I. AGAMA DAN BERAGAMA
Tidak mudah mendefinisikan Agama, apalagi di dunia ini kita menemukan kenyataan bahwa agama amat beragam.
Pandangan seseorang terhadap agama, ditentukan oleh pemahamannya terhadap ajaran agama itu sendiri. Hal ini terbukti ketika pengaruh gereja di Eropa menindas para ilmuwan akibat penemuan mereka yang dianggap bertentangan dengan kitab suci, para ilmuwan tersebut pada akhirnya menjauh dari agama bahkan meninggalkannya.
Namun, pada hakikatnya, agama merupakan bagian dari aspek-aspek penting kegiatan manusia bahkan dianggapnya sebagai kebutuhan untuk pegangan yang pasti dalam menjalani kehidupan ini. Jika ilmu menyesuaikan manusia dengan lingkungannya, maka agama menyesuaikan dengan jati dirinya.
Demikian kata filosof muslim Murtadha Muthahhari dalam menjelaskan sebagian fungsi dan peranan agama dalam hidup ini yang tidak mampu diperankan oleh ilmu dan teknologi.
Oleh karena itu, keberagaman agama di dunia ini perlu dipelajari dan dipahami mengingat pentingnya pula toleransi antar sesama umat manusia demi terciptanya kerukunan serta kesejahteraan hidup.
II. KONG HU CU & FILSAFAT CHINA
Kong Hu Cu atau konfusis adalah seorang ahli filsafat Cina yang terkenal sebagai orang pertama pengembang sistem memadukan alam pikiran dan kepercayaan orang Cina yang mendasar.
Ajarannya menyangkut kesusilaan perorangan dan gagasan bagi pemerintahan agar melaksanakan pemerintahan dan melayani rakyat dengan teladan perilaku yang baik.
Agama Konfusius atau Kong Hu Cu atau Konfusianisme adalah agama yang paling tua di Cina, tetapi bukan merupakan satu-satunya agama di sana. Sebagaimana sering dinyatakan dalam suatu pepatah Cina, yang menyatakan bahwa Cina mempunyai tiga agama tetapi yang tiga itupun sebenarnya hanya satu.
Pada abad ke-6 sebelum masehi, kehidupan agama dan moral masyarakat Cina sudah sedemikian merosot. Kebudayaan dan peradaban yang sebelumnya telah dibangun dengan susah payah oleh dinasti-dinasti sebelumnya, kini tinggal hanya merupakan bayangan saja.
Dalam mengajarkan ajaran-ajarannya ia tidak suka mengkaitkan dengan paham ketuhanan, ia menolak membicarakn tentang akhirat dan soal-soal yang bersifat metafisika, ia hanya seorang filosof sekuler yang mempermasalahkan moral kekuasaan dan akhlak pribadi manusia yang baik.
Agama Konfusius atau Kong Hu Cu atau Konfusianisme adalah agama yang paling tua di Cina, tetapi bukan merupakan satu-satunya agama di sana. Sebagaimana sering dinyatakan dalam suatu pepatah Cina, yang menyatakan bahwa Cina mempunyai tiga agama tetapi yang tiga itupun sebenarnya hanya satu.
Tiga agama yang dimaksud adalah Konfusianisme, Toisme dan Budhisme. Pepatah tersebut berarti bahwa di Cina ketiga agama tersebut telah saling penagruh mempengaruhi satu sama lain, sehingga sulit dan sukar membicarakan salah satunya tanpa mengaitkannya dengan yang lain.
Pada abad ke-6 sebelum masehi, kehidupan agama dan moral masyarakat Cina sudah sedemikian merosot. Kebudayaan dan peradaban yang sebelumnya telah dibangun dengan susah payah oleh dinasti-dinasti sebelumnya, kini tinggal hanya merupakan bayangan saja.
Pada saat itu kehadiran Kong Hu Cu merupakan jawaban terhadap kondisi masyarakat yang sudah melampaui batas-batas kemanusiaan, sehingga terpanggil untuk membangkitkan kembali agam Ru, agama orang lembut, bijak dan terpelajar.
Karena itu, tidak mengherankan kalau dikatakan bahwa Kong Hu Cu berpusat pada kemanusiaan dan keduniakinian atau kurang memperhatikan hari kemudian. Memang Kong Hu Cu lebih menitikberatkan tentang apa yang harus dikerjakan manusia di dunia ini. Hari kemudian adalah refleksi hari ini. Hasil semua perbuatan di dunia kini akan dipanen di hari akhir. Titik berat kekinian dan kemanusiaan itu merupakan dorongan bagi pemeluknya untuk menjadi orang bijak ban bajik, baik terhadap orang tua, keluarga, tetangga maupun negaranya.
