Kewajiban Umat Buddha
Menurut ajaran Buddha terlahirnya kita sebagai manusia merupakan hal yang sangat membahagiakan. Itu berarti kita diberi kesempatan untuk menjalani kehidupan benar agar dapat memutuskan roda samsara. Kita menyadari bahwa keberadaan kita sebagai manusia merupakan hasil dari perbuatan-perbuatan baik kita. Kita juga tahu bahwa setiap perbuatan (karma) mempunyai efek-efek yang saling bertalian. Dengan karma dunia ini berputar, dengan karma manusia hidup, dan karma pulalah yang mengikat manusia.
Kita berlindung pada Buddha, Dhamma, dan Sangha karena kita merasa yakin bahwa di bawah tiga perlindungan ini, kita merasa aman, bebas dari bahaya, ketakutan dan kekotoran yang dapat membawa kita pada tujuan-tujuan jahat. Dengan Sang Buddha sebagai pembimbing yang ideal, Dhamma sebagai rakit yang dapat menyeberangi samudera samsara, dan Sangha sebagai sawah yang bisa ditanami dan diambil hasilnya pada saat panen, kita menuju jalan hidup yang benar dan melaksanakan kewajiban kita sebagai seorang umat Buddha dengan penuh perhatian dan dengan menghormati hukum kosmos kehidupan, yaitu karma.
Hendaknya kita menghindari sepuluh perbuatan jahat yang dapat dilakukan oleh tubuh, ucapan, maupun pikiran. Kita berusaha melatih diri untuk menghindari pembunuhan, pencurian, dan perbuatan asusila. Melatih diri dalam ucapan untuk tidak berdusta, memfitnah, bicara kotor dan bicara yang sia-sia. Kita juga hendaknya menyadari bahwa perbuatan jahat akan mengakibatkan penderitaan bagi pelakunya.
Kita tahu bahwa kita membunuh, maka kita akan mengalami hidup yang singkat, penyakit, kesedihan karena terpisah dari orang-orang yang kita cintai, dan juga akan terus hidup dalam ketakutan. Kita pun tahu bahwa bila kita mencuri, maka kita akan mengalami kemiskinan, penderitaan dan segala keinginan kita tidak akan tercapai. Kita menghindari perzinahan, karena itu akan membuat kita mendapat musuh-musuh dan kehidupan yang sengsara. Kita berhenti berdusta, karena dengan berdusta nama baik kita akan tercemar.
Kita juga tidak menginginkan kekayaan orang lain dan tidak akan berpikir, Kalau saja itu menjadi milikku. Kita tidak membenci siapapun, karena kebencian akan membuat kita berwajah jelek, berpenyakit, dan akan hidup selamanya dalam penderitaan.
Kita juga menghindari pandangan salah dan berusaha melakukan banyak kebajikan dengan berdana, hidup bermoral, bermeditasi, menghormati sesama, bersikap ramah tamah, membagi kebahagiaan pada orang lain, dan bersukacita dengan kebahagiaan orang lain. Kita pun hendaknya senang mendengarkan Dhamma yang akan memperkuat usaha kita dalam melaksanakan pandangan hidup yang benar.
Bagi umat awam, Sang Buddha juga menganjurkan agar melakukan hal-hal tersebut di atas, karena akan membawa berkah. Ia yang rajin berdana, akan memperoleh kekayaan, sedangkan hidup bermoral akan membuatnya lahir di keluarga terpandang dan dalam keadaan yang penuh bahagia. Dengan meditasi ia akan memperoleh pengetahuan yang tinggi. Dengan menolong orang-orang lain, ia sendiri akan banyak ditolong. Bersukacita karena melihat perbuatan orang lain yang suka menolong, akan memberinya sifat gembira pada kelahirannya kelak. Dengan mendengarkan Dhamma ia akan menjadi bijaksana, sedang sikap mau memenuhi kebutuhan orang lain akan memberikannya kemakmuran. Meneguhkan keyakinan akan pandangan hidup yang benar akan memberinya kebahagiaan dan pembebasan terakhir.
