Ini Dia Aliran Islam An-Nadzir Pakaian Hitam-Hitam

Seperti yang kita ketahui, Bangsa Indonesia dengan ciri yang penuh keberagaman dari berbagai penjuru mulai dari Sabang sampai Merauke, keanekaberagaman ini tidak lepas dari khasanah bangsa yang ada sejak nenek moyang dulu. Mulai dari kebudayaan, tradisi, makanan khas sampai ke masalah sosial maupun agama.

Di sebuah pelosok tanah air Indonesia wilayah timur, tepatnya di pinggiran Danau Mawang, Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan terdapat sebuah jamaah Islam yang baru-baru ini kian mencuat ke atas publik, siapa dia? Dengan bercirikan penampilan yang serba hitam, berambut pirang sebahu dan serban hitam yang berpadukan putih serta cadar bagi sebagian kaum ibu, itulah An-Nadzir.

An-Nadzir (pemberi peringatan) itulah sebuah majelis yang mereka sebutkan dengan berlandaskan Al-Qur’an dan Hadist dan mereka sangat sensitif bila disebutkan dengan aliran sesat atau aliran yang tidak tentu karena mereka meyakini bahwa jamaah An-Nadzir telah konsisten dengan Al-Quran dan Hadist.

Syech Muhammad Al Mahdi Abdullah (Imamnya ajaran An-Nadzir) masuk ke daerah Gowa pada tahun 1998 hingga sekarang telah ada sebanyak 500 jemaah lebih dari pengikut An-Nadzir, mereka tidak hanya tersebar di Gowa Sulawesi Selatan melainkan telah mulai merambah keberbagai wilayah di Indonesia seperti Medan (Sumatera Utara), Jakarta, Palopo bahkan beberapa ada di luar negeri.

Proses Pemberian Nama An-Nadzir
Aliran An-Nadzir pada awalnya bernama Majelis Jundullah yang berarti Tentara Allah. Jamaah Tentara Allah dimaksudkan agar menegakkan hukum-hukum Allah, manusia yang berdiri teguh dalam kehidupannya sesuai dengan aturan-aturan Allah, dan mengamalkannya baik untuk diri sendiri maupun untuk semua Tentara Allah. Namun, tidak lama nama Jundullah diharapkan agar diganti namanya oleh Laskar Jundullah yang merasa bahwa kata Jundullah sudah lama merupakan nama laskarnya. Sebab itu, pimpinan Jundullah saat itu dan beberapa pengikutnya memilih mengubah nama Majelis Jundullah menjadi Jamaah An Nadzir.

Proses pemberian nama An-Nadzir pun didasarkan pada Al-Qur’an. Menurut Ustadz Lukman bahwa saat mencari nama yang tepat, pimpinan Jundullah saat itu membuka Al-Qur’an sebanyak Tiga kali namun bukan pada waktu bersamaan, dan setiap kali membuka Al-Qur’an, yang selalu terbuka dan nampak adalah peringatan, maka dinamakanlah kelompok ini dengan nama An-Nadzir yang berarti pemberi peringatan.

Tokoh Pendiri An-Nadzir
Menurut Ustadz Lukman salah seorang tokoh yang termasuk penanggung jawab di An-Nadzir mengatakan bahwa pada awalnya kehidupan di Kelurahan Mawang pada awalnya seperti kehidupan biasanya di desa-desa lain dimana masyarakat Agama Islam terdiri dari kalangan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dan melaksanakan sholat dan ibadah-ibadah dibulan Ramadhan seperti bagaimana pelaksanaan sholat dan ibadah-ibadah di bulan Ramadhan pada umumnya.

Pada tahun 1998, masuklah seorang tokoh yang bernama Syeikh Muhammad al-Mahdi Abdullah atau Kyai Haji Syamsuri Abdul Madjid melakukan Tabligh Akbar dibeberapa penjuru nusantara. Ia datang dari Banjarmasin dan sempat mendirikan Pondok Pesantren Rabiatul Al-Adawiyah di Dumai, Kepulauan Riau. Oleh karena itu, Aliran beliau sudah dimulai di Dumai Kepulauan Riau. Saat melakukan tabligh akbar di beberapa tempat di Sulawesi Selatan, Kyai Syamsuri mendapat banyak simpati dan pengikut diantaranya adalah Ustadz Lukman dan Ustadz Rangka.

