Sejarah Islam Lengkap Hingga Masuk Ke Indonesia (47 Halaman)

Agama islam adalah agama samawi atau agama langit yang dibawa oleh Rasulullah SAW atas perintah Allah SWT. Kata “Islam” sendiri berasal dari kata dalam bahasa arab aslama yang berarti selamat. Sejahtera atau berserah diri. 

Islam juga berarti kedamaian, dan keselamatan yang berdasarkan penyerahan diri kepada Allah SWT. Islam juga dimaknai dengan perbuatan bijak dan orang yang menganut agama islam disebut dengan sebutan muslim.

Sama seperti agama lain yang ada di muka bumi, agama islam memiliki sejarah yang perlu diketahui oleh penganutnya. Sejarah atau dalam ajaran pendidikan islam disebut sebagai ilmu tarikh.

1. Zaman Sebelum Datangnya Islam
Sebelum Islam datang ke dunia terutama di negara Timur Tengah wilayah Arab dikelilingi oleh dua kekaisaran besar yakni Romawi Timur di sebelah Barat dan Persia di sebelah timur.

Wilayah kekuasaan Romawi Timur mencakup Syiria, Mesir, Palestina, Turki, Asia kecil, dan beberapa bagian dari benua Eropa. Puncak kejayaan Romawi adalah pada saat kepemimpinan Yustinus (483-565 M) pada masa itu terjadi peperangan atara kekaisaran Romawi Timur dan Persia. 

Peperangan dengan Persia menyebabkan pengaruh mereka melemah sehingga saat islam tumbuh dan kuat mereka dapat ditumbangkan dan wilayahnya masuk dalam kekuasaan agama islam.

Agama Kristen adalah agama besar yang saat itu berkembang di daerah kekeuasaan Romawi dan Kaisar Konstantin mengakui agama kristen sebagai agama yang sah yang banyak dianut masyarakat dan menjadikannya sebagai agama negara. 

Sementara pada kerajaan Persia, agama yang dianut adalah agama zoroaster. Kaisar Parwiz (590) merupakan penguasa terakhir kekaisaran persia yang mencintai kekuasaan, kekayaan, kemewahan, dan memiliki istri yang beragama Kristen. 

Kaisar Parwiz juga pernah merobek surat Nabi Muhammad dan mengusir utusan yang membawa surat tersebut. Pada masa kaisar Yazdigard III (634-652) pasukan muslim dari Arab berhasil menaklukkan Persia.

2. Masyarakat Arab Sebelum Islam
Pada masa menjelang kedatangan agama islam kondisi politik, ekonomi dan budaya masyarakat Arab sedang kacau dan terpecah-pecah, dan tidak ada pemimpin diantara mereka. Masyarakat Arab terbelah menjadi suku-suku dan kabilah-kabilah yang didasari oleh hubungan darah dan kepentingan dalam mempertahankan sukunya.

Bangsa Arab pra Islam mempercayai mitos-mitos yang diwariskan oleh nenek moyang dan bertumpu sistem kepercayaan paganisme, yakni kepercayaan yang menyembah dewa, roh, hantu, azimat, dan lain sebagainya, yang mana dalam Al-Qur’an hal tersebut disebut sebagai sebagai kemusyrikan.

Bangsa Arab pra Islam juga menyembah berhala kecuali para penganut agama Yahudi dan Nasrani yang jumlahnya tidak banyak. Tidak hanya itu, mereka menyembah matahari, batu, pohon, bintang dan angin. 

Berhala-berhala yang paling besar sesembahan mereka dinamai Lata, Mana, ‘Uzza dan Hubal dan berhala tersebut diletakkan disekeliling ka’bah yang dapat disembah dalam acara keagaamaan saat itu. 

Di sisi lainnya terdapat sejumlah oenganut agama Yahudi dan Nasrani yang masih mempertahankan ajaran agamanya termasuk ajaran keesaan Tuhan atau monotheisme.

3. Masa Awal Kedatangan Islam
Masa kedatangan islam diawali dengan lahirnya Nabi Muhammad SAW, nabi akhir zaman dan selanjutnya beliau menyampaikan islam kepada seluruh kaum Arab setelah Allah SWT mengangkatnya menjadi Rasul.

