Ajaran Agama Kristen - Asas utama agama Kristen adalah kepercayaan pada Yesus sebagai Putra Allah dan Mesias (Kristus). Umat Kristen percaya bahwa Yesus, selaku Mesias, diurapi oleh Allah menjadi juru selamat umat manusia, dan yakin bahwa Yesus datang ke dunia sebagai penggenapan nubuat tentang Mesias yang termaktub dalam Alkitab Perjanjian Lama.
Konsep Mesias dalam agama Kristen pada dasarnya berbeda dari konsep Mesias dalam agama Yahudi. Inti dari keyakinan Kristen adalah bahwasanya dengan percaya dan menerima wafat dan kebangkitan Yesus, umat manusia yang berdosa dapat dirukunkan kembali dengan Allah, dan dengan demikian beroleh tawaran keselamatan dan janji hidup kekal.
Meskipun ada berbagai macam perbedaan pandangan teologi mengenai kodrat Yesus pada abad-abad permulaan sejarah agama Kristen, pada umumnya umat Kristen percaya bahwa Yesus adalah penjelmaan Allah dan adalah "Allah sejati sekaligus manusia sejati" (atau seutuhnya ilahi dan seutuhnya insani). Karena menjelma menjadi manusia yang seutuhnya, maka Yesus juga mengalami sakit derita dan godaan hidup selayaknya seorang manusia fana, namun tidak berbuat dosa. Sebagai Allah yang seutuhnya, Yesus hidup kembali sesudah wafat.
Menurut Alkitab Perjanjian Baru, Yesus bangkit dari antara orang mati, naik ke surga, duduk di sebelah kanan Sang Bapa, dan pada akhirnya akan datang kembali (Kisah Para Rasul 1:9–11) untuk menggenapi nubuat-nubuat selebihnya yang berkaitan dengan Mesias, yakni kebangkitan orang mati, penghakiman terakhir, dan pendirian Kerajaan Allah.
Menurut Injil Matius dan Injil Lukas, Yesus dikandung berkat kuasa Roh Kudus, dan dilahirkan oleh Perawan Maria. Hanya sedikit saja kisah masa kanak-kanak Yesus yang diriwayatkan dalam injil-injil sahih, namun ada pula injil-injil tentang masa kanak-kanak Yesus yang populer pada Abad Kuno. Sebaliknya masa dewasa Yesus, teristimewa sepekan menjelang wafatnya, justru diriwayatkan secara terperinci oleh injil-injil yang terdapat dalam kumpulan kitab suci Perjanjian Baru, karena masa-masa inilah yang diyakini paling penting. Riwayat-riwayat Alkitab tentang karya pelayanan Yesus meliputi peristiwa pembaptisannya, mukjizat-mukjizatnya, khotbah-khotbahnya, ajaran-ajarannya, serta sikap dan perbuatannya.
Wafat dan kebangkitan
Bagi umat Kristen, kebangkitan Yesus adalah batu penjuru iman mereka (1 Korintus 15) dan peristiwa terpenting dalam sejarah. Di antara sekian banyak keyakinan Kristen, wafat dan kebangkitan Yesus adalah dua peristiwa utama yang melandasi sebagian besar doktrin dan teologi Kristen. Menurut Alkitab Perjanjian Baru, Yesus disalibkan, wafat secara jasmaniah, dimakamkan, dan bangkit dari antara orang mati tiga hari kemudian (Yohanes 19:30–31, Markus 16:1, Markus 16:6).
Alkitab Perjanjian Baru meriwayatkan beberapa peristiwa penampakan diri Yesus pascabangkit kepada kedua belas rasul dan murid-muridnya, termasuk peristiwa penampakan yang disaksikan oleh "lebih dari lima ratus orang saudara sekaligus" (1 Korintus 15:6), sebelum kenaikan Yesus ke surga. Wafat dan kebangkitan Yesus diperingati oleh umat Kristen dalam semua ibadat, dan diperingati secara lebih khusus selama Pekan Suci (sudah termasuk Hari Jumat Agung dan Hari Minggu Paskah).
Wafat dan kebangkitan Yesus lazimnya dianggap sebagai peristiwa-peristiwa terpenting dalam teologi Kristen, salah satu sebabnya adalah karena peristiwa-peristiwa ini menunjukkan bahwa Yesus berkuasa atas hidup dan mati, dan oleh karena itu berwenang dan berkuasa untuk menganugerahkan hidup kekal kepada umat manusia.
