Pro Kontra dibalik Misteri Kematian Dan Penyaliban Yesus Kristus

Penyaliban dan kematian Yesus
Kematian Yesus Kristus Sang Juru Selamat Manusia terjadi pada abad ke-1 Masehi, diperkirakan antara tahun 30-33 M. Menurut penanggalan Yahudi, Ia mati tergantung di atas salib, tanggal 14 Nisan, beberapa jam sebelum hari Paskah Yahudi dirayakan (tanggal 15 Nisan, dimulai pada sekitar pk. 18:00 saat matahari terbenam).

Hukuman mati dengan disalibkan dijatuhkan atas perintah gubernur Kerajaan Romawi untuk provinsi Yudea, Pontius Pilatus, berdasarkan laporan para pemuka agama Yahudi saat itu bahwa Yesus Kristus mengaku sebagai Raja orang Yahudi. Berita penyaliban dan kematian ini dicatat di sejumlah tulisan sejarawan Kerajaan Romawi, orang Yahudi dan murid-murid Yesus. Catatan yang paling detail ditemukan di kitab-kitab Injil dalam bagian Perjanjian Baru Alkitab Kristen.

Misteri kematian Yesus dan maknanya yang sebenarnya
Kayu salib tempat di mana Yesus mati merupakan misteri besar. Misteri kematian Yesus dan maknanya yang sebenarnya, menyampaikan dua hal yang penting tentang hubungan Allah dan hubungannya dengan manusia.

Pertama, salah satu masalah yang paling mendesak dalam kehidupan adalah masalah dosa atau kejahatan. Melalui Yesus, Anak Allah, Allah bermaksud melenyapkan penderitaan yang diakibatkan manusia. Oleh karena itu salib menunjukkan kepada kita bahwa walaupun Allah tidak melenyapkan penderitaan yang diakibatkan dosa manusia dan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan, Ia ikut mengambil bagian di dalamnya bersama kita.

Allah bukanlah hakim yang kejam yang menjatuhkan vonis yang tidak wajar kepada Yesus yang tidak bersalah. Pada kayu salib itu, Allah sebenarnya ikut mengalami akibat yang paling buruk dari keadaan kita yang berdosa. Kedua, salib menunjukkan kepada kita harga pengampunan dari Allah. Bagi kita sendiri, mengampuni orang lain sering menjadi hal yang sulit. Untuk mengampuni manusia, Allah menyerahkan AnakNya tunggal di kayu salib.

Polemik seputar Kematian Yesus
Pandangan tertua mengatakan bahwa Yesus sebenarnya sudah menyadari bahwa kematiannya sudah dekat. Ini adalah kehendak Allah yang harus dijalankan. Pandangan seperti ini tersurat di dalam Alkitab. Paulus dalam Surat 1 Korintus menggambarkan kisah ini sebagai sebuah peristiwa yang 'sesuai dengan kitab suci'. 

Mazmur 22 dan Yesaya 53 juga disebut-sebut sebagai salah satu bukti bahwa peristiwa kematian Yesus adalah peristiwa yang telah ditetapkan, bahkan jauh sebelum Yesus lahir. Di kalangan pakar sejarah mengenai Yesus argumen ini tidak selalu diterima. Albert Schweitzer, salah seorang penggagas gerakan Yesus Seminar, melihat peristiwa kematian Yesus sebagai peristiwa pemberontakan yang gagal.

Yesus dituduh sebagai tokoh politik yang akan mengancam keberadaan Romawi dan Palestina, dan karena itu dia dibunuh. Kisah di dalam Injil tidak mereka terima sebagai peristiwa historis. Mereka memahami kisah kematian Yesus, yang tertulis di dalam injil, sebagai liturgi yang dipraktikkan di dalam gereja mula-mula.

Pro Kontra Riwayat Penyaliban Yesus dalam Berbagai Literatur Tafsir

Yesus Kristus dalam literatur kesejarahan merupakan sosok yang misterius baik dilihat dari segi kelahiran maupun dari segi kematiannya. Terutama yang sering menjadi diskursus hangat sampai saat ini di kalangan tiga agama besar; Yahudi, Kristen dan Islam ialah soal penyalibannya. Bagi Yahudi dan Kristen, Yesus benar-benar disalib di tiang salib.