Dia memandang semua kehidupan ini sebagai tempat persinggahan, tidak memuaskan, dan tanpa jiwa yang kekal. Dalam kehidupan sehari-harinya dia mencoba untuk mengerti bagaimana kebenaran ini dapat berperan, bagaimana segala sesuatu di dunia ini terus berubah, betapa sedikit kita dapat mengkontrolnya, betapa semua kenikmatan yang kita rasakan akan berakhir dengan kepedihan, dan kondisi muda akan berubah menjadi tua, dan akhirnya betapa hampanya hidup ini. Dengan menyadari akan tiga corak umum dalam hidup ini yaitu Anicca, Dukkha, dan Anatta, dia memandang hidup ini sebagai sesuatu yang tidak kekal. Dia juga melihat alam semesta dengan segala isinya sebagai satu obyek tunggal dimana semua makhluk pada hakikatnya adalah sama.
Oleh sebab itu, dalam menjalani kehidupan ini, hatinya penuh dengan cinta kasih dan welas asih (Karuna) terhadap segala sesuatu yang menderita. Seperti seorang ibu yang rela mengorbankan jiwanya untuk melindungi putranya yang tunggal, begitu jugalah ia memancarkan cinta kasih dan welas asihnya pada semua makhluk tanpa mengenal batas dan perbedaan. Dengan didorong oleh semangat cinta kasih inilah, hidupnya yang singkat ini akan bermanfaat dan berguna bagi semuanya, baik bagi dirinya maupun bagi orang lain.
Bagi orang-orang yang berumah tangga, Sang Buddha juga menganjurkan agar melatih diri dalam menghindari sepuluh perbuatan jahat. Mereka juga hendaknya tidak berat sebelah, tidak bermusuhan dan berusaha mengembangkan cinta kasih, kesabaran, dan kebijaksanaan dalam setiap tindakannya.
Keberhasilan seorang umat, sangat tergantung pada kekayaan dan keuangannya. Sang Buddha juga mengatakan bahwa penting bagi seorang kepala keluarga untuk memiliki kekayaan di samping anak dan istri, pelayan dan pekerja. Semua ini harus diperoleh dengan jalan yang benar dan untuk semuanya ini dia harus menjalani kehidupan yang benar, menghindari penipuan, penghianatan, berkata benar, dan dia juga harus menghindari kelima komoditi perdagangan seperti: senjata, manusia, hewan, minuman keras dan racun. Jadi perdagangan yang boleh dilakukan ialah yang tidak mencederai orang atau makhluk lain. Dia mencari nafkah seperti seekor lebah yang mengumpulkan madu. Sang Buddha juga menganjurkan agar dalam berusaha hendaknya dia membagi pendapatannya menjadi empat bagian sebagai berikut:
Biarkan dia membelanjakan yang satu bagian dan menikmati buahnya. Yang dua bagian untuk usaha yang sedang dijalankannya, sedangkan bagian yang keempat digunakan untuk masa depannya, agar bisa digunakan bila diperlukan kelak.
Jadi, seorang kepala keluarga yang baik akan menyisihkan seperempat bagian pendapatannya untuk keperluannya sendiri, dua perempat untuk usahanya, dan seperempatnya lagi untuk keadaan darurat bila diperlukan. Dia akan menghindari dirinya dari kegiatan yang dapat menghabiskan kekayaan yang dicarinya dengan menghabiskan kekayaan yang dicarinya dengan susah payah. Oleh sebab itu dia harus menghindari kegiatan seperti: terlibat dengan minuman keras, berada di jalan pada waktu yang tidak pantas, menonton pertunjukan-pertunjukan yang tidak pantas, berjudi dan bergabung dengan orang-orang jahat lagi malas.