Proses Penyebaran Aliran An-Nadzir di Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan
Kyai Syamsuri banyak memperoleh ilmu di Madinah, setelah dari Madinah, maka Kyai Syamsuri ke Malaysia sehingga jamaahnya banyak terdapat di Negara Malaysia bahkan ada juga warga Negara Singapura yang menjadi jamaahnya. Setelah dari Malaysia maka Kyai Syamsuri ke Dumai Kepualuan Riau. Di Dumai Kepulauan Riau juga ada pengikutnya namun tidak jelas berapa jumlah pengikut Kyai Syamsuri.

Setelah dari Dumai Kepulauan Riau, Kyai Syamsuri dating ke Sulawesi Selatan khususnya Desa Mawang Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan yang masih berstatus jamaah pada umumnya yaitu golongan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Namun perlahan Kyai Syamsuri memberikan inti Alirannya yaitu :
  1. Mengenal Allah SWT
  2. Mengenal Rasulullah SAW
  3. Mengenal diri sendiri
Dasarnya adalah syahadat yang merupakan pengakuan dan kesaksian setiap manusia bahwa “Tiada Tuhan Selain Allah” artinya adalah mengerjakan segala sesuatu yang diperintah dan tidak melakukan apa yang dilarang Allah SWT, dan bersaksi dengan lisan bahwa “Bersaksi Muhammad adalah utusan Allah” yaitu meyakininya dengan cara melaksanakan apa yang menjadi lisan Rasulullah melalui hadist dan melaksanakan apa yang menjadi sunnah melalui perbuatan Rasulullah maka itulah diri kita sebagai hamba Allah dan ummat Muhammad.

Berdasarkan Aliran tersebut, maka An-Nadzir melakukan segala aktivitasnya sesuai dengan Aliran Al-Qur’an dan Hadist serta sesuai apa yang menjadi perbuatan Nabi Muhammad, termasuk perihal tentang waktu pelaksanaan sholat. Mengenai waktu pelaksanaan sholat, An-Nadzir mempunyai rujukan sesuai dengan fenomena alam bukan melalui jam sebagai penunjuk waktu karena tidak ada dalil yang mengatakan bahwa waktu melaksanakan sholat harus dilihat dan diukur dengan jam sebagai alat pengukur waktu yang ada adalah alat pengukur bayangan.

Oleh karena itu, Aliran yang dibawa oleh Kyai Syamsuri sangat meyakinkan dan menjadikan jamaahnya di Kabupaten Gowa semakin bertambah bahkan menyebar di provinsi-provinsi lain seperti Jakarta, Riau, Medan, Bogor, Batam dan lain-lain dan tersebar hampir diseluruh Kabupaten Gowa dan sekitarnya, seperti Kota Palopo dan Kabupaten Maros. Oleh karena itu, jamaah An-Nadzir terbagi menjadi dua yaitu Jamaah Mukim dan Jamaah Non Mukim, maksudnya adalah Jamaah Mukim adalah jamaah yang bermukim disekitaran Pondok dan Markas, sedangkan Jamaah Non Mukim yaitu jamaah yang berada diluar Pondok dan Markas tapi ketika pelaksanaan sholat Jumat, semua jamaah melaksanakannya di Markas Desa Mawang.

Sejarah Perkembangan Aliran An Nadzir di Kabupaten Gowa
Setelah KH Syamsuri Madjid (Abah Batam) alias Syech Muhammad Al Mahdi Abdullah, Pimpinan Majelis Zikir An-Nadzir Meninggal dunia di Jakarta Sabtu, 12 Agustus 2006 pukul 14:53:55
Dalam usia 83 tahun dan dimakamkan di Pondok Pesantren An Nadzir Dumai, maka pimpinan An-Nadzir digantikan oleh Ustadz Rangka. Menurut Ustadz Lukman, tidak ada kriteria tentang pemilihan pimpinan, pergantian pimpinan ditunjuk langsung oleh pimpinan sebelumnya dan hanya pimpinan yang sebelumnya yang memiliki penilaian terhadap siapa yang akan menjadi pimpinan selanjutnya.

