulian terhadap dunia sekarang. Jika Allah pada akhirnya memperbarui ciptaan, maka kehidupan manusia di dunia bukan sesuatu yang sama sekali tidak bernilai.

Karena itu, kehidupan setelah kematian dalam Kekristenan berkaitan dengan pengharapan bahwa maut tidak mempunyai kemenangan terakhir. Penghakiman Allah juga merupakan bagian penting dari keyakinan ini. Kekristenan mengajarkan bahwa manusia bertanggung jawab atas kehidupannya, tetapi juga menegaskan bahwa keselamatan merupakan karya rahmat Allah. Hubungan antara penghakiman, neraka, keselamatan, rahmat, dan kebebasan manusia telah menjadi topik panjang dalam teologi Kristen dan tidak selalu dijelaskan dengan cara yang sama oleh semua denominasi.

Apa Itu Gereja dan Mengapa Gereja Penting bagi Kekristenan?
Kekristenan tidak pada awalnya dimaksudkan sebagai agama individual yang dijalankan sendirian tanpa komunitas. Kata “gereja” berasal dari bahasa Yunani ekklesia, yang berkaitan dengan pertemuan atau perkumpulan. Dalam Perjanjian Baru, gereja merupakan komunitas orang-orang yang percaya kepada Kristus. Gereja berkumpul untuk berdoa, mendengarkan ajaran para rasul, memecahkan roti, melayani sesama, dan menjalani kehidupan sebagai komunitas iman.

Kisah Para Rasul 2 memberikan salah satu gambaran paling awal mengenai komunitas Kristen di Yerusalem. Mereka digambarkan bertekun dalam pengajaran para rasul, persekutuan, pemecahan roti, dan doa. Mereka juga berbagi kehidupan dan harta dalam bentuk yang mencerminkan solidaritas komunitas. Paulus kemudian menggunakan gambaran tubuh untuk menjelaskan gereja. Dalam 1 Korintus 12, orang-orang percaya digambarkan sebagai anggota dari satu tubuh dengan fungsi yang berbeda-beda. Tidak semua orang mempunyai peran yang sama, tetapi semua dianggap memiliki tempat dalam kehidupan komunitas.

Dalam sejarah, gereja berkembang menjadi berbagai bentuk organisasi dan tradisi. Gereja Katolik mengembangkan struktur kepemimpinan dengan paus dan para uskup. Gereja Ortodoks Timur memiliki struktur sinodal dan sejumlah gereja autocephalous. Gereja Protestan berkembang melalui Reformasi abad keenam belas dan kemudian melahirkan berbagai keluarga denominasi. Anglikan memiliki sejarah tersendiri yang berkembang dari Reformasi Inggris. Di luar struktur-struktur tersebut terdapat banyak gereja independen dan gerakan Pentakosta serta karismatik.

Perbedaan organisasi tidak berarti bahwa setiap denominasi memiliki agama yang sepenuhnya berbeda. Ada sejumlah pengakuan iman yang diterima secara luas oleh banyak tradisi Kristen, seperti Pengakuan Iman Rasuli dan Pengakuan Iman Nicea. Pengakuan tersebut menegaskan kepercayaan kepada Allah Bapa, Yesus Kristus, Roh Kudus, gereja, pengampunan dosa, kebangkitan tubuh, dan kehidupan kekal. Namun, berbagai gereja berbeda dalam memahami baptisan, Ekaristi atau Perjamuan Kudus, struktur gereja, keselamatan, Maria, orang-orang kudus, predestinasi, dan sejumlah isu teologis lainnya.

Karena itu, gereja merupakan bagian penting dari kehidupan Kristen. Kekristenan bukan hanya hubungan pribadi antara seseorang dan Tuhan, tetapi juga kehidupan bersama dalam komunitas. Doa, ibadah, pelayanan, pembelajaran, sakramen atau ordinansi, serta kehidupan bersama menjadi sarana yang melalui semua itu umat Kristen berusaha menghidupi iman mereka.

Apa Ajaran Kristen tentang Moralitas dan Sepuluh Perintah Allah?
Moralitas Kristen mempunyai akar kuat dalam Kitab Suci Israel. Sepuluh Perintah Allah dalam Keluaran 20 dan Ulangan 5 menjadi salah satu fondasi penting etika Yahudi-Kristen. Perintah tersebut meliputi larangan menyembah ilah lain, larangan membuat berhala, menghormati nama Allah, menguduskan hari Sabat, menghormati orang tua, tidak membunuh, tidak berzina, tidak mencuri, tidak bersaksi dusta, dan tidak mengingini milik sesama.

