Dalam setiap agama ada ritual keagamaan yang dilakukan dengan berbagai tujuan. Di dalam agama Buddha yang dimaksud dengan ritual buddhis adalah semua kegiatan yang dilakukan yang berhubungan dengan peningkatan keyakinan terhadap agama Buddha. Ritual buddhis meliputi puja bhakti atau kebaktian yang biasa dilakukan setiap minggu atau upacara-upacara tertentu seperti pelimpahan jasa, berulang-ulang mengucapkan nama Buddha dengan sepenuh hati, Pai Chan (ksamayati), dan sebagainya.
Sudah sejak dahulu ritual-ritual tertentu dijalankan oleh umat Buddha sesuai dengan tradisi atau budaya tertentu. Di Asia Timur sebagian besar buddhisnya adalah pengikut tradisi Mahayana yang mempunyai ritual yang sangat beragam, kompleks dan banyak. Sedangkan di Asia Tenggara di mana tradisi Theravada tumbuh subur, juga memiliki ritual buddhis, namun tidak serumit Mahayana. Di Tibet terdapat tradisi ritual buddhis yang kompleks sebagai basis Buddhisme Vajrayana.
Ritual yang wajib dilakukan menjelang Tri Suci Waisak.
Ritual dengan makna penyucian diri ini, identik dengan umat Buddha beraliran Mahayana. Ritual Yu Fo atau bagi masyarakatumum dikenal dengan istilah pemandian rupang (patung) Buddha selalu menjadi pemandangan menarik yang umumnya digelar sebelum puncak detik-detik Waisak digelar. Karena selalu menjadi ritual yang mendapat aten-si besar dari umat Buddha. Seperti yang terlihat dalam perayaan Waisak yang digelar Sangha Mahayana Indonesia beberapa hari sebelum puncak perayaan Waisak 28 Mei lalu.
Ribuan umat Buddha dengan rapi mengantre untuk melakukan ritual Yu Fo ini. Pada setiap harus ditaruh rupang Buddha di atas kolam kecil. Umat yang mengantre kemudian mengambil air dari kolam kecil itu dan menyirami rupang Buddha di hadapan mereka sambil tak lupa berdoa. Sejarah pemandian rupang Buddha dalam tradisi Buddha Mahayana ada untuk menandai kelahiran Pangeran Siddharta (Lebih dikenal Buddha) yang diyakini lahir seminggu sebelum purnama tanggal 8 bulan 4 penanggalan Lunar (Chinese kalender).
Alasan mengapa seseorang atau umat melakukan ritual adalah sebagai berikut:
- Dapat meningkatkan keyakinan yang pada giliran selanjutnya minimal akan teringat ajaran Buddha: hindari perbuatan buruk; lakukan perbuatan baik; dan terus melatih diri dengan renungan serta meditasi agar emosi dan keegoisan terkendali.
- Dengan melakukan puja bakti atau kebaktian hendaknya seseorang mengerti makna dibalik ritual yang dilakukannya. Seperti berdana untuk mengikis keegoisan dan kemelekatan; baca-baca sutta Pali atau sutra Sansekerta atau mantera Mandarin harus diikuti dengan pengertian terhadap arti dibaliknya yang positif.
Dalam setiap ritual buddhis yang besar, sebaiknya para pemuka agama Buddha berpikir akibat dari tindakan yang dilakukan. Pembakaran kertas, lilin, atau dupa yang berlebih-lebihan secara tidak langsung mengancam lingkungan kita. Memang sangat sulit untuk merubah tradisi yang telah dijalankan turun-temurun. Disitulah diperlukan kebijaksanaan setiap umat Buddha.
Tradisi-tradisi tertentu bisa dipertahankan, tradisi-tradisi tertentu juga bisa diserhanakan atau disesuaikan, atau bahkan tradisitradisi tertentu dapat dihilangkan dan digantikan dengan tradisi baru yang lebih sesuai dengan zaman. Sudah saatnya para pemuka agama Buddha memerhatikan hal ini. Jika tidak tradisi buddhis yang berteletele akan sulit diterima oleh generasi muda yang akan datang apalagi tidak diberikan penjelasan yang masuk akal. Hal tersebut pada gilirannya akan membuat keyakinan terhadap agama Buddha menjadi luntur dan berpindah keyakinan. Saatnya kita berani berubah dan menyesuaikan dengan kondisi zaman.