Penyaliban Yesus, bagi mereka, merupakan peristiwa sejarah yang tak terbantahkan meski kedua agama ini memandang proses penyaliban tersebut dari perspektif yang berbeda. Bagi Yahudi, penyaliban dianggap sebagai bentuk kehinaan yang harus dialami Yesus sebagai pengacau masyarakat.

Penyaliban di masa Romawi saat itu merupakan salah satu bentuk hukuman bagi para kriminal, provokator atau penjahat kelas rendah. Sedangkan bagi Kristen, penyaliban dianggap sebagai proses penebusan dosa manusia.

Sementara itu, Islam, memiliki posisinya tersendiri dalam melihat peristiwa penyaliban Yesus. Posisi Islam ini terekam dalam Q.S. 4: 157. Ayat ini kira-kira terjemahannya demikian: Orang-orang Yahudi sebenarnya tidaklah membunuh dan menyalibkan Yesus melainkan tampak seolah demikian. Maksudnya tampak seolah-seolah Yesus dibunuh dan disalib.

Paling tidak di kalangan para teolog muslim sendiri ada tiga teori berkenaan dengan tafsir atas proses penyaliban ini; pertama, teori substitusi, yakni Yesus tidak disalib namun posisinya digantikan oleh Yudas Iskariot, murid Yesus yang dalam riwayat tertentu telah berkhianat. Dalam riwayat yang lain, posisi Yesus digantikan oleh Simon of Cyrene. Beliau merupakan murid Yesus yang rela menggantikan posisinya untuk disalib.

Teori ini sebenarnya banyak dipegang oleh para ulama tafsir klasik. Ibnu Kathir misalnya dalam Tafsir al-Quran al-Adzhim berpandangan bahwa proses penyaliban memang terjadi namun bukan Yesus yang disalib melainkan ada pribadi lain yang menggantikan posisinya.

Sebenarnya teori substitusi dalam penyaliban Yesus ini dapat dikatakan sebagai legenda karena tidak ada ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis sahih yang menjelaskan proses substitusi Yesus dengan sosok lain dari kalangan muridnya sendiri.

Jika ditelaah lebih lanjut, sebenarnya teori ini muncul dari pandangan yang mencoba mensinergikan antara penolakan al-Quran terhadap doktrin penyaliban sebagai penebusan dosa dan deskripsi Injil yang menegaskan penyaliban sebagai proses penebusan dosa.

Selain teori substitusi, ada juga teori yang kedua, yakni teori pingsan atau dalam bahasa Inggrisnya dikenal dengan swoon theory. Dalam teori ini, Yesus benar-benar disalib namun setelah disalib, beliau pingsan atau pura-pura mati. Ketika jasadnya ditaruh di gua, tiga hari kemudian, Yesus sembuh dan bangkit lagi dari gua kuburannya dan pergi ke Galilea dalam keadaan tersembunyi bersama murid-muridnya. 

Konon beliau juga berpura-pura menjadi tukang kebun agar tidak diketahui oleh orang-orang. Pasca penyalibannya ini, Yesus selalu menyembunyikan identitasnya karena takut akan penangkapan.

Pandangan ini kemudian dipegang oleh Muhammad Ali dalam The Holy Quran-nya. Bagi Ali, ayat yang berbunyi wa ma qataluhu wa ma salabuhu tidak menegasikan bahwa Yesus disalib. Ayat ini bagi Muhammad Ali mengandung arti bahwa Yesus memang disalib namun tujuan dari penyaliban yang berupa kematiannya tersebut tidak terjadi.