Sang Buddha juga menganjurkan supaya umat meringankan beban orang tuanya, guru, istri, anak-anaknya, sahabat, pelayan, pekerja serta guru agamanya. Putra-putrinya harus menyadari bahwa karena orang tuanya mereka bisa berada dalam keadaan seperti sekarang. Oleh sebab itu adalah tugas mereka untuk memberi kepada orang tua mereka makanan, pakaian, obat-obatan dan segala sesuatu yang dapat membuat hidup ini lebih mudah dan lebih menyenangkan selama mereka hidup.
Sang anak harus melaksanakan tugasnya, yaitu merawat orang tua mereka dalam usia lanjut dengan penuh perhatian. Mereka juga harus mempertahankan keturunan, tradisi dan bahkan menjaga nama baik keluarganya. Begitu pula orang tua yang dilayani anak-anaknya harus berbuat kebajikan dan bersikap lemah lembut dengan mengusahakan agar anak-anaknya juga berbuat kebajikan, melatih mereka dalam berdagang dan segala keahlian, menentukan agar perkawinan mereka dilaksanakan dalam usia yang pantas, dan menyerahkan semua perusahannya serta warisannya apabila saatnya tiba.
Murid harus menghormati guru mereka dan bangkit dari tempat duduknya untuk menunjukkan rasa hormat. Mereka harus menunjukkan kemauan untuk belajar dan memberikan pelayanan. Mereka harus menerima dan mengikuti segala instruksi yang diberikan. Sebaiknya guru juga melatih muridnya dengan benar mengenai apa yang mereka ketahui dan membuat mereka mahir dalam berbagai macam ilmu. Mereka tidak boleh memburuk-burukkan muridnya di antara sesama temannya dan mereka harus melindungi muridnya dari bahaya.
Sang suami harus menghormati istrinya, memberikan hak untuk melakukan keinginannya di rumah. Setia pada istrinya dan memperlakukan istrinya dengan cinta kasih. Istrinya harus diberi kebebasan untuk mengatur rumah tangga dan dilengkapi dengan perhiasan. Sebaiknya sang istri juga harus mengasihi suaminya dan melaksanakan tugasnya. Dia harus bersikap ramah terhadap suaminya, selalu berterima kasih atas pemberian-pemberian suaminya dan melindungi kekayaannya. Di samping itu dia juga harus mempelajari seluk-beluk usaha suaminya dan membantunya.
Lebih jauh lagi, seorang kepala keluarga juga harus melayani keluarganya dan juga sahabatnya dengan murah hati, ramah tamah dan penuh kebajikan. Dia harus memperlakukan mereka sama seperti dia memperlakukan dirinya sendiri dan dia harus menepati janjinya. Sebaliknya, keluarganya dan temannya juga harus menunjukkan cinta kasih terhadapnya. Melindungi kekayaannya dan dalam bahaya mereka harus melindunginya dan bukan meninggalkannya.
Seorang kepala keluarga juga harus memberikan pekerjaan pada pembantunya yang sesuai dengan kemampuannya. Memberikan mereka makanan, gaji dan merawat mereka bila mereka sakit. Dia juga harus memberikan waktu istirahat dan mengizinkan mereka untuk mendapatkan liburan pada hari-hari besar dengan tetap mendapat gaji. Seorang majikan yang baik juga membagi kebahagiaan pada para pembantunya. Sebaliknya si pembantu juga harus membiasakan dirinya untuk bangun lebih dulu dari majikannya, melakukan tugas yang diberikan padanya dan beristirahat sesudah majikannya beristirahat. Mereka harus selalu merasa puas dan memuji majikannya.
Seorang kepala keluarga juga wajib melayani para bhikkhu, membuka pintu rumah untuk mereka dan memenuhi kebutuhan insidentil mereka. Sebaliknya para bhikkhu harus menjauhkan dia dari kelaliman dan mendorong dia untuk melakukan perbuatan baik, memberikan khotbah mengenai Dhamma, dan membawa dia untuk mengikuti jalan pembebasan serta menyampaikan ajaran mengenai cinta kasih dan kebijaksanaan.