Negara Tibet
Di tibet ‘’Dari segi ritual, pola-pola ritualnya menggunakan mantra. Mantra merupakan ringkasan dari ajaran Budha yang terdiri dari Terawada, Mahayana dan Tentrayana, Terawada merupakan ajaran Budha paling awal yang kemudian ditambahai komentar oleh Mahayana, dan diringkas kembali oleh Tentrayana dari kitab (ajaran awal dan keterangan) menjadi hanya beberapa kahmat saja, namun pengucapannya juga dimaknai seperti memahami seluruh isi satu kitab.
Dalam sebuah upacara pembacaan mantra diulangulang untuk mengikis hal-hal yang buruk dan agar selalu berpikir hal-hal yang baik bila pikiran baik maka perbuaaan dan perbuatan akan berlaku serupa. Tujuan akhir dari itu semua adalah untuk menjaga agar pikiran manusia bisa menjadi baik.
Beberapa patung yang terdapat di candi Plaosan memilild arti tertentu, seperti patung Budha di tengah Dhiani Budha (Vahirocana) dan Bodhisatwa, yang berwarna merah adalah awalukiswara, lambang kasih sayang, yang berwarna kuning disebelah kiri adalah Vajravani merupakan lambang kebijaksanaan. Sebagai tempat untuk duduk sembanyang, candi Plaosan tentunya akan sangat nyaman bila ditanami oleh pepohonan yang rindang sebagai peneduh.
Dalam hal ini vegetasi yang mungkin cocok untuk candi Plaosan adalah pohon teratai, yang bisa ditanam di parit dan pohon Bodhi, selain untuk peneduh terdapat pula upacara ritual penghormatan pohon Bodhi yang merupakan benih-benih dari kesucian .
Negara Sri langka
Aliran ini memusatkan pemujaan terhadap Devi/Dewi sebagai Ibu Bhairawa (Ibu Durga atau Kali). Sebagai sakti (istri) Dewa Siwa, kedudukan Dewi Durga ini lebih ditonjolkan daripada dewa itu sendiri. Peran Dewi Durga dalam menyelamatkan dunia dari ambang kehancuran ini disebut Kalimasada (Kali-Maha-Husada), artinya “Dewi Durga adalah obat yang paling mujarab” dalam zaman kekacauan moral, pikiran, dan perilaku. Pengikut Saktiisme ini tidak mengikuti sistem kasta dan Veda (Weda).
Dalam menunaikan ajaran, pengikutnya melaksanakan Panca Ma yang diubah arti dan pemahamannya menjadi pemuasan nafsu; maka dari itu akhirnya aliran ini dikucilkan dari Veda, keluar dari Hindusme. Syahdan, ketika terjadi peperangan antara bangsa Arya melawan Dravida, lahirlah Sadashiva, artinya "dia yang selalu terserap dalam kesadaran", yang kemudian dikenal sebagai Shiva (Siwa), seorang guru rohani. Sumbangan terbesar Siwa terhadap peradaban adalah pengenalan konsep dharma. Seperti ajaran kuno lain, ajaran Siwa disampaikan dari mulut ke mulut, dan baru kemudian dituliskan ke dalam sebuah kitab.
Mazhab Mahayana memiliki akar pandangan yang sama dengan Tantrayana, khususnya dalam hal Yogacara. Namun, Tantrayana berbeda dengan Mahayana dalam hal tujuan, wujud manusia yang telah mencapai tujuan Tantrayana, dan cara pengajarannya. Hal ini terlihat salah satunya dari pemujaan terhadap sakti Boddhisatwa dan pemujaan terhadap kekuatan gaib dari Dhyani Buddha. Ajarannya lebih bersifat esoterik karena penyebarannya bersifat rahasia dan tersembunyi. Tantra diajarkan oleh seorang guru pada siswanya setelah melalui upacara-upacara ritual dan berbagai bentuk ujian.
Negara Jepang
Para penganut aliran Mahayana menghormati Buddha Sakyamuni dan berbagai Boddhisattva (seperti Maitreya, Avalokitesvara atau Kuan Yin). Mahayana (khususnya di Tibet) memuja semua Buddha terdahulu atau Adi Buddha, Amitabha, Vairocana, Askyobhya, Amoghasiddhi, dan Ratnasambhava, Tantra dan Mandala adalah termasuk praktik dalam Mahayana Tibet.
