Info Menarik
- Agama Kristen - dikutip dari laman buktiinaja.com, Benarkah Sinterklas itu ada? Nah sebelum kita menjawab pertanyaan
tersebut, kami Komunitas Blogger Sulawesi (KBS) ingin mengucapkan
Selamat Hari Raya Natal 2018, semoga kasih tuhan melindungi kita semua,,
amen..
Benarkah Sinterklas itu ada? Ya, Sinterklas
sungguh ada. Tetapi, kita lebih mengenalnya sebagai St Nikolaus.
Sayangnya, kita hanya mempunyai sedikit saja bukti sejarah mengenai
santo yang populer ini. Menurut tradisi, St Nikolaus dilahirkan di
Patara di Lycia, sebuah propinsi di Asia Kecil, dalam sebuah keluarga
Kristiani yang kaya raya; ia beruntung mendapatkan pendidikan Kristiani
yang kuat. Sebagian mengatakan bahwa pada usia lima tahun ia mulai
belajar ajaran-ajaran Gereja. Ia senantiasa berusaha mengamalkan
kebajikan dan belas kasihan.
Kedua
orangtua St Nikolaus meninggal dunia ketika ia masih muda dan
meninggalkan harta warisan yang besar, yang dipergunakannya untuk
melakukan banyak perbuatan baik. Suatu kisahnya yang terkenal bercerita
mengenai seorang duda yang mempunyai tiga anak gadis. Sang ayah hendak
menjual anak-anak perempuannya itu ke pelacuran sebab ia tak mampu
menyediakan mas kawin yang dibutuhkan bagi perkawinan mereka. St
Nikolaus mendengar nasib buruk yang menimpa ketiga anak gadis ini dan
memutuskan untuk menolong. Dalam kegelapan malam, ia pergi ke rumah
mereka dan melemparkan sekantong emas melalui sebuah jendela yang
terbuka di rumah sang duda, dengan demikian menyediakan uang yang
diperlukan untuk mas kawin yang layak bagi anak gadis tertua.
Berturut-turut dua malam berikutnya, St Nikolaus melakukan hal yang
sama; kemurahan hatinya menyelamatkan ketiga gadis tersebut dari nasib
malang.
Reputasi St Nikolaus sebagai seorang yang kudus
tersebar luas. Ketika Bapa Uskup wafat, St Nikolaus dipilih untuk
menggantikannya sebagai Uskup Myra. Beberapa catatan sependapat bahwa St
Nikolaus menderita dipenjarakan dan dianiaya demi iman dalam masa
penganiayaan Kaisar Diocletian sekitar tahun 300. Beberapa sumber
menegaskan bahwa setelah disahkannya kekristenan, ia hadir dalam Konsili
Nicea (tahun 325) dan ikut serta dalam mengutuk bidaah Arianisme yang
menyangkal keallahan Kristus. Kisah selanjutnya menceritakan bagaimana
St Nikolaus ikut campur tangan demi membebaskan tiga orang tak bersalah
yang dijatuhi hukuman mati oleh seorang gubernur yang korup bernama
Eustathius, yang ditentang oleh St Nikolaus dan digerakkan pada
pertobatan. St Nikolaus wafat pada abad keempat antara tahun 345 dan 352
pada tanggal 6 Desember, dan dimakamkan di katedralnya.
St
Nikolaus telah senantiasa dihormati sebagai seorang santo besar. Pada
abad keenam, Kaisar Yustinian I mendirikan sebuah gereja demi
menghormati St Nikolaus di Konstantinopel, dan St Yohanes Krisostomus
memasukkan namanya dalam liturgi. Pada abad kesepuluh, seorang penulis
anonim Yunani menulis, “Baik Barat maupun Timur memuji dan memuliakan
dia. Di manapun orang berada, di desa dan di kota, di dusun dan di
pulau-pulau, di belahan-belahan bumi yang paling jauh sekalipun, namanya
dihormati dan gereja-gereja didirikan demi menghormatinya. Segenap umat
Kristiani, tua dan muda, laki-laki dan perempuan, pula anak-anak,
menghormati kenangan akan dia dan berseru mohon perlindungannya.” (Artikel Agama Kristen)
Setelah
Seljuk Moslem yang fanatik menyerbu Asia Kecil dan dengan keji
menganiaya kekristenan, tubuh St Nikolaus diselamatkan oleh para
saudagar Italia dari pencemaran pada tahun 1087 dan dimakamkan kembali
di sebuah gereja baru di Bari, Italia. Paus Urbanus II, seorang pembela
iman yang gigih dan seorang penganjur perang salib, memberkati makam
baru tersebut dengan upacara meriah. Sejak saat itu, devosi kepada St
Nikolaus meningkat di seluruh wilayah Barat. Sebagai misal, lebih dari
400 gereja di Inggris didedikasikan kepadanya. Beberapa waktu lamanya
dalam Abad Pertengahan, makamnya menjadi tempat ziarah yang paling
banyak dikunjungi para peziarah dari seluruh Eropa. Yang menarik, karena
aroma dupa yang tercium di sekitar makamnya, segera saja ia dikenal
sebagai santo pelindung dari para pengusaha wangi-wangian.