4. Kelahiran Nabi Muhammad SAW
Islam datang dibawa oleh Nabi akhir zaman, Nabi Muhammad SAW yang lahir dari kalangan bangsawan Quraisy. Ia terlahir yatim, Ayahnya yang bernama Abdullah bin Abu Muthalib wafat saat berdagang dan ibunya bernama Aminah binti Wahab. Diketahui bahwa Nabi Muhammad adalah keturunan nabi ismail. 

Muhammad saw dilahirkan pada 12 Rabi’ul Awal Tahun Gajah, atau pada tanggal 20 April 571. Ketika berusia 40 tahun dia diangkat menjadi Rasul dengan turunnya wahyu pertama Alqur’an yang difirmankan oleh Allah dan disampaikan oleh malaikat Jibril yakni Surat al- Alaq ayat 1-5.

5. Dakwah Nabi Muhammad
Nabi Muhammad SAW pertama kali berdakwah pada bangsa Quraisy yang tinggal di Makkah dan mengenalkan mereka kepada Allah SWT sebagai tuhan yang maha esa. Beliau menyampaikan bahwa Allah adalah pencipta seluruh alam semesta, pencipta kehidupan, kematian, pemberi rezeki dan lain sebagainya.

Dakwah ini awalnya dilakukan secara sembunyi-sembunyi di rumah sahabat kemudian lambat laun dakwah disampaikan secara terang-terangan. Ada yang menerima dakwah tersebut dan ada yang terang-terangan menolaknya bahkan ingin mencelakai nabi Muhammad dan mengusirnya dari Mekkah. 

Saat agama islam diperkenalkan hanya ada 10 orang saja yang menganutnya diantaranya adala Khadijah istri nabi, Abu Bakar paman nabi serta Ali bin Abi thalib putra paman nabi.

6. Strategi Dakwah Muhammad SAW

Adapun beberapa strategi dakwah yang diterapkan nabi Muhammad SAW kala itu adalah

A. Menanamkan iman kepada para sahabat
Nabi Muhammad SAW memperkenalkan tauhid kepada para sahabat dan kaumnya sebagai dasar kehidupan manusia. Rasulullah SAW mengajarkan hakikat penciptaan manusia adalah untuk menyembah Allah SWT.

Hal ini dimaksudkan bahwa jika seseorang telah beriman kepada Allah SWT maka ia wajib mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari termasuk untuk membela kepentingan agama dan membela islam. Hal inilah yang membuat para sahabat nabi rela berjuang dan mengorbankan segalanya demi kepentingan agama islam.

B. Dakwah secara bertahap

Dalam berdakwah rasul menggunakan strategi dan tahap yang jelas, beliau memulai dakwah pada keluarganya sendiri kemudian baru ia menyebarkannya ke lingkungan terdekat selanjutnya masyarakat luar sedikit demi sedikit dengan mengajak sahabat yang telah memeluk agama islam sebelumnya.

Rasul pun mengajak para sahabat yang disegani oleh bangsa Quraisy untuk ikut menyebarkan agama islam dan menggunakan pengaruhnya. Rasul secara bertahap juga mengajarkan nilai-nilai islam dan cara menjalankan ibadah seperti shalat baik shalat wajib maupun shalat sunnah, puasa ramadhan,  zakat, sedekah, haji dan lain sebagainya.

C. Memanfaatkan potensi yang ada
Nabi Muhammad dalam dakwahnya beliau mendayagunakan segala potensi manusia yang ada dengan cara yang efektif. Beliau menikahi Khadijah dan mengajak Pamannya yang memiliki kekayaan lebih untuk mendanai dakwah. 

Rasul juga memiliki sahabat yang memiliki pengaruh besar dalam suku Quraisy yang akan membantu dan melindunginya dalam peperangan seperti Umar bin Khatab dan hamzah. 