Namun, Yesus tidak membuang hukum tersebut. Sebaliknya, Ia menafsirkannya secara lebih mendalam. Dalam Khotbah di Bukit, Yesus tidak hanya berkata bahwa membunuh itu salah, tetapi juga berbicara mengenai kemarahan dan penghinaan terhadap sesama. Ia tidak hanya membahas perzinahan, tetapi juga nafsu yang mengobjektifikasi orang lain. Dengan demikian, moralitas Kristen tidak berhenti pada perilaku eksternal. Ia menyentuh motivasi dan kondisi hati manusia.

Paulus juga menekankan bahwa hukum kasih merupakan prinsip yang merangkum banyak tuntutan moral. Roma 13:8-10 menghubungkan kasih kepada sesama dengan pemenuhan hukum. Galatia 5:22-23 berbicara tentang buah Roh yang mencakup kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Moralitas Kristen dengan demikian bukan hanya daftar larangan, tetapi pembentukan karakter.

Alister McGrath, seorang teolog dan sejarawan Kekristenan, menekankan bahwa iman Kristen memiliki hubungan erat antara doktrin dan kehidupan. Apa yang diyakini seseorang tentang Allah, manusia, Kristus, dan keselamatan seharusnya memengaruhi cara ia menjalani hidup. Stanley Hauerwas juga banyak menekankan pentingnya pembentukan karakter Kristen melalui kehidupan komunitas, kebajikan, dan praktik gereja. Dalam perspektif ini, menjadi Kristen bukan hanya mengetahui aturan moral, tetapi menjadi manusia yang dibentuk oleh kasih dan teladan Kristus.

Karena itu, etika Kristen dapat dirangkum melalui sejumlah nilai besar: kasih kepada Allah, kasih kepada sesama, kejujuran, kesetiaan, pengampunan, keadilan, belas kasih, kerendahan hati, kesucian hidup, kepedulian kepada yang lemah, dan pengendalian diri. Cara menerapkan prinsip tersebut pada persoalan modern tentu menjadi perdebatan di antara denominasi, tetapi prinsip dasarnya sangat jelas dalam Kitab Suci.

Apakah Semua Orang Kristen Memiliki Ajaran yang Sama?
Jawabannya adalah tidak dalam semua hal. Kekristenan memiliki inti iman yang sangat luas diterima, tetapi juga mempunyai keragaman teologis dan praktik yang besar. Perbedaan tersebut muncul karena sejarah, budaya, bahasa, interpretasi Alkitab, tradisi gereja, perkembangan teologi, dan perdebatan mengenai otoritas. Karena itu, seseorang sebaiknya tidak menganggap bahwa praktik sebuah denominasi tertentu otomatis mewakili seluruh Kekristenan.

Katolik, Ortodoks, dan Protestan sama-sama mengakui Allah Tritunggal dan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, tetapi memiliki perbedaan dalam struktur gereja dan sejumlah doktrin. Gereja Katolik memberikan peranan penting kepada Magisterium, tradisi, dan sakramen. Gereja Ortodoks menekankan kontinuitas tradisi apostolik dan kehidupan liturgis. Protestan secara umum menekankan otoritas Kitab Suci, tetapi di dalam Protestantisme sendiri terdapat banyak sekali keluarga denominasi.

Bahkan di antara gereja-gereja Protestan, perbedaan dapat sangat besar. Lutheran, Reformed, Baptis, Metodis, Anglikan, Pentakosta, Advent, dan gereja-gereja Injili memiliki kesamaan besar dalam pengakuan terhadap Kristus, tetapi berbeda dalam baptisan, Perjamuan Kudus, keselamatan, predestinasi, karunia Roh, eskatologi, dan struktur gereja. Karena itu, ketika seseorang bertanya “apa kata orang Kristen tentang X?”, pertanyaan tersebut sering kali membutuhkan jawaban yang menyebut tradisi tertentu.

Namun, keragaman tidak berarti tidak ada inti bersama. Pengakuan iman kuno seperti Pengakuan Iman Nicea memperlihatkan adanya inti kristologis dan trinitaris yang sangat penting. Banyak gereja Kristen juga menerima kitab-kitab Perjanjian Baru yang sama, mengakui kematian dan kebangkitan Yesus, baptisan, kehidupan gereja, serta pengharapan akan kehidupan kekal. Jadi, Kekristenan lebih tepat dipahami sebagai keluarga besar tradisi yang memiliki pusat iman bersama tetapi berkembang dengan berbagai penekanan teologis dan praktik.

Apa Inti Kekristenan Jika Dirangkum dalam Beberapa Pokok Utama?
Jika seluruh pembahasan dirangkum, pertama-tama Kekristenan mengajarkan bahwa Allah adalah Pencipta dan sumber kehidupan. Allah dipahami sebagai satu dan dalam iman Kristen klasik dikenal sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Allah bukan sekadar kekuatan impersonal, tetapi pribadi yang mengasihi, menciptakan, memelihara, menghakimi, dan menyelamatkan. Hubungan antara Allah dan manusia menjadi dasar seluruh cerita Kitab Suci.