Sedangkan Theravada tidak mengabaikan adanya berbagai makhluk spiritual di jagad raya ini. Para penganutnya hanya memuja Buddha yang disebutkan dalam Tipitaka, khusunya Buddha Sakyamuni, yang dikenal juga sebagai Buddha Gotama. Theravada tidak memuja para Bodhisatva walaupun mereka memberikan rasa hormat karena kebijaksanaan dan kasih sayangnya yang besar. Semangat bakti terlihat sangat menonjol di vihara-vihara Mahayana, khususnya di negara-negara yang sangat di pengaruhi oleh kebudayaan China. Hal ini tidak terpopuler di negara-negara Buddhis Theravada kecuali Thailand.
Di Vihara-Vihara Mahayana, para pemuja menggunakan gambar dan relik (termasuk abu kremasi) dari anggota keluarganya yang sudah meninggal. Relik ini kemudian digunakan sebagai obyek sembahyang dan pemujaan. Umat Buddha Mahayana mempersembahkan bunga, dupa, lilin, buah dan makanan, yang secara harfiah untuk menghormati roh dari orang yang telah meninggal. Tradisi ini tersimpan dalam ingatan para anggota keluarga yang telah meninggal.
Pali Sutta diucapkan di Vihara-Vihara, Theravada sedangkan syair-syair suci Sansekerta diucapkan di Vihara-Vihara Mahayana. Sebagai Tambahan dalam Bahasa Pali dan Bahasa Sansekerta logat seperti Birma, China, Jepang, Newari, Thai dan sebagainya dipergunakan tergantung pada kebudayaan setiap penganutnya.
Secara keseluruhan, Vihara-Vihara Mahayana terkesan meriah dan indah, dihiasi dengan gambar beraneka warna, patung dan hiasan lainnya. Vihara-vihara Theravada biasanya tampak sederhana dan miskin dekorasi dibandingkan dengan vihara-vihara Mahayana. Hal yang sama, ritual Mahayana jauh lebih meriah susunannya daripada praktik ritual Theravada.
Negara Korea
Ajaran Buddha MAHAYANA dapat bervariasi, inti nilai-nilai yang ditetapkan oleh Sang Buddha masih bersama oleh semua umat Buddha. Metode mereka mungkin berbeda, tujuan akhir dari pencerahan melalui disiplin pasien, meditasi, hidup benar, dan kasih sayang bagi kehidupan semua adalah benang merah yang berjalan dalam melalui semua pemikiran Buddha dan tradisi.
Hal ini tepat untuk mengatakan bahwa Buddhisme Mahayana adalah perpanjangan atau kelanjutan dari Buddhisme Theravada, tetapi tanpa ada terlebih dahulu Theravada, tidak mungkin ada Mahayana.
Negara China
Ritual’’memuja rupang (patung) Sang Buddha, dengan cara menunjukan bentuk penghormatan dan pemujaan atas kekaguman kita pada Sang Buddha. Seperti ketika seorang guru yangmasuk ke dalam ruangan dan murid-murid berdiri, ketika kita bertemu dengan orangyang terkemuka dan kita segera menjabat tangannya, ketika lagu kebangsaan dikumandangkan dan kita berdiri memberi hormat.
Pemujaan seperti inilah yang dilakukan seorang umat Buddha, yakni dengan melaksanakan ajaran-ajaran Buddha seperti berusaha tidak menyakiti makhluk hidup, menghindari mencuri, melatih kejujuran dengan tidak berbohong, dan lain sebagainya;bukan meminta kekayaan,kesehatan, dan sebagainya yang jelas tidak mungkin karena patung tidak bisa memberi kekayaan atau kesehatan.
Rupang Buddha dengan tangan yang diletakkan dengan lembut diatas pangkuannya dan senyuman cinta kasihnya mengingatkan kita untuk berusaha mengembangkan kedamaian dan cinta diantara kita. Ketika kita membungkuk padanya, kita menunjukkan apa yang kita rasakan di dalam diri kita sendiri; yaitu penghargaan pada Sang Buddha atas ajaran yang telah diberikan pada kita.
Orang-orang mengatakan bahwa umat Buddha menyembah berhala, pernyataan seperti ini adalah sebuah kesalahpahaman. Berhala sendiri mempunyai arti sebuahimage atau patung yang disembah sebagai Tuhan. Buddha bukanlah Tuhan, jadi bagaimana mungkin kita dapat meyakini bahwa sepotong kayu atau logam adalah Tuhan. Rupang Sang Buddha.
Dikutip dan dihimpun dari berbagai sumber literatur, buku dan hasil diskusi kemahasiswaan.
Admin : Andi Akbar Muzfa SH