Rasul juga memanfaatkan potensi intelektual sahabat seperti Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Mas’ud demi kepentingan penyebaran agama Islam. (baca sahabat
Masa Khulafaur-Rasyidin

Setelah nabi Muhammad SAW wafat maka beliau digantikan oleh pemimpin yang bukan nabi melainkan khalifah. Ada empat khalifah pertama pengganti Rasulullah SAW yang disebut Khulafaur rasyidin. 

Mereka adalah sahabat terdekat nabi Muhammad SAW yaitu: 
  1. Abu Bakar Ash Shidiq, 
  2. Umar bin Khatab, 
  3. Ustman bin Affan dan 
  4. Ali bin Abi Thalib. 
Tugas keempat khalifah tersebut adalah untuk memastikan umat islam tetap menjalankan perintah agama islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Setelah masa khalifah berakhir maka muncullah masa-masa dinasti di Arab saudi seperti masa bani umayah dan Abasiyah dan kekuasaan dinasti itu menguat sejalan dengan menguatnya pengaruh agama islam hingga ke Eropa dan Afrika. 

Islam kemudian tersebar kepenjuru dunia lewat usaha-usaha dakwah yang tidak terhenti dan terputus setelah wafatnya nabi Muhammad SAW.

KHULAFAURASYIDIN
Khalifah Pengganti Rasulullah
Setelah wafatnya Nabi, Madinah masih menjadi ibukota bagi masyarakat muslim dan dipimpin oleh empat orang sahabat yang dikenal dengan sebutan khulafaur rasyidin.

1. Abu Bakar
  • Abu bakar diangkat untuk menghentikan perselisihan antara kaum Muhajirin (Muslim Makkah yang hijrah ke Madinah) dan kaum Anshar (Muslim Madinah) yang berebut memegang kepemimpinan
  • Memerintah selama 2 tahun
  • Kemajuan di bidang sosial, budaya, dan hukum
  • Penghimpunan Al-Qur’an dalam satu mushaf
  • Daerah kekuasaan sampai ke Persia, sebagian Jazirah Arab, hingga merebut sebagian wilayah Kekaisan Bizantium
  • Terselesaikannya pula masalah pertikaian suku-suku Arab yang enggan lagi tunduk pada Madinah sepeninggal Nabi
  • Wafat dalam usia 61 tahun pada 634 Masehi dikarenakan sakit.
2. Umar bin Khathab
  • Dipilih sebagai khalifah atas wasiat dari Abu Bakar yang sebelumnya telah berunding dengan para sahabat
  • Memerintah selama 10 tahun
  • Daerah kekuasaan meliputi Jazirah Arab, Palestina, Syria, sebagian besar wilayah Persia, serta Mesir
  • Membagi negara dalam 8 provinsi administrasi, yaitu: Makkah, Madinah, Syria, Jazirah Basrah, Kufah, Palestina, dan Mesir
  • Memulai pengaturan sistem pembayaran gaji dan pajak tanah
  • Membuat sistem administrasi pemerintahan
  • Mendirikan pengadilan dan baitul mal
  • Menempa mata uang
  • Membuat kalender tahun hijriyah
  • Umar wafat pada tahun 644 Masehi atau 23 Hijriyah
3. Utsman bin Affan
  • Dijuluki sebagai dzunnurain (cahaya dua bulan) karena menikahi dua putri Nabi
  • Memerintah selama 12 tahun
  • Daerah kekuasaan Islam meliputi Armenia, Tunisia, Cyprus, serta bagian yang tersisa dari Persia, Transoxania dan Tabaristan
  • Membangun bendungan untuk mengatur pembagian air dan membendung banjir, jalan-jalan, jembatan, masjid, serta memperluar Masjid Nabi
  • Muncul pemberontakan karena diangkatnya keluarga Utsman sebagai petinggi negara
  • Utsman Meninggal pada tahun 644 Masehi atau 35 Hijriyah karena terbunuh dalam serangan pemberontakan
4. Ali bin Abi Thalib
  • Ali menggantikan Utsman sebagai khalifah dengan dukungan yang besar dari masyarakat
  • Masa pemerintahan Ali berjalan selama 6 tahun
  • Karena dugaan neportisme yang dilakukan oleh Utsman, para gubernur dinonaktifkan, menarik kembali tanah yang dibagikan oleh Utsman dan mengembalikannya kepada negara
  • Kembali menggunakan sistem distribusi pajak tahunan yang pernah diberlakukan Umar
  • Terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Thalhah, Zubair, dan Aisyah dengan karena keengganan Ali menghukum mati para pembunuh Utsman hingga mengakibatkan terjadinya Perang Unta, Ali memperoleh kemenangan
  • Munculnya perlawanan dari para gubernur yang merasa kehilangan kekuasaan yang dipimpin oleh Muawiyah, Gubernur Damaskus
  • Akhir masa pemerintahan Ali, Islam terpecah menjadi 3, yaitu Muawiyah, Syi’ah (para pendukung Ali), dan kaum Khawarik (kelompok yang keluar dari barisan Ali)
  • Tanggal 20 Ramadhan 40 Hijriyah, Ali terbunuh
Peninggalan Peradaban Islam
Sejarah Islam mencatat, setelah masa kepemimpinan Khulafaur Rasyidin, Islam masuk dalam masa dinasti-dinasti yang menggunakan sistem mornarki. Dimulai dengan Dinasti Bani Umayyah yang memimpin di Damaskus. 