Menurut
tradisi, St Nikolaus dihubungkan dengan pemberian hadiah-hadiah pada
masa Natal, karena kisahnya mengenai duda dengan tiga anak gadisnya itu.
Di Belanda, di mana tampaknya kebiasaan ini berasal, St Nikolaus (atau
Sint Klaas atau Santa Claus) akan datang pada malam menjelang pestanya
(6 Desember) dengan membawa berbagai macam hadiah untuk anak-anak yang
manis; seringkali dengan mengisikannya pada sepatu-sepatu kayu mereka.
Banyak hiasan-hiasan Natal dari Belanda maupun Jerman menggambarkan St
Nikolaus mengenakan pakaian uskup dengan mitra dan tongkat uskup di
tangannya, dengan disertai seorang malaikat penolong yang membawa daftar
nama anak-anak yang baik.
Devosi kepada St Nikolaus
diselewengkan oleh kaum Protestan Belanda, yang ingin menghapus
“ke-Katolik-an” St Nikolaus. Mereka menanggalkan tanda wewenang
uskupnya, dan menjadikannya lebih menyerupai seorang Bapa Natal dari
Eropa berbaju merah. Mereka juga mengaitkannya dengan beberapa legenda
seputar dewa Thor yang mengendarai sebuah kereta dan yang datang
mengunjungi rumah melalui cerobong asap.
Pada abad
ke-19, para penulis Amerika juga berperan serta dalam menghapuskan
gambaran St Nikolaus sebagai seorang uskup. Pada tahun 1820, Washington
Irving menulis sebuah kisah mengenai Santa Claus yang terbang dalam
sebuah kereta untuk membagi-bagikan hadiah kepada anak-anak. Tiga tahun
kemudian, Clement Moore menulis Sebuah Kunjungan dari St Nikolaus (yang
lebih dikenal sebagai Malam Sebelum Natal, menggambarkan Santa Claus
sebagai seorang “kurcaci tua jenaka” dengan perut gendut bagai tong,
pipi merah bagai mawar, dan hidung bagai buah ceri. Pada tahun 1882,
Thomas Nast melukis gambar Santa Claus berdasarkan gambaran yang
diberikan Moore dan bahkan menambahkan North Pole sebagai tempat
kediamannya. Dan akhirnya, Haddom Sundblom, seorang seniman iklan dari
Coca-Cola mengubah sosok Santa Claus menjadi seorang tokoh berpakaian
merah, berbadan besar, dan bahkan gemar minum cola, seperti yang dengan
mudah kita bayangkan dalam pikiran kita sekarang ini.
Jadi,
apakah Sinterklas atau Santa Claus sungguh ada? Saya ingat suatu ketika
saya membaca tanggapan editor The New York Sun pada tahun 1897 atas
pertanyaan yang sama yang diajukan seorang anak perempuan berumur 8
tahun bernama Virginia. Sebagian dari jawaban tersebut, yang masih
relevan hingga kini, adalah, “Ya, Virginia, Santa Claus sungguh ada. Ia
ada, senyata cinta kasih dan kemurahan hati dan devosi ada, dan kau tahu
bahwa semuanya itu ada dengan berlimpah-limpah dan mengisi hidupmu
dengan kebahagiaan dan sukacita yang paling luar biasa. Sungguh malang!
Betapa suramnya dunia ini andai tidak ada Santa Claus! Pastilah akan
sesuram andai tidak ada Virginia-Virginia. Sebab, jika demikian tidak
akan ada iman yang kekanak-kanakan, tidak akan ada gubahan sajak, tidak
akan ada romantisme yang membuat hidup ini tertahankan. Kita tidak akan
menikmati kegembiraan, kecuali dalam apa yang dipikir dan dilihat.
Cahaya abadi dengan mana masa kanak-kanak mengisi dunia akan lenyap. ...
Tak seorang pun pernah melihat Santa Claus, tetapi itu bukan berarti
bahwa Santa Claus tidak ada. Hal-hal yang paling nyata di dunia adalah
hal-hal yang tak dapat dilihat baik oleh anak-anak maupun orang-orang
dewasa. ... Terima kasih Tuhan! Santa Claus ada, dan ia akan ada untuk
selama-lamanya.”
Bagi saya, pernyataan di atas
merupakan suatu kesaksian yang cukup bagus mengenai St Nikolaus dan
sukacita yang ia datangkan ke dalam perayaan Natal kita. Kiranya St
Nikolaus mengilhami kita dengan doa-doanya dan teladan hidupnya agar
kita dapat merayakan Natal dengan penuh iman.
Dihimpun dari berbagai sumber :
https://kajianteologi.blogspot.com
https://mahasiswailmiah.blogspot.com
https://buktiinaja.blogspot.com
Admin : Erlina Angraini S.Pd
Posted by : Febrianti Lesmana S.Sos

