Mengapa Biksu Tidak Boleh Memakai Parfum dan Perhiasan?
• Memicu kemelekatan terhadap tubuh dan penampilan
Penggunaan parfum dan perhiasan adalah bentuk perhatian terhadap penampilan fisik. Dalam ajaran Buddha, biksu dituntut untuk mengurangi keterikatan pada tubuh, karena tubuh dianggap sebagai bagian dari dunia fana yang selalu berubah dan menjadi sumber penderitaan jika dilekati. Ketika seorang biksu menghias diri dengan parfum atau perhiasan, maka ia memperkuat rasa identitas pada tubuh fisiknya, dan ini bertentangan dengan latihan melepaskan diri dari kemelekatan duniawi.
• Mendorong munculnya kesombongan dan keinginan dipuji
Perhiasan dan wangi-wangian umumnya digunakan untuk menarik perhatian atau meningkatkan daya tarik pribadi. Dalam kehidupan monastik, hal ini bisa menjadi pemicu munculnya ego, kesombongan, atau keinginan untuk dipandang lebih menarik oleh orang lain. Seorang biksu dilatih untuk hidup sederhana dan rendah hati. Segala bentuk penghias diri dikhawatirkan memunculkan dorongan batin yang berlawanan dengan jalan spiritual.
• Mengganggu praktik kesederhanaan dan pelepasan
Biksu hidup berdasarkan prinsip renunciation (pelepasan), yaitu meninggalkan kehidupan duniawi demi kebebasan batin. Memakai parfum dan perhiasan merupakan bentuk kepemilikan dan kenikmatan pribadi yang dianggap tidak selaras dengan praktik hidup sederhana. Barang-barang tersebut dipandang sebagai simbol kemewahan atau kesenangan, yang justru menjadi beban dalam upaya mengurangi keinginan dan hasrat duniawi.
• Melanggar aturan dalam Vinaya Pitaka
Dalam Vinaya Pitaka, yaitu kitab hukum kedisiplinan bagi para bhikkhu dan bhikkhuni, terdapat larangan tegas untuk menggunakan segala bentuk perhiasan maupun minyak wangi yang bertujuan untuk mempercantik diri. Pemakaian benda-benda semacam itu termasuk dalam kategori pelanggaran ringan (dukkaแนญa) yang harus dihindari oleh para biksu sebagai bentuk penghormatan terhadap kehidupan suci yang mereka jalani.
• Menjaga kesetaraan di antara sesama anggota Sangha
Salah satu prinsip penting dalam komunitas monastik adalah kesetaraan dan persaudaraan. Jika seorang biksu menggunakan perhiasan atau parfum, maka dapat menimbulkan perbedaan dalam tampilan fisik yang berpotensi mengganggu kesatuan dan keharmonisan di antara para anggota Sangha. Kehidupan membiara mengutamakan keseragaman dan kebersamaan, bukan penonjolan diri.
• Menjaga wibawa dan fokus dari para umat awam
Biksu adalah teladan spiritual bagi umat awam. Penampilan yang mencolok atau terlalu wangi dapat mengalihkan perhatian umat dari nilai-nilai ajaran kepada hal-hal yang bersifat lahiriah. Oleh karena itu, biksu dituntut untuk tampil sederhana, bersahaja, dan tidak menarik perhatian dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan misi spiritualnya.
Kesimpulan
Larangan bagi biksu untuk memakai parfum dan perhiasan bukan semata-mata soal aturan, melainkan merupakan bagian dari latihan batin yang mendalam. Tujuannya adalah untuk memurnikan pikiran, melepaskan kelekatan, dan menjalani hidup yang sederhana demi pencapaian pencerahan. Segala bentuk penghias diri dianggap sebagai penghalang dalam perjalanan spiritual yang menuntut kesadaran, kesederhanaan, dan pelepasan dari keinginan duniawi.