Kedua, Kekristenan mengajarkan bahwa Yesus Kristus merupakan pusat karya keselamatan Allah. Yesus dipahami sebagai Mesias, Anak Allah, Tuhan, dan Juruselamat. Kehidupan-Nya, pengajaran-Nya, kematian-Nya di salib, dan kebangkitan-Nya merupakan pusat pemberitaan gereja. Karena itu, Kekristenan bukan sekadar sistem etika. Ia merupakan iman yang berpusat pada pribadi dan karya Kristus.

Ketiga, Kekristenan mengajarkan bahwa manusia berada dalam masalah dosa dan membutuhkan keselamatan. Dosa merusak hubungan manusia dengan Allah dan sesama. Manusia dipanggil untuk bertobat, percaya kepada Kristus, menerima kasih karunia Allah, dan menjalani kehidupan baru. Tradisi Kristen berbeda dalam menjelaskan mekanisme teologis keselamatan, tetapi keselamatan secara umum dipahami sebagai karya Allah yang memulihkan manusia.

Keempat, Kekristenan mengajarkan kasih sebagai pusat kehidupan moral. Manusia dipanggil mengasihi Allah, sesama, bahkan musuh. Kasih tersebut diwujudkan dalam pengampunan, belas kasih, keadilan, pelayanan, kejujuran, kesetiaan, dan kepedulian kepada mereka yang lemah. Karena itu, iman Kristen yang tidak menghasilkan kasih dianggap tidak sesuai dengan inti ajaran Kristus.

Kelima, Kekristenan mengajarkan pengharapan akan kemenangan atas dosa dan maut. Kebangkitan Yesus menjadi dasar pengharapan bahwa kematian bukan akhir. Orang Kristen menantikan kebangkitan, penghakiman, kehidupan kekal, dan pembaruan ciptaan. Dengan demikian, Kekristenan tidak hanya berbicara tentang bagaimana manusia harus hidup sekarang, tetapi juga tentang tujuan akhir sejarah dan kehidupan.

Apa Itu Kristen dan Apa Ajaran Utama Kekristenan?
Apa itu Kristen dan apa ajaran utama Kekristenan? Pada dasarnya, Kekristenan adalah iman yang berpusat pada Yesus Kristus dan karya keselamatan Allah melalui Dia. Kekristenan lahir dari lingkungan Yudaisme abad pertama, tetapi berkembang menjadi gerakan yang membawa berita tentang Kristus kepada berbagai bangsa. Kata “Kristen” sendiri menunjuk kepada mereka yang mengakui Kristus dan berusaha hidup sebagai pengikut-Nya. Karena itu, memahami Kekristenan berarti memahami siapa Yesus menurut kesaksian gereja dan Perjanjian Baru, bukan sekadar menghafal sejumlah aturan moral.

Pusat iman Kristen adalah keyakinan kepada Allah yang esa dan kepada karya Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Doktrin Tritunggal merupakan upaya teologis gereja untuk menjelaskan bagaimana iman kepada satu Allah dapat sekaligus mengakui keilahian Kristus dan karya Roh Kudus. Meskipun istilah “Tritunggal” tidak muncul sebagai istilah teknis dalam Alkitab, dasar-dasar yang kemudian dirumuskan dalam doktrin tersebut berkembang dari kesaksian Perjanjian Baru dan refleksi gereja awal.

Kekristenan juga mempunyai pandangan yang sangat serius mengenai kondisi manusia. Manusia diciptakan menurut gambar Allah dan karena itu memiliki martabat yang tinggi, tetapi manusia juga berada dalam kenyataan dosa. Dosa bukan sekadar melakukan beberapa tindakan buruk, melainkan keterasingan manusia dari Allah dan kerusakan dalam hubungan dengan sesama serta ciptaan. Karena masalah tersebut dianggap mendalam, keselamatan juga dipahami sebagai karya Allah yang mendalam: pengampunan, pendamaian, pembenaran, pembaruan, pengudusan, dan pada akhirnya kehidupan kekal.

Dalam seluruh proses tersebut, salib dan kebangkitan Yesus mempunyai kedudukan yang sangat penting. Salib dipahami sebagai tempat kasih dan pengorbanan Kristus, sementara kebangkitan dipahami sebagai kemenangan Allah atas maut dan dasar pengharapan Kristen. Karena itu, Injil Kristen bukan hanya pesan agar manusia menjadi lebih baik. Ia adalah berita bahwa Allah telah bertindak dalam sejarah melalui Kristus untuk membawa keselamatan.