Setelah kepemimpinan Kyai Syamsuri berakhir, Ustadz Rangka lebih memilih Desa Mawang sebagai pusat kegiatan jamaah An-Nadzir karena Desa Mawang sangat berpotensi menjadi untuk pelaksanaan kegiatan ibadah karena mereka merasa aman berada dilokasi tersebut dan juga sebagai tempat untuk hidup mandiri sebab dilokasi itulah tempat mereka melakukan aktivitas ekonomi baik dari segi peternakan, pertanian, tambak ikan, perbengkelan, cellular, koperasi dan lain-lain yang hasilnya untuk jamaah dan sebagian dijual sebagai kebutuhan masyarakat.

Pada masa awal berdirinya perkampungan An-Nadzir, kelompok ini sempat diintai dan didatangi oleh anggota intelijen Polda Sulsel dan Kodam VII Wirabuana. Mereka dicurigai membentuk kamp pelatihan terorisme. Ternyata mereka tak satupun mendapatkan apa yang mereka kira. Pernah pula mereka dicurigai sebagai Aliran Agama Islam yang menyimpang. Setelah perwakilan staf Bimas Islam Departemen Agama, Baihaqim yang mewakili menteri agama mengklarifikasi anggapan jamaah An-Nadzir menyebarkan kesesatan. Menurut kutipan Ustadz Lukman, Baihaqim berkesimpulan tidak ada masalah dalam persoalan akidah. Sedangkan, perbedaan menjalankan syariat itu lumrah bagi pemeluk Agama Islam.

Sampai saat ini, semua pihak yang bertanya-tanya tentang An-Nadzir melakukan silaturahmi ke Markas An-Nadzir dan berdialog dengan pihak An-Nadzir tentang Aliran mereka termasuk Mahasiswa Peserta Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) Jurusan Filsafat Agama Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo pada bulan Januari 2015 guna menjawab segala keraguan yang ada. Namun setelah memperoleh konfirmasi dari pihak An-Nadzir, maka mereka melaksanakan segala kegiatan ibadah dengan rujukan Al-Qur’an dan Hadist serta Sunnah Rasulullah SAW.

Menurut Ustadz Lukman bahwa mereka sangat terbuka dan siap menerima siapa saja yang datang berkunjung ke Markas An-Nadzir dan pihak An-Nadzir siap menjelaskan semuanya tentang keberadaan mereka, bahkan Ustadz Lukman sangat bersyukur banyak pihak yang mempertanyakan mereka karena disamping mempererat silaturahmi, mereka juga memperkenalkan Aliran mereka, makin banyak yang mengenal mereka, makin banyak juga yang berpotensi mencintai An-Nadzir, bahkan orang yang sebelumnya bermaksud atau berniat jahat datang ke An-Nadzir justru berbalik mencintai An-Nadzir setelah memahami Aliran An-Nadzir, sehingga tidak heran ketika banyak yang masuk menjadi jamaah An-Nadzir yang semakin lama semakin tersebar di seluruh Nusantara.

Menurut Ustadz Aqmal salah satu jamaah An-Nadzir yang mengelola Posko An-Nadzir yang berada tepat didepan Sekolah Tinggi Teknik Pertanian (STTP) Gowa sebagai lokasi pintu masuk ke Pondok Pemukiman An-Nadzir dan Markas An-Nadzir mengatakan bahwa, jamaah An-Nadzir setiap berbicara terutama berbicara dengan Non-Jamaah An-Nadzir, mereka selalu berbicara tentang kebesaran-kebesaran Allah dan Kisah-kisah Rasulullah, sekaligus memperkenalkan beginilah aktivitas jamaah An-Nadzir yang selalu berbicara dan memuji kebesaran Allah bahkan dalam memulai, melaksanakan dan mengakhiri aktivitas dengan nama Allah. Sehingga tidak perlu heran ketika saat photo bersama yang dilakukan oleh dokumentator An-Nadzir, sebelum pengambilan gambar, maka diucapkanlah salam kepada semua orang yang akan diambil gambarnya.

Menurut Ustadz Lukman, mereka menyebarkan Aliran An-Nadzir, bukan dengan cara mendatangi dari rumah kerumah, tapi sesuai dengan nama An-Nadzir yaitu pemberi peringatan, maka jamaah An-Nadzir berdakwah melalui perkataan dan perbuatan yang mengarah kekeselamatan dan bukan perkataan dan perbuatan yang sia-sia. Orang yang simpati atau sebaliknya terhadap An-Nadzir, maka itu adalah urusan mereka.