Gereja-Gereja Kristen mengakui dan mengajarkan riwayat Perjanjian Baru mengenai kebangkitan Yesus dengan segelintir pengecualian. Beberapa pengkaji modern menjadikan kepercayaan para pengikut Yesus akan kebangkitannya sebagai titik tolak dalam menetapkan kesinambungan antara sosok Yesus selaku tokoh sejarah dan sosok Yesus dalam pewartaan Gereja perdana. Segolongan umat Kristen liberal tidak mengakui kebangkitan jasmaniah secara harfiah, dan menganggap riwayat kebangkitan Yesus sekadar sebagai mitos yang kaya akan perlambang dan bermanfaat bagi pertumbuhan rohani.
Argumen-argumen terkait keyakinan akan wafat dan kebangkitan Yesus muncul dalam banyak debat keagamaan dan dialog-dialog lintas agama. Rasul Paulus, salah seorang pemeluk perdana sekaligus misionaris agama Kristen, pernah menulis bahwa "andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu" (1 Korintus 15:14).
Keselamatan
Sebagaimana orang Yahudi dan orang Romawi penyembah berhala pada zamannya, Rasul Paulus percaya bahwa korban persembahan berkhasiat menciptakan ikatan kekerabatan baru, menyucikan, dan mendatangkan kehidupan kekal. Bagi Paulus, korban persembahan yang diperlukan adalah wafat Yesus. Bangsa-bangsa lain, yang berkat pengorbanan nyawa Yesus telah menjadi "milik kepunyaan Kristus", juga adalah keturunan Abraham dan "berhak menerima janji Allah", sama seperti bangsa Israel (Galatia 3:29).
Allah yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati juga mengaruniakan kehidupan baru bagi "tubuh fana" umat Kristen dari bangsa-bangsa lain, yang bersama-sama dengan bangsa Israel telah menjadi "anak-anak Allah", dan oleh karena itu tidak lagi "hidup menurut daging" (Roma 8:9,11,16).
Gereja-gereja modern cenderung lebih memusatkan perhatiannya pada permasalahan tentang bagaimana umat manusia dapat diselamatkan dari keadaan berdosa dan maut yang universal sifatnya itu, daripada permasalahan tentang bagaimana orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain dapat menjadi anggota keluarga Allah. Menurut doktrin Katolik maupun Protestan, keselamatan datang berkat pengorbanan nyawa Yesus menggantikan umat manusia dan berkat kebangkitannya.
Gereja Katolik mengajarkan bahwa keselamatan tidak terwujud tanpa adanya kesetiaan di pihak umat Kristen; orang-orang yang telah bertobat dan hendak menjadi pengikut Kristus harus hidup menurut prinsip-prinsip cinta kasih, dan sepatutnya harus dibaptis. Martin Luther mengajarkan bahwa baptisan diperlukan demi beroleh keselamatan, akan tetapi gereja Lutheran dan gereja-gereja Protestan lainnya pada zaman modern cenderung mengajarkan bahwa keselamatan adalah anugerah yang diperoleh seseorang berkat kasih karunia Allah, yang kadang-kadang didefinisikan sebagai "kerahiman tanpa pandang kelayakan", bahkan di luar dari baptisan.
Umat Kristen berbeda pandangan mengenai sejauh mana keselamatan seseorang telah ditakdirkan sejak semula oleh Allah. Teologi Kalvinis memberi penekanan khusus pada kasih karunia dengan mengajarkan bahwa tiap-tiap orang sama sekali tidak mampu membebaskan diri sendiri dari dosa, akan tetapi kasih karunia yang menguduskan itu tak terelakkan. Sebaliknya umat Kristen Katolik, Ortodoks, dan Protestan Arminian percaya bahwa pelaksanaan kehendak bebas diperlukan untuk beriman pada Yesus.
Dikutip dari berbagai sumber literatur dan kajian/diskusi mahasiswa.
Semoga artikel ini bermanfaat, salam...
Admin : Rani T
Update : Kurniawati Syam
Blogger team : Celebes Blogger Community (CBC)
Supported blog :
https://buktiinaja.blogspot.com