Untuk membuktikan argumennya ini, Muhammad Ali mengkronologikan kembali kisah-kisah yang ada dalam Injil Matthius, Lukas, Markus dan Yohannes dan kemudian memperjelas makna syubbiha lahum dalam ayat tersebut sebagai bukan substitusi Yesus dengan sosok lainnya melainkan dapat ditafsirkan pula sebagai kesamar-samaran mengenai mati atau tidaknya Yesus melalui penyaliban tersebut.

Teori lainnya yang tak kalah menariknya dengan teori pertama dan kedua ialah teori mitraistik, yakni bahwa Yesus memang disalib dan dibangkitkan kembali untuk kemudian setelah lama wafatnya muncul keyakinan di kalangan Kristen mengenai dosa asal yang hanya dapat ditebus lewat proses penyaliban Yesus, sebuah keyakinan yang tidak muncul di awal-awal kekristenan. Teori penebusan dosa dengan salib ini sebenarnya mengadopsi keyakinan agama mitraistik yang pagan yang saat itu sangat dominan muncul di kerajaan Romawi.

Berangkat dari kata syubbiha li yang semakna dengan frase khuyyila li yang artinya terimaginasikan, disamarkan atau dibuat absurd, Asad kemudian mengajukan pandangan bahwa pemahaman yang masuk akal atas frase syubbiha lahum ialah munculnya keyakinan akan penyaliban sebagai simbol penebusan dosa di kalangan orang Kristen selang beberapa lama setelah peristiwa penyaliban sendiri terjadi. Keyakinan ini berangkat dari absurditas peristiwa penyaliban Yesus di kalangan Yahudi dan Kristen sendiri (wa ma qataluhu yaqina).

Bagi Asad, keyakinan dosa asal dan penyaliban ini muncul pasca Kristen terpengaruh oleh ajaran mitraistik, ajaran yang mengenal adanya tradisi pengorbanan manusia sebagai penebusan dosa. Pandangan demikian, meski masih ambigu dalam pemaparannya, dipegang oleh Muhammad Asad.

Ketiga teori ini sebenarnya merupakan hasil dari penafsiran terhadap kata wa ma qataluhu wa ama salabuh wa lakin syubbiha lahum yang artinya (mereka tidak membunuh dan tidak menyalib Yesus, melainkan tampak seolah seperti demikian/dibunuh dan disalib) atau (mereka tidak membunuh dan tidak menyalib Yesus melainkan peristiwa pembunuhan dan penyaliban Yesus ini dibikin absurd tafsirnya).

Untuk teori yang pertama, yakni teori susbtitusi, menafsirkan bahwa syubbihha lahum sama dengan makna yatashabaha bi- (dijadikan mirip dengan). Berangkat dari sini kemudian diciptakanlah riwayat yang kemungkinan besar diadopsi dari ajaran Injil riwayat Basilidan, Docetae, Barnabas yang mengatakan bahwa Yesus posisinya digantikan oleh orang lain.

Jadi teori subtitusi yang dipegang oleh ulama muslim klasik ini diambil dari sekte Kristen yang non-kanonik, atau Kristen bidah. Asad bahkan menyebutnya sebagai legenda yang tidak ada rujukannya dalam al-Quran dan hadis-hadis sahih.

Dari tiga pendapat ini, ternyata yang paling menarik adalah pandangan Muhammad Ali dan Muhammad Asad. Dan saya kira pandangan kedua penafsir Quran ini lebih rasional dan sesuai dengan data-data kesejarahan meski dalam pemaparannya masih sangat ambigu dan perlu diperjelas lagi. Dua ulama tafsir modern ini paling tidak menawarkan sebuah perspektif baru dalam menafsirkan kisah penyaliban Yesus dalam al-Quran yang bersandarkan kepada fakta-fakta kesejarahan.

Tidak seperti ulama tafsir klasik yang terkadang menawarkan penafsiran yang sifatnya legenda dalam menarasikan penyaliban Yesus, Ali dan Asad mendasarkan pandangan mereka terhadap narasi-narasi kesejarahan dari berbagai literatur untuk kemudian mengkonstruk tafsir baru yang sangat sesuai dengan argumen-argumen rasional.