Peradaban Islam semakin berkembang dan meninggalkan peninggalan-peninggalan di berbagai bidang kehidupan.

1. Peninggalan di Bidang Ilmu Pengetahuan

Ibnu Sina atau di dunia barat dikenal dengan nama Avicena adalah bapak ilmu kedokteran. Tulisannya yang berjudul Al Qanun fii Thib (Canon of Medicine) telah digunakan selama hampir 10 abad lamanya sebagai dasar ilmu kedokteran modern.

Ilmu aljabar pertama kali diperkenalkan oleh Al Khawarizmi atau dikenal sebagai Algebra. Menciptakan sistem numerik yang kini kita kenal, menggantikan angka romawi yang pada waktu masih digunakan.

Jabir ibnu Hayyan adalah tokoh ilmuan muslim yang terkenal di bidang kimia.
Al Jazari menemukan sistem humanoid yang terapkan pada jam pasir. Sistem ini adalah dasar dari sistem robotik yang ada sekarang.

2. Peninggalan di Bidang Militer dan Persenjataan
Benteng Alhambra, pusat pertahanan tentara Islam sekaligus pusat pemerintahan yang berada di Kota Granada, Spanyol.
Pedang Damaskus, adalah pedang yang sangat terkenal karena digunakan oleh Salahuddin Al-Ayyubi pada perang salib.

3. Peninggalan di Bidang Arsitektur

Gaya arsitektur Islam banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Asia dan Eropa – Roma, Mesir, Persia, dan Bzantium, kombinasi antara barat dan timur. Bangunan beratapkan kubah dan berdinding batu dengan berhiaskan berbagai ornament mosaik, cat dinding, patung, dan relief bermotifkan Islam.

MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA

Sejarah Masuknya Islam Ke Indonesia
Dari sejarah Islam,kita juga dapat mengetahui bagaimana proses Islam masuk ke Indonesia. Proses awal masuknya Islam ke Indonesia masih sering menjadi perdebatan banyak pihak.

Banyak teori yang berkembang, di antaranya:
  1. Teori Gujarat. Dalam teori ini dipercayai bahwa awal kedatangan Islam ke Indonesia adalah pada abad ke-13 Masehi dengan dibawa oleh para pedagang muslim dari Gujarat, India.
  2. Teori Makkah. Ditemukannya bukti perjalanan yang dilakukan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan sebagai utusan dari khalifah Utsman bin Affan ke Kerajaan Kalingga (sekarang adalah daerah Jepara, Jawa Tengah) pada tahun 30 Hijriyah atau 651 Masehi. Hasil dari kunjungan ini adalah salah satu putra Raja Kalingga, yaitu Jay Sima memeluk Islam.
  3. Teori Persia. Pada teori ini mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia dipercaya dibawa oleh para pedagang dari Persia yang sebelumnya singgah di Gujarat pada abad ke-13. Argumen yang digunakan adalah fakta mengenai banyaknya persamaan kata dan ungkapan Persia dalam hikayat Melayu, Aceh, dan Jawa.
Terlepas dari perdebatan mengenai waktu pasti masuknya Islam, agama ini berkembang pesat hampir di semua wilayah di Indonesia. Dimulai dengan bermunculannya kerajaan-kerajaan Islam Nusantara, pertama kali adalah Kerajaan Samudra Pasai di Aceh pada abad ke-13.