Dalam mengajarkan ajaran-ajarannya ia tidak suka mengkaitkan dengan paham ketuhanan, ia menolak membicarakn tentang akhirat dan soal-soal yang bersifat metafisika, ia hanya seorang filosof sekuler yang mempermasalahkan moral kekuasaan dan akhlak pribadi manusia yang baik.
Namun, dikarenakan ajaran-ajarannya lebih banyak mengarah pada kesusilaan dan mendekati ajaran keagamaan maka ia sering digolongkan dan dianggap sebagai pembawa agama.
III. ETIKA DALAM AGAMA KONGHUCU
Dengan dasar keimanan Agama Khonghucu, diturunkanlah ajaran moral dan etika yang langsung menyangkut prilaku di dalam penghidupan yang bersifat praktis.
Dalam hal ini wajib dicamkan bahwa betapapun indah, praktis dan bermanfaatnya ajaran itu, tanpa dasar keimanan yang mantap maka akan menjadi dangkal dan gersang. Sayangnya, banyak orang mempelajari dan melihat Agama Khonghucu hanya dari segi moral dan etika yang bersifat praktis saja tanpa mau tahu dasar keimanannya. Jelas cara yang demikian itu tidak tepat dan hasilnya akan jauh dari kebenaran.
Untuk mengenal ajaran etika Khonghucu secara mendalam, maka kita harus mengenal apa yang disebut dengan San Kang (tiga hubungan tata karma), Ngo Lun (Lima norma kesopanan dalam masyarakat ), Pa Te (Delapan sifat mulia atau delapan kebijakan ), pentingnya nilai belajar bagai manusia dan etika terhadap makluk halus.
1. San kang (tiga hubungan tata karma)
Pengertian dari San Kang atau tiga hubungan tata karma ini adalah :
- Hubungan raja dengan menteri atau atasan dengan bawahan
“seorang raja memperlakukan mentrinya dengan Li (kesopanan atau penuh dengan budi pekerti yang baik). Seorang mentri mengabdi kepada raja dengan kesetiaannya.” (Lun Gi III: 19)
Perkataan khonghucu diatas menggambarkan bahwa seorang pemimpin haruslah bersifat arif dan bijaksana terhadap orang yang dipimpinnya, dan begitu juga seorang bawahan haruslah dapat menghormati atasannya sebagai mana layaknya seorang atasan.
- Hubungan orang tua dengan anak
Perkataan khonghucu :
“ Raja berfungsi sebagai fungsi, menteri berfungsi sebagai menteri, ayah berfungsi sebagai ayah dan anak berfungsi sebagai anak.” (Lun Gi XII: II)
Perkataan khonghucu di atas menggambarkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari , seseorang harus dapat menempatkan fungsi sosialnya dengan baik.
- Hubungan suami dengan istri
“Menurut (mengikuti) sifat-sifat yang benar itulah jalan suci bagi seorang wanita”. (Mencius III, 2;2) istri yang baik itu adalah istri yang tunduk dan patuh terhadap printah suaminya, dan istri yang tidak baik adalah istri yang selalu melanggar perintah suaminya.
Jika seorang istri dapat menuruti perintah suaminya, bukan berarti suami dapat berbuat sekehendak hatinya, namun suami hendaklah dapat berbuat yang terbaik untuk istrinya. Bagi khanghucu sebaiknya suami bersikap sebagai seorang kuncu (manusia budiman) yang dapat menciptakan keharmonisan dalam rumah tangga.
2. Ngo Lun (lima norma kesopanan dalam masyarakat)
Ngo Lun itu juga disebut sebagai Wu Luen, yang artinya juga “lima norma kesopanan dalam masyarakat”. Baik Ngo Lun, maupun Wu Luen, mempunyai arti yang sama.
Dalam San Kang dibicarakan tentang:
- Hubungan raja dengan menteri atau hubungan atasan dengan bawahan.
- Hubungan Ayah dengan anak,
- hubungan suami dengan istri.
- Hubungan saudara dengan saudara
“Seorang muda, di rumah hendaklah erlaku bakti, di luar (rumah) hendaklah bersikap rendah hati, hati-hati sehingga dapat dipercaya, menaruh cinta kepada masyarakat, dan berhubungan erat dengan orang yang berperi cinta kasih.” (Lun Gi, I:6)
- Hubungan teman dengan teman
“Ada tiga macam sahabat yang membawa manfaat dan ada tiga seorang sahabat yang membawa celaka. Seorang sahabat yang lurus, yang jujur, dan yang berpengetahuan luas, akan membawa manfaat. Seorang sahabat yang licik, yang lemah dalam hal-hal baik, dan hanya pandai memutar lidah akan membawa celaka. (Lun Gi, XIV : 4)
.
Posted : Risna Marlina
Editor : Fina 96
Sumber : Materi Kuliah