Namun terlepas dari tafsir disalib atau tidaknya Yesus, al-Quran pada prinsipnya menolak peristiwa penyaliban Yesus ini sebagai penebusan dosa seluruh umat manusia. Bagi al-Quran dosa merupakan tanggung jawab individu yang tidak bisa ditawar-tawar dan individu dalam al-Quran harus bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya di dunia.

Dengan kata-kata lain, yang ditolak al-Quran bukan soal disalib atau tidaknya Yesus, melainkan tafsiran atas penyalibannya sebagai proses penebusan dosa umat manusia yang seolah menghilangkan tanggung jawab individu.

YESUS BENAR DISALIB?

Kepercayaan Kristen tentang kematian Yesus di salib berdasar pada sejarah...

Kekristenan berakar pada karya Allah dalam sejarah. Kepercayaan orang Kristen terkait erat dengan apa yang sudah Allah kerjakan dalam dunia ciptaan-Nya.

J. Gresham Machen, seorang Kristen, berkata,
“Gereja mula-mula tidak hanya memperhatikan perkataan Yesus, tetapi juga, utamanya, perbuatan Yesus. Dunia perlu ditebus dengan
pemberitaan tentang sebuah peristiwa. Di dalam peristiwa itu terkandung makna; dan penjabaran peristiwa beserta maknanya itulah yang menjadi doktrin. Kedua unsur ini selalu ada bersamaan dalam pesan kekristenan. Mengisahkan serentetan fakta disebut sejarah; mengisahkan fakta beserta maknanya adalah doktrin. “Menderita sengsara di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, mati dan dikuburkan” itu adalah sejarah. “Dia mengasihi saya dan memberi diri-Nya untuk saya” itu adalah doktrin. Demikianlah kekristenan dari gereja mula-mula”.1Christianity and Liberalism, 25,26

Kaitan antara kepercayaan umat Kristen dan sejarah menjadi penting karena ratusan juta umat Islam menyangkal peristiwa kematian Yesus di kayu salib.2Iman (termasuk asumsi sekuler tentang kemustahilan mukjizat!) tidak menentukan benar atau tidaknya suatu peristiwa sejarah. 

Sebaliknya, iman orang Ibrani-Kristen “muncul dari pengalaman sejarah Israel, yang lama maupun baru, dimana Allah memperkenalkan diri-Nya. Fakta ini memberikan iman Kristen suatu isi dan obyektivitas tertentu yang membedakannya dari yang lain. “(George Eldon Ladd)

Salah satu penyimpangan utama agama Islam dari agama-agama Ibrahim Yudaisme dan Kristen adalah bahwa Islam terlepas dari karya Allah dalam sejarah. 

Islam sepenuhnya didasarkan pada ucapan dan kehidupan seorang manusia serta pernyataan-pernyataan Muhammad tentang sesuatu yang terjadi berabad-abad sebelum ia ada. Penyimpangan fatal ini sangat besar artinya. Sejumlah kaum Muslim telah mencoba tetapi gagal untuk mengeluarkan agama Islam dari kesalahan fatal ini dengan menyatakan adanya kekeliruan pada wahyu sebelumnya. 

Kenyataannya, ketergantungan Islam pada ucapan seorang pria adalah hal asing yang baru ada belakangan dan merupakan penyimpangan agama Ibrahim.
Ratusan juta umat Muslim menyangkal kematian Yesus di salib.

Pernyataan Alquran mengenai penyaliban:
157 dan karena ucapan mereka : “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. 

158 Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya ; dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Surah An-Nisa 4:157-158).3Quran 4:157 merupakan satu-satunya ayat dalam Alquran yang merujuk pada penyaliban Yesus, yang ditafsirkan orang Muslim, bahwa Yesus tidak wafat di kayu salib.