Setelah itu satu per satu kerajaan-kerajaan Islam muncul di pulau-pulau lain. Ajaran agama Islam diwariskan turun-temurun sampai menjadi agama mayoritas, menggeser kepercayaan animisme dan dinamisme serta ajaran agama Hindu dan Budha di Indonesia.

Dengan semua bukti yang ada, kenyataan sejarah Islam bahwa peninggalan Islam adalah cikal bakal kebudayaan modern tidak lagi bisa terbantahkan. 

Peradaban Islam telah merubah dunia ke arah yang lebih baik dengan mengembangkan ilmu pengetahuan untuk memudahkan kehidupan manusia.

Hal ini selaras dengan janji Allah SWT bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam semesta.

RANGKUMAN SEJARAH MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA DARI MASA KE MASA

1. Sejarah Lengkangkap Masuknya Islam ke Indonesia
.
Indonesia adalah negara yang memiliki populasi Muslim terbesar di seluruh dunia. Pada saat ini diperkirakan bahwa jumlah umat Muslim mencapai 207 juta orang, sebagian besar menganut Islam aliran Suni.

Jumlah yang besar ini mengimplikasikan bahwa sekitar 13% dari umat Muslim di seluruh dunia tinggal di Indonesia dan juga mengimplikasikan bahwa mayoritas populasi penduduk di Indonesia memeluk agama Islam. Kendati mayoritas penduduk beragama Islam, negara ini bukanlah negara Islam yang berdasarkan pada hukum-hukum Islam.

Justru, Indonesia adalah sebuah negara sekuler demokratik tetapi dengan pengaruh Islam yang kuat. Sejak awal berdirinya negara ini, sudah ada banyak perdebatan politik mengenai dasar ideologi negara Indonesia. 

Sejumlah kelompok Islam konservatif (termasuk sejumlah partai politik) berpendapat bahwa Indonesia seharusnya menjadi sebuah negara Islam. Namun, karena ada puluhan juta penduduk non-Muslim apalagi mayoritas penduduk yang menganut Islam di Indonesia bukan orang Muslim yang mempraktekkannya dengan ketat (nominal Muslim), berdirinya sebuah negara Islam (sekaligus penerapan hukum syariah) selalu dianggap sebagai pemicu perpecahan dan separatisme. 

Partai-partai politik yang mendukung pendirian negara Islam belum pernah sempat meraih suara mayoritas penduduk sepanjang sejarah perpolitikan di Indonesia. Berdasarkan pemilihan-pemilihan selama era Reformasi, partai-partai Islam konservatif justru kehilangan dukungan dibandingkan partai-partai sekuler dan karena itu tampaknya kecil kemungkinan bahwa Indonesia akan menjadi negara Islam di masa mendatang.

Proses Islamisasi di Indonesia (atau tepatnya di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Indonesia) telah berlangsung selama berabad-abad dan terus berlanjut hingga saat ini. 

Islam menjadi sebuah kekuatan yang berpengaruh melalui serangkaian gelombang dalam berjalannya sejarah (yaitu perdagangan internasional, pendirian berbagai kesultanan Islam yang berpengaruh, dan gerakan-gerakan sosial) yang akan dijelaskan lebih lanjut dengan detail di bawah ini. Namun, penerapan agama Islam di Indonesia pada saat ini memiliki karakter yang beragam karena setiap wilayah memiliki sejarah tersendiri yang dipengaruhi oleh sebab-sebab yang unik dan berbeda-beda. 