Ajaran Yesus mengenai kasih kemudian menjadi konsekuensi utama dari iman tersebut. Mengasihi Allah dan sesama merupakan inti kehidupan moral Kristen. Kasih tersebut tidak hanya diberikan kepada teman atau kelompok sendiri, tetapi juga kepada musuh. Pengampunan, belas kasih, kerendahan hati, keadilan, pelayanan, dan kepedulian kepada mereka yang menderita menjadi bagian penting dari kehidupan yang diharapkan dari seorang Kristen.

Pada akhirnya, Kekristenan dapat diringkas sebagai sebuah jalan iman yang menghubungkan Allah, Kristus, keselamatan, kasih, dan pengharapan. Allah adalah sumber kehidupan; manusia diciptakan untuk berhubungan dengan-Nya tetapi terpisah karena dosa; Kristus hadir sebagai pusat karya penyelamatan; kematian dan kebangkitan-Nya menjadi inti Injil; Roh Kudus bekerja dalam kehidupan umat percaya; gereja menjadi komunitas yang menjalani iman tersebut; dan kehidupan Kristen diarahkan kepada kasih, pertobatan, pelayanan, kekudusan, serta pengharapan akan kehidupan kekal dan pembaruan ciptaan.

Karena itu, apabila seseorang ingin memahami Kekristenan secara sederhana tetapi tetap tepat, pertanyaan pertama yang sebaiknya bukanlah “Apa saja larangan agama Kristen?” melainkan “Siapakah Yesus Kristus dan apa arti kehidupan, kematian, serta kebangkitan-Nya bagi manusia?” Dari pertanyaan tersebut, hampir seluruh ajaran utama Kekristenan mulai dapat dipahami: tentang Allah, manusia, dosa, keselamatan, kasih, gereja, moralitas, kematian, kebangkitan, dan pengharapan masa depan. Di situlah pusat Kekristenan berada.

Daftar Referensi
  • Alkitab, terutama Kejadian; Keluaran; Mazmur; Yesaya; Matius; Markus; Lukas; Yohanes; Kisah Para Rasul; Roma; 1 Korintus; Galatia; Efesus; Filipi; Kolose; Ibrani; Yakobus; 1 Petrus; 1 Yohanes; dan Wahyu.
  • Armstrong, Karen. A History of God: The 4,000-Year Quest of Judaism, Christianity and Islam. New York: Alfred A. Knopf, 1993.
  • Ayres, Lewis. Nicaea and Its Legacy: An Approach to Fourth-Century Trinitarian Theology. Oxford: Oxford University Press, 2004.
  • Aulén, Gustaf. Christus Victor: An Historical Study of the Three Main Types of the Idea of Atonement. London: SPCK, 1931.
  • Bauckham, Richard. Jesus and the God of Israel: God Crucified and Other Studies on the New Testament's Christology of Divine Identity. Grand Rapids: Eerdmans, 2008.
  • Brown, Raymond E. An Introduction to the New Testament. New York: Doubleday, 1997.
  • Hurtado, Larry W. Lord Jesus Christ: Devotion to Jesus in Earliest Christianity. Grand Rapids: Eerdmans, 2003.
  • Keener, Craig S. The Historical Jesus of the Gospels. Grand Rapids: Eerdmans, 2009.
  • Licona, Michael R. The Resurrection of Jesus: A New Historiographical Approach. Downers Grove: IVP Academic, 2010.
  • McGrath, Alister E. Christian Theology: An Introduction. Oxford: Wiley-Blackwell.
  • Sanders, E. P. Jesus and Judaism. Philadelphia: Fortress Press, 1985.
  • Stott, John. The Cross of Christ. Downers Grove: InterVarsity Press, 1986.
  • Wright, N. T. The Resurrection of the Son of God. Minneapolis: Fortress Press, 2003.
  • Wright, N. T. Simply Christian: Why Christianity Makes Sense. New York: HarperOne, 2006.
  • Hauerwas, Stanley. The Peaceable Kingdom: A Primer in Christian Ethics. Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1983.
  • Lewis, C. S. Mere Christianity. London: Geoffrey Bles, 1952.
  • Lewis, C. S. The Four Loves. London: Geoffrey Bles, 1960.
  • Tutu, Desmond. No Future Without Forgiveness. New York: Doubleday, 1999.
  • The Apostles' Creed atau Pengakuan Iman Rasuli.
  • The Nicene-Constantinopolitan Creed atau Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel.
  • The Didache, salah satu dokumen Kristen awal yang memberikan gambaran mengenai kehidupan dan etika komunitas Kristen perdana.
  • The Apostolic Fathers, khususnya tulisan Ignatius dari Antiokhia, untuk memahami perkembangan kehidupan dan pemikiran gereja pada masa awal.