Ibnu Abbas (w.68 /687) sepupu Muhammad dan dihormati umat Muslim sebagai “bapak tafsir Al-Quran” sekaligus “Samudra [pengetahuan]” menafsir Al-Quran 4:157-158:

Dan karena ucapan mereka :
“Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”

Allah menghancurkan Tatianos [seorang tentara Romawi]. (Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya) Allah membuat Tatianos terlihat seperti Yesus sehingga dia yang dibunuh; (Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang pembunuhan itu), benar-benar (dalam keragu-raguan) tentang yang dibunuh itu. (Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka), mereka tidak (pula) yakin bahwa (yang mereka bunuh itu) yaitu jelas mereka tidak membunuh dia. (Tafsir Ibnu Abbas)

Al-Badawi (w.685/1282), salah satu penafsir Islam klasik yang baik, menulis tentang penyaliban:

Ada cerita bahwa sekelompok orang Yahudi menghina Yesus dan ibu-Nya, karena itu Dia berseru kepada Allah tentang mereka. 

Ketika Allah mengubah mereka [yang menghina] menjadi monyet dan babi, orang-orang Yahudi sepakat untuk membunuh Yesus. Kemudian Allah memberitahu Yesus bahwa Dia akan mengangkat-Nya ke surga, maka Yesus berkata kepada para murid-Nya: “Siapa di antara kamu yang bersedia diserupakan dengan Aku dan mati [menggantikan-Ku] dan disalibkan dan [langsung] masuk ke surga?” Seorang di antara mereka menawarkan diri, maka Allah mengubahnya menjadi mirip dengan Yesus sehingga dia dibunuh dan disalibkan. 

Yang lainnya mengatakan bahwa ada seseorang yang berpura-pura [menjadi orang percaya] di hadapan Yesus, tetapi kemudian meninggalkan dan menyangkal Dia, kemudian Allah membuatnya mirip Yesus, dan dia pun ditangkap lalu disalib.4dari terjemahan bahasa Inggris Francis E. Peters, Judaism, Christianity, and Islam: The Classical Texts and Their Interpretation, vol. 1, From Covenant to Community, bab.3, no.30 [Princeton: Princeton University Press, 1990], 151

Penyangkalan Islam terhadap kematian Yesus di kayu salib mengubah kisah sejarah secara fatal.
Penyangkalan Islam terhadap kematian Yesus di kayu salib tidak memahami apa itu sejarah.5Alquran tak hanya menyangkal sejarah, tetapi juga mengarang sejarah. Alquran 7:172 menyatakan bahwa dahulu kala, manusia dikeluarkan dari sulbi Adam dan ditanyai oleh Allah, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” dan semua orang menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” 

Menurut Alquran, Hari Alastu (Alam Dzar) merupakan salah satu peristiwa terpenting dalam ‘sejarah’ umat manusia. Perjanjian Alastu, beserta monoteisme Unitarian (Tauhid), merupakan hal yang mendasar bagi teologi Islam. Namun, Nuh, Abraham, Musa, Daud, dan Yesus tidak pernah mengajarkan tentang adanya peristiwa yang disebut dalam Alquran 7:172. Nabi-nabi sejati dalam Alkitab juga tidak ada yang menyebutkannya. 

Inilah bukti bahwa ajaran yang dibawa Muhammad berbeda dengan ajaran para nabi sejati yang diutus sebelum beliau. Untuk mempelajari lebih lanjut tentang “Hari Alastu” yang fiktif ini, lihat “Hari Alastu.”
Bisakah seseorang melihat, mendengar dan mempelajari apa yang telah dilakukan Allah di dunia tanpa mempertimbangkan fakta-fakta?

Pengamatan, kesaksian, dan analisa manusia tidak diperhitungkan (oleh penganut Islam) dalam mempelajari apa yang terjadi di Golgota berabad-abad yang lalu. Yang penting bagi mereka hanyalah bahwa Muhammad mengaku ada sesosok malaikat mewahyukan kepadanya tentang sesuatu di masa lalu, dan isinya bertentangan dengan apa yang pernah dilihat dan dicatat sebelumnya. 