Mulai dari akhir abad ke-19 sampai saat ini, Indonesia secara keseluruhan memiliki sejarah umum yang lebih seragam karena para penjajah (dan dilanjutkan oleh para pemimpin nasionalis Indonesia) menetapkan dasar-dasar nasional di wilayahnya yang berbeda-beda. 

Proses unifikasi ini juga membuat agama Islam di Indonesia - dalam proses yang lambat - semakin kehilangan keanekaragamannya. Namun, hal ini bisa dipandang sebagai perkembangan yang logis dalam proses Islamisasi di negara ini.

Di dalam beberapa tahun terakhir, media baik nasional dan internasioanal telah melaporkan penyerangan-penyerangan pada kelompok-kelompok agama minoritas di Indonesia (seperti Ahmadiyah dan Kristen). 

Sejumlah kelompok Muslim radikal seperti Front Pembela Islam (FPI) menggunakan kekerasan (atau ancaman kekerasan) untuk memeperjuangkan idealisme mereka; termasuk dengan melawan umat Islam lainnya, contohnya dengan menyerang penduduk beragama Islam yang menjual makanan pada siang hari selama bulan puasa (Ramadhan). 

Sangat menguatirkan bahwa Pemerintah Indonesia dan pengadilan di Indonesia tidak bertindak tegas melawan kelompok-kelompok radikal semacam ini. 

Hal ini menunjukkan bahwa Pemerintah memiliki monopoli yang lemah dalam hal penggunaan kekerasan (weak monopoly on violence). Namun, perlu ditekankan bahwa mayoritas penduduk Muslim di Indonesia sangat mendukung pluralisme dan kerukunan antar umat agama.

2. Pulau-pulau Indonesia dengan mayoritas penduduk Muslim:

  1. Sumatra
  2. Jawa
  3. Kalimantan (daerah pesisir)
  4. Sulawesi
  5. Lombok
  6. Sumbawa
  7. Maluku Utara
Wilayah barat Indonesia yang padat penduduknya pada umumnya memiliki jumlah penduduk Muslim yang lebih besar dibandingkan dengan wilayah timur Indonesia. 

Karena perdagangan memiliki peran yang signifikan dalam proses Islamisasi di Indonesia, pulau-pulau yang lebih dekat dengan rute-rute perdagangan utama menerima lebih banyak pengaruh Islam. 

Wilayah barat Indonesia, yang telah menjadi bagian dari jalur perdagangan global sejak sejarah awal manusia, lebih banyak menerima pengaruh-pengaruh Islam yang disebarkan melalui proses perdagangan, dan karena itu mengalami proses kebangkitan dan kejatuhan kesultanan-kesultanan Islam sejak abad ke-13. Hal ini terutama terjadi di wilayah sekitar Selat Malaka (yang terletak di antara Malaysia dan Indonesia) yang dari dulu-dulu adalah salah satu jalur perdagangan laut tersibuk di dunia.

Indonesia pada saat ini mengalami pertumbuhan makro ekonomi yang cepat: jumlah penduduk kelas menengah bertambah dengan cepat dan hal ini ditunjukkan dengan peningkatan berkelanjutan produk domestik bruto per kapita (berarti penduduk semakin banyak mengonsumsi produk dan jasa). Apalagi masyarakat Indonesia seperti juga dunia semakin mengalami proses urbanisasi (sebuah proses yang berhubungan erat dengan modernisasi dan industrialisasi). Maka penduduk Muslim, yang setara dengan hampir 90% dari jumlah total penduduk Indonesia, juga dipengaruhi oleh perkembangan-perkembangan ini. 

Di kota-kota besar (terutama di pulau Jawa yang merupakan pulau paling padat penduduk di Indonesia) kelompok masyarakat ini menunjukkan gaya hidup yang semakin konsumtif. Hal ini terutama berlaku untuk komponen kelompok Muslim moderat yang berjumlah sangat besar. 