Padahal, faktanya, Muhammad lahir ratusan tahun setelah kejadian tersebut, tinggal ratusan mil jauhnya, dan tidak memberikan bukti apapun.6Beberapa aliran Islam berpendapat bahwa Al-Quran tidak menyangkal kematian Yesus di salib: “Falasifah tertentu dan beberapa Ismailiyah menafsirkan ayat ini sebagai berikut: orang-orang Yahudi bermaksud menghancurkan pribadi Yesus sepenuhnya; sesungguhnya, mereka hanya menyalibkan nasut-Nya [kemanusiaan], lahut-Nya [keilahian] tetap hidup; ref. L. 

Massignon, Le Christ dans les Évangiles selon Ghazali, dalam REI, 1932, 523-36, yang mengutip teks-teks Rasa’il Ikhwan al-Shafa (ed. Bombay, iv, 115), satu ayat Abu Hatim al- Razi (sekitar 934), dan dari Ismailiyah Mu’ayyad Shirazi (1077). 

Namun, tafsiran ini tidak diterima secara umum dan boleh dibilang ada kesepakatan umum yang menyangkal penyaliban [kematian Yesus di kayu salib]. 

Penolakan itu sangat sesuai dengan logika Qur’an” (Anawati, G.C. “Isa.”, dalam The Encyclopaedia of Islam, EJ Brill, Leiden, versi CD-ROM). Minoritas Muslim yang percaya bahwa Yesus mati di kayu salib tidak memaknai kematian Yesus sebagai penebusan dosa. Mereka juga tidak percaya tubuh Yesus dibangkitkan pada hari pertama minggu itu bagi pembenaran kita (Roma 4:25; 1 Kor 15:3-4) 

Untuk mempelajari lebih lanjut tentang pandangan Syiah Ismailiyah, lihat Khalil Andani, “Mereka tidak MembunuhNya:Penyaliban dalam Islam Syiah Ismailiyah.“

Fakta Sejarah 
Kematian Yesus di Kayu Salib.
Para nabi Perjanjian Lama bersaksi tentang kematian dan penguburan Yesus.

Hampir 700 tahun sebelum Yesus, Yesaya menuliskan:

Yesaya 53:7-9
Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. 

Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah. 

Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya.

Para saksi mata yang melihat kematian Yesus di kayu salib:
  • Maria Magdalena
  • Maria ibu Yakobus dan Yusuf
  • Maria ibu Yesus
Murid yang dikasihi Yesus (Yohanes 19:26)
Orang-orang yang turut menguburkan jenazah Yesus:

  1. Yusuf dari Arimatea
  2. Nikodemus
  3. Maria Magdalena
  4. Maria, ibu Yakobus dan Yusuf
Sumber bukan Kristen yang menuliskan tentang kematian Yesus:
  • Yosefus (sejarawan Yahudi yang lahir sekitar tahun 37 M dan wafat tahun 100 M) merujuk pada kematian Yesus (Antiquities 18.3.3).8Ada tertulis, “Ketika Pilatus, atas saran dari orang-orang terkemuka di antara kami, telah menghukum-Nya di salib …” Bagian yang disebut Testimonium Flavianum ini diperdebatkan, dan keseluruhannya tidak dapat dianggap sebagai tulisan asli Yosefus. Namun, cendekiawan terkenal John P. Meier dan Joseph Klausner mengakui keaslian referensi penyaliban Yesus tersebut.
  • Tacitus ( 55-120 M) sejarawan ternama dari zaman Romawi Kuno menulis pada sekitar tahun 115 M bahwa Kristus “dieksekusi” oleh Pilatus (Annals 15.44).9Muslim menolak keaslian atau relevansi Yosefus dan Tacitus. Namun, dapatkah mereka memberi bukti historis tentang apa yang terjadi menurut versi mereka?

SEKIAN...
Semoga bermanfaat,..
Artikel ini ditujukan untuk menambah wawasan, tidak untuk memecah belah, merendahkan keyakinan tertentu, apalagi untuk menyalahkan keyakinan orang lain...

Dihimpun dari berbagai sumber, literatur dan kitab suci...

Admin : Mariani S
Update : Lee 96
Pembina Blog : Andi Akbar Muzfa, SH