Mereka semakin menerapkan gaya hidup perkotaan yang ‘modern’, yang didukung dengan alat-alat elektronik dan gaya busana terbaru. Indikator-indikator penting seperti penjualan mobil dan penggunaan internet serta telepon selular meningkat dengan sangat cepat di tahun-tahun terakhir. Kaum muda dari kalangan menengah dan elit sering dapat dilihat sedang bersantai di tempat-tempat seperti Starbucks di mal-mal mewah di kota-kota besar.

3. Kedatangan Islam di Indonesia

Walaupun sulit untuk mengetahui secara persis perkembangan awal agama Islam di kepulauan ini (karena kurangnya sumber informasi), cukup jelas bahwa perdagangan intenasional merupakan faktor yang sangat penting. 

Kemungkinan besar para pedagang Muslim dari berbagai negara telah ada di wilayah maritim Asia Tenggara sejak periode awal Islam. Sumber-sumber paling awal melaporkan bahwa sejumlah penduduk asli telah memeluk agama Islam sejak awal abad ke-13; baru-batu nisan mengindikasikan keberadaan sebuah kerajaan Muslim di Sumatra Utara pada tahun 1211. 

Mungkin kerajaaan-kerajaan lokal mengadopsi agama baru ini karena bisa memberikan keuntungan-keuntungan tertentu dalam perdagangan dengan para pedagang yang sebagian besar beragama Islam. 

Tidaklah jelas mengapa para penduduk asli tampaknya baru memeluk agama Islam setelah berabad-abad agama ini sudah dikenal di wilayah tersebut. Baru dari abad ke-15 dan selanjutnya, kerajaan-kerajaan dan kesultanan-kesultanan Islam menjadi kekuatan politik dominan di kepulauan ini, meskipun mereka kemudian dikalahkan oleh para pendatang baru dari Eropa (Portugis dan Belanda) di abad ke-16 dan abad ke-17.

4. Variasi Agama Islam di Indonesia
Kedatangan Islam di kepulauan ini memiliki dampak-dampak yang beragam bagi komunitas-komunitas lokal tergantung pada konteks historis dan sosial dari wilayah tempat kedatangannya. 

Di beberapa bagian dari kepulauan tersebut, kota-kota bermunculan sebab para pedagang Muslim mendirikan tempat permukiman di sana. Di wilayah-wilayah lain, Islam tidak pernah menjadi agama mayoritas, kemungkinan karena letaknya jauh dari rute-rute perdagangan yang penting (seperti wilayah Indonesia timur). 

Di wilayah-wilayah yang memiliki pengaruh kuat dari kebudayaan animisme atau Hindu-Buddha, penyebaran agama Islam diblokir oleh kebudayaan-kebudayaan yang telah ada (seperti di wilayah Bali yang didominasi kebudayaan Hindu sampai saat ini) atau bercampur dengan sistem-sistem kepercayaan (animisme) yang sudah ada (contoh-contohnya masih bisa ditemukan di Jawa Tengah).

Sejak terbitnya buku (terkemuka) Clifford Geertz berjudul 'The Religion of Java' (diterbitkan pada tahun 1960), para ilmuwan cenderung membagi komunitas Islam Jawa (kelompok Muslim terbesar di Indonesia) di dalam dua kelompok:
  • Abangan; mereka adalah umat Muslim tradisionil yang berarti mereka masih menerapkan dogma-dogma agama tradisional Jawa; yang mencampurkan ajaran Islam dengan agama Hindu, Buddha, dan animism. Anggota dari kelompok ini umumnya bertempat tinggal atau berasal dari wilayah pedesaan.
  • Santri; kelompok ini bisa disebut sebagai umat Muslim ortodoks. Mereka umumnya bertempat tinggal atau berasal dari wilayah perkotaan dan lebih berorientasi pada mesjid dan Al-Quran.
SEKIAN...
Semoga artikel ini bermanfaat dan menambah wawasan anda sekalian...

Dihimpun dari berbagai sumber, literatur, buku-buku sejarah islam, hasil diskusi, kajian keagamaan, forum mahasiswa dll.

Salam...
Admin : Ernita Sari S.Ag
Update post : Fitriani Umar
Posted : Eka 96

Blogger team :
Andi Akbar Muzfa, SH